Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ku titipkan rinduku pada-Nya


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Hari berlalu begitu cepat, sudah banyak sekali yang di lalui Ajeng dan Dika. Ajeng menekuni hobinya menggambar hingga dari hobbynya itu Ajeng mendapatkan kesempatan yang sangat bagus. Ia menjadi salah satu designer di sebuah butik yang cukup diperhitungkan namanya di sana.


Banyak sekali karya yang sudah ia hasilkan. Ia menjadi designer tetap di sana. waktu terus berlalu, hingga kini Ajeng sudah semester lima.


Ajeng sudah mulai menggambar untuk membuat design baju sejak ia semester dua, Saat itu ada acara kampus, ia mendaftarkan setiap design nya pada beberapa perlombaan dan sering mendapat juara, walaupun bukan juara tiga besar, setidaknya ia sudah mendapat juara harapan.


Dari situ ada sebuah member menawarinya untuk membuat design pakaian pada sebuah butik ternama. Karena hasilnya cukup baik dan Ajeng memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaannya membuat dia terus di pertahankan.


Bahkan Ajeng sudah mulai di kontrak oleh salah satu brand untuk menyelesaikan proyek pameran. Karena waktu kerja yang tak terbatas itu, Ajeng memutuskan untuk meninggalkan asrama dan pindah di sebuah tempat kos.


Dika adalah orang pertama yang selalu Ajeng beritahu, Dika memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan informasi dari Ajeng, karena kakaknya selalu menerornya setiap hari. Ia sudah mengatakan bahwa Ajeng sudah menjadi gadis dewasa yang mandiri.


Al yang mendapat laporan dari Dika, ia merasa bangga sekaligus cemas, ia bangga karena Ajeng yang bukan siapa-siapa kini namanya di kenal di berbagai kalangan, sedangkan kecemasannya, ia merasa akan banyak saingan yang akan datang. ia takut hati Ajeng goyah.


"Gadis kecilku sekarang sudah tumbuh menjadi seseorang!" Gumam Al saat Dika mengirimkan gambar Ajeng berdiri bersama brand fasion ternama itu.


"Kenapa dia sekarang begitu cantik? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rasa cemasnya ternyata lebih besar, ia tidak bisa membayangkan jika banyak pria yang akan mendekatinya.


Al pun berdiri dari duduknya, ia menuju ke balkon kemudian menghubungi Dika, ia ingin memastikan kembali pada adiknya itu. Dia harus mengulang panggilan itu beberapa kali hingga benar-benar terhubung.


"Ada apa lagi bang?" jawab di seberang sana dengan malas.


"Lama sekali sih ....!" gerutu Al .


"Aku ngantuk bang, ini sudah jam dua belas malam, waktunya orang bobok cantik, bukan telponan!"


"Masa bodoh!"

__ADS_1


"Ya udah aku matikan saja telponnya!"


"Jangan dong ....., baiklah aku mau tanya serius sama kamu!"


"Apa?" tanya Dika dengan suara paraunya has orang yang baru bangun tidur.


"Apa ada yang berusaha mendekatinya?"


"Nya ...., itu siapa?" Dika sudah geram dengan abangnya itu, sungguh membuatnya kesal. Ia harus bangun dan hanya di tanyai begitu.


"Dia!"


"Itu pertanyaan macam apa!?" Dika semakin kesal, rasanya jika abangnya itu ada di hadapannya, ingin sekali ia memukul kepalanya.


"Aku serius!" Al begitu frustasi, ia tidak bisa menahan gejolak itu, ingin memiliki tapi ia juga tak ingin menemui, sungguh perasaan yang aneh.


"Siapa?"


"Aku .... Ha ha ha ....!" Dika bicara di sertai dengan tawa renyahnya, ia benar-benar ingin menggoda pria bucin itu.


"Kau benar-benar mau mati di tanganku!"


"Lagian Abang aneh-aneh saja, seharusnya Abang hubungi Ajeng langsung, bukan kucing kucingan kayak gini!"


"Aku sudah berjanji padanya, untuk tidak mengganggunya!"


"Kalau cuma menghubungi itu bukan menggangu, ayolah bang jaman sudah maju, jika kangen tinggal video call!"


"Kamu nggak mengerti, ini cinta. Aku nggak mau cintaku menghambatnya untuk tumbuh menjadi seseorang yang bisa di perhitungkan!"

__ADS_1


"Tapi Abang menyiksa diri sendiri! Bukankah Abang sekarang sudah lulus, kenapa nggak pulang saja, temui Ajeng!"


"Mana bisa, Ajeng belum menyelesaikan pendidikannya, aku nggak mau menggangunya!"


"Lalu abang sekarang dimana?"


"Di Jakarta!"


"Astaga ....., Ribet amet sih jadi orang!"


"Sudah aku nggak mau tahu, pokoknya tetap awasi Ajeng!"


Al pun memutuskan sambungan telponnya, ingin rasanya segera menemui Ajeng, tapi janjinya sudah membuatnya bertahan untuk tidak menemui Ajeng.


Dua tahun sudah membuatnya begitu tersiksa untuk tidak menemui Ajeng. Ia sudah pernah mengalaminya sebelumnya tapi saat ini lebih berat karena ia sudah sangat dekat dengan wanita pujaannya itu.


"Heh ...., Aku akan sangat merindukanmu ...., Butuh waktu berapa lama lagi aku harus menahan rindu ini ....!" Al menyandarkan punggungnya di Sandara kursi.


Ku titipkan rinduku memalui doa di setiap sujud ku ....Dia yang maha tahu akan menyampaikannya melalui heningnya malam ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2