Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Rencana Claire


__ADS_3

Dibelahan bumi lain, seorang laki laki masih terbaring lemah tak sadarkan diri dengan alat medis ditubuhnya. Disampingnya ada dokter dan perawat yang selalu stand by untuk mengecek keadaan Edward.


Kwan yang ditugaskan menyembunyikan Edward saat itu juga masih belum kembali ke negara asalnya. Walaupun tempat Edward berada adalah tempat teraman dan tidak mungkin musuh lamanya mengetahui keberadaannya, tapi ia masih belum bisa meninggalkan kawannya itu.


"Apa yang kau pikirkan!" kalimat itu sontak membuatnya tersadar dari lamunannya. Kwan menoleh ke sumber suara. Kwan tersenyum melihat Jingmi membawa dua cangkir kopi ditangannya.


Kwan berteman baik dengan seorang Jingmi adalah keberuntungan yang besar, karena saat ini Edward akan aman bersama mafioso hongkong itu.


"Tidak ada, aku hanya merasa kasihan dengan istri dan keluarga Edward. Mereka pasti sangat sedih sekali. Bahkan Aurora yang sekuat itu sampai drop. Aku merasa berdosa sudah membuat wanita itu menangis."


Jingmi menyesap kopinya, ia sebenarnya juga merasa khawatir dengan wanita itu, wanita yang disukainya menangisi orang yang jelas masih hidup walau masih belum sadarkan diri.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Memberi tahu keberadaannya? Ingat Kwan, semakin sedikit orang yang tahu, akan semakin baik untuknya. Biarkan saja dia, rasa itu akan menguatkan cinta mereka jika pertemuan itu terjadi lagi."


"Lalu bagaimana jika Aurora menikah lagi? Apa kita malah tidak berdosa pada Edward?"


"Aku yakin Aurora tidak semudah itu. Kau tidak ingat kisah percintaan mereka, bahkan mereka sanggup menunggu selama 8 tahun."


"Tenanglah, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk Edward agar lekas sadar,tapi semua itu juga butuh proses." ucap Jingmi dengan senyum tipisnya.


"Terima kasih sudah membantuku kali ini. Alex pasti terkejut jika Edward aku pindahkan kemari. Menurutku tempatmu disini jauh lebih mudah dijangkau dari pada di tempatku. Mereka juga pasti tidak akan mengira. Pasalnya kalian juga saling tidak mengenal." ucap Kwan


Jingmi hanya membalas dengan senyum tipisnya. "Sebagai gantinya, aku minta padamu untuk membuatkan aku dua wajah yang hampir sama. Ingat! Hampir." Jingmi menekankan kata Hampir.


Kwan mengerutkan keningnya. Belum bisa menebak untuk apa pria itu meminta dibuatkan lagi, padahal ia baru saja mengirim pesanannya.


"Jangan banyak berpikir, turuti saja permintaanku. Kau akan tau pada akhirnya." ucap jingmi seakan tau yang dipikirkan Kwan.


"Oke. Akan aku buatkan. Tapi tolong jaga temanku dengan sepenuh hati. Aku bisa dibantai Alex jika terjadi sesuatu pada Edward."


"Aku jamin dia akan aman di daerah kekuasaanku. Kau bisa mempercayaiku." ucap jingmi yakin.


"Oke deal."

__ADS_1


.


.


Disudut tempat lain, Henry akan bertolak ke Indo untuk menemui Aurora. Ia dengan setelan eksklusifnya berjalan gagah memasuki jet pribadinya.


Disebelahnya ada Claire yang mengenakan gaun hitam dan kaca mata yang menutupi mata coklatnya.


Mereka duduk bersebelahan , belum ada pembicaraan diantara mereka. Tampaknya mereka masih sibuk dengan pemikirannya masing masing, hingga suara notifikasi di ponsel Claire berbunyi dan sejenak dua orang itu saling melirik.


Claire tampak mengerutkan kening melihat notifikasi itu. "Apa apaan ini." gumamnya pelan.


Henry hanya melirik tapi tidak berkomentar apapun. Ia memilih membuka ponselnya yang menampilkan gambar senyum manis seorang wanita.


"Henry, kau bisa membantuku?" ucapnya serius.


Henry tersenyum miring. "Apa imbalannya, "


"Cih! Mulutmu ya...! Giliran aku dapat masalah, begitu sikapmu padaku!" Claire mendelik sebal.


"Ck! akan aku bocorkan rahasiamu pada Aurora jika begitu!" ancam Claire


"Aku tidak takut. Bukankah kamu yang memulai permainan ini? Hehe, aku hanya memberimu uang. Jadi bukan aku pelaku pembunuhan itu, tapi kamu sendiri. Kamu juga yang berkomplot dengan pihak asing. Bahkan aku tak mengenal mereka." jawab Henry santai.


"HENRY LIM!!!!" Teriak Claire kesal.


Henry hanya mengusap telinganya. Gatal mendengar teriakan sepupunya itu.


"Bisa bisanya kau cuci tangan dan melemparkan kesalahannya padaku! Brengsek kau jadi manusia. Enyahlah dari kehidupan ini!"


"Terserah apa katamu Claire, aku bahkan tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya Aurora ku seorang. Yang lain, silahkan minggir."


"Brengsek kau . Akan aku laporkan pada ayah jika begitu.!" umpat Claire.

__ADS_1


"Tukang ngadu." cibir Henry


"Ck! katakan apa masalahmu! Aku tekankan sekali lagi, aku tidak akan membantumu jika itu masalah kriminal. Aku tak sudi!"


"Dasar! Rubah licik! Situ yang untung, aku yang buntung!. Tidak tau diri! tau begitu aku ogah repot repot menyingkirkan sainganmu! Aku sendiri yang kena getahnya! Sialan!" umpat Claire.


Henry langsung melemparkan tatapan tajamnya, hingga Claire menelan ludahnya sendiri. Ia meringis menggaruk keningnya, ia sudah kebabaslan dalam berucap.


"Okey, maafkan aku. Aku butuh bantuanmu untuk mendukungku. Para pemegang saham di perusahaan Kimura sedang berdiskusi akan menarik sahamnya dari perusahaan itu, kata mereka ada perusahaan asing yang lebih menjanjikan. Aku mau kau membantuku membeli saham di perusahaan itu. Ini kesempatan emas buatmu. Kau ingin lebih dekat dengan Aurora bukan?!" Claire menaik turunkan alisnya.


Henry masih diam, ia masih mencerna kalimat yang diucapkan Claire. Ia merasa ada yang janggal dari kalimat itu.


"Untuk apa mempertahankan perusahaan itu. Jelas jelas, perusahaan itu sengaja akan digulingkan oleh seseorang. Kenapa kau berniat ingin membelinya. Ini tidak baik. Jika kita salah langkah, kita akan kehilangan banyak uang. Bagaimana jika musuhnya lebih kejam dari yang kita bayangkan. Kau mau mati di tangan mereka!" ucap Henry.


"Ayolah! Sayang sekali jika perusahaan itu bangkrut begitu saja. Ini akan menguntungkan kita berdua. Kita akan datang disaat para pemilik saham itu sudah mencabut seluruh uangnya. Bagaimana? Tuan Kimura pasti tidak akan keberatan jika kita yang membeli perusahaannya."


"Kamu benar manusia bodoh Claire, sebenarnya apa maumu! Tarik saja uangmu di perusahaan itu sama dengan yang lain, jika kamu tidak ingin mendapat masalah baru!" ucap Henry


"Kamu yang bodoh! Kita bisa membeli perusahaan itu dengan harga murah dan kita bisa mendapatkan untung yang banyak." sanggah Claire


"Ck! pikirkan akibatnya Claire..." geram Henry sampai menggertakkan giginya.


"Sudahlah, jika kau tak mau membantuku. Aku akan diskusikan pada ayahku saja. Aku akan menjual sahamku di perusahaan Singapura. Uangnya bisa aku gunakan untuk membeli perusahaan di Indo. Percuma bicara denganmu. Mikirmu terlalu jauh."


"Terserah, aku sudah memperingatimu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari karena kecerobohanmu. Aku tidak akan ikut campur."


"Huh, mengesalkan. Jika aku tak mengejar model yang lagi naik daun itu, aku juga ogah kali Kak. Semangat Claire. Kali ini aku tak mau gagal lagi mendapatkan cinta darinya. Dia masih single, aku tak merusak rumah tangga orang bukan. He he.. tapi aku seperti wanita murahan. Tak apa, yang penting aku bisa bersamanya." Batin Claire sambil membayangkan sosok Aldi. Ia bahkan sampai senyum senyum sendiri. Ia tidak sadar jika tengah diamati Henry.


"Dasar gila!" gumamnya.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2