Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kecewa


__ADS_3

Matahari menyingsing menyambut pagi. Harusnya pagi ini adalah hari bahagia syukuran menyambut lahirnya dua jagoan kecil, tapi sepertinya acara itu harus ditunda karena Aurora masih belum sadar dari tidurnya. Dirinya sengaja dikomakan untuk mengistirahatkan dan memulihkan kondisinya paska perdarahan yang dialaminya, sedangkan dua bayi yang belum diberi nama itu masih didalam inkubator karena masih memerlukan perawatan medis.


Sementara dikamar perawatan Edward, Brian yang masih betah dalam mimpinya, merasa terusik dengan suara suara disekitarnya. Ia menggeliat dan mengucek matanya. Matanya menyipit melihat dua perawat laki laki sedang membersihkan tubuh Daddynya. Mereka tersenyum melihat Brian yang terbangun.


"Selamat pagi Tuan muda kecil, maaf kami mengganggu tidurmu."


"Hem.." Brian mengangguk dan turun dari tempat tidur.


Diruang itu, ada Kevan yang sedang menata sarapan diatas meja.


"Selamat pagi Tuan muda kecil, bagaimana tidurmu, apa nyenyak? mandi dan segeralah sarapan. Mungkin satu jam lagi Auntymu akan kemari menjemputmu." ucap Kevan dan tersenyum manis.


"Pagi paman Kevan, apa adikku sudah lahil paman? Bagaimana keadaan mom?" tanyanya dan duduk dimeja makan. Ia meraih segelas susu dan meminumnya hingga habis.


"Sudah, keadaan mom mu baik, tapi sekarang. masih di ruang ICU."


"ICU..? kenapa disana, apa keadaan mom membuluk?" Brian langsung berdiri tergesa.


"Tenanglah, saya dengar sejauh ini nona baik baik saja, tapi masih belum sadar. Sebaiknya kamu mandi dan sarapan dulu jika ingin menemuinya."


Brian mengangguk patuh. Ia masuk kamar mandi dan membawa baju ganti yang sudah disiapkan untuknya.


Sedangkan diluar rumah sakit, banyak awak media yang berkerumun mencari berita. Berita lahirnya pewaris dua keluarga itu rupanya sudah oleh tercium mereka.


David dan Kiran yang saat itu hendak keluar dari rumah sakit terpaksa melambatkan langkahnya karena sudah dihadang duluan oleh mereka, balik badan pun percuma, jalan keluar sudah didepan mata, mau jalan memutar juga kejauhan. Mereka pagi itu harus segera tiba dikantor untuk menyambut tamu penting perusahaan.


"Tuan, nona, bagaimana keadaan mereka? Sejak kapan nona kembali? Apa jenis kelaminnya? Kapan akan dikenalkan ke publik?"


Banyak pertanyaan lain yang terlontar, tapi David dan Kiran hanya mengulas senyum dan mengatupkan kedua tangannya. Ia belum ingin mengkonfirmasi, takut salah karena belum ada perintah dari pihak keluarga. Ia juga belum menghubungi Alex dan Lukas sebagai bahan pertimbangan.


"Tuan, nona, kalian bisu ya..!! Kita sudah menunggu lama disini. Kenapa tidak mau memberi konfirmasi sedikitpun!!" ucap satu wartawan kesal.


David yang saat itu akan masuk kedalam mobil, membalik badan dan menatap tajam pria itu.

__ADS_1


"Apa kamu tau batasanmu!! Apa aku menyuruh kalian semua kemari..! Siapa yang mengundang kalian kemari! Harusnya kalian menemui yang mengundang kalian. Aku diam karena itu bukan ranahku. Apa kalian tau privasi!!" Ketus Lukas dan menghiraukan seruan mereka. Ia masuk mobil dan menutup pintunya. Meninggalkan mereka yang mungkin mengumpati dirinya.


"Namamu akan diseret publik Dav.." ucap Kiran melirik David .


"Biarkan. Lagian tau darimana mereka berita itu. Kita belum mendapatkan perintah dari pihak Tuan Admaja ataupun Tuan Hardy. Biarkan mereka yang mengkonfirmasi."


"Kan pada akhirnya kamu juga yang akan membereskannya." ucap Kiran


"Diamlah, aku tak ingin berdebat denganmu. Banyak tugas yang harus kita kerjakan hari ini. Satu lagi, Aldi akan tiba siang ini. Kau urus kontrak kerjanya. Kerjakan seperti yang nona Aurora mau. Lainnya biar aku dan Tuan Andi yang mengaturnya."


"Hemm,"


Disisi lain, Bunda Yuli yang saat itu tidak pulang ke mansion dan memilih tidur dirumah sakit, sekarang sedang menuju lantai dimana anak sulungnya dirawat. Seperti biasanya, ia ingin menjenguk dan melihat perkembangan putranya.


Entah suatu kebetulan atau takdir, ia bertemu lagi dengan Brian yang saat itu sedang mengecup dahi Edward .


"Kenapa masih disini. Bukankah aku sudah mengatakan jika kamu tak perlu bertemu keluargaku." ucapnya datar.


Brian hanya menunduk, tak berani menatap mata Bunda Yuli.


"Maaf nyonya.."


"Sekarang pergilah, dan jangan pernah kembali kemari jika ingin orang yang kau sayangi baik baik saja."


Brian mengangguk dan melewatinya begitu saja. Ia tidak ingin membuat masalah dan menjadi semua orang tau.


"Dasar anak ja lang.! anak pembawa sial..!"desisnya.


Brian menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Tangannya mengepal menahan marah. Tidak terima jika mamanya disebut wanita tidak baik. Walaupun ia tidak mengingat kasih sayang mamanya, tapi ia bisa merasakan jika mamanya pasti sangat menyayangi.


"Nyonya, aku tak menyangka jika anda bisa mengucapkan kalimat itu. Tidakkah anda ingat jika anda pelnah menyayangiku. Siapa yang sudah mempengaluhi pikilanmu nyonya. Kenapa anda lebih pelcaya olang lain dibanding kelualgamu. Kenapa sekalang anda membenci ku? Bukankah dulu kau pelnah menimangku? Sudahkah hilang lasa itu dalam hatimu nyonya. Apa hatimu sudah mulai mati? Bagaimana jika daddy mengetahui hal ini, apa anda tidak takut membuatnya kecewa?"


Brian mengusap air matanya.

__ADS_1


"Maaf nyonya, aku sudah beljanji pada ayahku untuk menjaga adik adikku, jadi jika anda memintaku untuk menjauhi meleka, aku tidak bisa. Aku tidak ingin mengecewakan olang yang sudah menyayangiku. Dan ingat nyonya, umul tidak ada yang tau, anda tidak mau bukan,jika disisa hidup ini anda malah dijauhi anak anakmu.."


BRAK


Brian langsung keluar dan menutup pintu keras. Ia tak tahan membendung amarahnya. Ia ingin marah untuk menghilangkan rasa sakit dihatinya, tapi nyatanya ia tak bisa. Ia tidak mau melukai hati orang yang pernah merawatnya.


Sedangkan tubuh Bunda Yuli langsung luruh kelantai. Ia menangis, merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia memukul dadanya berulang kali.


"Kenapa, kenapa..! Apa yang aku lakukan salah!! Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Hiks.. hiks.."


"Yang barusan kamu lakukan memang salah. Ada apa dengan dirimu. Apa yang membuatmu gelap mata." Tuan Admaja masuk dengan mendorong kursi rodanya. Ia menahan marah menatap istrinya.


"Siapa yang sudah mencuci otakmu. Apa kamu tak melihat siapa yang kamu caci. Dia itu cucumu , anak putramu. Dia bahkan masih kecil. Apa pantas kita berbicara seperti itu didepannya,?! Apa kamu tak merasa kasian padanya? Kenapa kamu jahat sekali. Aku kecewa padamu Bunda.."


Bunda Yuli mengangkat kepalanya, terkejut melihat suaminya menatapnya tajam.


"Dia bukan cucuku! Dia anak pembawa sial!!" Teriak wanita itu.


Tuan Admaja memejamkan matanya. Takut kambuh hipertensi nya.


"Sadarlah Bunda, jalan pikiran mu sedang tersesat. Ini sudah takdir kita semua. Kenapa kamu menyalahkan Brian?? Bahkan dia tidak tau apapun. Bukan salahnya juga ia terlahir dari rahim siapa."


"Apa kamu ingin dibenci putramu? Minta maaflah sebelum terlambat, atau kamu akan menyesalinya. Aku pergi,!"


Tuan Admaja membalik kursi rodanya dan mendorong keluar. Ia takut tidak bisa menahan diri dan melukai istrinya. Ia ingin segera menemukan Brian dan minta maaf padanya. Ia tidak tau sejak kapan istrinya bersikap seperti itu pada Brian.


"Ah pantas saja.. kenapa aku baru sadar." gumamnya


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2