
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Ajeng segera menarik tangan suaminya menjauh dari
lantai dansa. Ajeng mencari-cari sosok yang sempat ia cari tadi di antara
kerumunan orang.
“Siapa sih dek?” al begitu penasaran.tapi ajeng tetap enggan menjawabnya, ia memilih
tetap berjalan mencari-cari sosok yang sempat ia lihat.
Akhirnya langkah ajeng terhenti pada
ujung ruangan, sosok itu berdiri di sana memunggungi mereka.
“Rita …!” panggil Ajeng. Ajeng masih begitu mengenali sosok itu, sahabatnya
mana mungkin ia melupakannya walaupun sudah sekian lama.
Ajeng pun segera melepaskan tangannya dari tangan Al, ia berlari dan memeluk sahabatnya
itu, ia begitu merindukan sahabatnya itu, sangat merindukannya.
“Rit …, aku sungguh merindukanmu, aku senang bisa bertemu denganmu. Bagaimana
kabarmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Ajeng sambil terus memeluk sahabatnya
itu, tapi sepertinya ada yang aneh. Sahabatnya itu tak mengucapkan sepatah
katapun bahkan untuk menyebut namanya. Rita juga tidak membalas pelukannya.
"Sudah cukup kan bicaranya? Kalau sudah sekarang lepaskan aku!" ucap Rita dengan sangat dingin, membuat Ajeng merasa semakin aneh saja.
“Rit kamu kenapa?” tanya Ajeng kemudian setelah melepaskan pelukannya, ia memegangi
kedua pundak sahabatnya itu mencoba mencari jawaban. Ajeng menatap mata sahabatnya itu, seperti menyimpan luka.
“Lupakan kalau kita pernah bersahabat!”
Ucapan Rita yang singkat itu bagai belati yang langsuing menusuk ke uluh hati,
bagaimana bisa setelah sekian lama mereka tidak bertemu tapi sekali bertemu dia
meminta sahabatnya untuk melupakan hubungan mereka, apa yang terjadi.
“Ri-ta …!” ucap Ajeng tidak percaya. Sedangkan Al masih memilih untuk berdiri di
tempatnya, cukup jauh dengan mereka. Al bisa melihat dengan jelas penolakan yang di lakukan oleh Rita, gadis itu bersikap berbeda.
“Berhenti bersikap seolah-olah kamu paling tidak berdosa! Aku tidak mau jadi sabatmu lagi,
jadi pergilah dari sini! Jangan pernah.menghubungiku lagi!" ucap Rita tanpa menatap ajeng. Sungguh mencengangkan, Ajeng tahu siapa Rita, sahabatnya semenjak SMP dan sekarang memintanya untuk melupakan sahabatnya itu, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
“Rit…, apa salahku? Katakan! Jika aku salah aku minta maaf tapi jangan bersikap
__ADS_1
seperti itu!” ucap Ajeng dengan sangat memohon, hanya Rita satu-satunya sahabat selama ini, dan Dika punya tempat tersendiri di hatinya.
“Kenapa hanya kamu yang berhak bersikap semaunya …, hanya kamu yang berhak bahagia …?" Ucap Rita dengan sangat lantang hingga orang-orang di sekeliling mereka bisa mendengar percakapan mereka.
"Enak banget …!” gumam Rita kemudian dengan wajah yang di buat sinis.
“Rita…, aku semakin tidak mengenalmu saja!” ucap Ajeng dengan penuh penyesalan.
“Baguslah….! Jadi pergilah dari sini!”
“Tidak …, sebelum kau menjelaskan sesuatu padaku!”
Sisil yang melihat pertengkaran mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun
segera mendekati mereka.
“Ada apa ini?” tanya Sisil.
“Bukan urusan kamu, jadi jangan ikut campur!” hardik Ajeng.
“Jangan kasar ya sama Sisil! Terserah dia mau di mana aja!” ucap Rita membela Sisil. Tidak biasanya seperti itu, biasanya Rita yang selalu membelanya setiap kali ditindas oleh Sisil, tapi kali ini berbalik.
“Rit …! Kenapa kamu malah membela dia?” tanya Ajeng tidak percaya.
“Aku peringatkan sekali lagi ya …, jangan pernah temui aku lagi .., sudah sana sama
suami tercintamu sana!” ucap Rita sambil mendorong tubuh Ajeng hingga Ajeng
terjatuh. Al yang melihat segera mendekati mereka dan membantu Ajeng berdiri.
Ajeng menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Al tidak melakukan apapun. Tapi
ternyata Al tetap dengan maksudnya walaupun dengan amarahnya yang tertahan.
“Ini peringatan dari saya! Jika sampai saya melihat kalian menyakiti istri saya ,
kalian akan berhadapan dengan saya!” ucap al dengan nada dinginnya.
Al segera mengajak ajeng pergi dari sana, mereka segera menuju ke mobil. Ajeng
masih tetap terdiam. Ia belum percaya dengan apa yang ia alami.
Setelah kepergian Ajeng, ekor mata Rita menitikkan air matanya. Ia segera menghapusnya sebelum semuanya melihat air mata itu. Rita segera meninggalkan Sisil yang masih tersenyum penuh kemenangan itu.
🌺🌺🌺🌺
“Dek …, sudah jangan di pikirkan, jika lepas satu Allah pasti akan mengirimkan
sepuluh penggantinya yang lebih baik, jadi jangan di sesali ya!” ucap Al menguatkan hati istrinya, Ajeng terus menangis sepanjang jalan membuat hati Al ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Ajeng.
“Tapi ini Rita lo mas ….! Dia nggak mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu kalau nggak ada sesuatu! Bagaimana bisa seperti ini?” rancau Ajeng di sela tangisnya.
“Mas tahu …, mungkin Rita sedang ada masalah makanya mengatakan hal-hala seperti
__ADS_1
itu. Kita berdoa saja semoga semuanya kembali baik!”
Ajeng sudah tidak menanggapi ucapan suaminya, ia memilih untuk terus menangis. Hingga sampai di rumah pun Ajeng masih menangis.
Mama Renna yang melihat Ajeng pulang dengan menangis ingin menyapanya, tapi oleh Al segera di tahan. Ajeng terus masuk ke dalam kamar tanpa menyapa mama Renna.
"Al ...., ada apa ini?" tanya mama Renna penasaran, menantunya yang biasanya sangat ceria itu tiba-tiba menangis seperti itu.
"Hanya ada masalah sedikit ma, mama nggak usah khawatir!"
"Iya tapi masalahnya apa, hingga membuat putri mama menangis seperti itu?"
"Mama kenal Rita, sahabat Ajeng dan Dika?"
"Iya ...., kenapa dengan dia?"
"Tiba-tiba saja, Rita bersikap aneh sama Ajeng, ia jadi kasar sama Ajeng!"
"Kasihan sekali Ajeng! Ya sudah Al sana hibur Ajeng, dia pasti sangat butuh kamu!"
"Ya sudah ma, Al masuk dulu ya, selamat malam!"
Al pun segera meninggalkan mama-nya. Ia segera menghampiri istrinya di kamar. di kamar Ajeng masih melanjutkan tangisannya. Ajeng menenggelamkan wajahnya di antara bantal itu, ia tidur tengkurap dengan punggung yang bergetar.
Al segera duduk di atas tempat tidur di samping Ajeng, ia mengusap kepala istrinya.
"Adek sayang ....., yang sabar ya! Allah menyayangimu karena telah memberimu ujian! Kuatkan hatimu!" mendengar ucapan suaminya, Ajeng segera membalik tubuhnya hingga kini menghadap suaminya, ia mendekap bantal itu di atas perutnya.
"Mas ....., maafin adek ya belum bisa menjadi istri yang baik buat mas!"
"Kita sama-sama belajar, Allah yang menentukan kita baik atau tidak, nanti Allah juga akan menunjukkan jalannya, adek cukup bersabar dan berdoa semoga semuanya kembali baik!"
"Terimakasih ya mas, Mas Al selalu menguatkan hati Ajeng!"
"Iya sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban mas sebagai suami adek, sekarang tidur ya!" ucap Al sambil menyelimuti tubuh istrinya hingga di atas dada dan meninggalkan kecupan di kening Ajeng.
“Iya mas …, terimakasih ya tadi sudah belain Ajeng!”
“Tentu mas sampai kapanpun akan bela Ajeng, selama dalam hal kebaikan, kalaupun Ajeng
berada dalam keburukan mas akan tetap ada di samping adek sebagai pengingat!”
“Terimakasih mas!”
“Sama-sama …!”
Al ikut tidur di samping Ajeng dan mendekap tubuh mungil itu, Ajeng mencari kenyamanan dengan menyusupkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️❤️