
Setelah acara ijab kabul, Al mengajak Ajeng menujunke rumah mereka, rumah yang sudah Al beli untuk Ajeng, rumah yang sama yang pernah mereka tinggali sebelumnya.
"Mas Al ...., rumah ini masih sama!" ucap Ajeng saat turun dari mobil.
"Iya ....., aku tetap membiarkan kenangan kamu bersama rumah ini!"
"Makasih, mas ....!"
"Bagaimana kalau kita masuk saja?" tanya Al dan Ajeng pun mengangguk. mereka memasuki rumah yang selama enam bulan pernah mereka tinggali bersama dan sekarang mereka kembali dengan status yang berbeda.
"Biar tasmu aku bawakan ke kamar!" ucap Al sambil meraih tas Ajeng yang ada di tangannya.
"Nggak usah mas, ini nggak berat!"
"Nggak usah nolak, semua tentangmu kini sudah menjadi tanggung jawabku!"
Al mengambil tas itu dan Ajeng pun akhirnya menyerah.
Mereka menaiki tangga, rumah itu tetap terlihat bersih walaupun tak di tinggali karena Al meminta orang untuk membersihkan setiap hari.
Mereka pun akhirnya sampai di depan kamar, Al membuka pintu kamar itu.
"Mas ....!"
Al menghentikan langkahnya saat Ajeng memanggilnya.
"Ada apa?"
"Kenapa ke situ mas, kamarku di sini, mana tas ku!"
Al yang menatap Ajeng , ia menghampirinya dan mengelus rambut Ajeng.
"Bukankah kita sudah menikah?"
Ajeng pun mengangguk dengan pertanyaan Al, jelas ia belum lupa kalau baru saja mereka melaksanakan ijab Qabul.
"Jadi ...., bukankah kita sudah sah menjadi suami istri?"
Pertanyaan yang itu seketika menyadarkan satu hal pada Ajeng, bahwa mereka sekarang harus tinggal dalam satu kamar, membayangkan saja membuat pipi Ajeng memerah, wajahnya seketika terasa panas.
"I-iya ...., aku akan ke dapur!" dengan cepat Ajeng kembali ke bawah meninggalkan Al. Al pun sebenarnya merasakan hal yang sama, ia memilih masuk ke dalam kamar dari pada mengejar Ajeng.
Di dapur Ajeng segera mencari gelas kosong dan mencari minuman dingin, ia membuka lemari es, dan mengambil sebotol minuman dingin lalu menuangkannya ke dalam gelasnya. Dalam sekali tegukan minuman dalam gelasnya itu habis.
"Ya Allah ....., aku harus bagaimana ini .....!" Ajeng mengibas-kibaskan tangannya berharap menciptakan hawa dingin di wajahnya.
"Jantungku ...., jantungku ....., rasanya mau copot lagi .....!"
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Al sudah membersihkan badannya, ia hendak menuju ke masjid karena sudah masuk waktunya sholat magrib.
Al kembali turun, ia masih melihat Ajeng berada di dapur, Ajeng sedang sibuk menyiapkan makan malam, sebenarnya tidak sesibuk itu, tapi ia memilih berlama-lama di dapur untuk menghindari pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Ajeng .....!" panggil Al, dan Ajeng pun mendongakkan kepalanya. Ajeng terpesona pada pria yang sekarang menjadi suaminya itu dengan penampilan yang berbeda, sarung yang melilit di pinggangnya dengan setelan baju Koko sesiku dan songkok yang bertengger di kepalanya, begitu menyejukkan, di tangannya mengalung sebuah sajadah.
"Jeng ...., kenapa malah bengong!"
Ajeng segera tersadar. "A ..., i-iya mas ...., ada apa?"
"Aku berangkat ke masjid dulu ya, kamu sholat di rumah aja!"
"Iya mas!"
"*Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam* ....!"
Al pun benar-benar meninggalkan rumah, Ajeng kembali menyandarkan punggungnya di meja dapur.
"Aduh ....., bagaimana ini, hanya melihat mas Al dengan penampilannya saja membuatku selemas ini, apa lagi kalau ......!" Ajeng segera menutup wajahnya malu, ia sudah membayangkan hal-hal yang akan di lakukan dua pengantin baru pada malam hari.
Ajeng menyelesaikan pekerjaannya, setelah selesai ia segera masuk ke dalam kamar, ia mencari tasnya, tapi tas itu sudah kosong. Ia pun akhirnya membuka lemari pakaian dan ternyata Al sudah memasukkan semua pakaian yang ada di tasnya, tidak banyak hanya ada dua step, karena Ajeng tidak berencana pulang sebelumnya, ia hanya membawa baju yang biasa ia gunakan jika ia lembur di tempat kerjanya dan malas untuk pulang.
"Mas Al baik banget ...., tapi aku nggak punya baju tidur!"
"Ini baju siapa?" Ajeng merasa kesal melihat baju itu, ia sudah berfikir yang tidak-tidak tentang baju itu.
Ajeng sementara waktu mengabaikan baju-baju itu, ia harus segera mandi dan sholat magrib, ia memakai kaos oblong dan celana jeans seperti biasa, tapi ia tidak memakai kemeja yang biasa ia gunakan untuk melapisi kaos oblongnya.
Setelah mandi Ajeng melaksanakan sholat magrib, sambil menunggu waktu isya' Ajeng menyempatkan diri untuk tilawah Al-Qur'an, walaupun suaranya tidak merdu, tapi dia cukup fasih membacanya.
Setelah mengakhiri tilawahnya, ia segera menaruh Al-Qur'an itu di tempatnya, ia segera membuka mukenanya. Ada yang aneh dan tidak nyaman di bawah sana.
Ajeng segera berlari ke kamar mandi dan memeriksanya dan benar saja, tamu bulanannya datang, tapi ada yang lebih serius dari itu, ia bahkan tidak membawa pembalut atau ganti ****** *****.
Ajeng memilih berdiam di dalam kamar, ia tidak akan pergi ke manapun, ia juga tidak berani duduk di sofa ia memilih duduk di kursi kayu, supaya kalau tembus mudah untuk membersihkannya.
Setelah selesai melaksanakan sholat isya' Al segera kembali ke rumah, ia bahkan menolak bapak-bapak komplek waktu mereka mengajak ngobrol terlebih dahulu.
"Maaf pak, saya harus segera pulang. istri saya sendiri di rumah!"
"Jadi mas Al sudah menikah ya?"
"Iya ...., baru tadi siang!"
Bapak-bapak itu segera menggoda Al, Al hanya tersenyum malu-malu khas pengantin baru.
"Ya udah pak, saya permisi!"
__ADS_1
"Iya ...., jangan keras-keras kalau masih baru mas Al .....!" bapak-bapak itu memperingatkan Al, sedangkan Al sudah berjalan mendahului mereka.
Al dengan cepat berjalan menuju ke rumahnya.
"Assalamualaikum ....! Al memberi salam, tapi tak ada sahutan. Al memeriksa Ajeng di dapur tapi juga tidak ada.
"Mungkin Ajeng sudah di kamar ....!" Al dengan cepat menaiki tangga.
"Ajeng ......!"
ceklek
ia membuka pintu kamar, dan mendapati Ajeng sedang duduk di sudut kamar di kursi kecil itu.
"Assalamualaikum .....!"
"Waalaikum salam .... !"
Al heran kenapa Ajeng tak juga menyambut kedatangannya, ia berharap Ajeng akan segera menyongsongnya dan mencium punggung tangannya.
Al pun meletakkan sajadahnya di meja yang sama di mana Ajeng meletakkan mukenanya, begitupun dengan Songko hitamnya.
Ia mendekati Ajeng, dan berjongkok di depannya, memegang tangan Ajeng.
"Ada apa sayang .....!"
"Mas ....., bisakah aku minta tolong?" tanya Ajeng dengan wajah memerah menahan malu, ia benar-benar malu untuk mengatakannya.
"Katakan ada apa?" Al mengelus pipi Ajeng.
"Aku butuh itu ...., anu .....!"
"Jangan ragu, ayo katakan akan aku carikan untukmu!"
"Aku butuh pembalut dan ****** *****! aku tidak membawa ganti!"
"Pembalut ....?"
"Iya ...., yang biasa wanita kenakan saat tamu bulanannya datang!"
"Jadi sekarang dia datang?" tanya Al dengan wajah memelasnya dan Ajeng pun mengangguk.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading πππππ
__ADS_1