Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Syok!


__ADS_3

Ketiga orang itu terkekeh melihat ekspresi terkejut Edward. Mereka pikir jika Edward lupa mengenai senjata kebanggaannya itu. Senjata yang mampu memusnahkan satu wilayah dalam sekejap tanpa harus berperang.


"Ck. Tolong pikirkan ini baik baik. Kalian bisa melukai warga sipil. Lagi pula kita akan diburu aparat. Tolong jangan terlalu mencolok jika harus memusnahkan mereka." sanggah Edward.


"Tenang saja, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Alex tahu yang harus dilakukan. Percayalah." jawab Aurora.


"Ck. Lalu apa gunanya membawa pasukan jika kita menyerangnya dengan misil. Kita hancurkan dari sini saja selesai. Kenapa harus repot repot kesana."


Aurora tersenyum, ia paham betul jika suaminya hilang ingatan jadi wajar saja jika Edward berpikir seperti itu.


"Kami tidak akan menggunakan misil besar. Mereka hanya akan menggunakan misil jarak menengah. Tenanglah, aku tau maksudmu." ucap Aurora


"Huh. Aku kira kalian akan membawa yang itu. Syukurlah, aku tak terlalu rugi jika begini."


"Ck, kau perhitungan Tuan Edlyn." sindir Aurora, Edward mendengus dan memalingkan wajahnya.


"Oke Alex, sekarang kamu boleh keluar. Kamu bahas masalah ini dengan Tuan Kimura dulu, mungkin setengah jam lagi mereka akan kemari, aku akan menyusul nanti. Ingat, tetap rahasiakan keberadaan suamiku saat ini."


"Baik."


"Satu lagi Alex." Edward menghentikan Alex yang hendak bangkit dari duduknya.


"Pastikan anggota yang akan pergi ke sana sudah tervaksin. Aku akan meminta bantuan Kak Fe dalam hal ini. Ingat pastikan misi ini tidak bocor jika tidak, kalian tidak akan pulang dengan selamat. Huh, aku lebih senang berurusan dengan senjata nuklir jika begini."


Alex mengangguk membenarkan. Ia juga menyadari jika misi kali ini sangat berbahaya. Ia juga tidak boleh gegabah dalam hal ini.


Setelah Alex keluar, Lukas menyerahkan amplop coklat yang dibawanya. Edward langsung membuka amplop tersebut.


"Apa ini?"


Edward mengeluarkan flasdisk dan beberapa foto didalamnya, lalu diletakkannya diatas meja. Aurora mengambilnya satu persatu.


"Jelaskan!" tegas Aurora.


Lukas mengangguk. "Saya dapat itu dari Yudha saat kemarin menjenguknya nona. Dia meminta saya untuk memberikan itu pada anda. Saya tidak tahu apa maksudnya. Apa anda sedang memberinya misi?" tanya Lukas penasaran.


"Hem."


Aurora segera menghubungkan flashdisk ke port USB di laptopnya. Ia kemudian memasukkan sandi untuk membukanya.


"Lukas kau bisa kembali ke perusahaan. Pastikan perusahaan dalam keadaan baik baik saja dan segera persiapkan akomodasi perjalanan misi kita. Segera laporkan jika terjadi masalah." perintah Aurora.


"Baik."


"Satu lagi, tolong bantu aku memantau persiapan pernikahan Amelia. Aku harap masalah ini selesai sebelum hari pernikahannya."


"Baik, saya akan laksanakan."


Aurora mengangguk. Setelah Lukas keluar dari ruangannya. Aurora langsung membaca laporan yang diberikan Yudha untuknya dengan serius. Ia bahkan sedikit mengabaikan keberadaan Edward.


"Ada apa? apa suamimu tak boleh melihatnya?" tanya Edward yang mulai jengah.

__ADS_1


"Sebentar."


"Sebenarnya misi apa yang kau berikan pada pria itu!"


"Mencari adikku." singkat Aurora.


"Apa! kamu punya adik? yang benar?" tanya Edward tak percaya.


"Ya, sepertinya aku harus melakukan tes DNA untuk memastikan sesuatu." Aurora menutup laptop dan menatap Edward lekat.


"Kenapa, kenapa kau menatapku seperti itu. Apa yang kau inginkan dariku!"


"Tidak ada. Aku akan kerumah papa dan mama setelah ini. Tolong urus yang ada disini. Pastikan Kimura tunduk dibawah kendalimu. Aku percaya padamu."


Setelah mengatakan itu Aurora bangkit dari duduknya dan mencium pipi Edward. Entah mengapa Edward merasa jika Aurora sedang membohonginya.


"Sayang, "


Edward menarik pinggang Aurora dan mendekapnya erat. "Tolong tatap mataku.." Edward menaikkan dagu Aurora.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku? ada masalah apa?"


Aurora menggeleng pelan, tak lama kemudian Aurora menurunkan pandangannya. "Tidak ada, percaya padaku."


"Tidak menemui Aldi bukan?"


Edward masih menatap lekat Aurora, ia sedang membaca ekspresi wajah Aurora.


"Benarkah?"


"Ya."


"Oke. Kamu boleh pergi. Selalu hubungi aku. Mungkin aku akan pulang larut malam. Kau tahu bukan, aku harus memberi mereka pengarahan."


"Hem, segeralah kembali, aku menunggumu di rumah." ucap Aurora dan mengecup pipi Edward sebelum pergi.


.


.


Aurora sudah sampai di kediaman Tuan Hardy. Ia langsung mencari keberadaan papanya yang kebetulan saat itu ada di ruang tamu.


"Papa, "


"Kamu kemari nak? Sama siapa? Tidak ke kantor?" Tuan Hardy meletakkan macbook dan melepaskan kaca mata bacanya.


"Sendiri, ada yang ingin aku katakan. Dimana mama?"


"Mamamu sedang di butik. Apa ada masalah?"


Aurora mengangguk.

__ADS_1


"Kita ke ruang kerja papa."


Mereka saling duduk berhadapan. Aurora mulai mengambil foto yang baru diberikan oleh Lukas. Ia meletakkan dihadapan ayahnya begitu saja.


"Aurora, ini...?" Tuan Hardy tampak terkejut melihatnya. Bagaimana bisa itu yang ada dipikirannya.


"Apa papa masih mencintai mama? Atau papa masih mencintai wanita itu!" tanya Aurora


Tuan Hardy terbelalak kaget. Pria itu menatap putrinya lekat.


"Apa yang kamu katakan nak, tentu saja aku mencintai mamamu. Kenapa kamu berpikir demikian? apa karena foto ini?"


Tuan Hardy meletakkan foto itu diatas meja. Ia tak menyangka jika putrinya akan menyelidikinya sejauh itu. Sebenarnya apa yang sedang diungkap Aurora.


"Jadi kepergian papa ke London selain mengurus perusahaan, papa juga diam diam menemui ibunya kak Aldi di rumah sakit jiwa? Apa yang papa pikirkan saat itu? Aku tebak mama pun tak tahu akan hal ini."


"Papa..papa hanya berempati padanya saja."


"Tunggu! ada masalah apa kamu menyelidik semua ini nak? Apa yang ingin kamu tau?"


"Wanita itu telah melahirkan bayi perempuan 26 tahun yang lalu papa."


Deg


Tuan Hardy mematung mendengarnya, bahkan ia sampai menahan nafasnya. Tak percaya jika dosanya di masa lalu membuahkan seorang bayi yang tidak pernah disangkanya, tapi benarkah semua itu.


"Apa maksudmu nak. Bayi apa?" tanya Tuan Hardy.


"Putri kandungmu dengan wanita itu." Aurora menunjuk foto yang tergeletak diatas meja.


Deg


Tuan Hardy memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia begitu syok hingga tak bisa bernafas dengan baik. Aurora yang melihat itu langsung berdiri menghampiri papanya.


"Papa! Are you ok?" cemas Aurora.


"Papa baik-baik saja. Maaf membuatmu cemas."


"Oh syukurlah. Maafkan aku pa, harusnya aku lebih memikirkan kesehatan papa. Kita bahas ini lain kali saja."


Tuan Hardy menggeleng. Ia masih ingin mengetahui kebenarannya.


"Jangan nak, papa ingin tahu sekarang. Papa akan menelfon mama untuk segera pulang, kita bahas masalah ini bersama. Papa tidak ingin menyembunyikan ini dari mamamu."


Aurora mengangguk. Dalam hatinya was was jika kebenaran ini akan membuat hubungan rumit dalam keluarganya. Ia berharap hubungan percintaannya tidak serumit orang tuanya. Karena Ia merasa tidak sekuat mamanya yang bisa menerima suami dengan segala kekurangannya, apalagi jika itu sebuah penghianatan.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2