
Deru mesin helikopter terdengar begitu dekat dengan lokasi peristiwa naas yang dialami Edward dan keluarganya. Jalan yang sepi ditambah rintik hujan menjadi saksi bisu perpisahan mereka. Perpisahan yang akan membuat duka mendalam seluruh keluarga dan jajaran.
Lukas bersama kelima anak buahnya berlari terengah engah dalam hujan malam itu. Tubuhnya sudah basah kuyup, ditambah angin yang berhembus malam itu sedikit membuatnya kedinginan, tapi semangat juangnya tinggi. Ia ingin segera menyelamatkan Edward, perasaannya begitu yakin jika Edward sedang dalam bahaya.
Sesekali Lukas menoleh kebelakang, tak tampak satupun kendaraan yang melewati jalan itu. Firasatnya mengatakan jika kejadian malam ini sudah direncanakan oleh seseorang.
Diam diam Lukas menitikkan air matanya sedih, ia tidak tau apa yang sedang terjadi pada Tuan mudanya, hatinya mengatakan jika Edward sedang dalam kesulitan. Hatinya terasa seperti tersayat sayat pedih.
"Bos lihat..!! itu helikopter GL!!!" seru anak buahnya
Lukas sontak mendongak keatas, ia mempercepat laju larinya. Ia berharap besar Edward segera mendapatkan pertolongan pertama.
"BOS LIHAT..!!" tunjuk kerumunan dijalan sepi itu.
Lukas lemas seketika, dari jauh ia melihat truk yang mereka salip dan mengakibatkan pecah ban pada mobilnya berada ditempat kejadian itu.
Helikopter masih berputar putar diatas, Kevan sedang mencari tempat kosong untuk mendaratkan helinya.
"Ayo Bos..!!" seru anak buahnya yang membuyarkan pikiran buruknya.
Lukas berlari dengan perasaan tak karuan. Ia takut, takut sekali.
Ditempat itu sudah berkumpul sebagian para anak buah Alex yang segera mengamankan lokasi kejadian itu. Sebagian dari mereka menundukkan kepala bahkan ada yang sudah menitikkan airmata dan ada yang menangis tersedu sedu. Bahkan mereka memalingkan wajahnya tak kuat melihat peristiwa itu. Hati mereka pedih sekali.
Ketika Lukas datang mendekat, anak buahnya segera memberi hormat dan memberi jalan Lukas mendekat kearah posisi mobil Edward.
Lukas terpaku, tubuhnya seakan kaku melihat keadaan mobil Edward didepan pelupuk matanya. Mobil yang ditumpangi Edward diapit empat buah truk besar bermuatan yang sudah tak berpengemudi, sudah tak berbentuk, penyok disana sini dan parahnya besi beton eser itu merusak kaca bagian depan sampai menembus kekaca belakang. Ia belum mengetahui keadaan penumpangnya didalam.
"Apa yang kalian lihat..!!! Cepat singkirkan tiga truk itu.!" perintah Lukas dengan suara bergetar menahan tangis.
Tim investigasi milik GL Golden Lion segera mengambil gambar dan segera memerintahkan. anggotanya segera menyingkirkan truk disebelah kanan. Sayang sekali, keinginan kadang tak sesuai harapan, mesin truk itu sudah disengaja dirusak oleh pemiliknya. Para anggota bahu membahu menurunkan muatan dan berusaha mendorong truk besar itu. Apalah daya, mereka bukan robot. Tidak mungkin mereka mendorong truk itu.
Hati Lukas mencelos melihat pemandangan itu. Ia berteriak histeris.
"TIDAAAAKKKK...!!!"
Tangisnya begitu pilu melihat kondisi mengenaskan yang dialami Edward. Tubuhnya terasa lemas, ia tak kuasa menahan bebannya.
__ADS_1
"TIDAAAAKKKK...!!!" Tangis Lukas begitu menyayat hati, ia meraung raung membenturan kepalanya ke aspal. Dia menangis histeris. Bahkan dia tidak peduli pada harga dirinya .
Kevan dan tim medis segera mendatangi Lukas yang sedang bersimpuh diaspal dari celah celah body truk besar itu.
Kevan juga langsung memalingkan wajahnya. Ia tak kuat melihat kondisi kritis dari tuannya. Banyaknya darah yang tercecer membuatnya ikut menangis pilu. Ia segera memerintahkan tim medis untuk segera memeriksa kondisi didalam.
"Tuan, pintunya macet..!!" seru salah satu dokter markas.
"Aaaaagggghhhhh....!!!!" Teriak Kevan frustasi. Disaat situasi sudah sulit begini, masih saja ada cobaan kesulitan lain. Sepertinya pembunuh itu memang niat sekali tak memberikan kehidupan untuk keluarga itu.
"LUKAS..!! BEHENTI MENANGIS. KITA HARUS SEGERA MENYELAMATKAN KING.!! AKAN AKU BUNUH SIAPAPUN YANG MENYAKITI KING KITA.!!!" Pekik Kevan dengan emosi.
Lukas masih saja menangis dan membenturkan kepalanya. Ia sedang sangat merasa menyesal sekali. Dia syok,..
Kevan datang dan menamparnya berulang kali.
PLAK .. PLAK.. PLAK..
"SADAR LUKAS...!! SADAR...!!" Seru Kevan mengguncang bahu Lukas.
Lukas langsung terhenyak, pandangannya kosong, ia bangkit berdiri dan merogoh ponselnya. Ia menghubungi Tuan Haidar , Jendral kepolisian, paman Aurora untuk meminta bantuan. Dirinya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
Pandangan Alex memburam, matanya berkaca kaca. Setetes air matanya terjatuh dan lama lama menjadi deras.
"TIDAKKKKKK...!!!TIDAAAKKKK EDWARD, KAMU TIDAK BOLEH PERGI....!!! SIAPA YANG MELAKUKAN INI...!!! AKAN AKU HABISI MEREKA...!! HAAAAGGGGHHHHH....!!!!!"
Tangis Alex juga begitu pilu. Mereka semua bersedih dan berduka atas kejadian malam ini. Semua menangis sedih..
Lukas datang menghampiri Alex, ia memeluk sedih pria itu. Kesedihan yang sama dengan dirinya, ia begitu terpukul dengan kejadian ini.
"Tenangkan dirimu, kita harus menyelamatkan King, semoga King masih bisa bertahan. Dia pria kuat. Tidak semudah itu dia akan pergi. Ayo kita bantu mereka." ucap Lukas memberi penghiburan.
"Bos, Mereka bertiga masih bernafas...!!" seru salah satu dokter.
Lukas dan Alex terkesiap, ia segera mendatangi dokter itu.
"Tuan bantu saya memotong besi ini. Kita tidak bisa menariknya sembarangan.!" ucap satu dokter itu.
__ADS_1
"Tunggu aku bawa laser dimobil. Akan aku ambil.!" ucap Alex yang berlari meninggalkan mereka. Sedangkan dokter lainnya memasangkan masker oksigen ke Edward, Aurora dan Brian.
Evakuasi berjalan dramatis, mobil Edward tampak digergaji untuk mengeluarkan mereka bertiga. Kaki Aurora nampak terjepit diantara body mobil yang penyok. Mereka kesulitan mengeluarkan tubuh Aurora.
Tubuh Brian sudah dipindahkan ke heli GL, dia diberi pertolongan pertama pada dokter disana. Tubuhnya juga terdapat banyak luka, apalagi dikepalanya. Darah tampak merembes dikepala bagian kanannya. Bocah kecil itu juga sedang tak sadarkan diri. Miris sekali melihatnya.
Sirine iringan mobil polisi bersama mobil ambulan terdengar riuh dikeheningan malam itu. Tuan Haidar turun dengan wajah tegangnya.
Ia menatap keadaan sekitarnya, hatinya mencelos melihat Aurora ditandu dengan banyak luka ditubuhnya. Diam diam ia menghapus air matanya, tak kuasa melihat kondisi keponakannya , apalagi kondisi suami keponakannya, ia paling terakhir dievakuasi. Masih ada sesi pemotongan besi beton eser pada tubuhnya.
"Aku tak akan mengampuni kalian, berani beraninya kalian menghancurkan keluargaku.! Aku akan mencari kalian sampai kelubang semut sekalipun." batin Tuan Haidar marah.
"Tuan, tolong urus masalah disini. Pastikan pelakunya tertangkap dan dihukum seberat beratnya. Kami akan membawa Tuan Edward dan keluarga ke rumah sakit pusat." ucap Lukas datar saat menemui Tuan Haidar malam itu.
"Saya pastikan pembunuh itu akan menyesal sudah berurusan dengan keluarga Wijaya. Kami sudah menyiapkan dokter dan perawatan terbaik disana. Mereka sudah menunggu kedatangan keluarga Tuan Edward. Saya pastikan mereka tidak akan menyulitkan anda. Dan kami sudah menempatkan anggota terbaik kami dirumah sakit untuk berjaga."
"Terimakasih kami pergi dulu."
"Silahkan .."
Kevan sudah terbang melayang duluan bersama Edward, Aurora, Brian dan tim dokter markas. Sedangkan Lukas dan Alex pergi bersama ambulan yang dibawa Tuan Haidar. Mereka masih syok, tak mungkin mereka mengendarai mobil sendiri.
Sedangkan sebagian bodyguardnya ikut iring iringan mobil ambulan dan sebagian masih ditempat untuk membantu menyelidiki kasus ini. .
Lukas merebahkan tubuhnya diatas brankar itu. Kepalanya tiba tiba terasa pusing, tak lama kesadarannya menurun, Lukas pingsan.
.
.
.
###
Ayo, terus dukung karya ini.
LOVE U AĹĹ
__ADS_1
🖤🖤🖤