Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Sial! Salah perhitungan!


__ADS_3

"Selamat datang di kediaman kami." Ujar pria paruh baya itu menyalami rombongan Edward yang baru saja tiba.


Rumah besar bernuansa putih dengan kombinasi cream tampak mewah ditunjang dengan desain interiornya yang tampak elegan.


Pria paruh baya itu duduk di sebelah istrinya Yiwen yang tampak terkesima dengan Aurora. Sedikit tercengang, tapi wanita itu mencoba tersenyum ramah dengan tamunya. Bagaimana pun, wajah itu mengingatkannya pada sosok Laura yang telah lama tiada.


Dari arah tangga, Willi tampak berjalan kearah ruang tamu. Pria itu mengulas senyum tipis dan menyalami Edward dan yang lainnya.


"Sudah lama kakak ipar."


"Belum, kami baru saja tiba." ucap Edward tersenyum ramah.


Willi mengangguk dan duduk di sofa tunggal.


"Sebelumnya kami minta maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu Anda sekeluarga." ujar Edward memulai pembicaraan.


"Apa yang kau katakan kakak ipar. Kami justru senang, kalian mau datang kemari. Kita kan keluarga." ujar Willi yang langsung dilirik tajam ayahnya. Bisa bisanya anak itu memotong pembicaraan.


"Sebelumnya perkenalkan, wanita disamping saya ini Aurora, istri saya. Kedatangan kami kemari selain untuk membahas pernikahan adik kami, juga ingin menanyakan perihal Laura."


Tuan JianYing mengangguk tak keberatan.


Wanita ini benar-benar mirip Laura, pantas Jingmi dan Willi begitu menyukai wanita itu. Aku tak menyangka jika keluargaku akan terhubung dengan cara seperti ini. Batin Nyonya Yiwen, menatap lekat Aurora.


"Jadi apa yang bisa saya bantu." ujar Tuan JianYing.


Edward mengangguk, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Sepertinya pembicaraan kalian penting. Aku akan membawa Brian ke studio musikku. Boleh bukan kakak ipar?"


Willi beranjak dari duduknya, memberi kode Brian untuk mengikutinya.


"Tentu saja." jawab Aurora

__ADS_1


.


.


Di belahan bumi lainnya.


Madam Yora kali ini sedang berada di salah satu usaha ilegal Tuan Yashimoto. Sebuah usaha perdagangan organ yang memiliki keuntungan yang tak main main jumlahnya.


Wanita itu duduk menatap berkas diatas meja. Memainkan rahangnya sembari memikirkan sesuatu.


Tidak mungkin jika hanya ini yang dimiliki pria itu. Tidak mungkin jika dia tidak memiliki bisnis legal. Lalu usaha apa untuk menutupi semua bisnis ilegal ini.


Madam Yora tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Walaupun semua usaha ilegal milik Tuan Yashimoto sudah berpindah tangan menjadi miliknya, dan sudah bisa dipastikan berapa banyak uang yang dapat ia bawa pulang ke negaranya, tapi ia belum berpuas diri.


Morgan datang membawa sebuah map coklat yang berisi kepemilikan aset lain Tuan Yashimoto. Pria itu duduk dengan wajah malasnya.


"Lihatlah. Aku rasa kita telah salah perhitungan."


Madam Yora menaikkan dua alisnya. Apa maksudnya. Selama ini dia tidak pernah salah perhitungan.


Map coklat itu berisi copyan banyak aset legal milik Tuan Yashimoto yang meliputi surat kepemilikan bangunan, lahan, deposito, tabungan, saham dan perusahaan terbesar di negara itu. Bahkan jika di jumlahkan, aset itu bisa digunakan sampai tujuh turunan. Nilai yang fantastis. Ia tak percaya jika pria itu adalah crazy rich.


"Kerja bagus Morgan."


Morgan menaikkan sebelah alisnya. Apa maksudnya, apa wanita itu tidak bisa membaca dengan jelas.


"Semua itu tidak bisa dibalik nama atas namamu. Mereka sudah lebih dulu mengurus kepemilikan itu. Kau hanya mendapatkan hasil dari usaha ilegal mereka saja." ujar Morgan santai.


"Apa maksudmu! Bukankah bukti yang kita miliki sudah kuat! Bagaimana bisa kita tidak dapat mengambil alihnya!"


Morgan memantik rokoknya, disesapnya perlahan dan mengepulkan asap dengan santainya. Baginya, ia tidak bisa memakai emosinya jika sedang menjelaskan pada Madam Yora.


"Karena semua aset itu bukan milik Kimura, melainkan milik pria tua itu. Semua aset itu sedang dalam proses balik nama. Kita terlambat satu langkah dibelakangnya. Surat Kuasa yang kita miliki, hanya bisa mengakuisisi aset milik Kimura, bukan Yashimoto. Sialnya, kita tidak tahu jika semua aset legal itu belum dibalik nama atas nama Kimura. Tahu begini, kita tidak membunuh pria tua itu. Kita salah perhitungan Yora. Dan kamu tau, lebih sialnya lagi, Kimura tidak memiliki usaha legal yang bisa kita rampas. Perusahaan di Indonesia juga sudah dijual pria itu. Tak ku sangka, dia hanya pria miskin."

__ADS_1


Morgan menyesap rokoknya dalam dalam, rasa kesal menjalar di hatinya. Walau dia tidak mengeluarkan banyak tenaga untuk menghabisi para Yakusa itu, tapi dana yang dia keluarkan juga tidak sedikit. Ini jauh dari ekspektasinya. Banyangan ia bisa mendapatkan keuntungan ratusan ribu dolar menguap sudah.


Madam Yora tercenung mendengarnya. Wanita itu memainkan rahangnya, mencoba mencari solusi. Benar, ia sudah salah perhitungan.


Dia tau jika kelompok Yakusa itu punya banyak aset berharga, tapi tak menyangka jika pria tua itu belum memberikan pada Kimura, hanya usaha ilegalnya saja yang sudah dipindah tangankan. Ia jadi menyesal sudah membunuh pria tua itu.


"Lalu siapa yang memperoleh semua aset itu." tanya madam Yora.


"Dia pewaris utama. Cucu pertama pria itu."


Morgan mematikan rokoknya. Pria itu ganti menyesap bir dengan santainya.


"Apa bayi itu?"


"Bukan!" jawab cepat Morgan.


Madam Yora membesarkan matanya. Dari informasi yang dia dapatkan, Kimura hanya memiliki satu orang anak, yaitu Keiko Kana. Dia bayi yang berhasil Morgan culik dari para pengawalnya, saat pelariannya malam itu. Dan kemungkinan besar, bayi itu sudah mati bersama Kimura, akibat berondongan senapan otomatis milik Morgan. Lalu siapa jika bukan anak itu.


"Dari penyelidikan, namanya Kenta Maeda. Tapi aku juga belum tau dimana anak itu berada. Lebih tidak taunya, siapa wanita yang sudah melahirkan anak itu. Sepertinya dia lahir bukan dari pernikahan yang sah. Minta Lauren mencari tau. Aku harus kembali dan maaf aku harus membawa anak buahku. Aku tunggu keuntungan yang kau janjikan Yora. Tugasku sudah selesai di sini."


Madam Yora hanya bisa menatap datar pria itu. Ia sebenarnya masih butuh bantuan pria itu, tapi memaksanya juga tidak baik untuk organisasinya. Apalagi ia sedang kekurangan anak buah.


"Oke. Aku akan segera mengurusnya, tapi jangan membawa jet pribadi itu."


"Tidak masalah. Aku akan menyewa jet pribadi lainnya. Sampai jumpa dan berhati hatilah. Ini bukan wilayahmu."


Setelah mengatakan itu, Morgan langsung keluar dan menghubungi anak buahnya untuk segera berkumpul. Dia harus segera pulang jika tak ingin terjadi masalah yang lebih besar. Ia sudah hafal dengan sepak terjang wanita itu dan ia tidak ingin terkena imbasnya. Ia masih sayang dengan nyawanya. Jangan sampai ia berurusan dengan orang yang tak seharusnya dia usik.


Madam Yora kembali membaca copyan surat berharga itu. Jiwa materialistisnya bangkit. Ia ingin sekali menguasai aset itu, tapi bagaimana caranya. Wanita itu mengusap dagunya perlahan dan sebuah ide muncul dalam otaknya. Dia menyeringai licik.


.


.

__ADS_1


.


#######


__ADS_2