
Aurora memandangi langit malam dengan pandangan kosong. Walau air matanya telah mengering, tapi wajah sembabnya masih terlihat dengan jelas.
Listy yang melihat itu langsung menghampirinya dan mengusap bahu Aurora . "Apa yang kau pikirkan hem."
Aurora menoleh dan tersenyum tipis. "Kami berpisah lagi."
"Tak apa, cinta memang tak harus memiliki, kata orang yang tak pernah dicintai." kelakar Listy tapi malah membuat Aurora menangis lagi.
"Ra, plis jangan merasa sedih sendiri, disini banyak orang yang terluka, bukan cuma kamu saja. Brian, mertuamu apa kabarnya, Kamu tidak tau, bahkan anak itu diam diam menangis sendirian. Siapa yang menghiburnya? Bahkan dia bisa menguatkan hatinya agar kamu tak tambah bersedih ketika melihatnya menangis. Tidakkah kau tau perasaan anak itu? Kenapa kamu egois sendiri. Kamu bahkan tidak memikirkan anak anakmu. Kamu tidak mau menyusui mereka. Tidak menggendong mereka, ibu macam apa kamu ini. Kamu terus saja menangis dan tenggelam dalam keterpurukan. Ayo bangkitlah! Jalani hidupmu dengan baik. Masih banyak orang yang membutuhkanmu. Kamu wanita yang kuat, wanita yang tegar. Kamu pasti bisa menjalani ini semua." omel Listy
"Hiks..hiks.. tapi nyatanya aku tak sekuat itu."
Listy langsung memeluk sahabatnya. "Kuatkan hatimu, aku percaya kamu pasti bisa. Setelah badai pasti ada pelangi dan kamu harus yakin itu. So, hapus air matamu dan tersenyumlah." ucap Listy dan menepuk nepuk punggung Aurora.
Aurora melonggarkan pelukannya dan mengusap airmatanya.
"Ayo kita turun. Kata bibi tadi ada yang ingin bertemu denganmu. Please jangan menutup diri, wanita kuat bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Masih ada kami yang selalu ada untukmu. Ayo kita lanjutkan hidup ini. Walaupun kita harus menapaki jalan berliku dengan kerikil tajam. Aku yakin kita yang akan jadi pemenangnya. Mari kita takhlukkan dunia ini. Dan aku akan membantumu untuk bangkit dari keterpurukan ini." Listy tersenyum lebar setelah mengatakan itu. Tidak tau mengapa ia bisa berkata bijak pada sahabatnya.
"Thanks.. kamu memang yang terbaik."
***
Henry dan Claire menatap dua orang wanita yang baru saja menuruni anak tangga. Henry mengulas senyum tipis untuk Aurora. Sudah lama ia tak bertemu dengan wanita itu. Rasa rindu padanya pun menguap seketika.
Sedangkan Claire menatap aneh Listy, ia bertanya tanya dalam hatinya, ada hubungan apa dengan aurora pikirnya.
"Silahkan duduk Tuan Henry dan nona..." ucap Aurora menggantung. Ia masih mengamati wajah Claire yang sekilas mirip Henry Lim.
"Nona Claire." sahut Listy.
Aurora mengangguk ,"Nona Claire silahkan duduk."
"Kami ikut berduka cita atas kepergian suami anda nona Aurora. Maaf kami baru bisa hadir hari ini." sesal Henry.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang kemari Tuan." jawab Aurora sekenanya.
"Sudah sepantasnya, kita kan bermitra, jadi sudah sewajarnya kami melawat kemari. Sayang sekali anda tidak menjabat lagi di perusahaan Hardy's."
__ADS_1
"Apa ada masalah dengan proyek kita waktu itu Tuan Henry? Seperti anda kecewa saya tak lagi menjabat disana? Saya akan menegur Tuan Andi jika terjadi kesalahan."
"Ah bukan seperti itu. Hanya saja, saya merasa ada yang kurang jika tidak mendengar suara anda. Tapi tidak masalah, saya menghargai keputusan anda. Apapun untuk anda."
Sedangkan Listy diam menyimak pembicaraan mereka. Ada rasa tidak suka pada pria itu. Ia sebal dengan tatapan matanya yang terlihat nakal. Ia hafal betul tabiat pria itu.
"Ehem, Tuan Henry, nona Claire, apa kalian akan langsung terbang malam ini juga? Kami akan menyiapkan akomodasi penerbangan untuk anda jika anda membutuhkan." usir halus Listy .
"Tak perlu kode kodean pada kami Nona Listy. Kami datang kemari selain berkunjung kemari, kami juga ada pekerjaan disini. Kami masih akan menginap beberapa hari dikota ini. Dan satu lagi nona Listy, kami kemari membawa jet pribadi. Anda tidak perlu menyiapkan akomodasi atau yang lainnya." ucap sombong Claire.
Aurora tersenyum masam mendengar hal itu. Ia jadi tidak enak sendiri.
"Wow, Benarkah! Anda memang kaya Tuan Henry Lim. Tapi maaf, sepertinya nona Claire salah paham dengan maksud saya." ucap Listy.
Henry yang semula memandangi wajah Aurora , mengalihkan atensinya menatap tajam Claire. Sedangkan yang ditatap cuek tak peduli.
"Ehmm,maaf kami harus kembali. Mungkin esok atau lusa kita bisa berbincang lagi. Sekali lagi kami ikut bela sungkawa nona. Saya harap anda tegar menghadapi semua ini. Kami pamit, ini sudah malam. Jika ada waktu, mampirlah ke tempat kami. Selamat malam sayang. Jangan bersedih terus. Datanglah padaku jika kamu membutuhkan bantuanku." Henry tersenyum kecil dan mengecup punggung tangan Aurora.
Listy membulatkan matanya. Ia geram bukan main. Berani beraninya ia menggoda Aurora disaat yang tidak tepat.
"Maaf jangan seperti ini." Aurora menurunkan tangannya.
"Dasar kurang ajar!" umpat Listy dengan suara tertahan. Ia memukul mukul udara seakan itu kepala Henry. Aurora hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.
"Sudahlah, dia memang pria aneh. Tidak perlu ditanggapi terlalu serius."
"Issh.. kamu terlalu berbaik hati pada manusia itu. Itu namanya tidak sopan tau! Uuughh rasanya ingin ku tempeleng kepalanya, biar bener itu otaknya. Bisa bisanya." omel Listy.
Aurora hanya diam saja. Otaknya masih belum bisa on. Ia juga tidak menganggap besar masalah itu.
.
.
Disisi lain, terlihat seorang pria tengah menangis tersedu melihat seorang wanita disiksa oleh anak buah Alex. Ia ingin menolong tapi tak bisa melakukan apapun. Dirinya juga terkurung dalam jeruji besi .
"Aku mohon hentikan. Hentikan Alex! Hentikan!" Raung Darius memukul mukul jeruji besi itu.
__ADS_1
"Hahaha..!! Bagaimana rasanya. Itu hukuman karena kesalahan terbesarnya. Dan Kau! tunggu giliranmu!" tunjuk Alex dengan mata melotot.
Viona tertawa terbahak bahak sambil menahan perih disekujur tubuhnya. Ia merasa puas karena sudah berhasil membuat marah Alex.
"Hahaha itu karena kesalahan kalian sendiri. Aku hebat bukan? Aku bisa membunuh pria nomor satu di negeri ini. Bahkan pria itu saja tak mampu melakukannya. Hahaha.. Kalian semua bodoh!"
Alex menggertakkan giginya. Tersinggung atas ucapan Viona.
"Kau juga akan segera menyusulnya, tapi tak semudah itu. Kau akan mati disini perlahan. Kau bahkan tak ku izinkan melihat sinar matahari. Kau bahkan tak akan bisa membedakan mana siang dan malam. Selamanya kau akan terkurung ditempat gelap, lembab dan kesepian disepanjang hidupmu hingga kau menyesali semua perbuatanmu pada kami. Kau akan merasakan jika dunia ini seperti neraka.!"
"Hahaha... aku tidak peduli Alex! aku tidak peduli! Bahkan aku sudah kesepian sejak Edward menikahi wanita sialan itu. Harusnya aku membunuh wanita sialan itu.! Hah bodohnya aku." ucapnya melantur.
"Kalian! Potong lidahnya! Aku tak sudi mendengar ucapan sampahnya lagi.!" perintah Alex keji.
"Kumohon jangan lakukan itu pada Viona Alex!! aku akan menggantikannya!" seru Darius panik.
Alex tersenyum sinis menatap Darius. " Kau mencintai wanita yang salah. Kau pria bodoh. Dia bahkan sudah menjadi ja lang. Apa yang kau lihat darinya. Dia bahkan sama sekali tak menganggapmu ada. Dia tidak mencintaimu. Kamu pria terbodoh di dunia ini. Dan saking bodohnya kau mengusik kami., kau juga akan mendapatkan hukumanmu Darius!"
"Aaaaaaa!!!!!!" jerit Viona
"Aagghhh Alex!!!!" Teriak Darius. Ia menangisi wanitanya yang mengerang kesakitan.
"Okey semuanya! Pindahkan wanita itu keruang bawah tanah! Dan Lion! Kau jaga pria itu disini. Jangan biarkan dia kabur. Kau mengerti!"
Roarhh
Alex terkekeh mendengar aungan binatang itu.
"Bos!" Anak buahnya berbisik lirih ditelinga Alex. Entah apa yang disampaikan anak buahnya.
"Oke. aku akan segera kesana."
.
.
.
__ADS_1
####