
Malam ini Edward dan Aurora habiskan malam dengan mengobrol ringan ditaman depan mansion Tuan Admaja. Langit malam terasa mendukung dengan suasana malam itu. Bintang terlihat bertaburan dilangit dan bulan bersinar dengan terangnya. Semilir angin malam sepoi sepoi tak membuat mereka beranjak dari dudukannya.
Aurora menyandarkan kepalanya dibahu Edward. Memeluk mesra suami tampannya. Rasanya begitu enggan mereka untuk saling melepaskan pelukan. Pelukan yang senantiasa membawa kedamaian dalam hatinya.
Sebuah perasaan bahagia itu yang mereka rasakan saat ini. Edward mengusap lembut perut Aurora, berharap didalam rahimnya sudah terisi bibit jagung yang selama ini ditanamnya.
Rasa syukur tak luput dari bibir mereka. Mereka disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci. Kebahagiaannya bertambah dengan kehadiran putra angkatnya yang lucu dan menggemaskan.
Entah suatu kebetulan atau takdir Tuhan, bisa memiliki sosok anak yang begitu mengagumkan. Edward dan Aurora sangat menyayanginya walau tidak ada setetes darah pun yang mengalir dalam tubuhnya.
Edward menciumi kepala Aurora dengan sayang, berbisik lirih ditelinga Aurora. Ia bilang , "Aku mencintaimu, Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik. Tapi aku berjanji akan selalu mendampingi dirimu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa di mana pun aku berada, apa pun yang terjadi, aku akan selalu memikirkanmu, dan waktu yang telah kita habiskan bersama adalah waktu yang paling menyenangkan bagiku. I love you my sunshine."
Aurora diam terpaku saat mendengar kata romantis dari suaminya. Ia tak menyangka jika penolongnya saat itu, akan menjadi suaminya. Pria yang dulu, kerempeng, potongan rambutnya culun, berkaca mata tebal, sekarang menjadi pribadi yang luar biasa. Aurora mengusap dada Edward. Ia tersenyum geli saat mengingat cinta pertamanya. "Kak Ard, sebesar itukah cintamu padaku, lalu apa yang bisa aku berikan padamu." batin Aurora memandang lembut wajah suaminya.
"I don't even want to think about what life would be like without you." ucap Aurora
(Aku bahkan tidak ingin memikirkan bagaimana jadinya hidup ini tanpamu )
Edward tersenyum, kemudian mengecup singkat bibir Aurora. Perasan cinta dan sayangnya semakin dalam saja. Perasaan yang tidak pernah memudar sejak pertama kali berpacaran dengannya, bahkan ia sama sekali tidak berminat mencari pengganti. Walaupun hari itu belum dipertemukan oleh Tuhan lagi, sampai detik ini ia juga masih akan setia menunggu.
"Kamu tau gak apa bedanya jam 12:00 sama kamu?" tanya Edward
Aurora menaikkan sebelah alisnya, "Apa...?"
"Kalau jam 12:00 kesiangan , kalu kamu kesayangan."
Ciee pipi Aurora bersemu merah. Dia merona mendengar gombalan suaminya.
"Tau gak kenapa menara pisa miring ?" tanya Edward kembali.
Aurora menggeleng.
"Karena ketarik sama senyummu."
Pipi Aurora semakin memerah. Ia tak menyangka jika suaminya juga pandai menggombal. Lantas ia memukul lengan suaminya pelan.
"Dasar, perayu ulung. Tukang gombal." ucap Aurora sambil mencubit pipi Edward gemas.
"Ah..aduh .. aduh.. ishh beneran kok. Aku nggak gombal." Edward memegangi pipinya.
Aurora tersenyum geli melihat wajah cemberut Edward. Dia paling tidak suka jika dicubit pipinya.
"Yang, motoran ke kafe yuk. Malem malem gini pasti rame yang lagi tongkrongan." ajak Edward
Aurora memeluk tubuh suaminya dari samping. Sebelah tangannya menelusup kedalam kaos yang dikenakan Edward, meraba perut suaminya.
__ADS_1
"Dingin..." ucap Aurora manja
Edward menahan nafasnya sejenak. Yang dilakukan Aurora barusan membuat sinyal negatif dalam dirinya bangkit. Ia menggenggam tangan Aurora yang sudah merayap kemana mana.
"Dingin ya pakai jaket to. Atau kamu mau kita kekamar sekarang." goda Edward, balas merangkul bahu Aurora. Mengecup kepalanya sayang.
"Ah tidak tidak... baiklah tapi pakai mobil saja."
Edward mengangguk dan tersenyum.
"Dad., Mom.. sampai kapan kalian telus belpelukan.!? Blian juga ingin dipeluk kalian." ucap Brian dari arah belakang yang mengejutkan mereka.
Edward dan Aurora tersenyum melihat kehadiran Brian yang tiba tiba.
"Kemarilah..!" pinta Aurora dengan mengulurkan tangannya.
Brian naik kepangkuan Aurora. Dia tersenyum senang saat Aurora dan Edward mencium pipinya gemas.
"Kemarilah, jangan duduk dipangkuan mom mu, kasihan adik bayinya." Edward mengulurkan tangannya dan meraih tubuh Brian.
"Bayi,,, yang benar saja. Hamil saja belum." batin Aurora
Brian mendongakkan kepalanya menatap wajah Edward, "Apa Blian akan segela jadi kakak..?"
"Tentu saja. Didalam perut mommy ada adik bayinya. Brian sebentar lagi akan menjadi kakak, so Brian harus menjadi kakak yang baik , kakak yang selalu menjaga adik adiknya, membantu mom mengurus adik kecil. Bagaimana, sudah siap jadi kakak bukan?"
"Kalau siap , artinya sudah tidak minum susu di botol dot lagi." celetuk Aurora
"I..itu.. Blian gak bisa bobok kalau nggak ngedot." ucapnya malu.
Edward dan Aurora terkekeh pelan. Walaupun otaknya sudah lebih dewasa, tapi nyatanya tubuhnya tidak seperti itu. Dia masih anak anak yang masih butuh dot saat ingin pergi tidur.
"Itu..waktu di Paris bisa. Kenapa sekarang gak bisa?" tanya Aurora
"Itu kan, aku boboknya sama Mommy, lah sekalang mommy diambil daddy telus. Daddy me.mo.no.poli mommy telus."
Edward mengacak rambut Brian gemas. " Mommy kan memang milik daddy, so don't be jealous.!"
"Tuh kan mom..!" adunya dengan mengerucutkan
"Tenang saja, besok mom akan temani Brian bobok. Daddy besok ada perjalanan bisnis dua hari di Singapura." Aurora memberi tahu.
"Wow.. Blian ikut boleh?" tanyanya antusias.
Eh
__ADS_1
Edward dan Aurora saling berpandangan, "Dad, pergi kerja sayang, bukan mau jalan jalan. Lagian ngapain kamu mau ikut.!?" Edward mengerutkan dahinya.
"Emm itu.." Brian diam sejenak.
"Mau lihat patung kepala singa belbadan ikan. Blian diledekin Emely kalna belum pelnah kesana." jawabnya jujur.
Edward diam sejenak. Memandang wajah Aurora.
"Tanya mommymu, kalau mommy bisa cuti, kita bisa liburan bersama lagi, tapi daddy tidak bisa menemanimu jalan jalan, daddy harus kerja."
"Gimana mom.." Brian mengedip ngedipkan matanya.
Aurora tersenyum dan mengangguk.
"Yey..." sorak bahagia Brian.
"Baiklah lekaslah tidur. Besok bangun pagi pagi, karena kita akan naik pesawat komersial." ucap Edward menasehati.
"Baiklah, Blian masuk dulu. Bye Mom, Dad. Good nite..."
"Good nite too.."
Aurora tersenyum bahagia. "Terima kasih telah memberiku banyak kebahagiaan setelah hadirmu. ,
Aurora mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir suaminya. Ciuman yang begitu lembut yang membuat jiwa Edward terpancing untuk melakukan yang lebih. Aurora naik kepangkuan suaminya dan mengalungkan tangannya ke leher Edward tanpa melepas pagutannya. Edward mendadak gelisah dengan permainan lidah istrinya. Junionya mendadak ingin mengintip siapa gerangan yang sudah berani menindihnya dan membuatnya terbangun dalam tidur damainya.
"Kita pindah..?" bisik Edward yang sudah mulai terbakar gairah.
Aurora hanya mengangguk, mengiyakan ajakan Edward.
"Ehhemm...!"
Suara deheman membuat mereka mendongakkan kepalanya keatas melihat siapa yang sudah mengganggu moment mereka.
"Ck sialan..!"
.
.
.
###
.
__ADS_1
.
.