
Usai dari gedung perusahaan EG, Edward memacu mobilnya ke rumah. Baru saja gerbang tinggi itu di buka, dapat ia lihat dengan jelas sebuah mobil asing terparkir rapi di halaman rumah itu. Entah siapa tamu yang malam-malam begini menemui istrinya.
Pria jangkung itu turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan itu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang sedang bertamu.
"Dimana Nyonya." tanya Edward ketika melihat Kevin menuju kearahnya.
Pria itu menunjuk dengan telapak tangannya. "Ada di taman belakang bersama Tuan Aldi." jawab Kevin seadanya.
"Ngapain mereka disana."
"Saya tidak tau Tuan." jawab Kevin.
Edward mengepalkan tangannya, baru saja rasa cemburu pada istrinya hilang berganti dengan rasa syukur karena memiliki wanita sepertinya, kini rasa cemburu itu muncul kembali di hatinya. Tidak bisakah Aurora tidak berhubungan dengan banyak laki-laki. Ini menyebalkan sekaligus mengesalkan sekali baginya.
"Kevin kamu boleh pergi. Besok temui aku di markas bersama Kevan. Tidak perlu bertanya apapun sekarang. Istirahatlah."
Setelah mengatakan itu, Edward melangkahkan kakinya kearah taman belakang. Disana dapat ia lihat dengan jelas, kedua putranya sedang asyik bergurau bersama Brian, sedangkan Aurora dan Aldi tampak berbincang.
"Papi, Kak Ian nakal nih!" Teriak El pada Aldi.
Edward mematung ditempatnya berdiri, sebutan papi sangat mengganggu telinganya, ia tak suka kedua putra kandungnya menyebut Aldi sebagai papi.
"Papi! Kak Al juga nakal nih!" El berlari dan langsung mencari perlindungan dalam dekapan pria itu.
Edward yang mendengar dan melihat itu, telinganya serasa memerah. Ia begitu tidak suka dengan keadaan ini.
"Jangan memanggil papi, nanti mom kalian marah." ujar Aldi memberi penjelasan.
"Kenapa, apa papi panggilan yang buruk? atau ingin dipanggil papa?" ujar El tanpa dosa.
Edward langsung berbalik pergi. Ia pikir akan menenangkan emosinya saja, ia tidak bisa bersikap buruk didepan ketiga putranya.
Edward menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan melonggarkan ikatan dasi yang serasa mencekik lehernya. Pria itu mende/sah kasar ketika melihat bayangan istrinya yang tampak bahagia ketika bersama Aldi.
Larut dalam lamunannya, Edward terkejut mendengar pintu kamarnya yang sedikit berderit ketika Aurora membukanya dari luar.
Pria itu langsung terduduk dan melepas sepatunya yang ternyata masih menempel dikakinya.
Aurora mendatangi Edward dan duduk disebelahnya.
"Sudah makan malam?" tanya Aurora sembari melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
__ADS_1
Hem
Aurora menghela nafasnya, ia pikir suaminya masih marah padanya.
"Aku akan siapkan air hangat untukmu, mandilah supaya bisa tidur nyenyak malam ini."
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." cegah Edward mencekal pergelangan tangan Aurora yang hendak beranjak. Pria itu kemudian berjalan menuju kamar mandi dan sedikit membanting pintu kamar mandi.
Aurora yang tidak mengerti kenapa Edward bersikap seperti itu hanya bisa mengelus dada. Wanita itu segera mengganti bajunya dengan piyama dan bersiap tidur. Ia tidak ingin memikirkan masalah saat ini.
Edward yang telah selesai mandi dan berganti baju, sangat geram melihat keadaan didepannya. Ia merasa diabaikan sekarang.
"Aurora." panggil Edward dengan sedikit keras.
Aurora terpaksa membuka matanya dan melihat wajah suaminya yang tampak mendung walau pria itu sehabis mandi.
"Ya."
"Kenapa mengabaikan aku dan ada keperluan apa Aldi kemari malam-malam begini. Apa kamu yang mengundangnya? Setelah dengan Henry Lim, sekarang bersama Aldi? Kau murahan sekali Aurora."
Edward mengatakan isi kepalanya begitu saja. Ia tidak bisa jujur jika dadanya sedang dipenuhi rasa cemburu.
"Kenapa mengatakan hal yang menyakitkan hatiku Kak. Kenapa kamu bilang aku wanita murahan, aku bahkan tak pernah menjual tubuhku pada pria lain. Aku masih utuh dan tidak pernah tersentuh pria lain, terakhir melakukannya hanya bersama denganmu di Singapura waktu lalu. Ada apa denganmu, kenapa kamu tak mempercayaiku." ujar Aurora sedih.
"Aku tak suka melihatmu bersama pria lain, terlebih pada pria itu." ucap Edward terdengar datar.
"Hei! Ada apa denganmu, bukankah kamu sendiri yang mengundangnya kemari? Dia juga bilang jika ia kemari karena diminta seseorang untuk menjaga kami sewaktu kamu pergi ke Honduras. Bukankah itu kamu yang melakukannya!" Ucap Aurora dengan sedikit menaikkan suaranya. Ia tidak bisa disalahkan begitu saja.
Edward tiba-tiba tertawa sumbang. Bagaimana bisa Aurora berkata seperti itu dengan begitu mudahnya. Mana mungkin ia melakukan tindakan yang akan merugikan dirinya sendiri.
"Aurora, coba pikirkan baik-baik, apa aku pernah bilang jika aku akan mengutus Aldi untuk menjagamu? Aku tahu betul, gosip panas yang menerpa pria itu denganmu. Apa mungkin aku menggali lubangku sendiri!"
Aurora hanya diam. Padahal dulu Edward tidak pernah bersikap seperti itu padanya, terlebih saat dirinya bersama Aldi. Aurora merasa sikap Edward telah banyak berubah setelah ia bangun dari koma.
"Apa yang kalian bicarakan." tanya Edward menuntut. Pria itu mengambil sebatang rokok dan memantiknya. Ia tak peduli dengan ruangan itu yang tiba-tiba banyak asap karena ulahnya. Pria itu duduk disofa dengan gaya angkuhnya.
Aurora menatap miris perbuatan Edward, ternyata ia belum siap menerima perubahan suaminya.
"Dia mengatakan besok pagi-pagi buta, akan kembali ke London." ujar Aurora pelan.
"Cih, mau pergi pamit istri orang. Tidak tahu diri sekali pria itu. Atau jangan jangan kamu yang mengundangnya kemari." ujar Edward terdengar sinis.
__ADS_1
Aurora berdiri dan menatap nyalang suaminya. "Jangan pernah mengatakan hal buruk padaku lagi!" Aurora dengan penuh emosi mengangkat telunjuknya kehadapan Edward. Ia bukan wanita seperti yang dituduhkan suaminya.
Edward tersenyum sinis dan memalingkan muka. Pria itu semakin kesal saja.
"Wow, kau membelanya sayang. Bagus. Ini berita bagus sekali."
"Apa kau lupa, kau sendiri yang masih menyembunyikan identitas aslimu hah! Apa salah jika orang lain menganggapku seorang janda! Apa salah mereka mendekatiku! katakan! katakan dimana letak salahku!"
PRANG
Edward membanting teko keramik yang berada disebelahnya. Ia tidak suka mendengar Aurora menggunakan nada tinggi saat bicara dengannya. Ia merasa tidak dihargai sebagai seorang suami.
Aurora tersentak kaget melihat pemandangan itu, tapi hal itu justru tambah memancing amarahnya.
"Oke. Oke! besok aku akan melakukan konferensi pers. Aku akan mengumumkan jika suamiku masih hidup agar pria-pria itu berhenti menggangguku! Apa kau puas sekarang!"
Edward melotot tak percaya. Pria itu menekan geligi gerahamnya untuk menahan marah yang semakin membakar dadanya.
"Jangan coba coba jika tidak ingin menambah masalah. Jangan ikut campur dengan urusanku Aurora." desis Edward menggeram marah.
Aurora tersenyum miring, "Kau berubah kak. Kau berubah. Apa seperti itu yang disebut cinta. Aku tidak mengenal Edward yang seperti ini sebelumnya. Kak Edward ku adalah pria yang lemah lembut dalam bertutur kata padaku, dia tidak pernah menyakiti hatiku, tapi apa yang kau lakukan Kak. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku memaafkan semua yang telah kau ucapkan padaku."
Aurora langsung masuk ke dalam selimut dan mencoba memejamkan matanya. Ia tak peduli dengan amarah Edward.
"Aurora, aku melakukan itu karena aku cemburu padamu. Aku mencintaimu! Apa kau tidak mengerti perasaanku hah!"
"Harusnya jika mencintaiku, kau selalu menjaga perasaanku, bukan malah menuduhku dengan hal yang tidak benar. Aku kecewa padamu kak."
Edward berjalan gusar ke ranjang dan seketika menyibak selimut Aurora.
"Apa yang kau lakukan!" sentak Aurora.
Edward hanya menampilkan senyum seringainya. "Aku akan menghukummu Aurora. Aku akan menghukummu sampai kau meminta ampun padaku. Sikapmu yang seperti ini tidak bisa aku tolerir lagi. Katakan hukuman apa yang kau sukai."
SRAK
"Aaaaa!!!tidak jangan lakukan itu padaku!"
.
.
__ADS_1
.
#####