Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Rudal?


__ADS_3

Suara pukulan tongkat masih terdengar saling beradu. Ketiganya tak ada yang saling mengalah. Edward masih dengan lincah menyerang Alex dan Lukas bergantian. Hingga...


BRAK


BRAK


BRUK


"Ohh.." Rintih Lukas saat terjengkang ke belakang akibat tendangan kaki Edward mengenai perutnya. Lukas meringis dan berdiri kembali. Ia tak menyangka jika Edward akan menendang sungguhan.


Edward terus merangsek maju menyerang Alex. Ia tak memberi celah sedikit pun pada Alex untuk membalas serangannya. Aurora yang melihat itu tersenyum tipis, bangga akan kecepatan tangan dan kaki Edward yang bergerak begitu lincah.


"Wow!!" seru Alex melengkungkan tubuhnya ke belakang menghindari serangan tongkat Edward.


Alex segera menegakkan tubuhnya dan melompat tinggi tat kala Edward mengayunkan tongkat ke arah kakinya.


HAP


BRAK


Edward bergulung ke samping saat tongkat Alex hampir saja mengenai tubuhnya , pria itu segera berdiri dan memasang kuda kuda dengan tongkat di belakang tubuhnya lalu senyum meremehkan.


"Sial, kenapa bisa sekeren itu ." Gumam Alex


Edward sedikit menunjukkan gerakan kecepatan tangan saat memutar tongkat dan beberapa style gerakan kombinasi. Gerakannya begitu cepat dan lincah hingga Alex tak menyadari jika Edward sedang mengelabuhinya.


"Oh!"


BRAK


BUGH


BUGH


Edward terkekeh melihat Alex terjatuh setelah tongkatnya mengenai lengannya dan tendangan kaki keatasnya mengenai rahang Alex begitu saja.


"Agh.." ringis Alex memegangi pipinya.


Lukas yang melihat itu langsung berlari menyerang Edward dari belakang. Siapa sangka, Lukas yang hendak melakukan penyerangan langsung di hantam Edward dengan tongkat yang diayunkan ke belakang.


DUG


"Oh!"


BRAK


BRAK


BUGH


"Woh.." pekik Lukas begitu saja.


"You lose.." Edward menahan tongkatnya yang hampir mengenai mata Lukas.

__ADS_1


"Cukup!!" seru Aurora menghentikan permainan mereka.


Edward menoleh dan tersenyum pada Aurora. Bukan apa apa, malam ini ia akan mendapat hadiah spesial dari istri cantiknya. Ia jadi tak sabar menunggu malam.


"Istirahatlah 30 menit, setelah itu temui aku di ruang kerjaku." Setelah mengatakan itu, Aurora berbalik dan menghilang di balik pintu.


Tiga pria itu kemudian terkekeh bersama.


"Bos, kenapa kamu memukulku sungguhan!" Kesal Lukas memegangi perutnya yang mungkin memar karena hantaman tongkat Edward.


Edward terkekeh, lalu mengulurkan tangannya membantu Lukas berdiri. "Sebaiknya kita segera mengganti baju. Jangan sampai singa betina itu mengamuk lagi."


"Cih, istri sendiri dibilang singa betina. Kena aumannya baru tau rasa." cibir Alex memainkan rahangnya yang sakit.


Edward terkekeh mendengarnya, ia menepuk pelan bahu Alex. "Terima kasih karena kamu sudah menjaga istriku."


"Hem. It's ok, sudah tugasku." Alex tersenyum dan melenggang menjauhi Edward. Lukas dan Edward saling berpandangan.


"Apa yang terjadi."


"Saya tidak tau. Mungkin dia sedang ada masalah dalam rumah tangganya Tuan, tapi memang sudah beberapa minggu ini, dia tak pulang ke apartemen ataupun rumahnya. Dia tinggal di markas."


"Benarkah? apa dia tak merindukan putranya?"


Lukas menaikkan bahunya, karena orang yang sedang mereka bicarakan mulai mendekat ke arahnya.


"Bos, saya pergi dulu, saya akan menyiapkan laporan untuk Queen, kita bertemu di ruang kerja nona Aurora. Saya permisi."


Edward mengangguk, walau hatinya bertanya tanya ada masalah apa pada diri Alex. Dia tidak seperti biasanya, ia jadi berpikir jika ada kata katanya yang menyinggung hatinya.


"Tidak perlu, kita masih ada tugas yang jauh lebih penting dari ini. Aku akan bicara pada Alex sendiri. Bersiaplah." Edward menepuk bahu Lukas.


"Baik Tuan."


.


.


Aurora sedang menunggu ketiga pria itu didalam ruangannya sambil menelfon seseorang di seberang sana. Terjadi sedikit perdebatan dalam pembicaraannya, raut wajah Aurora kemudian berubah masam setelah mendengarnya.


"Oke, anda bisa menemuiku di markas besar GL." Aurora kemudian menutup ponselnya begitu saja.


Tak lama kemudian tiga pria yang ditunggunya masuk ke dalam ruangan, Alex tampak membawa macbook di tangannya, sedangkan Lukas membawa amplop coklat yang entah apa isinya.


"Silahkan duduk." ujar Aurora.


Edward dengan santainya duduk di sebelah Aurora, sedangkan Alex dan Lukas berada diseberangnya.


"Jadi Alex, apa kamu sudah melakukan pertemuan dengan Kimura. Apa hasilnya!"


"Ya, kemarin Tuan Kimura datang menemui saya bersama asistennya. Mereka akan memberi bantuan jika kita memberinya distribusi senjata. Saya masih belum mengiyakan permintaannya."


"Lalu apa sudah ada kabar dimana madam Yora berada?" tanya Aurora setelahnya.

__ADS_1


Alex menggeleng pelan. "Belum ketemu. Kami bahkan menerjunkan pasukan khusus untuk melakukan penyidikan."


"Lalu bagaimana dengan kasus Brian? bukankah kamu melakukan pengejaran? apa yang kamu dapatkan? Siapa pelakunya?Apa termasuk dia?"


"Maaf nona, kami kehilangan jejaknya."


"Bodoh! Kalian mempunyai teknologi canggih kenapa tak menggunakannya! Harusnya kalian melihatnya dari tampilan satelit! Ck! Aku tak habis pikir dengan kalian. Harusnya kalian menembakkan alat pelacak pada mobil itu atau kalian bisa menerbangkan heli untuk mengejar mereka. Ck. Ah. Kenapa kamu menjadi bodoh Alex...!!umpat Aurora.


Edward yang mendengar itu mengusap punggung Aurora menenangkan. Ia hanya tak menyangka jika istrinya berubah menjadi pribadi lain.


"Maaf." Lirih Alex.


"Huh!" Aurora menghembuskan nafasnya kasar.


"Alex. Maaf itu tidak dibutuhkan saat sedang bekerja. Harusnya kamu lebih bisa profesional. Sampingkan dulu urusan pribadimu jika itu yang membuatmu lemah seperti ini. Urusan nyawa tidak bisa di buat main main. Untung saja Brian tak terjadi apapun. Bagaimana jika iya! aku pastikan akan menggantungmu di alun alun kota!"


Alex diam dan mengepalkan tangannya. Ia ingin marah tapi ia tak bisa berbuat apapun, itu juga kesalahannya. Ia sudah lalai dalam bertugas.


"Alex, kamu bisa cuti jika kamu lelah. Aku akan menugaskan orang lain menggantikanmu. Selesaikan apa yang harus diselesaikan. David yang akan menggantikanmu."


"Tidak. Jangan membuat saya menjadi orang tidak berguna. Saya akan melakukan tugas dengan baik." Tegas Alex.


Aurora tersenyum menyeringai, itu yang sedari tadi ia harapkan. Entah mengapa semangat Alex lemah dan ia hanya berniat membakar semangatnya saja.


"Oke. Aku mau kamu siapkan anggota GL. Lusa kamu harus segera terbang membantu Yakusa melakukan eksekusi di tempat. Pastikan kelompok gagak itu lenyap dari bumi ini. Mereka sudah sangat meresahkan. Aku tak ingin terjadi korban lagi. Hati hati mereka juga mempunyai senjata biologi. Persiapkan dan rencanakan dengan baik. Suamiku yang akan memimpin misi ini, tapi kamu tetap yang jadi eksekutornya!"


Alex menoleh pada Edward yang tetap berwajah datar. "Baik. Saya pastikan kami akan pulang membawa kemenangan."


Aurora tersenyum lebar. "Bagus. Aku suka semangatmu. Aku harap kalian pulang dengan selamat."


Edward yang sedari tadi menyimak kemudian angkat suara. Pria itu nampak tidak setuju dengan langkah yang diambil Aurora.


"Tunggu sayang, ini tidak bisa terburu buru. Dua hari adalah waktu yang sedikit. Bagaimana kami akan melakukan perencanaan, apalagi kamu bilang mereka mempunyai senjata biologi. Ini akan membahayakan anggota kita."


Aurora dan Alex sama sama tersenyum. Edward tidak tahu kenapa sepertinya dua orang itu menggampangkan misi ini.


"Alex, aku rasa suamiku tidak perlu ikut misi ini. Aku percaya kamu bisa melakukan tugas ini dengan baik. Aku akan memerintahkan Selly menemanimu. Dia bisa kau andalkan. Kalian tidak boleh membawa dua tim IT markas, karena aku membutuhkan mereka."


"Baik nona."


"Hei!! kalian meragukanku!" seru Edward tak terima.


"Maaf, bukan seperti itu Bos. Tapi lebih baik anda tetap tinggal bersama nona. Kami pastikan akan pulang dengan selamat. Kami tahu cara menghancurkannya." jawab Alex tenang.


"Bagaimana, bagaimana kalian akan menghadapi senjata biologi itu. Apa yang akan kalian lakukan!"


"Rudal."


"APA!!!"


.


.

__ADS_1


.


#####


__ADS_2