Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Al dan El


__ADS_3

"Mommy..." lirih Brian


Anak itu rupanya sudah berdiri didepan pintu. Ia menghapus airmatanya yang sempat menetes dipipinya, ia memaksakan senyumnya. Ia melangkah mendekati tiga orang yang sedang berpelukan.


"Mommy.." panggilnya lagi.


Tiga orang itu mengurai pelukan. Aurora langsung mengusap kasar air matanya. Ia tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya meminta Brian untuk mendekat kearahnya. Sedangkan Tuan Hardy dan mama Riyanti langsung memberi ruang untuk mereka berdua. Mereka duduk disofa tak jauh dari ranjang putrinya.


"Mommy,.. bagaimana keadaanmu, apanya yang sakit, kenapa mom menangis?" tanya Brian lugu seakan tak mengetahui pembicaraan mereka sebelumnya.


"Ah tidak ada, mom baik baik saja. Mom bahagia memiliki kalian semua." Jawab Aurora.


"Benalkah..!?"


"Tentu saja. Emm apa kakak sudah melihat dedek bayi? Bagaimana, apa mereka sangat menggemaskan?" tanya Aurora mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin putranya bersedih karena kelemahan hatinya.


Mata Brian berbinar, ia mengangguk antusias diikuti dengan senyum lebarnya.


"Ya, meleka sangat menggemaskan. Meleka lucu sekali, boleh aku beli meleka nama mom..!?" pinta Brian dengan mata kucingnya.


"Ah iya, mom belum kasih mereka nama, Kak Ian mau kasih nama siapa pada mereka?"


"Al dan El." jawab Brian mantap. Ia menyunggingkan senyumnya. Bangga pada pemikirannya.


Aurora mengerutkan kening, melirik papa dan mamanya yang juga hanya mengulas senyum.


"Hanya itu? Pendek sekali?" gumam Aurora tapi didengar oleh Brian.


"Hehe.. Itu akan membuatku mudah memanggilnya, mom bisa menambahkan nama belakangnya."


Aurora diam sejenak, mencoba merangkai nama yang cocok untuk dua putra kembarnya. Lalu ia tersenyum ketika sudah mendapatkan dua kata nama untuk putranya.


"Mom akan beri mereka nama Aldevaro untuk si sulung dan Eldevano untuk si bungsu. Dan nama belakangnya akan mengikuti nama belakang Daddy mu, Putra Edlyn. Bagaimana, apa mereka cocok dengan nama itu?" tanya Aurora menatap Brian dan papa mamanya meminta persetujuan.


Papanya mengulas senyum tipis.


"Bagus sekali namanya, mereka cocok dengan nama itu. Aldevaro artinya pemimpin yang baik, sudah cocok untuk si sulung sedangkan Eldevano artinya berpendirian teguh. Mereka berdua akan saling melengkapi. Dan tentunya ada Brian yang akan menjadi ketua sukunya. Hahaha.. namamu paling tinggi sekali maknanya Bry, mamamu pandai sekali memilih nama." ucap Tuan Hardy bergurau.


"Opa..." rajuk Brian menyebikkan bibirnya.


"Ya Yang Mulia." jawab Tuan Hardy.


Aurora dan mamanya tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Hatinya menghangat.


"Aurora,!! lihat putra sulungmu, papa dengar dia ingin jadi Raja kelak jika sudah besar. Apa kau mengijinkannya? Dia ingin menjadi penguasa katanya."


Aurora mengerjapkan matanya. Memandang dalam mata Brian, yang dipandang langsung menundukkan pandangannya. Aurora mengulas tersenyum.


"Mommy mendukungmu, tapi jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana."


Brian mendongak, ia tersenyum lebar. Sebentar kemudian tersenyum masam. Merasa tidak masuk akal dengan pemikirannya.

__ADS_1


"Opa mendukungmu jadi presiden saja Bry. Itu lebih mudah didapatkan." sahut Tuan Hardy.


"Pa, biarkan Brian bermimpi setinggi mungkin. Kelak jika dia dewasa akan mengerti dengan sendirinya." ucap mama Riyanti menyenggol lengan suaminya, ia tidak ingin mematahkan cita-cita cucunya.


" Sebelum Kak Ian jadi Raja, mom ingin kamu menjadi kakak yang baik untuk adik adikmu dulu. Apa bisa?"


"Tentu saja." ucap Brian semangat, lalu memeluk Aurora dengan sayang.


Kejadian itu ternyata dilihat oleh bunda Yuli yang berdiri dibalik pintu kaca. Ia terdiam, entah apa yang sedang dirasakan hatinya. Tiba tiba ia meneteskan air matanya dan pergi dari tempat itu, dan tidak jadi menjenguk Aurora.


Dari kejauhan, Tuan Admaja memandangi istrinya dalam diamnya. Ia menghela nafasnya, ia merasa jika istrinya sedang menutupi hatinya yang sesungguhnya. Lalu meminta Kevin mendorong kursi rodanya untuk mengikuti kemana istrinya pergi.


.


.


Berita tentang Aurora yang sudah sadar membuat pria berwajah bayi itu semangat empat lima mendatangi ke rumah sakit tempat Aurora dirawat. Ditangannya ada buket bunga dan sebuah paperbag. Kakinya melangkah ringan tak sabar bertemu dengan wanita cantik itu.


Setelah mengetuk pintu, Aldi melangkah masuk dalam ruang itu. Senyumnya mengembang ketika disambut dengan senyum manis Aurora.


"Hai.." sapa Aldi meletakkan buket bunga kepangkuan Aurora.


"Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik." Selorohnya dan duduk dikursi dekat ranjang Aurora.


"Terima kasih." ucap Aurora


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Aldi menggenggam tangan Aurora.


Brian memutar bola matanya malas. Tidak suka mommynya didekati pria lain.


"Ehem.." Brian berdehem. Pura pura membenarkan kaca matanya dan memainkan laptopnya.


Aldi menggaruk keningnya yang tiba tiba gatal. Ia hanya menunjukkan gigi putihnya yang berjejer rapi. Lalu beralih duduk sofa sebelah Brian. Ia mengulurkan sebuah paperbag padanya.


"Untukmu anak yang manis." ucap Aldi dengan senyumnya.


Brian hanya melirik. Tidak menghiraukan kehadiran Aldi.


"Brian..." panggil Aurora pelan.


"Telima kasih. Lain kali tidak pellu membeliku hadiah paman. Jangan coba coba melayu mommyku, mommy hanya milik daddy." ucap Brian datar. Ia sengaja menirukan gaya berbicara Edward.


Aurora hanya tersenyum melihat itu.


"Hahaha.. okey, maafkan aku. Paman tidak bermaksud seperti itu. Paman hanya ingin menjenguk mommymu saja, tidak ada maksud lain. Apa yang sedang kamu kerjakan,..?!"


Aldi melirik sekilas layar laptop Brian, ia mengerutkan kening melihat kode kode dalam layar monitor itu.


"Kelja.!" jawab singkat Brian.


"Benarkah?"

__ADS_1


Aldi agaknya tak percaya apa yang sedang dilakukan anak itu. Ia melirik kembali, namun dengan sengaja langsung ditutup oleh Brian, ia memasang wajah datarnya.


"Brian, jangan seperti itu. Dia sudah mommy anggap kakak mom. Apa kamu sudah mengenalnya?" Tanya Aurora


"Sudah. Paman ini kemalin sudah datang kemali. Namanya paman Aldi benal bukan?"


Aldi tersenyum dan mengusap kepala Brian.


"Apa kamu tak ingin membuka hadiah dariku?"


"No. Pasti isinya Marshmallow. Aku sudah tidak menyukainya. Maaf."


Aldi menatap rumit Brian. Tak menyangka mendapat respon seperti itu.


"Sayang bukan Marshmallow yang paman bawa." ucap Aldi.


Brian memiringkan kepalanya menatap Aldi. Tangannya membuka paperbag coklat itu. Mulutnya menganga melihat isi dalam tas kertas itu. Ia mengedip ngedipkan matanya.


"Woah...!!"


Aldi tersenyum miring. "Apa kau menyukainya??"


"Yaah..." Brian mengangguk antusias.


"Drone.." ucap Aurora dan diangguki Aldi.


"Telima kasih paman. Ah paman mengelti yang sedang aku butuhkan. Apa ini sudah telmodifikasi?"


"Hem, tentu saja itu bukan standarnya. Kau bisa mencobanya jika ingin melihat kemampuan terbangnya. Kamu akan takjub dengan modifikasiku." ucap Aldi bangga.


"Akan aku coba, tapi tidak sekalang. Aku tidak bisa meninggalkan mommy sendili."


"Ayolah, apa kamu tak percaya padaku? aku hanya perlu bicara sebentar pada mommymu. Aku tak akan melakukan apapun." ucap Aldi to the poin. Ia tak bisa basa basi lagi. Brian dengan mudahnya membaca pikirannya. Anak itu tak bisa dikelabuhi.


"Okey, aku pelgi. Ingat jangan macam macam pada mom. Mom aku kelual sebental, nanti aku kembali." ucap Brian.


"Okey, mintalah om Kevan menemani jika ingin bermain diluar. Jangan jauh jauh dari pengawalan bodyguard. Apa kau mengerti boy."


Brian mengangguk dan segera keluar. Ia tidak ingin ikut campur dengan urusan orang tuanya. Diam diam dia mengaktifkan kamera lebah dan ia tempel di daun pintu sebelum melangkah keluar.


Aurora hanya bisa tersenyum melihat itu, putranya memang bukan anak yang mudah percaya dengan orang lain.



.


.


.


#####

__ADS_1


Picture : GOOGLE


__ADS_2