
Edward menghentikan laju mobilnya ketika telah sampai di basement Apartemen milik Jingmi. Pria itu turun dan menggandeng tangan si kembar menuju unit yang ditinggalinya, sedangkan Brian mengekori dibelakang mereka dengan raut penasaran. Anak itu masih menerka untuk apa daddynya membawa mereka kemari.
Dengan wajah datarnya, Edward membuka pintu dan membawa ketiga anaknya untuk duduk di sofa ruang tamu. Baru saja pria itu duduk, tiba-tiba terdengar suara ribut ribut dan barang pecah.
PYAR
("Brengsek!Baji/ngan!, kenapa kau melakukan itu padaku hah! Aku akan membunuhmu! aku akan membunuhmu!")
Teriakan itu terdengar dengan jelas di telinga ke empat orang itu. Edward memandang ketiga anaknya dengan cemas.
Pria itu segera membawa ketiga putranya ke dalam kamarnya yang kedap suara. "Sementara kalian disini, Brian jaga adik adikmu, jangan pernah mengintip keluar."
Brian hanya mengangguk di tengah kebingungan dua adiknya. Ia sendiri juga tidak ingin ikut campur dengan urusan orang dewasa, walau hatinya penasaran dengan apa yang terjadi.
Edward berjalan tergesa menuju kamar Jingmi. Ia penasaran apa yang sedang terjadi dengan kawannya itu. Tidak biasanya pria itu teriak marah, bahkan suaranya sampai keluar ruangan.
"Laki-laki brengsek! Kau sudah membuat hidupku hancur! Gara-gara kau aku jadi seperti ini!"
PYAR
Wanita itu berjalan cepat mengambil pecahan guci dan hendak ia tusukkan ke dada Jingmi.
Jingmi yang tau pergerakan itu langsung menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan erat.
"Please jangan seperti ini! aku akan bertanggung jawab padamu! Aku akan menikahimu!" bentak Jingmi, sepertinya pria itu sudah di ujung kesabarannya.
DUAK
Wanita itu dengan keras menendang lutut Jingmi hingga pria itu terhuyung ke belakang.
"Aku benci! aku benci padamu! Enyahlah kau!"
PLAK
Wanita itu terus menghajar Jingmi tanpa ampun. Edward yang mendengar dan melihat dari jauh, hanya bisa mengelus dada. Sepertinya hubungan percintaan Jingmi begitu rumit. Ia tak menyangka jika akan ada wanita yang berani menantang seorang Jingmi. Ia baru sadar, Jingmi telah dibutakan oleh cinta.
__ADS_1
"Listy! hentikan kegilaanmu!"
PLAK
Jingmi yang sudah geram menampar keras pipi wanita itu. Ia tak menyangka jika wanita itu bisa sebrutal itu saat marah. Ini tidak benar, bukan seperti ini yang ia harapkan.
"Hiks..hiks.. kau tau jika aku akan menikah dengan Henry, kenapa kamu malah menghamiliku. Kau memanfaatkan tubuhku saat aku mabuk di night club. Kenapa hah! Bagaimana aku menyembunyikan wajah murahan ini hah! Pria tidak tau diri!" Marah Listy sambil melempari Jingmi dengan pecahan guci didekatnya.
Jingmi hanya bisa menangkis lemparan benda benda yang terbang ke arahnya. Ia sangat kesal sekali, sebenarnya ia bingung apa yang ingin diminta wanita itu, dinikahi tidak mau, malah mengamuk dan menghajar dirinya.
Sial! ini semua gara-gara Henry. Sepertinya pria itu harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Batin Edward geram.
"Sadarlah Listy!! Henry tidak baik untukmu! Dia pria bejat! Kau tak pantas hidup bersamanya! Dia tak mencintaimu! Dia mencintai Aurora! Aku yang mencintaimu!"
"Apa bedanya denganmu! Apa kau bukan pria baji/ngan!! kamu lebih bang sat darinya! kau merusak masa depanku!" pekik Listy marah.
"Oh ya ampun.. aku akan menikahimu! Aku lebih kaya darinya! Apa yang kau harapkan dari pria itu!" Jingmi sudah gusar sendiri. Kenapa wanita itu terus marah kesetanan.
"Aku tidak mau menikah denganmu! aku tidak mencintaimu! aku tidak butuh hartamu! aku akan membunuhmu!! Dasar pria bang sat!"
Edward yang mendengar itu menghela nafasnya, pria itu jadi teringat istrinya di rumah. Aurora jauh lebih baik dari perangai wanita itu. Tiba-tiba rasa penyesalan telah membentak Aurora menyelinap dalam hatinya. Ia jadi ingin kembali pulang.
"Kalian!" ucap Edward yang sudah tidak sabar dengan keduanya. Mereka yang terus memaki satu dengan yang lainnya membuat telinganya semakin gatal saja. Niat hati ingin mengatakan kebenaran pada anak kembarnya, pupus sudah karena kejadian ini.
"Berhentilah bertengkar! ini masih bisa diselesaikan baik-baik. Suara kalian membuatku sakit telinga."
Listy menatap Edward tajam. Untuk apa pria itu ikut campur dengan urusannya.
"Nona, aku sudah mendengar masalahmu. Jadi apa yang bisa pria itu pertanggungjawabkan. Aku akan membantumu jika permintaanmu tidak melanggar norma. Jangan main hakim sendiri, anda seorang wanita kenapa anda menyerang dia. Anda bisa saya laporkan atas tuduhan percobaan pembunuhan." ujar Edward datar.
Listy diam saja, wanita itu kemari bukan meminta pertanggungjawaban, tapi ingin melampiaskan kemarahan pada pria yang telah menidurinya.
"Jika anda ingin dinikahi, pria itu juga sudah bersedia. Lalu apa masalahnya? Anda sendiri yang menolak mentah mentah ajakannya. Sekarang anda mengamuk di kediaman saya. Apa anda juga bermasalah dengan saya? Nona, pria itu tidak rugi apapun jika anda menolak menikah dengannya. Sayang sekali anda adalah wanita bodoh yang baru aku temui. Harusnya anda bersyukur bisa menikah dengannya. Saya jamin hidup anda dan keluarga akan terjamin."
"Aku tidak butuh! aku tidak mencintainya!"
__ADS_1
Listy menggertakkan giginya lalu segera menyambar tas dan langsung pergi dari tempat itu. Tidak ada gunanya ia berada disana. Ia pikir akan menggugurkan janinnya daripada menanggung malu. Apalagi keluarganya sangat mengharapkan pernikahan itu.
Edward menaikkan dua alisnya menatap Jingmi yang memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Pria ternyata bisa bodoh jika sedang buta hatinya.
"Wanita jika sedang marah menyeramkan bukan? Sepertinya kamu butuh banyak waktu untuk membujuknya, tapi aku bisa membantumu dude. Aku akan minta Aurora untuk membujuknya." ujar Edward yang merasa kasihan.
"Thank you. Aku tak percaya dia akan semarah itu. Ngomong ngomong ada apa kamu kemari. Apa ada masalah?" tanya jingmi
Edward menghela nafasnya, ia jadi lupa akan keberadaan ketiga putranya. "Aku harus pergi. Ketiga putraku sudah menungguku. Kalian membuat mereka terkejut."
"Hei, apa kau mengajak putramu kemari?"
Edward mengangguk dan segera keluar dari kamar yang terlihat seperti kapal pecah.
Sementara di tempat Brian berada, Al dan El membaringkan tubuh di ranjang besar itu. Keduanya tampak senyum-senyum sendiri. Brian yang tak mengerti jalan pikiran mereka, memilih duduk disofa dan memainkan ponselnya sembari menunggu.
"Kak Ian apa kau tau?" tanya Al yang masih memandang langit-langit.
Brian menaikkan sedikit alisnya. "Tidak."
"Ini adalah kamar daddy Edward."
"Benarkah?" Brian pura-pura mengernyit bingung.
"Kita tunggu saja nanti. Daddy pasti akan segera mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku akan membuat drama merajuk. Enak saja, kenapa baru sekarang muncul dihadapan kami." ucap El dengan nada cemberut.
Brian hanya meringis mendengarnya. Itu akan menjadi urusan daddynya nanti. Ia juga tak memberikan sanggahan apapun untuk adik adiknya.
.
.
.
######
__ADS_1