
Pagi ini setelah sarapan mama Renna
memutuskan mengajak Al dan Ajeng berbelanja karena semalam Ajeng sudah cerita
mengenai acara reoni itu, mama Renna akan mengajak ajeng ke butik langganannya
sekalian untuk survei desainer Ajeng.
“Sudah siap sayang?” tanya mama
renna yang sudah siap dengan dress panjangnya dengan gesper yang melingkar di
perutnya dan tas kecil yang menggantung indah di lengannya.
“Bentar ya ma nungguin mas Al dulu!”
ucap Ajeng, ia juga sudah siap dengan penampilan kasualnya. Ajeng menghampiri
ibu mertuanya. Tak berapa lama Al keluar dari kamarnya dengan masih memakai
baju yang tadi di pakainya membuat Ajeng mengerutkan keningnya.
“Dek …., maafin mas ya, mas kayaknya
nggak bisa ikut deh tadi tiba-tiba ada pekerjaan. Tapi mas janji kalau
pekerjaannya sudah selesai mas akan nyusul!”
“Ya deh nggak pa pa, lagian sama
mama renna sepertinya lebih menyenangkan!” ucap Ajeng dengan senyum cerahnya.
“Jadi menurutmu aku membosankan?”
tanya Al pura-pura kesal.
“Tidak sih …, maksudku tidak salah!”
ucap Ajeng dengan senyum menggodanya membuat Al gemas, ia mencubit hidung Ajeng
hingga Ajeng menyerah.
‘augh ….., ampun-ampun mas …., iya
aku tidak akan menggoda mu lagi!”
“Baiklah
…, aku mengampunimu , oh iya bawa ini juga!” Al menyerahkan sebuah kartu untuk
istrinya.
“Kartu
ATM! Wah …, senengnya …, apa aku boleh membeli apa saja dengan kartu ini?”
tanya Ajeng begitu senang, seperti mendapat lotre dari suaminya.
“tentu
….!”
“Ok
…., jangan khawatir …, aku pasti akan menghabiskannya!” ucap Ajeng sambil
meninggalkan Al dan menghampiri mama mertuanya.
“Ayo
ma …., kita berangkat!”
Ajeng
menggandeng tangan mama mertuanya, mama Renna pun tersenyum ia pun segera
berlalu juga. Mama Renna biasa membawa mobil sendiri jadi kali ini pun mama
Renna akan membawa mobil sendiri.
“Lain
kali kamu harus belajar nyetir mobil sayang, biar kalau ke mana-mana bisa bawa
mobil sendiri.” Ucap mama Renna sambil fokus menyetir sedangkan Ajeng terus
saja terkagum-kagum dengan kemampuan mama mertuanya itu.
“Memang
boleh ma?” tanya Ajeng bersemangat.
“Tentu
sayang …! Kau ini sangat mirip dengan Dika, dia juga suka sekali penasaran
sepertimu!”
“Dia
sahabatku ma!”
Akhirnya
mereka sampai juga di butik yang di maksud, mama Renna segera memarkirkan
mobilnya. Ia menyajak Ajeng masuk ke dalam butik, kedatangan mereka langsung di
sambut oleh seseorang yang usianya sama dengan mama Renna.
“Renna
…, sudah lama sekali tidak ke sini dan sekarang kau ke sini dnegan anak
perempuan? Bukankah semua anakmu laki-laki?” tanya wanita itu, mama Renna pun
tersenyum senang, mereka saling berpelukan.
“kenalkan,
ini menantuku namanya Ajeng!” mama Renna menganalkan Ajeng ke temannya.
“Menantu?
Kapan nikahannya, kamu kok nggak undang-undang sih!”
__ADS_1
“Maaf
…, ini resepsianya memang belum. Tunggu aja undangannya nanti …., oh iya ada
nggak baju yang pas buat menantuku ini, buat acara reoni!”
“Tentu
…, banyak sekali yang gerli atau mau yang bagaimana?”
“Bagaimana
nak? Kamu maunya yang bagaimana?”
“Yang
sederhana aja ma!”
“Baiklah
…., ayo kita cari yang sederhana saja!”
Teman
mama Renna mengajak mereka berkeliling, sesekali Ajeng di mintai saran untuk
desain baju yang bagus untuk anak muda karena mama Renna menceritakan kalau
Ajeng adalah desainer. Setelah mendapatkan baju yang cocok untuk Ajeng, mama
Renna segera mengajak Ajeng untuk meninggalkan butik itu.
“Kita
mampir di mana dulu sayang?” tanya mama Renna saat sudah berada di dalam mobil
lagi.
“Terserah
mama Renna aja, Ajeng ikut …!”
“Kita
jalan-jalan ke mall dulu aja ya!”
“Siap
ma ….!”
Mereka
pun akhirnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari
tempat pertama. Hanya butuh waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai.
Duo kople menatu dan mertua itu begitu kompak saling berlomba berbelanja,
mereka berlarian kesana kemari untuk berbelanja.
“Hahhhhh
…., capek ma …!”
juga …!”
Mereka
duduk dan bersender di sebuah bangku dengan kaki yang di selonjorkan.
“Al
nggak jadi nyusul?”
“Ini
katanya sudah ada di jalan ma …, bentar lagi nyampek!”
“baguslah
…, mama lapar. Gimana kalau kita tunggunya di foodcront aja, kita cari yang
enak-enak!”
“Iya
ma …, ajeng juga laper!”
Mereka
pun akhirnya kembali bangun dari duduknya dan berjalan menuju foodcront dengan
kedua tangan yang penuh dengan tas belanjaan. Saat masih setengah perjalanan,
mata Ajeng menangkat sosok yang sebenarnya ia tidak terlalu yakin.
Apa
benar yang aku lihat itu? Bukankah itu papanya mas Al? tapi mama kenapa bilang
papa di luar kota, apa aku yang salah liat ya …
“Sayang
….., ayo jalannya agak cepat!” ucap mama Renna sambil menoleh kea rah Ajeng
yang masih tertinggal di belakang.
“Oh
iya …, ma!”
Setelah
mama Renna kembali berjalan, Ajeng kembali mencari sosok yang sempat ia lihat,
tapi sayangnya ia tidak bisa menemukannya.
“Yah
…., ngilang kan!”
Akhirnya
Ajeng memutuskan untuk mengejar mama mertuanya. Ia akan menanyakan langsung
__ADS_1
dengan mama mertuanya nanti. Mereka menuju ke sebuah foodcort yang berada di
dalam mall. Memilih beberapa menu makanan mereka membelikan juga untuk Al.
“Kita
langsung makan atau nunggin Al dulu?’ tanya mama Renna.
“Mas
Al sudah sampai di parkiran kok ma, mending di tunggu dulu aja!”
“Baiklah
…!” mama Renna kembali memainkan ponselnya, sedangkan Ajeng sedang begitu
gundah, ia bingun bagaimana memulai bicara dengan mama Renna.
Setelah
merasa yakin, Ajeng mulai membetulkan duduknya dan sedikit berdehem untuk mulai
bicara.
“Ma
….!”
“Iya
sayang …, ada apa?” tanya mama Renna sambil mendongakkan kepalanya menatap
Ajeng.
“Ma
…., ajeng mau tanya!”
“Tanya
aja sayang .,.., nggak usah ragu!” ucap mama Renna sambil memegang tangan Ajeng
yang berada di atas meja.
“Tadi
…., sepertinya Ajeng ngeliat papanya mas Al!”
Mendengar
ucapan Ajeng, tampak wajah mama Renna begitu terkejut. Ia segera melepaskan
tangan Ajeng dan mengalihkan tatapannya dari Ajeng, Nampak sekali ada yang
sedang di tutupi oleh mama Renna.
“Kamu
pasti salah lihat sayang!”
“Walaupun
baru dua kali ketemu sama papanya mas Al, tapi Ajeng yakin ma, itu papanya mas
Al!” Ajeng tetap kekeh dengan pendiriannya, ia berharap mama Renna mau
bercerita sesuatu padanya.
“Tapi
kan papa lagi di luar kota, sayang!”
Mama
Renna tetap tidak percaya dengan apa yang di katakana oleh Ajeng. Saat ajeng
hendak bertanya lagi, tiba-tiba Al sudah datang membuat Ajeng mengurungkannya.
“Assalamualaikum,
ma …, dek …!”
“Waalaikum
salam!”
Al
segera memeluk ajeng dari belakang dan mencium pipinya, membuat Ajeng tersipu
malu. Ia begitu malu karena ada mama Renna.
“Duduk
sayang …, kita udah nunggu kamu lama sekali loh!”
“benarkah
…, maaf ya!” Al pun segera duduk dan menggeser duduknya di samping Ajeng,
kemudia ia mendekatkan bibirnya di telinga Ajeng membuat Ajeng kembali
tersentak, ia merasa tidak enak dengan mama Renna.
“Mas
…., mau ngapain?” tanya Ajeng terkejut.
“Aku
merindukanmu …!”
Mama
Renna hanya tersenyum melihat kelakuan putra dan menantunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘❤️❤️❤️
__ADS_1