Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tak ada yang abadi


__ADS_3

"Emhh.." desis Aurora


Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk retinanya. Tubuhnya terasa sakit dan kaku.


Dipandanginya sekeliling ruang itu. Ia bisa melihat perawat yang sedang duduk ditempat kerjanya dibalik celah kecil tirai yang mengelilinginya.


"Apa ini di ICU..?" batinnya


"Dimana suamiku..? Kenapa tidak ada orang yang menungguku? Kemana mereka?" gumamnya lirih.


"Aghh, kakiku sakit sekali.." ringisnya, sembari membuka selimut.


"Apa kakiku patah? Ishh..."


Aurora hanya bisa diam di tempat tidurnya, haus mau minum juga tak bisa mengambilnya. Mau teriak minta tolong, suaranya juga tak cukup. Badannya masih terasa lemah sekali. Ia memejamkan matanya kembali.


Baru tertidur sebentar, sayup sayup terdengar suara keributan disebelahnya. Ruang yang hanya disekat tirai membuatnya semakin lama semakin jelas mendengar suara keributan itu.


"Dokter, gawat detak jantung pasien melemah, pasien kejang...!!" seru seorang perawat.


Dokter berlari tergesa mendekati ranjang pasien. Mereka berusaha melakukan pertolongan pertama.


"Panggilkan Dokter Rian cepat..!!!" Teriak Dokter jaga.


Aurora mengerjapkan matanya. Siapa yang sedang kritis disebelahnya pikirnya, ingin melihat tapi tangannya tak sampai menyibakkan tirai.


Dokter Rian datang berlari, membuka pintu kasar, ekor matanya melirik keruang milik Aurora. Ia membulatkan matanya, terkejut melihat Aurora yang sudah sadar dan duduk diranjang pesakitannya.


Aurora tersenyum tipis melihat Dokter Rian, tapi dokter Rian hanya mengangguk dan berjalan tergesa kembali.


"Dimana perawat lainnya, bantu nona Aurora, dia sudah sadar..!!" ucap Dokter Rian mengambil alih tindakan.


"Baik dok." ucap salah satu perawat


Dua perawat mendatangi Aurora. Mengecek kondisi kesehatan Aurora paska komanya.


"Anda sudah sadar nona, maafkan kami, kami tidak tau. Apa anda ingin minum?" tanya seorang perawat mengambilkan gelas dinakas.


"Terima kasih." Aurora tersenyum menerima gelas itu.


"Mbak, kalian tau dimana suamiku? Kenapa disini tidak ada keluargaku, kemana mereka?" tanya Aurora pelan.


Perawat itu tersenyum tipis, "Ini ruang ICU nona, jam kunjung memang dibatasi. Mereka semua ada diluar menunggu anda. Istirahatlah nona, jangan banyak pikiran , anda baru saja sadar. Apa anda ingin makan.?"


Aurora menggeleng.


"Anda harus makan, anda sedang mengandung, kasihan janinnya, dia juga butuh nutrisi." perawat itu tersenyum.


"Hamil..?"


"Iya nona."


Senyum Aurora merekah, "Lalu dimana suamiku mbak? Apa dia juga dirawat disini?"


Dua perawat itu bergeming.


"Kenapa kalian diam saja, nama suamiku Edward, Edward Felix Edlyn, apa kalian tidak mengenalnya?"


"Kami mengenalnya nona, beliau ada disebelah anda." ucapnya sedih.


"Sebelah..?" beo Aurora.


"Aku ingin melihatnya, buka tirainya..!! cepat..!!!" Aurora tiba tiba panik. Ia takut jika pasien yang tadi didengarnya adalah suaminya.


"Tapi nona, dokter sedang melakukan tindakan." cegah satu perawat.

__ADS_1


"Cepat buka..!!Aku ingin melihatnya..!!!" seru Aurora.


Entah dapat kekuatan darimana, Aurora bisa berseru dengan suara kerasnya.


Dua perawat itu saling memandang, tak mau mengganggu dokter yang sedang melakukan tindakan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka tirai tersebut dari pada Aurora membuat keributan.


"Nona tenanglah, kami akan membukanya,"


Aurora menutup mulutnya, tak percaya saat melihat kondisi tubuh suaminya. Suami tampannya kini terbaring lemah, dibadannya terdapat banyak alat medis, serta perban yang melilit badannya, belum lagi kepalanya yang dibebat perban.


Aurora menitikkan airmatanya. Ia menangis sedih melihat kondisi itu.


"Sayang Bertahanlah, itu pasti sangat sakit sekali." tangisnya terisak.


"Dokter nafas pasien berhenti..!!"


Deg


Aurora membulatkan matanya, jantungnya berdebar debar tak karuan. Air matanya menetes deras.


"Siapkan defibrilator..!!' seru dokter Rian


"Tidak..! ini tidak mungkin..!!" Aurora menggeleng keras dengan air matanya meluncur deras. Hatinya begitu hancur


"Edward aku mohon bertahanlah..Jangan tinggalkan aku. Hiks.. hiks.."


Dokter Rian berpeluh keringat dingin dalam upaya pengembalian detak jantung Edward, dirinya sudah ingin menangis melihat kenyataan didepannya. Apa yang akan dikatakan pada keluarganya jika sesuatu buruk terjadi padanya.


"150 joule.!!" seru dokter Rian


Aurora menangis sedih, melihat tubuh suaminya yang begitu memprihatinkan. Ia jadi teringat ketika suaminya begitu melindungi dirinya dan putranya.


"Tambahkan energinya..!!"


"Sayang aku mohon bertahanlah, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku...Aku mencintaimu,"


"CPR..!"


"Sayang aku mohon bertahanlah, Demi Tuhan, jika kamu pergi, aku akan ikut bersamamu. Jangan tinggalkan aku, kembalilah padaku. Kau sudah berjanji untuk selalu berada disampingku.."


"EDWARD...!!! Haaaaa...aaaaa" tangis Aurora terdengar begitu pilu.


Dokter Rian semakin syok mendengar suara tangis istri Edward, dia sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kondisinya belum ada perubahan.


"Naikkan energinya, 200 joule..!!"


"Dokter denyut nadinya hilang...!!"


Dokter Rian meneteskan air matanya dibalik masker pada wajahnya. "Ayo,bertahanlah ..!! tidakkah kamu mendengar tangisan istrimu. Istrimu sedang mengandung anakmu, tidakkah kami ingin melihat bayi itu lahir kedunia? Ayo bertahanlah.. aku mohon bertahanlah.." gumam Dokter Rian sambil menekan dada Edward diatas ranjang pesakitan.


Tiiiiiiiiitttttt....


"Dokter..."


Dokter Rian turun dari ranjang, matanya memerah menahan tangis. Ia tertunduk lesu.


"TIDAK....!! NO..!! JANGAN SENTUH SUAMIKU. SUAMIKU MASIH HIDUP...!!! TIDAAKK...!! EDWARD KAU SUDAH BERJANJI PADAKU. AYO KEMBALI..!!KEMBALI PADAKU...!! AKU BILANG KEMBALI PADAKU..!!! HAAAAAAA....."


"MAMAAA....!!!! HIKS HIKS..."


"DEMI TUHAN EDWARD, JIKA KAMU TAK KEMBALI, AKU AKAN PERGI MENYUSULMU. AKU AKAN MEMBAWA ANAKMU..!!!" Teriak histeris Aurora.


"Bantu aku, aku ingin mendekat.!! ayo cepat bantu aku..!!" perintah Aurora dengan tangisnya.


Dua perawat mendorong brankar milik Aurora. Begitu mendekat, Aurora langsung memeluk sedih tubuh suaminya.

__ADS_1


"Jangan pergi, ayo kembalilah padaku. Aku janji akan jadi wanita penurut, aku janji aku akan selalu mencintaimu, tidakkah kamu ingin menggendong anak kita, aku mengandung buah cinta kita. Ayo kembalilah. Jangan pergi tinggalkan kami." ucapnya sedih


Aurora mencium bibir Edward, lalu memberinya nafas buatan. Ia sedang berusaha mengembalikan detak jantung Edward. Ia masih tidak percaya jika suaminya sudah pergi meninggalkannya.


"Aku mohon kembalilah." Aurora menghapus air matanya.


Ditempat itu, Bunda Yuli, Amel, Tuan Hardy, nyonya Riyanti, Alex,Lukas, David, Kiran dan Andi menitikkan airmatanya sedih melihat pemandangan didepan matanya. Pemandangan yang begitu memilukan dan menyayat hati. Melihat Aurora yang tidak percaya pada takdir hidupnya, kisah cinta mereka harus berakhir sampai disini.


"Nak sudah..." Bunda yuli mengusap punggung Aurora.


"Tidak Bunda, Kak Edward masih hidup. Jangan ganggu Aurora. Aurora akan mengembalikan detak jantung suami Aurora.!"


Aurora lagi lagi membuka mulut Edward dan meniupkan nafasnya.


"Hiks hiks..Aurora. Suamimu sudah pergi. Ikhlaskan nak..!" lirih Tuan Hardy


Aurora tak tak menggubris ucapan orang orang disekelilingnya. Ia tetap melakukan memberi nafas buatan pada Edward.


Lukas memalingkan wajahnya, ia menangis sedih. Ia tak menyangka jika tuannya sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Hiks hiks, aku mohon kembalilah Tuan, maafkan saya, lain kali saya akan menjaga anda dengan sebaik mungkin. Bertahanlah Tuan.. Jangan pergi tinggalkan kami." tangis Lukas sedih.


"Nona, biarkan Bos istirahat dengan tenang. Kasihan.." ucap lirih Alex, matanya memerah.


"DIAM..!!! SUAMIKU MASIH HIDUP. SEBENTAR LAGI DIA AKAN KEMBALI. SUAMIKU BELUM MATI..!!" Pekik Aurora sambil terus menekan dada Edward. Ia bahkan tak peduli pada kakinya yang sedang sakit.


"Kakak ipar.." Amel menatap sedih Aurora.


"Aku mohon kembalilah sayang, aku mohon ... Ayo kita buktikan kekuatan cinta kita. Kamu mencintaiku bukan, ya aku mencintaimu. Ayo kembalilah. Ya Tuhan, bantulah suamiku. Dia masih hidup, bantulah jantungnya memompa darahnya. Aku mohon Tuhan. Jangan kau ambil nyawanya.." batin Aurora berdoa.


"EDWARD.....!!!!! Haaaa aaa "


"EDWARD BANGUN!!! ÀKU BILANG BANGUN EDWARD..!!! Aaaaaagggghhhh...!!!"


.


.


.


####


^^^Takkan selamanya tanganku mendekapmu^^^


^^^Takkan selamanya raga ini menjagamu^^^


^^^Seperti alunan detak jantungku^^^


^^^Tak bertahan melawan waktu^^^


^^^Dan semua keindahan yang memudar^^^


^^^Atau cinta yang telah hilang^^^


^^^Tak ada yang abadi,tak ada yang abadi^^^


^^^Tak ada yang abadi,tak ada yang abadi^^^


^^^Biarkan aku bernapas sejenak sebelum hilang^^^


^^^Takkan selamanya tanganku mendekapmu^^^


^^^Takkan selamanya raga ini menjagamu^^^


^^^Jiwa yang lama segera pergi bersiaplah para pengganti^^^

__ADS_1


^^^Tak ada yang abadi, tak ada yang abadi^^^


^^^Tak ada yang abadi,tak ada yang abadi^^^


__ADS_2