
Kemewahan nyata terpampang dihadapan semua orang yang memasuki mansion Tuan Admaja. Tuan Hardy begitu puas dengan hasil karya EO yang keponakannya pesan. Walaupun acaranya tidak jadi dilaksanakan dikediamannya, itu tak membuatnya cemburu pada besannya.
Nuansa putih dan biru begitu elegan, mansion yang sudah megah bertambah mewah dengan hiasan disana sini. Semua yang sudah hadir tersenyum dan mengucapkan selamat pada keluarga Tuan Admaja dan Tuan Hardy.
Disana ada Aurora dengan balutan gaun panjang berwarna baby blue sedang menyalami tamu yang hadir, sedangkan Al dan El sedang asyik tidur dalam boks ditemani Brian , Selly dan Kiran. Mereka dengan sepenuh hati menjaga keduanya dari awak media yang berusaha memotret bayi itu.
Aurora tidak menyangka jika orang tua dan mertuanya akan mengundang banyak tamu, ia sampai lelah sendiri sebelum acara dimulai.
"Temani putramu saja, sebentar lagi acara akan dimulai." Bisik bunda Yuli pada Aurora.
Aurora pun mengangguk paham.
Tuan Admaja dan Istrinya menuju kearah pembawa acara, membisikkan sesuatu agar segera dimulai saja acaranya.
"Terima kasih dan kami ucapkan selamat datang bagi tamu undangan yang baru hadir serta para rekan media yang pada kesempatan kali ini bersedia hadir memenuhi undangan kami dalam acara tasyakuran atas lahirnya penerus dua keluarga besar kami. Malam ini dengan bangga kami memperkenalkan dua cucu kebanggaan keluarga kami yaitu Aldevaro Putra Edlyn dan Eldevano Putra Edlyn."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, kamera aktif merekam dan menayangkan live di stasiun televisi. Jepretan kamera berulang ulang mengarah ke Aurora dan dua bayinya. Tuan Hardy tersenyum bangga saat menggendong Eldevano dalam dekapannya.
Disisi lain, ketika para tamu khidmad mendengarkan Tuan Admaja memberikan sepatah dua patah kata, ini Alex malah sibuk mencari keberadaan Zanitha yang malam itu hilang entah kemana, padahal jelas jelas tadi ia melihat keberadaannya.
"Tuan Alex, anda disini rupanya. Anda tadi dicari Tuan Lukas, apa sudah bertemu dengannya?" tanya Selly yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.
"Benarkah?"
"Terserah.." Selly menaikkan bahunya dan berlalu begitu saja dari hadapan Alex. Ia tak begitu peduli dengan tatapan yang dimiliki Alex padanya.
"Sial! benar kata Lukas, semakin dia cuek semakin membuatku penasaran saja." gerutu Alex dalam hatinya.
"Tunggu nona!" Alex mencekal pergelangan tangan Selly.
"Ya,.." Selly berbalik dan menatap netra Alex.
Deg
"Sial, bagaimana mungkin hatiku berdebar dengan dua wanita." batin Alex saat menatap mata Selly.
"Dimana Lukas?"
"Ehm.. tadi saya bertemu dengannya di dekat stand makanan di sebelah sana. Maaf, bisa anda lepaskan cekalan tangan ini, jangan sampai anda jatuh cinta dengan saya setelah ini." ucap Selly dibarengi dengan senyumnya.
"Apa kamu pikir , kamu secantik itu hingga membuat ku jatuh cinta padamu? Cih."
Selly lagi lagi hanya tersenyum menanggapi, ia pun sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Alex.
__ADS_1
"Baiklah, jika tidak ada yang dibicarakan lagi, saya masih ada janji dengan teman saya. Semoga hari anda menyenangkan." Selly pun berlalu dengan seribu tanda tanya dalam benak Alex.
Alex mengusap wajahnya, frustasi kepada dirinya sendiri. Kenapa dirinya masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Zanitha yang melihat itu hanya tersenyum miris. Tidak tau harus bagaimana menyikapi hubungannya dengan Alex. Cinta memang tidak bisa dipaksakan.
"Nona Zanitha.." Panggil seorang pria yang menggandeng lengan seorang wanita disampingnya.
"Anda.." ucap Zanitha menggantung.
"Hai nona, kita bertemu lagi disini." ucap Jenny dengan senyum ramahnya.
"Nona Ze, terimakasih sudah membantu menyelenggarakan acara malam ini dengan baik. Saya puas dengan kinerja anda dan team. Saya akan memberikan bonus untuk anda." ucap Andi
"Terima kasih atas pujiannya Tuan. Saya senang mendengarnya. Dan terima kasih untuk bonusnya. Pasti anak anak senang menerimanya." ucap Zanitha dengan senyumnya.
"Baiklah, kami tinggal ya." Andi menggandeng tangan Jenny. Jenny mengulas senyum tipisnya, dan mengangguk.
"Silahkan Tuan, nona."
"Apa mereka sepasang kekasih, Benarkah? wow.. beruntung sekali nona Jenny." batin Zanitha iri
.
.
"Ada apa kau mencariku? Apa ada masalah? Aku sudah melakukan tugasku dengan baik. Aku sudah mengamankan mansion ini jika ada serangan." tanya Alex ikut duduk disebelah Lukas yang sedang menikmati acara berlangsung.
Alex memicingkan matanya. "Lalu?"
"Lihatlah kedepan sana." Lukas menunjuk dengan dagunya.
"Ck.. kenapa suka basa basi denganku! siapa yang kau maksudkan!" ucap Alex malas.
"Viona. Kau memasukkan rubah licik itu kemari hem." ucapnya pelan. Matanya masih fokus menatap wanita itu dari kejauhan.
Alex seketika membulatkan matanya. Tak percaya dengan kehadiran wanita itu ditempat itu.
"Dia ternyata berhubungan dengan Tuan Kim. Berarti yang menyokong aksinya selama ini adalah pria itu." ucap Lukas
"Haruskah kita bereskan malam ini juga?"
"Jangan, kita tidak boleh mengacaukan suasana pesta malam ini. Sangat berbahaya, apalagi ada anak anak. Awasi saja pergerakannya. Nona Aurora bahkan tidak tau wajah baru rubah itu."
"Hem aku mengerti." Alex langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Lukas hanya melirik dan tersenyum tipis.
"Aku akan memancingnya keluar sebelum wanita itu berbuat ulah. Ayo.!" ajak Lukas.
__ADS_1
"Dengan senang hati.." Alex tersenyum miring mengikuti Lukas dibelakangnya.
"Selamat malam Tuan Kim, senang bertemu anda. Apa ini istri anda?" Lukas mengajak bersalaman tapi matanya melirik Viona.
"Malam Tuan Lukas dan Tuan Alex, perkenalkan ini Vivian, teman saya."
"Teman? benarkah hanya teman? mungkin maksud anda teman tidur? Ha ha ha... Ayo mari Tuan kita bicara bisnis disana. Disini sepertinya kurang cocok untuk kita." ajak Lukas.
"Haha anda bisa saja. Mari Tuan..." ucap Tuan Kim, meninggalkan Vivian begitu saja.
Alex tersenyum senang melihat kepergian mereka berdua. Ia pikir akan mengerjai rubah licik itu.
"Ah teman anda sangat tidak sopan sekali, dia meninggalkan anda sendiri dalam pesta ini sendiri hanya karena urusan bisnis. Setidaknya pria itu harus berpamitan bukan?" ucap Alex
"Maaf saya tidak ada urusan dengan anda."
"Wow, anda mau kemana? Ayo kita kesana, disana tempatnya lebih sepi." Alex langsung saja menggandeng tangan Vivian.
Vivian yang ditarik tangannya hanya bisa menurut dan mengikuti langkah kaki Alex, dirinya juga tidak ingin membuat malu sendiri.
Bruk
Alex menghempaskan begitu saja tubuh Vivian menatap tembok. Alex tersenyum menyeringai.
"Apa yang kau lakukan!" Vivian mendelik marah.
"Apa tujuanmu datang kemari nona cantik. Hemm, wajahmu mulus sekali. Dibayar berapa kau tidur bersama pria itu hah,. cih cantik cantik sundal.!" ejek Alex.
"Jaga bicaramu Tuan!"
"Wow! Slow baby, Aku peringatan padamu untuk jangan memaksakan kehendakmu. Berhentilah mengusik kehidupan keluarga Tuan Edward atau kau akan merasakan siksaan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa nona!"
"Apa maksudmu!"
"Jangan memasang wajah polosmu jika didepanku nona, mungkin kau bisa mengelabuhi nona Aurora dan yang lainnya, tapi tidak denganku. Camkan kalimatku baik baik Viona." Alex mencekik leher wanita itu.
"Lepaskan!"
"Huh, harusnya aku membunuhmu sejak peristiwa itu. Aku menyesal sudah menuruti perintah Edward. Kamu beruntung Edward masih mengasihimu!"
"Lepaskan aku!"
"Aku ingatkan, jika kali ini kau terlibat lagi. Aku akan musnahkan kelompok yakusa milik simpananmu sampai keakar akarnya. Jangan dikira diam kami karena kami tidak tau kelakuanmu Viona, kami menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kalian. Kau akan mendapatkan ganjarannya Viona.."
.
.
__ADS_1
.
####