
Saat ini Alex, Kevan dan Kevin, sedang mengamankan proses pemindahan King mereka. Wajah mereka bertiga nampak datar tak ada sedikit senyum yang menguar dari mereka.
Berkali kali Alex menghela nafasnya ketika melihat wajah damai Kingnya. Ia tak menyangka akan berakhir seperti ini. Dalam hatinya dipenuhi dendam, ia tidak akan melepaskan begitu saja setelah apa yang terjadi.
"Sadarlah disaat yang tepat. Aku tak bisa membayangkan jika kau sadar sekarang, aku sampai saat ini masih saja merasa ngilu melihat luka ditubuhmu. Bukankah itu sangat menyakitkan?!! Tenanglah dalam tidurmu, aku sedang berusaha menangkap pelaku itu, Dokter markas juga sedang berusaha membuatkanmu serum. Bersabarlah." gumam Alex.
Dirumah sakit GL, para dokter dan perawat sudah menunggu kedatangan pasien, Edward didorong dan dipindahkan ke ruang VVIV. Disana sudah ada bunda Yuli dan Amelia yang menunggu kedatangan Edward.
"Kak Alex,.." interupsi Amel menghentikan langkah Alex yang hendak pergi dari ruang itu.
"Ya,.."
"Emm, bisa kita bicara sebentar disana?" tunjuk Amel disofa sudut ruang kakaknya.
"Baiklah,"
"Apa yang akan kamu bicarakan padaku.!"
"Kak, lusa aku harus kembali ke Australia. Aku ada ujian. Disini tidak ada keluargaku yang menjaga kak Edward, paling nanti bunda akan sesekali menjenguk kakak, kakak ipar juga sedang menjalani pengobatan, Ayah juga masih sakit. Bisakah keamanan di rumah sakit ini diperketat? Aku khawatir akan ada kejadian lagi." tanya Amel
"Anda tenang saja nona, keamanan dirumah sakit ini sudah canggih. Yang bisa masuk di lantai ini hanya orang yang memiliki kartu akses masuk. Didepan lift juga dijaga ketat oleh orang orang kita."
"Oh begitukah..!? Ah syukurlah jika begitu aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih sudah membantu keluarga kami Kak." ucap Amel tulus.
"Jangan begitu. Kakakmu adalah teman baikku. Kuliahlah dengan benar, kami akan menjaga kakakmu. Aku pastikan setelah ini tidak akan ada lagi kejadian seperti ini." ucap Alex bersungguh sungguh.
"Ya, aku percaya itu.."
.
.
Keesokan harinya, Alex bersama Kevan mendatangi perusahaan Hardy's Company. Keduanya berjalan begitu saja ke lantai paling atas dimana Andi bekerja. Kevan hanya mengembangkan senyum tipis dari bibirnya, saat karyawan yang mereka lewati menundukkan kepalanya. Entah takut atau segan, dia juga tidak tau.
Andi menyambut mereka dengan senyum lebarnya.
"Wah ada apa ini.., ada apa dengan wajah kalian? kenapa wajah kalian serius sekali." Andi mengerutkan kening.
Alex duduk dan menatap serius Andi.
"Aku tidak akan basa basi. Apa perusahaanmu sedang bekerja sama dengan Darius?"
__ADS_1
Andi mengerutkan kening. Kenapa bertanya tentang rekan bisnis pikirnya.
"Tunggu, kalian mau minum apa. Sepertinya pembicaraan ini serius." Andi bangkit dan meraih tiga sofdrink dari lemari pendingin lalu duduk ditempatnya semula.
"Minumlah." ucap Andi. Lalu mengunci otomatis pintu ruang kerjanya.
"Ada apa kau menanyakan hal itu? Apa ada masalah?" tanya Andi serius.
"Hemm, aku mencurigainya." ucap Alex tenang sambil menyalakan rokok dengan santainya.
"Mencurigai..? Kenapa mencurigainya.!? Aku rasa perusahaan itu baik baik saja, kami tak punya masalah dengannya.!!"
"Kau salah, aku mendapat laporan dari team IT kita jika truk truk itu berasal dari perusahaan bahan bangunan itu. Bukankah perusahaanmu sedang membangun tempat usaha baru.!? Ada masalah apa kalian.!?" Alex memicingkan matanya.
"Ya, itu memang benar, maka dari itu, kami menjalin kerja sama dengannya, tapi kami tak punya masalah apapun." ucap Andi.
"Benarkah..?"
"Ya benar."
"Tunggu sebentar Tuan, saya pinjam laptopnya." ucap Kevan menginterupsi.
Andi hanya mengangguk, ia juga penasaran mendengar opini yang mengejutkan itu.
"Lihatlah Tuan, dari pantauan cctv jalan ini, enam truk ini keluar dari gedung bangunan itu, dengan jenis yang sama dan warna yang sama seperti di tempat tkp. Tiga truk mengambil jalur ke kanan dan tiga lainnya kekiri. Tapi empat puluh lima menit kemudian mereka berkumpul di pertigaan jalan Sssd dengan jarak yang berbeda beda. Sayang sekali di jalan Yyyz kami tak menemukan adanya cctv di daerah itu." ucap Kevan menjelaskan.
"Aku ingin mencocokan hasil analisisku Tuan Andi, aku butuh bantuanmu untuk menanyakan pada bawahanmu, kapan tepatnya barang barang itu dikirim ke lokasi, dan dimana lokasi tujuannya. Aku butuh detailnya.!" ucap Alex.
"Tunggu dulu, ,Kenapa menanyakan hal itu padaku? Harusnya kita menanyakan pada perusahaan itu." Andi mengerutkan kening bingung.
Andi memutar mata malas. Ia mengepulkan asap rokoknya keatas.
"Tuan Andi, kami ingin mencocokan hasil analisa kami. Sebaiknya anda ceritakan detailnya tanpa harus berbelit belit. Biar Bos Alex yang menarik kesimpulan." ucap Kevan mencoba menjelaskan.
"Baiklah tunggu sebentar. Maafkan aku." ucap andi dan segera meraih ponselnya menghubungi arsitek yang menangani pembangunan itu.
"Emm..begini, dari laporan tadi, Mandor bangunan menerima bahan bahan itu siang hari sebelum malam kecelakaan itu, tapi baru separuhnya, sisanya akan dikirim setelahnya yang diperkirakan akan tiba malam hari ke lokasi proyek, tapi ketika malam ditunggu, barang yang sampai hanya dua truk, dan sisanya dikirim keesokan harinya." ucap Andi menjelaskan.
Alex memajukan badannya, matanya bak elang , aura mengintimidasinya sangat terasa. Andi menelan ludahnya kasar.
"Katakan padaku.! Apa yang sedang kau coba sembunyikan dariku.! Apa kau berteman baik dengan Darius..? Kenapa sepertinya kau menutupi kebusukannya? Aku harap kau bukan penghianat Tuan Andi..!!" ucap Alex dengan seringainya.
__ADS_1
Andi sontak membulatkan matanya mendengar ucapan Alex, ia tak menyangka jika pikirannya malah membuatnya tersudut. Ia hanya mencoba meluruskan jangan sampai salah orang. Apalagi dirinya mengenal baik Darius.
"Apa yang kau katakan.! Aku tak sepicik itu menghianati keluargaku sendiri.! Aku hanya berteman baik dengan dirinya. Tidak lebih dari itu, jadi wajar saja jika aku membelanya, tapi jika dia terbukti bersalah, aku tak segan segan menculik dan kalian yang menghabisinya. Jika dia tidak takut hukuman penjara, maka kematianlah yang akan ia terima." ucap Andi dengan nafas naik turun.
Alex dan Kevan tersenyum miring, keduanya memberikan kode lewat matanya.
"Aku tak sepenuhnya percaya padamu. Kau bukan anggota GL ataupun DQ." ucap Alex tenang.
"Apa maksudmu..!!" Seru Andi tidak terima.
Alex dengan santainya melemparkan bukti itu ke meja. Andi memandang Alex dan bukti itu seksama dan belum ingin membukanya.
"Aku harap kau membuktikan ucapanmu Tuan Andi, aku menunggumu dimarkas GL nanti malam. Kau pasti sudah tau apa yang harus kau kerjakan. Dan ingat, jangan sampai berita ini bocor.!" ucap Alex dengan senyum lebarnya.
Andi langsung menenggak minuman dihadapannya, ia gugup, ia tak pernah menjalankan misi sebelumnya, tapi ia tak bisa mengelak jika tak mau dianggap penghianat. Ia bingung tak tau harus berbuat apa selain menerima.
"Ehem.. em aku sebelumnya belum pernah menjalankan misi. Aku butuh pendamping saat menyelinap nanti. Bisakah aku meminta itu dari kalian?" tanya Andi , tangannya menggaruk pelipisnya malu.
"Datanglah ke markas nanti malam, dan lihat bukti itu baik baik untuk menguatkan mentalmu. Aku yang menjamin, misi kali ini tidak akan ada yang tau termasuk ayahmu."
"Baiklah, aku tidak mau reputasiku buruk dimata publik. Kalian harus berjanji agar namaku tak ikut terseret. Kalian harus melindungiku."
Alex dan Kevan berdiri dengan senyum diwajahnya.
"Baiklah aku rasa sudah cukup, kita akan kembali. Siapkan dirimu.!" ucap Alex mengulurkan tangannya.
"Selamat bergabung Tuan." ucap Kevan dengan senyumnya.
"Jangan lupa dengan janjimu Tuan Tuan." ucap Andi khawatir
"Tenanglah."
Alex menepuk bahu Andi. Lalu membisikkan sesuatu ditelinganya. Dan pergi begitu saja dari ruang kerja Andi meninggalkan wajah masam Andi.
"Ah bos, kau tau dengan baik cara mengajaknya untuk bergabung dengan kita, dengan bergabungnya Tuan Andi, itu akan lebih memudahkan kita, apalagi dari cerita anda tentang sosok Tuan andi, saya jadi penasaran bagaimana dengan aksinya malam nanti. Rasanya tidak sabar." batin Kevan.
.
.
.
__ADS_1
####