
"Berhentilah membual dengan omong kosong kalian! Jangan membebani pikiran Edward dengan hal hal yang malah akan memperburuk keadaannya jika kalian ingin dia segera pulih. Dan aku tekankan pada mu Lukas, sebaiknya kau segera pulang. Data perusahaan mu sedang dibobol seseorang."
Suara bariton Jingmi membuat keempat pria itu menoleh dengan berbagai macam ekspresi.
Lukas melotot tak percaya. "Bagaimana anda bisa tau!" seru Lukas dan langsung berdiri dari duduk nyamannya.
"Terserah." Jingmi menaikkan bahunya acuh.
"Kalian keluarlah! Aku ingin bicara dengan Edward berdua." ucap Jingmi tidak ingin dibantah.
"Oke. Baiklah, kami keluar. Istirahatlah Ed." Setelah bicara seperti itu, Alex segera keluar diikuti dua kawannya.
Bagaimana keadaanmu." tanya Jingmi datar seraya melepas topeng dari wajahnya.
"Seperti yang kamu lihat. Ada apa, apa yang ingin kau bicarakan."
Jingmi menatap sejenak Edward, lalu mengalihkan tatapan kearah lain. "Pulanglah jika ingin pulang. Aku tak akan memaksamu untuk tetap tinggal. Benar kata mereka, kasihan istrimu. Tidak seharusnya kalian membohonginya. Masalah musuhmu yang berkeliaran di luar sana, aku yang akan mengurusnya."
Edward masih diam belum menanggapi ucapan Jingmi. Ia mengerutkan keningnya mencoba menyelami pikiran Jingmi.
"Kau mengusirku?" tanya Edward.
"Tidak!"
"Lalu kenapa berubah pikiran?"
"Aku juga akan ke Indo, perusahaan membutuhkanku saat ini." jawab Jingmi seadanya.
"Pergilah dan jaga istriku dari pria yang berniat mendekatinya. Aku akan tetap tinggal disini sampai setidaknya kemampuanku kembali walau aku harus menanggung rindu ini. Aku hanya tak ingin menambah beban pikirannya. Kasian istriku, dia pasti sudah lelah menangis. Aku hanya tak ingin melihatnya bersedih kembali."
"Apa imbalannya. Berani kau menyuruhku!" tanya Jingmi dingin. Sorot matanya menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Apa yang kau inginkan! aku akan berikan!" tatap Edward tak kalah dingin.
Jingmi menatap tajam Edward. "Jika aku minta istrimu untuk melayaniku, apa kau akan memberikannya padaku!" tanya Jingmi dengan seringainya.
Nafas Edward memburu, tangannya mengepal, matanya menyalak marah, tapi kemudian pria itu memalingkan wajahnya. Ia berusaha meredam kemarahannya, walau tak dipungkiri hatinya sangat kesal pada Jingmi.
"Lakukan apapun sesuka hatimu, tapi kau harus ingat, hati Aurora tak akan pernah berpindah pada pria lain. Dan ingat! aku tak akan segan segan membunuhmu jika kau berani menyentuh istriku. Golden Lion berkuasa di negaraku, jadi jangan harap kau bisa lepas begitu saja jika berurusan dengan kami! aku pastikan kau akan menyesali perbuatanmu jika mengusik istri King Leon!"
__ADS_1
Jingmi tersenyum miring. Meremehkan ucapan Edward. Ia bahkan sama sekali tak takut dengan ancamannya.
"Apa kamu pikir aku takut dengan ancamanmu King Leon? Kau lupa jika sekarang kau berada di daerah kekuasaanku he,,! Bahkan kau bisa sadar juga karena kerja keras kami. Dasar tidak tau diri!" ejek Jingmi.
"Berhenti omong kosong! Aku tak mengusik milikmu, jadi kau jangan mengusik milikku. Jika kau tak ingin membantuku, tak masalah! aku juga masih punya banyak anak buah yang siap kapan pun. Jadi apa hanya itu yang ingin kau bicarakan padaku! Jika iya, maka keluarlah! aku lelah, aku ingin istirahat." ucap Edward angkuh.
"Oke jika itu keputusanmu. Aku akan berangkat beberapa jam lagi. Beri tahu aku jika terjadi masalah disini. Dokter Jun akan tinggal disini selama aku pergi. Semangat dan berjuanglah untuk sembuh. Aku pergi." Jingmi menepuk bahu Edward dan melangkah keluar.
"Tunggu!" cegah Edward sebelum Jingmi melangkah lebih jauh.
"Terima kasih." Edward tersenyum tipis .
"Hemm. Segeralah pulih."
.
.
Di ruangan lain, Lukas sedang menelfon asistennya Dion di seberang sana. Ia berkacak pinggang sambil marah marah. Ia bahkan mengabaikan tatapan dari Alex dan Kwan yang sedari tadi mendengarkannya.
"Bodoh! apa kau tidak tau cara bekerja!" umpat Lukas. Ia begitu kesal karena masa cutinya masih harus memikirkan pekerjaan.
Dion disebrang sana sampai menjauhkan gagang telfon dari telinganya. Ia bahkan sampai mengusap telinganya gatal karena teriakan bosnya.
"Brengsek! Kau mengaturku! Awas saja jika aku sudah pulang, akan aku pecat kau jadi asistenku! asisten tidak berguna. Harusnya hal seperti itu kau bisa tanggap Dion!!"
"Tenanglah Bos, sebaiknya anda segera kemari dan lihatlah secara langsung jika tidak percaya. Tim IT perusahaan sudah mengerjakan tugas mereka dengan baik. Bu Bos bahkan santai santai saja, tidak ada perintah darurat, itu artinya tidak ada sesuatu yang menghawatirkan. Itu sebabnya saya tidak menghubungi anda. Oke Bos, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini. Anda bisa melanjutkan cutinya."
"Oke. Kita lihat saja mulut besarmu itu bisa bicara apa jika berhadapan denganku!"
Lukas memutuskan sambungan telfon kantornya. Ia begitu geram mempunyai asisten seperti Dion. Ingin sekali ia menyumpal mulut Dion dengan kaus kakinya.
.
.
Sementara diruang kerja Aurora, Aurora saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan didepannya, sesekali ia melirik kearah Brian yang kadang kadang tersenyum sendiri. Ia hanya menggeleng pelan melihat tingkah Brian. Ia sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan putra sulungnya itu.
"Berhentilah bermain main Boy. Kasihan paman paman itu. Kau membuatnya panik." kata Aurora lembut.
__ADS_1
"No Mom. Meleka harus dibeli pelajalan bial tidak enak enakan dan makan gabut, gaji buta."
"Haish , tau gini mom akan mendaftarkanmu sekolah boy. Sebenarnya yang tidak punya pekerjaan itu kamu, bukan mereka." keluh Aurora
"Jangan sekalang kalau sekolah, tugasku lagi banyak banyaknya mom. Aku langsung masuk SD saja ya." pinta Brian polos.
"Oke, tapi berhenti membuat kekacauan dan kunjungi sesekali kakek dan nenekmu. Kamu sudah lama tak mengunjungi mereka bukan?"
"I..itu.. tapi tetap halus sama mom ,Al dan El." Jawab Brian .
"Kenapa sama mom, mom kan harus kerja. Lagian dari pada kamu bosan ya kan?"
"Hah, Blian hanya tak ingin sakit hati mom. Di sana banyak sekali kenangan tentang daddy."
Brian jadi teringat akan sosok daddynya yang begitu penyayang. Ia tersenyum kecut saat membandingkan dengan sosok ayah kandungnya yang sampai saat ini masih terkurung di penjara GL.
"Pantaskah pria ini dimaafkan setelah apa yang dipelbuat pada daddy selama ini? Kau halusnya tak berusan dengan keluarga Daddyku. Dan sekarang kau harus menanggung akibatnya." batin Brian menatap datar layar laptopnya.
"Boy,.."
"Yes Mom."
"Benarkah tidak ada alasan lain selain mansion kakek Admaja menyimpan banyak kenangan tentang daddymu? Rasanya seperti ada yang mengganjal, kamu bohong ya.." tanya Aurora penuh selidik.
"Hah!mana ada. Pelcaya deh sama kakak. Tidak ada masalah diantala kami."
"Masalah?" beo Aurora. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya minta penjelasan.
"Ah, tidak bukan sepelti itu mom, aku hanya tidak ingin mom belpikil jika kami ada masalah. Ya, begitu.!" alasan Brian .
"Benarkah? lalu kenapa sikap nenek juga tak sehangat dulu jika padamu? Tidak mungkin jika tidak ada masalah."
Brian hanya menaikkan bahunya acuh. Ia pura pura serius menatap layar monitor didepannya. Ia sangat takut ketauan jika ibu dari daddynya sekarang telah berubah dan membencinya, ia takut membuat masalah dan dirinya yang harus dikambing hitamkan lagi oleh wanita tua itu.
"Oke, jika tak mau kasih tau,mom akan cari tau sendiri."
.
.
__ADS_1
.
#####