
"Edward,.. apa kau tidur?" Sapa Jingmi begitu masuk kedalam kamar yang ditempati pria itu. Ia mengeryit melihat Edward yang menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sampai kepalanya.
"Tidak, aku hanya merasa lelah saja." jawabnya lesu. Ia menurunkan sedikit selimutnya. Dahinya mengernyit, matanya menyipit saat melihat tampilan Jingmi saat ini yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa denganmu. Benda apa yang menempel diwajahmu."
"Hem, tidak semua orang mengetahui wajah asliku. Aku harap kau tidak mengungkap keruang publik." jawabnya datar.
"Jangan bertanya itu sekarang, aku akan menjelaskan itu nanti. Dibawah ada tiga anak buahmu yang ingin bertemu denganmu. Kau ingin menemuinya?"
"Hem, tolong bantu aku."
Edward kini telah siap. Ia sudah duduk di kursi roda elektriknya. Dibelakangnya ada Jingmi yang mendorong kursi roda Edward dengan gaya angkuhnya.
"Selamat datang dikediamanku Tuan Tuan..." Suara bariton Jingmi memecah pembicaraan mereka bertiga. Kwan dan Alex mengulas senyum tipisnya. Sedangkan Lukas, matanya melebar menatap tajam dua manusia didepannya.
"Kalian merindukanku?" seloroh Edward yang melihat dirinya dengan berbagai ekspresi.
Lukas melangkah maju, ia berjongkok didepan kursi roda Edward. "Kau, masih hidup Tuan, a..apa aku sedang bermimpi? Tapi ini terasa nyata." Lukas memegang tangan Edward.
Edward tersenyum tipis."Ya, aku masih hidup. Kau tidak ingin memelukku?"
Lukas langsung saja mendekap tubuh Edward. Ia mendongak menghalau air matanya yang ingin meluncur bebas. Ia begitu bahagia melihat Edward kembali.
"Terima kasih sudah kembali Tuan. Terima kasih." ucap Lukas dengan bibir bergetar.
"Sudah jangan menangis, laki laki sejati tidak akan cengeng. Jadi katakan padaku, siapa namamu hem. Oh kau Alex bukan." Edward tersenyum tipis dan menepuk punggung Lukas.
Lukas sontak melepaskan pelukannya, menghapus air matanya kasar dan menatap tajam Edward. "Apa yang terjadi padamu Tuan!"
"Aku Lukas,bukan Alex."
Lagi Edward tersenyum tipis. "Ah maafkan aku. Aku lupa."
Lukas melotot tidak percaya. Ia kemudian mengalihkan tatapannya pada orang yang berdiri dibelakang Edward. Lukas seperti orang syok ketika melihat keberadaan orang itu diantara mereka.
"Ehmm, duduklah. Tidak enak jika bicara sambil berdiri." Jingmi menengahi dengan suara datarnya.
Lukas hanya mengangguk dan duduk di sebelah Edward.
Edward menelisik ketiga teman prianya, ia mencoba mengingat apapun tentang mereka, tapi ia sama sekali tak mendapat ingatannya.
"Jadi, ada yang bisa menjelaskannya padaku. Kenapa Tuan Edward bisa bersama pria itu." tanya Lukas datar. Menatap tajam Alex dan Kwan yang tampak biasa biasa saja melihat sosok Edward. Ia mencurigai teman temannya itu.
"Kami berdua yang sengaja menyembunyikannya saat insiden keracunan waktu lalu. Dan Kwan yang membawanya kemari. Dan Tuan itu yang selama ini merawatnya." jawab Alex
Lukas mengepalkan tangannya dan
BUGH
"Brengsek! manusia macam apa kau! Kau membuang air mata yang berharga ini HAH! Kau tidak tau betapa terpukulnya aku saat Edward tiada! Bang sat kau Alex!!!
__ADS_1
BUGH
Edward hanya meringis melihat itu. Ia memegangi pipinya sendiri yang tiba tiba terasa ngilu.
"Hentikan!! Jangan ada yang berkelahi dirumahku! atau jika tidak anak buahku yang akan memukul kalian berdua!" seru Jingmi dengan nada mengancam.
Lukas langsung ditarik duduk oleh Kwan. Sayangnya niat baik tak selalu mendapat respon yang baik. Lukas mengepalkan tangannya lalu menyikut dada Kwan hingga pria itu tersungkur kebelakang.
DUAK
"Ugh.. ck! kasar sekali!" Kwan menggelengkan kepalanya.
"Kau, kenapa kalian berdua tidak membicarakan hal ini padaku! Aku akan membicarakan ini pada nona Aurora. Awas saja kalian, bersiaplah mendapatkan amukan darinya!" tuding Lukas geram. Ia segera mendial nomor ponsel Aurora.
"No no no! Jangan kau beri tahu istriku. Aku belum siap bertemu dengannya!" ucap Edward menghentikan aksi Lukas yang ingin menghubungi Aurora. Sayangnya panggilan itu sudah terhubung. Suara merdu Aurora sudah menyapanya.
Lukas menatap Edward yang menggelengkan kepalanya pelan.
"Hallo, Ada apa Lukas?" tanya Aurora diseberang sana.
"Nona, ada yang ingin aku bicarakan."
"Oke, Katakan. Oh sebentar Lukas, sepertinya putraku menangis. ...Bry, tolong mom sebentar nak, ajak El bermain dulu ya. Mom masih terima telfon. --- Oke mom."
Edward tersenyum tipis mendengar suara istri dan anak anaknya.
"Oh, sorry Lukas, jadi ada apa kau menelfonku malam malam begini, apa ada masalah." tanya Aurora
"Besok saya tidak bisa ke kantor. Saya ada keperluan mendadak. Dion yang akan menggantikan pekerjaan saya esok hari." cicitnya ragu. Ia menoleh kearah Edward yang menampakkan senyum sejuta dolarnya.
"Jangan sungkan begitu. Pergilah Lukas, kau sudah banyak menghabiskan hari harimu dikantor. Kau boleh mengambil cutimu. Selamat bersenang senang."
"Terima kasih nona. Saya akan segera kembali."
"Oke."
Lukas tersenyum tanpa dosa. Tiba tiba,,,
PLAK
"Oh ****! Kenapa kau memukul kepalaku!" Lukas melotot pada Alex yang menampakkan senyum sinisnya.
"Kau hampir saja membuat rencana kami gagal. Kami dengan susah payah menyembunyikannya, dan sekarang kau dengan seenak perut mau membeberkannya! Awas saja jika terjadi sesuatu hal pada Edward. Aku pastikan kau orang pertama yang aku buru. Jangan harap kau bisa lepas begitu saja dariku.! ancam Edward bengis.
Lukas hanya memicingkan matanya mengejek.
"Stop!" Sebaiknya aku pergi saja. Aku ada urusan lain. Kalian menginaplah disini. Kwan yang akan menunjukkan kamar untuk kalian." Jingmi sudah gerah dengan tingkah ketiga orang itu.
"Dan kau Edward, segeralah istirahat. Esok adalah hari yang melelahkan buatmu. Aku pergi dulu."
"Thank you dude."
__ADS_1
"Hem."
.
.
Setelah menerima telfon dari Lukas, Aurora segera menghampiri El yang sedari tadi menangis.
"El, kenapa menangis?" Aurora mengambil alih dari gendongan Brian.
"Kakak!" tunjuknya
Aurora menoleh kearah Al yang masih sibuk bermain sendiri tak mempedulikan El yang mengadu pada mommynya.
"Kak Al, ..!"
"Maaf mom." cicitnya pelan.
Aurora hanya menghela nafasnya. Putranya satu itu kenapa tak bisa sehangat Brian. Anak itu cenderung keras kepala dan ketus pada orang lain.
"Lain kali harus lebih sayang sama adik. Oke kak Al."
"Yes mom."
"Baiklah, kalian sekarang tidurlah. Ini sudah malam." Aurora membaringkan kedua anaknya dan menepuk pantatnya pelan agar lekas tidur.
Aurora memandangi dua wajah kembar putranya. Ia tersenyum tipis ketika mengingat wajah suaminya yang melintas di pikirannya.
"Terima kasih suamiku, setidaknya ada dua putramu yang menggantikan sosokmu. Andai saja kamu masih berada disisiku." batin Aurora sendu. Rasanya ia ingin menangis saja jika teringat suaminya.
"Mom, "Brian memeluk Aurora dari belakang.
"Jangan menangis, masih ada kami yang menemanimu."
Aurora mengusap punggung tangan Brian."Terima kasih sudah hadir di kehidupan kami. Mom menyayangimu."
"Mom, apa kau ingin menikah lagi?" celetuk Brian yang membuat Aurora segera membalikkan badannya.
"Apa maksudmu boy?"
"Aku hanya ingin mom bahagia. Aku ingin melihat senyum indahmu lagi mom." ucapnya lirih.
"Jangan berpikir yang tidak tidak. Mom bahagia jika melihat kalian bahagia. Sekarang tidurlah, mom akan menemani kalian."
"Hah, bagaimana caraku menikah lagi boy. Hatiku bahkan ikut mati bersama raga daddymu. Sepertinya mom tidak akan menikah lagi sampai kematian itu tiba. Mom terlalu mencintai daddymu." batinnya.
.
.
.
__ADS_1
#####