
Suasana dikediaman Tuan Admaja masih ramai didatangi pelayat. Kolega dalam dan luar negeri juga datang silih berganti seakan tak ada habisnya.
Lukas, Kiran, Selly dan Andi sampai lelah menyalami mereka. Sedangkan Amel memilih untuk menemani Bundanya yang beberapa kali pingsan karena syok.
Tuan Hardy dan istrinya masih berada dikediaman Tuan Admaja. Mereka sengaja menginap untuk menemani putri mereka yang pasti masih berduka atas kepergian suaminya.
Aurora meringkuk dikamarnya, badannya terasa hangat , ia masih saja menangis meratapi suaminya yang telah tiada. Padahal itu hanya sandiwara yang dimainkan Alex , Rian dan Kwan. Entah apa yang dilakukan dilakukan Aurora jika ia mengetahui kebenarannya. Mungkin saja ia akan menggantung ketiga pria itu.
Mama Riyanti masuk kedalam kamar putrinya sambil menggendong Al yang sudah terlelap setelah menghabiskan sebotol dot susu. Bayi itu nampak tenang tidak rewel seperti El. Mungkin karena ia tau jika daddynya masih hidup dan sedang disembunyikan Kwan.
"Nak,.." Mama Riyanti duduk ditepi ranjang setelah menidurkan Al dalam box bayi.
"Kamu sudah makan malam belum?"
Aurora hanya menggeleng lemah. Ia sama sekali tidak ***** makan sedari kemarin.
"Tunggu sebentar, mama akan ambilkan makanan dulu." mamanya kembali keluar untuk memerintahkan pelayan untuk membawakan makanan untuk Aurora.
Aurora memandangi layar ponselnya yang terus bergetar diatas nakas. Ia enggan menjawab panggilan ataupun sekedar membuka notifikasi dari benda pipih itu. Ia sudah terlalu lelah dengan keadaan ini.
Mamanya kembali masuk kamar dengan membawa nampan berisi banyak makanan. "Bangunlah, sedih juga butuh tenaga. Mau mama suapi?"
Aurora menggeleng lemah.
"Ayolah, bayimu masih membutuhkan asi mu. Kamu tega dengan mereka? Suamimu pasti sedih jika mengetahui keadaanmu seperti ini." bujuk mamanya.
"Tinggalkan aku sendiri Mah, biarkan makanan itu disana."
Mama Riyanti hanya bisa menghela nafasnya pasrah, percuma jika dirinya memaksa putrinya, ujung ujungnya ia akan kesal sendiri. "Baiklah, mama akan melihat El dulu. Putramu tadi bersama papamu. Berhentilah menangis, kasihan putramu. El sedari tadi rewel terus karena kamu selalu bersedih. Kamu tau, dia akan tiga kali bersedih jika kamu sedih. Oke mama tinggal. Mama gak mau tau, setelah mama kembali kemari, makanan itu harus sudah habis. Kamu mengerti?"
Aurora hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Hah, cobaan apa lagi ini Tuhan, kenapa masalah datang silih berganti. Kapan aku melihat anakku bahagia lagi? Jangan biarkan hatinya kembali membeku." batin mama Riyanti.
Selepas mama Riyanti keluar kamar, ganti Brian yang masuk sembari membawa segelas susu hangat. "Oma tadi lupa belum membuatkan mom ini. Sepelti biasa, ini akan membuat mom tidul lebih lelap." Brian meletakkan gelas itu diatas nakas lalu naik ke ranjang untuk melihat wajah Aurora yang memunggunginya. Ia tau benar jika mommynya pasti sedang menangis.
"Mom,.." Brian memeluk tubuh Aurora dengan sayang, lalu mengecup keningnya pelan.
Aurora memejamkan mata sesaat seakan menikmati kecupan itu, tak terasa air matanya menetes kembali. Tentu saja dirinya teringat atas perlakuan suaminya yang begitu menyayanginya. Dan hal itu sudah lama sekali tidak ia dapatkan darinya.
"Mom halus kuat. Jangan sampai mom sakit. Sudah cukup Blian kehilangan daddy, Blian tidak ingin kehilangan mom juga."
Brian mengusap air mata Aurora dan mengecup matanya. "Sebegitu cintakah mom dengan daddy hingga tak bisa berhenti menangis barang sebentar." batin Brian. Ia memandangi wajah Aurora yang semakin sembab.
Aurora tak bisa berkata apapun, ia hanya memeluk Brian erat lalu menangis dihadapan bocah kecil itu.
Mata Brian mulai berkaca kaca, hatinya ikut perih melihat Aurora yang begitu terpuruk dan belum bisa menerima keadaan ini. Padahal dirinya pun sama dengan mommynya. Pura pura kuat padahal tidak sekuat itu.
"Mom, dibawah ada tante Listy, mom ingin beltemu dengannya?"
"Listy?" Brian mengangguk.
"Benarkah?"
Brian tersenyum ketika Aurora berhenti menangis setelah mendengar nama sahabatnya datang berkunjung.
"Bisa minta tolong panggilkan kemari nak?" pinta Aurora
"Tentu saja, asal mom halus menghabiskan makanan itu. Ocey.." Brian memberi tanda jempolnya. Aurora pun tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah, kalena mom sudah telsenyum, tidak ada alasan Blian untuk menunda pelmintaan mom ku yang cantik ini. Tunggu sebental, Blian akan segela kembali." Brian mengedipkan sebelah matanya dan berlalu keluar.
.
.
Sementara di markas, Alex sedang memberikan perintah pada bawahannya untuk segera bersiap. Ia sendiri sudah memakai setelan hitam dengan rompi anti peluru dibalik jaket hitamnya. Kali ini ia tak sendiri, ada Beni yang ikut serta mengomandoi pasukannya.
"Baiklah, itu saja dariku. Aku harap kalian kembali dengan selamat." ucap Alex datar.
"Siap Bos."
Beni langsung berjalan menghampiri Alex yang tampak sibuk mengecek amunisi senjatanya. "Lex, apa Lukas tidak ikut?"
"Kenapa? Takut he.." sindirnya.
"Ck. mereka cuma tikus kecil. Tidak ada apa apanya dibanding pasukan yang nanti kita bawa. Bahkan aku sudah tidak sabar menghabisi ja lang itu. Ingin ku siksa sampai dia meminta kematian padaku. Aku akan membalas semua perbuatannya pada Edward." geram Beni menggertakkan giginya.
Alex tersenyum miring. "Jangan menghabisi mainanku disana. Aku juga ingin bermain dengannya, dan kau harus ingat itu. Sudah lama aku tak bermain darah. Emm, apa masih selezat dulu." ucap Alex sembari memainkan belatinya.
Beni meringis membayangkan. Ia tahu benar jika Alex seorang psikopat. Hanya wajahnya saja yang tidak cocok dengan sifatnya .
"Okey, jadi kita akan berangkat jam berapa. Semua sudah stand by ditempatnya. Semua menunggu perintah darimu."
Alex melihat jam tangannya. "Kita berangkat sekarang. Ambil ini." Alex melemparkan katana kesayangannya. Sedangkan ia mengambil katana milik Edward. Ia tersenyum licik saat melihat benda itu.
"Ini waktumu berpesta. Kau merindukannya bukan." gumamnya, lalu menutup wajahnya dengan masker hitam.
.
.
DOR.. DOR..
Malam yang harusnya tenang dan digunakan untuk tidur, mereka malah beradu senjata dan saling membunuh. Alex tersenyum menyeringai melihat banyaknya anggota Yakusa dalam mansion itu.
Anak buah GL langsung menyerang mansion setelah mendapat kode dari Alex.
Alex dan Beni segera berlari masuk kedalam untuk mencari si biang kerok. Mereka berdua menyiagakan katana dalam genggamannya. Mereka menebas siapa pun yang menghalangi jalannya.
KRAS ... GLUNDUNG
KRAS..
"Wow.." Mata Beni terbelalak melihat Alex dengan sadis memisahkan kepala dengan tubuh para musuhnya. Ia menelan ludahnya sendiri.
Alex terkekeh melihat katananya banyak berlumuran darah. Wajahnya menyeringai dibalik masker yang ia kenakan. Ia lalu melemparkan tatapan tajamnya pada Beni.
"Hati hati, jangan sampai kau membunuh anggotaku." Bisik Beni yang sedikit gugup karena melihat jiwa iblis Alex yang mulai keluar. Alex hanya terkekeh menyeramkan.
"Sial, apa dia kesurupan." Batin Beni.
Pertarungan sengit terjadi, Alex berlari menyusuri lantai atas mencari sosok Viona. Ia mendapati wanita itu berlari dengan lima orang bawahannya yang melindunginya.
"Berhenti kau Ja lang!!!" Seru Alex mengacungkan pistolnya.
DOR.. DOR... DOR..
Alex menembak tiga pengawal Viona di titik mematikan. Seketika tiga pria itu ambruk tanpa perlawanan.
__ADS_1
Mata Viona membulat melihat mata Alex yang merah mengerikan.
"Tunggu apalagi kalian. Cepat habisi pria itu!" seru Viona panik. Ia yang tak pandai berkelahi, menggenggam erat pistol ditangannya.
Alex terkekeh ditempatnya berdiri ketika melihat dua pengawal itu mencoba menyerangnya dengan katana yang lebih panjang dari miliknya.
"Senjatamu tak lebih baik dari yang ku bawa." gumamnya pelan.
Dengan gerakan cepat, Alex mengayunkan katananya, ia menginginkan leher dua pria songong itu.
Viona mencoba mencari kesempatan untuk kabur dari perkelahian itu. Sayangnya Alex melihat gerak gerik Viona. Dua timah panas bersarang dikaki Viona.
DOR..DOR..
KRAS.. KRAS..
"He..he.."
"Mau kabur he,..!" Alex berjalan mendekati Viona dengan menyeret katananya yang sudah berlumuran darah setelah menebas dua pengawalnya.
Mata Viona mendelik. "Jangan coba coba mendekat!" Viona mencoba mengancam dengan menodongkan senjata api ke arah Alex.
"Apa kamu pikir kamu takut dengan senjatamu hah." Dengan gerakan cepat Alex melemparkan belatinya kearah Viona .
"Aghh.." rintih Viona saat belati itu mengenai tangannya.
Alex langsung meringkus Viona saat senjata yang ia gunakan terlepas dari tangannya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Saatnya kau menerima balasanmu. Sudah habis masamu bermain main denganku. Selama ini aku sudah cukup menahan diri untuk tidak menghabisimu. Tapi apa yang kau lakukan wanita murahan, sikapmu tak pernah berubah sedikitpun walau aku sudah memberimu peringatan. Sekarang tidak ada alasan bagiku untuk tidak memburumu. Kita akhiri dendam ini."
Belum sempat Viona menjawab apa yang dikatakan Alex,
DUAK
Viona pingsan setelah Alex memukul bagian belakang kepalanya.
"Ikat ja lang ini dan bawa ke markas!" perintah Alex pada bawahannya.
"Siap Bos!"
Alex melenggang keluar dengan santainya. Beni mengikuti dari belakangnya lalu memencet tombol merah pada jam tangan yang dipakainya. Seketika,
DHOOMMM
DHOOMMM
DHOOMMM
Ledakan hebat meratakan mansion megah itu rata dengan tanah. Alex tersenyum menyeringai melihat hal itu. Ia yakin jika esok hari ia akan kedatangan tamu penting. Dalam hatinya, ia akan memberikan pelajaran untuk orang itu. Ia sudah geram dengan sepak terjangnya selama ini.
.
.
.
######
__ADS_1