
Pesawat baru saja mendarat. Aurora turun dengan wajah dinginnya. Wanita itu menggenggam erat tangan Brian seolah tak ingin terjadi hal buruk terulang kembali.
Begitu pula dengan Edward. Pria itu juga memasang wajah kakunya, seolah dingin malam itu ikut membekukan hatinya. Dua insan itu terlihat saling perang dingin.
Alex yang melihat itu semakin pusing dibuatnya. Ia sendiri yang ingin izin sebentar untuk menemui Zanitha sampai bingung harus bagaimana mengatakannya. Terpaksa ia mengurungkan niatnya.
Edward masuk kedalam mobil di bangku depan, duduk disebelah Alex yang hanya bisa meliriknya tanpa berkata. Suasana begitu canggung sekali.
Brian lagi lagi mengusap tangan Aurora seolah sedang menguatkannya. Anak itu hanya bisa diam tak mau ikut campur perang dingin orang tuanya.
Lama berkendara, mobil akhirnya sampai juga di kediaman Aurora. Akhirnya Alex bisa bernafas lega usai berada dalam keadaan yang sangat menyebalkan baginya.
Kevan dan Kevin menyambut kedatangan mereka. Mereka berdua tampaknya sudah siap dengan kemarahan Alex ataupun Aurora. Melihat tatapan tiga orang didepannya seketika membuat mereka berdua menundukkan kepalanya
"Maafkan kami nona." ujar Kevan dan Kevin serempak.
BUGH
BUGH
DUAK
Kevan seketika terhuyung ke belakang usai mendapat tendangan keras pada perutnya.
"Apa kerja kalian hah!" teriak Edward.
Pria itu mencengkeram baju Kevan lalu menghajarnya sampai puas. Edward sudah seperti kesetanan menghajar dua orang itu tanpa ampun. Kevin ataupun Kevan hanya menerima setiap pukulan dan tendangan dari Edward hingga tubuh mereka babak belur terkulai di lantai dengan banyak darah berceceran. Mereka berdua seperti sudah pasrah jika malam itu adalah akhir hidupnya.
Alex yang melihat itu hanya bersedekap dada. Tidak merasa kasihan ataupun empati, pemandangan seperti itu sudah biasa baginya. Kevan dan Kevin sudah cocok menjadi pelampiasan dari kemarahan Edward karena kelalaian mereka.
"Bodoh! Ceroboh! kenapa kalian tidak menjaga putraku dengan nyawa kalian hah! Tidak berguna!"
BUGH
BUGH
Aurora yang melihat itu sampai meneteskan air mata. Ia baru pertama kali ini menyaksikan Edward menggila menghajar orang tanpa ampun. Pria itu sudah seperti monster, tidak bisa dikendalikan.
Suara keributan di tengah malam sontak membangunkan seluruh penghuni rumah Aurora. Mereka semua terkejut melihat keadaan itu. Ingin melerai tapi sudah dicegah oleh Alex yang mengkode dengan tangannya untuk tetap ditempat.
Tuan Admaja, Nyonya Yuli, Tuan Hardy dan Nyonya Riyanti langsung mendekat kearah mereka. Mereka masih bingung dengan keadaan didepannya. Terlebih Alex hanya diam saja dan seolah meminta Edward untuk menjadi mesin pembunuh.
"Hentikan! Kenapa menghajar mereka ditengah malam begini. Apa kamu tidak punya rasa kasihan dengan orang yang sudah tidak berdaya! Siapa kamu, berani menghajar mereka!" seru Tuan Admaja dengan suara menggelegar.
Edward menghentikan aksinya. Pria itu menatap tajam ayahnya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak punya rasa kasihan. Untuk apa mengasihi musuhku." ujar Edward dingin. Tatapan sinisnya kemudian mengarah pada Aurora yang berdiri termangu masih mencekal lengan Brian yang diam saja.
"Oke fine. Tapi kamu tidak punya hak menghajar mereka. Siapa statusmu dalam keluarga ini. Kamu orang luar!" tegas Tuan Admaja.
Edward menyeringai. Kenapa ganti dirinya yang disalahkan.
"Aku suami putrinya!" Edward menunjuk Tuan Hardy yang masih berusaha mencerna keadaan.
"Apa statusku disini tidak lebih tinggi dari dia! Apa aku tidak pantas menghajar mereka!" tunjuk Edward pada Alex.
"Apa maksudmu! aku tak pernah menikahkan kalian. Pernikahan apa maksudnya!" seru Tuan Hardy tidak terima. Bagaimana bisa putrinya menikah tanpa seizinnya.
Edward tersenyum miring. Pria itu menatap tajam Aurora.
"Aurora. Jika kamu tidak mengindahkan ucapanku. Mari kita akhiri semua. Kita jalani hidup masing masing."
Duar
Bagai tersambar petir, tubuh Aurora seketika menegang. Dadanya terasa begitu sesak, bahkan kerongkongannya bagai tersumbat batu besar. Ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya air mata yang menetes deras mewakili kekecewaannya.
Luruh. Aurora melepas tangan Brian dan meluruhkan badannya ke lantai. Wanita itu menangis menatap suaminya dengan pandangan menghiba.
"Tolong jangan membuat aku memilih Kak. Semuanya adalah putraku. Aku tidak bisa mengorbankan Kenta. Kasihan dia. Apa kamu tidak bisa melihat tatapan tak berdayanya. Apa kamu tidak memiliki sedikit belas kasihan untuknya. Apa salahnya, ini bukan kesalahannya. Ini karena keegoisan orang dewasa." tangis Aurora. Wanita itu bersedih kenapa suaminya menjadi seperti itu. Kemana Edward yang dulu, kemana tatapan lembut nya, kemana tutur katanya yang penuh dengan madu itu. Ia sudah tidak mengenalinya.
"Jangan membuatku marah Aurora. Al dan El adalah putraku! sudah sepantasnya aku melindunginya! Lalu siapa Kenta! dia bukan siapa siapa kita!"
"Brian! Masuk kamar dan kunci pintumu rapat rapat! jangan keluar sebelum mom and dad selesai." Teriak Aurora. Ia tau sedari tadi putranya sudah menangis, ia tidak ingin hati anak itu jauh lebih sakit.
"Papa, mama, sebaiknya kalian kembali tidur. Kita akan bicarakan esok hari. Jangan pikirkan apapun. Percaya pada Aurora."
Tuan Hardy dan Nyonya Riyanti hanya bisa mengangguk. Sebenarnya mereka bingung dengan apa yang terjadi, tapi melihat keadaan putrinya yang baru saja pulang dan terlihat lelah membuat mereka mengurungkan diri untuk menginterogasi Aurora.
"Tunggu! kita selesaikan malam ini juga!" cegah Tuan Admaja.
Aurora menggeleng. Ia sama sekali tidak setuju. Ia sudah berusaha keras meredam emosinya.
"Sudahlah, biarkan mereka istirahat. Mereka baru saja sampai. Jangan memperkeruh keadaan. Tidak baik terlalu penasaran." ujar Tuan Hardy.
"Tidak bisa! Aku tersinggung dia mengatakan jika cucu kita putranya!" tunjuk Tuan Admaja pada Edward.
"Memangnya Aurora serendah itu berani berselingkuh dibelakang putraku! Itu tidak mungkin! Aldevaro dan Eldevano adalah cucuku." lanjutnya lagi.
Edward tersenyum sinis.
Tuan Admaja yang melihat itu geram setengah mati. Bagaimana bisa ada anak muda yang bersikap tidak santun padanya.
__ADS_1
"Ayah. Tolong kendalikan emosinya. Besok akan aku jelaskan. Aku hanya takut ayah syok melihatnya. Tolong jangan menambah beban pikiran kami. Al dan El bahkan belum bisa kami ketemukan. Bagaimana jika ayah sampai terkena stroke lagi." ujar Aurora menghiba.
"Aurora masuk ke kamarmu." ujar Edward datar.
Aurora bergeming.
"Aurora." Edward menggeram marah. Kenapa istrinya jadi membangkang begini.
"Aurora!" bentak Edward
BUGH
Satu pukulan keras mendarat di pipi Edward.
"Brengsek! Berani sekali meninggikan suaramu pada putriku!"
BUGH
"Aku ayahnya bahkan belum pernah membentaknya! Jangan menyakiti putriku atau aku hajar sampai mati!" seru Tuan Hardy begitu menggelegar. Nyonya Riyanti langsung menarik lengan suaminya agar menjauh. Ia takut terjadi apa-apa pada suaminya, apalagi melihat perangai iblis yang dikeluarkan pria itu.
"Papa stop! Jangan pukul kak Edward lagi. Kasihan dia." seru Aurora.
Terdiam. Apa tidak salah dengar.
"Aurora. Kemari nak. Kamu dibutakan cintanya. Dia bukan Edward." Tuan Hardy menggeleng. Ia takut jika putrinya diam-diam mengalami gangguan jiwa.
Edward tidak menjelaskan apapun. Pria itu langsung melepas wajah sintetisnya dan membanting benda itu ke lantai.
"Siapa yang meragukan aku suaminya!"
"Ed..ward. Edward."
Syok. Semua tercengang melihatnya. Tuan Admaja bahkan sampai memegangi dadanya. Bagaimana bisa seperti ini.
"No! Ayah!" seru Aurora begitu tubuh tua itu tiba-tiba limbung dan tak sadarkan diri.
"Ayah!"
"Ayah! Please bangun Ayah!"
.
.
.
__ADS_1
#####