
"Sayang kendalikan dirimu.!! Jangan membuat mama tambah bersedih.." Nyonya Riyanti terisak sedih. Ia meraih tubuh putrinya.
"Tidak Ma,.!! aku.. aku .. tadi melihat jari tangan suamiku masih bergerak. Kalian jangan menggangguku, aku akan membantunya. Lepaskan aku..!!" seru Aurora dengan tangisnya. Ia memberontak ketika tubuhnya ditahan oleh mamanya.
"Aurora.., sayang ikhlaskan suamimu nak.. Suamimu sudah pergi. Dia sudah tak merasakan sakit lagi. Hiks hiks.. kamu jangan menahan langkahnya, biar dia pergi dengan tenang." ucap Bunda Yuli dengan suara bergetarnya. Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit didepannya.
"TIDAK..!! Kenapa Bunda berkata seperti itu. Aku tidak akan membiarkannya pergi."
Aurora menangis sedih memeluk suaminya. Ia begitu terpukul dengan keadaan ini. Semua usaha sudah ia lakukan, tapi tak ada satupun yang berhasil ia lakukan. Tiba tiba dirinya teringat akan sesuatu. Ia menegakkan tubuhnya, ia melihat ada jarum suntik bekas suaminya yang belum terbuang. Ia mengambilnya dengan susah payah.
"Ambilkan jarum itu. Cepat..!!" seru Aurora
"Aurora, apa yang kau lakukan nak.." tanya Tuan Hardy lirih.
"Diam semua..!! Jangan ada yang mendekat kearahku..!!"seru Aurora marah.
Aurora memejamkan matanya sejenak, menghirup nafas dalam dalam, ia konsentrasikan otak dan pikirannya, "Tuhan bantu suamiku kembali. Aku percaya nyawanya belum kau cabut. Bantu aku, berikan pertolongan Mu." doa Aurora dalam hati.
Aurora menusuk titik Shuigou atau Renzhoung dengan jarum suntik dengan hati hati. Semua hanya diam melihat Aurora, mereka begitu sedih, dan tak menyangka jika Aurora masih bersikeras menghidupkan suaminya.
"Nona anda menggunakan alkupuntur?" batin Alex, ia menahan nafasnya, ia ikut deg degan saat Aurora menusukkan jarum itu di bawah hidung Edward, ia berharap besar Tuannya akan bisa diselamatkan setelah dokter menyatakan Death On Arrival.
"Lihat...!! Lihat..!!! suamiku meneteskan air matanya..!!!" seru Aurora. Ia tersenyum bahagia. Usaha terakhirnya kini membuahkan hasil.
"Terima kasih Tuhan.."
Tit.. tit.. tit.. tit.. tit..
"Dokter detak jantungnya kembali..!!" seru dokter jaga memanggil Dokter Rian.
"Hah.." Semua orang terperangah.
Dokter Rian bergegas mendekat untuk memeriksa kondisi Edward . Keluarga disana terperangah tak percaya, mereka semua menghapus air matanya. Ini adalah angin segar untuk mereka semua, tak terkecuali Aurora. Ia tersenyum tipis walaupun matanya masih basah airmata.
"Nona, sebaiknya kita kembali. Dokter akan kesulitan memeriksa jika anda disini. Mari saya bantu." ucap satu perawat.
"Biar saya yang memindahkan putriku," interupsi Tuan Hardy.
__ADS_1
Aurora segera dibopong oleh papanya. Sebelumnya ia mengecup pipi suaminya dan berbisik lirih ditelinganya. Ia tak peduli jika ada banyak orang yang memperhatikan tingkahnya. Dokter rian dengan sabar menunggu Aurora turun dari ranjang Edward.
"Terima kasih sudah kembali, i love you sunshine. Cepatlah sadar." bisik Aurora lembut.
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter Rian kembali mendatangi keluarga pasien. Ia sedikit lega , setidaknya Edward masih bisa bernafas dengan baik .
"Ini keajaiban Tuhan, detak jantung yang semula berhenti sekarang bisa memompa darahnya kembali, tapi kami belum bisa memprediksi kapan pasien akan sadar, kondisinya sangat lemah sekali saat ini, kami team dokter akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien."
Bunda Yuli terduduk lemas, tidak tau harus bahagia atau bersedih. Kondisi putranya masih di nyatakan kritis.
"Tenanglah Bunda, kakak pasti akan segera pulih, semua butuh waktu. Yang terpenting, kakak masih bersama kita." Ucap Amel menghibur bundanya, setidaknya ia sedikit lega karena kakaknya masih hidup.
"Kamu benar. Nak, apa putraku bisa dipindahkan ke Rumah sakit GL saja? Disana pengamanannya lebih ketat. Kamu juga pasti jauh jika bolak balik ke rs ini." Bunda Yuli bertanya pada dokter Rian.
"Bisa saja nyonya, tunggu keadaannya sedikit membaik. Saya akan mengurus segala sesuatunya. Tapi sementara ini, Tuan muda belum bisa dipindahkan, tapi dengan adanya nona disampingnya, mungkin ini akan mempercepat kesembuhannya. Kekuatan cinta mereka begitu besar. Tuhan sangat menyayanginya mereka berdua." ucapnya terharu, ia merinding ketika mengingat betapa gigihnya Aurora yang berusaha mengembalikan detak jantung Edward ketika dirinya menyatakan DOA, Death On Arrival. Begitu besar cintanya terhadap suaminya itu.
Aurora sudah dibaringkan ke ranjang pesakitannya kembali. Tuan Hardi mengecup kening putrinya. "Kamu hebat nak, kamu hebat. Kamu putri papa yang hebat."
Tuan Hardy tersenyum haru, matanya berkaca kaca.
"Papa, jangan menangis, semua akan baik baik saja. Semua akan pulih seperti sedia kala. Papa akan segera menggedong cucu dari Aurora. Apa Papa senang."
"Papa,. kakiku sakit sekali..." rengeknya manja.
"Sabar, esok pagi dokter mu baru akan visit, kamu saja tadi bisa seperti itu." Tuan Hardy mencolek hidung Aurora.
Aurora mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, kakimu belum dioperasi, apa tak apa jika kita melakukan pengobatan alternatif?" tanya Nyonya Riyanti hati hati.
"Hem, Aurora akan lakukan apapun untuk anak ini. Papa dan mama istirahatlah, ini baru jam tiga pagi. Aurora yang akan menjaga suami Aurora dari sini. Jangan ditutup ya tirainya."
Mereka berdua mengangguk
"Baiklah, kami akan keluar. Minta sama perawat jika butuh sesuatu."
"Baik mama."
__ADS_1
.
.
"Apa kau tau, tadi nona melakukan apa pada Tuan Edward??" tanya Lukas pada Alex yang sedang duduk menikmati kopinya.
"Tau.Aku bahkan tak menyangka jika dia bisa berpikir sampai kesana. Kita terlalu panik."
"Aku juga tak habis pikir, bagaimana bisa nona mempelajari ilmu itu. Aku salut dengan ikatan cinta mereka. Mereka seperti orang yang dihantam badai tapi tak terjatuh. Dalam sekali cinta mereka. Semoga setelah ini mereka tak mengalami ujian berat lagi."
"Hah..entahlah. Tidurlah. Esok kau harus ke kantor. Kau yang akan menghandle perusahaan selama Tuan Admaja sakit. Aku rasa Bos juga butuh waktu lama untuk pulih. Esok aku akan mulai menyelidiki kasus ini." ucap Alex.
"Lalu siapa yang akan menjaga mereka berdua?"
"Tenang saja, masih ada David disini. Anggota GL dan DQ juga masih stand by disini, dokter Rian juga ada dirumah sakit ini."
"Apa kau mencurigakan sesuatu? Apa Tuan Kim terlibat kasus ini?" tanya Lukas penasaran
Alex melirik Lukas, "Tidurlah Lukas, otakmu tidak bisa berpikir jernih jika kamu lelah. Aku bilang esok aku akan mulai menyelidiki. Jadi aku belum tau jawaban dari pertanyaanmu.!"
Alex memejamkan matanya, ia juga sudah sangat lelah sekali, lelah hati , lelah jiwa, lelah pikiran. Ia tak menghiraukan temannya yang mengoceh sendiri. Tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Lukas mendengus kesal. Temannya ini sangat menyebalkan. Ia ikut bersandar disebelahnya. Entah kenapa perasaan jadi was was. Entah apa yang akan terjadi dihari esok.
.
.
.
####
^^^Hai hai, sepertinya mangatoon eror lagi ya, aku kirim naskah kemarin sore baru ter-upload tadi pagi. Terimakasih yang sudah bantu dukung. Tak tau yang ini. Akan up jam berapa. Sabar menunggu ya. ^^^
^^^Love you all.^^^
^^^🤍🤍🤍🤍^^^
__ADS_1
^^^Arigatou^^^