Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Persiapan reoni


__ADS_3

            Pagi ini setelah sarapan mama Renna


memutuskan mengajak Al dan Ajeng berbelanja karena semalam Ajeng sudah cerita


mengenai acara reoni itu, mama Renna akan mengajak ajeng ke butik langganannya


sekalian untuk survei desainer Ajeng.


            “Sudah siap sayang?” tanya mama


renna yang sudah siap dengan dress panjangnya dengan gesper yang melingkar di


perutnya dan tas kecil yang menggantung indah di lengannya.


            “Bentar ya ma nungguin mas Al dulu!”


ucap Ajeng, ia juga sudah siap dengan penampilan kasualnya. Ajeng menghampiri


ibu mertuanya. Tak berapa lama Al keluar dari kamarnya dengan masih memakai


baju yang tadi di pakainya membuat Ajeng mengerutkan keningnya.


            “Dek …., maafin mas ya, mas kayaknya


nggak bisa ikut deh tadi tiba-tiba ada pekerjaan. Tapi mas janji kalau


pekerjaannya sudah selesai mas akan nyusul!”


            “Ya deh nggak pa pa, lagian sama


mama renna sepertinya lebih menyenangkan!” ucap Ajeng dengan senyum cerahnya.


            “Jadi menurutmu aku membosankan?”


tanya Al pura-pura kesal.


            “Tidak sih …, maksudku tidak salah!”


ucap Ajeng dengan senyum menggodanya membuat Al gemas, ia mencubit hidung Ajeng


hingga Ajeng menyerah.


            ‘augh ….., ampun-ampun mas …., iya


aku tidak akan menggoda mu lagi!”


“Baiklah


…, aku mengampunimu , oh iya bawa ini juga!” Al menyerahkan sebuah kartu untuk


istrinya.


“Kartu


ATM! Wah …, senengnya …, apa aku boleh membeli apa saja dengan kartu ini?”


tanya Ajeng begitu senang, seperti mendapat lotre dari suaminya.


“tentu


….!”


“Ok


…., jangan khawatir …, aku pasti akan menghabiskannya!” ucap Ajeng sambil


meninggalkan Al dan menghampiri mama mertuanya.


“Ayo


ma …., kita berangkat!”


Ajeng


menggandeng tangan mama mertuanya, mama Renna pun tersenyum ia pun segera


berlalu juga. Mama Renna biasa membawa mobil sendiri jadi kali ini pun mama


Renna akan membawa mobil sendiri.


“Lain


kali kamu harus belajar nyetir mobil sayang, biar kalau ke mana-mana bisa bawa


mobil sendiri.” Ucap mama Renna sambil fokus menyetir sedangkan Ajeng terus


saja terkagum-kagum dengan kemampuan mama mertuanya itu.


“Memang


boleh ma?” tanya Ajeng bersemangat.


“Tentu


sayang …! Kau ini sangat mirip dengan Dika, dia juga suka sekali penasaran


sepertimu!”


“Dia


sahabatku ma!”


Akhirnya


mereka sampai juga di butik yang di maksud, mama Renna segera memarkirkan


mobilnya. Ia menyajak Ajeng masuk ke dalam butik, kedatangan mereka langsung di


sambut oleh seseorang yang usianya sama dengan mama Renna.


“Renna


…, sudah lama sekali tidak ke sini dan sekarang kau ke sini dnegan anak


perempuan? Bukankah semua anakmu laki-laki?” tanya wanita itu, mama Renna pun


tersenyum senang, mereka saling berpelukan.


“kenalkan,


ini menantuku namanya Ajeng!” mama Renna menganalkan Ajeng ke temannya.


“Menantu?


Kapan nikahannya, kamu kok nggak undang-undang sih!”

__ADS_1


“Maaf


…, ini resepsianya memang belum. Tunggu aja undangannya nanti …., oh iya ada


nggak baju yang pas buat menantuku ini, buat acara reoni!”


“Tentu


…, banyak sekali yang gerli atau mau yang bagaimana?”


“Bagaimana


nak? Kamu maunya yang bagaimana?”


“Yang


sederhana aja ma!”


“Baiklah


…., ayo kita cari yang sederhana saja!”


Teman


mama Renna mengajak mereka berkeliling, sesekali Ajeng di mintai saran untuk


desain baju yang bagus untuk anak muda karena mama Renna menceritakan kalau


Ajeng adalah desainer. Setelah mendapatkan baju yang cocok untuk Ajeng, mama


Renna segera mengajak Ajeng untuk meninggalkan butik itu.


“Kita


mampir di mana dulu sayang?” tanya mama Renna saat sudah berada di dalam mobil


lagi.


“Terserah


mama Renna aja, Ajeng ikut …!”


“Kita


jalan-jalan ke mall dulu aja ya!”


“Siap


ma ….!”


Mereka


pun akhirnya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari


tempat pertama. Hanya butuh waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai.


Duo kople menatu dan mertua itu begitu kompak saling berlomba berbelanja,


mereka berlarian kesana kemari untuk berbelanja.


“Hahhhhh


…., capek ma …!”


juga …!”


Mereka


duduk dan bersender di sebuah bangku dengan kaki yang di selonjorkan.


“Al


nggak jadi nyusul?”


“Ini


katanya sudah ada di jalan ma …, bentar lagi nyampek!”


“baguslah


…, mama lapar. Gimana kalau kita tunggunya di foodcront aja, kita cari yang


enak-enak!”


“Iya


ma …, ajeng juga laper!”


Mereka


pun akhirnya kembali bangun dari duduknya dan berjalan menuju foodcront dengan


kedua tangan yang penuh dengan tas belanjaan. Saat masih setengah perjalanan,


mata Ajeng menangkat sosok yang sebenarnya ia tidak terlalu yakin.


Apa


benar yang aku lihat itu? Bukankah itu papanya mas Al? tapi mama kenapa bilang


papa di luar kota, apa aku yang salah liat ya …


“Sayang


….., ayo jalannya agak cepat!” ucap mama Renna sambil menoleh kea rah Ajeng


yang masih tertinggal di belakang.


“Oh


iya …, ma!”


Setelah


mama Renna kembali berjalan, Ajeng kembali mencari sosok yang sempat ia lihat,


tapi sayangnya ia tidak bisa menemukannya.


“Yah


…., ngilang kan!”


Akhirnya


Ajeng memutuskan untuk mengejar mama mertuanya. Ia akan menanyakan langsung

__ADS_1


dengan mama mertuanya nanti. Mereka menuju ke sebuah foodcort yang berada di


dalam mall. Memilih beberapa menu makanan mereka membelikan juga untuk Al.


“Kita


langsung makan atau nunggin Al dulu?’ tanya mama Renna.


“Mas


Al sudah sampai di parkiran kok ma, mending di tunggu dulu aja!”


“Baiklah


…!” mama Renna kembali memainkan ponselnya, sedangkan Ajeng sedang begitu


gundah, ia bingun bagaimana memulai bicara dengan mama Renna.


Setelah


merasa yakin, Ajeng mulai membetulkan duduknya dan sedikit berdehem untuk mulai


bicara.


“Ma


….!”


“Iya


sayang …, ada apa?” tanya mama Renna sambil mendongakkan kepalanya menatap


Ajeng.


“Ma


…., ajeng mau tanya!”


“Tanya


aja sayang .,.., nggak usah ragu!” ucap mama Renna sambil memegang tangan Ajeng


yang berada di atas meja.


“Tadi


…., sepertinya Ajeng ngeliat papanya mas Al!”


Mendengar


ucapan Ajeng, tampak wajah mama Renna begitu terkejut. Ia segera melepaskan


tangan Ajeng dan mengalihkan tatapannya dari Ajeng, Nampak sekali ada yang


sedang di tutupi oleh mama Renna.


“Kamu


pasti salah lihat sayang!”


“Walaupun


baru dua kali ketemu sama papanya mas Al, tapi Ajeng yakin ma, itu papanya mas


Al!” Ajeng tetap kekeh dengan pendiriannya, ia berharap mama Renna mau


bercerita sesuatu padanya.


“Tapi


kan papa lagi di luar kota, sayang!”


Mama


Renna tetap tidak percaya dengan apa yang di katakana oleh Ajeng. Saat ajeng


hendak bertanya lagi, tiba-tiba Al sudah datang membuat Ajeng mengurungkannya.


“Assalamualaikum,


ma …, dek …!”


“Waalaikum


salam!”


Al


segera memeluk ajeng dari belakang dan mencium pipinya, membuat Ajeng tersipu


malu. Ia begitu malu karena ada mama Renna.


“Duduk


sayang …, kita udah nunggu kamu lama sekali loh!”


“benarkah


…, maaf ya!” Al pun segera duduk dan menggeser duduknya di samping Ajeng,


kemudia ia mendekatkan bibirnya di telinga Ajeng membuat Ajeng kembali


tersentak, ia merasa tidak enak dengan mama Renna.


“Mas


…., mau ngapain?” tanya Ajeng terkejut.


“Aku


merindukanmu …!”


Mama


Renna hanya tersenyum melihat kelakuan putra dan menantunya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2