
Ruang tindakan operasi tampak lebih sibuk dari biasanya. Para dokter masih berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pertolongan. Entah sudah berapa jam mereka berada disana, tapi ada seorang pria yang masih betah duduk di kursi tunggu. Dia adalah Yudha.
Yudha duduk disana bersama beberapa anggota DQ. Tampak sebagian dari mereka berbincang ringan, tidur dan sebagian sedang mengunyah sarapan mereka.
Seorang wanita menghampiri Yudha dan menepuk bahunya pelan. Ia merasa kasihan,tapi bisa apa.
"Sudah sarapan." tanyanya datar.
Yudha mendongak ke atas dan menggeleng pelan.
"Kenapa."
"Tidak ingin." jawab Yudha seadanya.
"Sebaiknya segera isi perutmu. Kita membutuhkan tenaga lebih setelah ini. Sudah menghubungi Queen?"
Lagi lagi pria itu menggeleng. Entah mengapa pria itu menjadi lemah setelah mengetahui klan Yakusa tempat ia dibesarkan dibantai habis-habisan.
"Ayo, aku temani makan. Sebentar lagi pihak kepolisian dan wartawan akan meminta keterangan dari kita, sudah punya jawaban?" tanya wanita itu lagi.
"Belum."
"Ck." Wanita itu hanya berdecak. Ia pikir kenapa pria itu jadi seperti ini, bukankah dia pria jenius, harusnya sudah mempunyai gambaran ke depannya bukan.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi, disusul satu brankar yang didorong keluar oleh perawat.
Yudha sontak berdiri dan mengikuti mereka di belakangnya. Mau dibawa kemana pikirnya.
"Dokter bagaimana keadaannya." tanya Yudha begitu sampai di depan ruang ICU.
"Apa anda keluarganya?" tanya dokter itu balik. Menatap Yudha dari atas sampai ke bawah yang berpenampilan bad boy, sedikit takut pikirnya.
"Iya." jawab Yudha jujur.
Dokter itu mengangguk.
"Dokter bedah sudah mengeluarkan 20 peluru yang bersarang di tubuh pria ini, tapi 1 peluru masih bersarang di bagian bawah tengkorak otaknya. Kami tidak berani mengambil resiko, khawatir memperparah keadaan. Pasien masih dalam observasi, jadi belum bisa dijenguk saat ini."
"Baiklah saya mengerti, bagaimana dengan yang lainnya."
"Masih dalam ruang tindakan. Maaf, saya harus melihat pasien dulu."
Dokter itu hanya memberi sedikit senyumnya dan menepuk lengan Yudha seakan memberi kekuatan disana, lalu dia langsung meninggalkan Yudha dengan banyak pertanyaan.
"Apa kau baik-baik saja."
__ADS_1
"Entahlah." Yudha kembali duduk.
"Dokter forensik sudah mendapatkan hasil otopsinya. Apa yang akan kau lakukan sekarang. Aku juga sudah menelfon Queen, Queen ikut berduka dengan musibah ini, tapi belum bisa terbang kemari, mungkin dalam beberapa hari lagi Queen akan kemari bersama Brian dan Max."
"Istirahatlah Selly, kau sudah banyak membantuku hari ini. Terima kasih, tolong jaga mereka, aku akan mengurus jenazah paman dan bibi."
"Ya, hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Yudha hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Sementara itu,
Edward langsung menghentikan kegiatannya, saat Alex datang menemuinya di kantor GL. Pria itu mengembangkan senyum seolah ada kabar baik yang baru diterimanya.
"Ada apa." tanya Edward datar.
"Aku yakin kau sudah tau beritanya." ujar Alex duduk didepan Edward masih mengembangkan senyum.
"Apa mereka sudah mati semua." tanya Edward pelan.
Alex menggeleng. "Apa kita harus menghabisi sisanya."
Edward menghela nafasnya, "Tidak, biarkan mereka tetap hidup. Kita tidak boleh membunuhnya Alex. Aku rasa hukuman ini sudah lebih dari cukup untuk mereka."
"Aku rasa mereka memang sudah menguasainya, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun Alex. Kau tau,.."
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.
Aurora melangkah masuk dengan senyum manisnya menyapa Edward.
"Sayang apa aku mengganggu waktumu." ujar Aurora begitu mendekat kearah suaminya.
Edward menarik nafasnya lalu menggeleng. "Apa ada masalah?"
"Tidak. Sebenarnya aku kesini untuk meminta izin padamu, bolehkah besok aku pergi ke Hong Kong Kak. Aku akan menemani Kenta ke sana dan memastikan semua berjalan lancar. Setelah itu aku akan bertolak ke Jepang sebentar menjenguk Tuan Kimura. Bisakah kamu memberi ijin padaku Kak."
Alex yang mendengar itu merasa tidak enak sendiri. Sepertinya ia tidak tepat berada dalam pembicaraan suami istri itu. Pasti setelah ini akan ada keributan lagi.
"Tidak." Tegas Edward.
"Kak. Aku sudah meminta izin baik-baik ya, kenapa tidak mengijinkanku pergi! Ck. Tau gini aku tak meminta ijin darimu." ujar Aurora kesal.
Alex lagi lagi hanya menjadi pendengar setia, pria itu melirik Edward dan Aurora bergantian, lalu menggeleng. Ia pikir kenapa semakin kesini mereka semakin keras kepala. Dikit dikit ribut, dikit dikit berantem.
"Alex keluar!" seru keduanya.
__ADS_1
Alex menatap Aurora dan Edward bergantian, lalu mengangguk. "Selesaikan baik-baik, jangan ada keributan setelah aku pergi."
Aurora menatap horor punggung Alex, ia pikir kenapa pria itu bisa menasehati dirinya sedangkan pada masalahnya sendiri, entahlah.
"Bagaimana dengan anak-anak sayang, tolonglah, mereka juga sudah ada yang menjaganya. Kenta bersama orang terpercaya, sedangkan Yudha? pasti bisa mengurus dirinya sendiri, lagi pula disana ada anggotamu bukan?" ujar Edward memberi pengertian, padahal ia tidak ingin Aurora bertemu orang orang madam Yora dan berbuat sesuatu terhadapnya.
"Aku akan pergi bersama anak-anak. Brian ingin menemui ayahnya." jawab Aurora cepat. Setidaknya jika menggunakan nama Brian, suaminya akan luluh dan mengijinkannya pergi.
"Aku akan bicara pada Brian dulu jika begitu."
Aurora seketika mendudukkan bobot tubuhnya ke sofa, wanita itu bersedekap dada melirik suaminya yang menyebalkan menurutnya.
Edward terkekeh melihat itu. Pria jangkung itu berdiri dan ikut duduk bersama istrinya.
"Aku akan mengantarmu jika begitu, tapi aku tidak mengijinkan jika kamu membawa anak-anak. Sekalian kita pergi berbulan madu."
"Kak,please ini masalah serius."
"Hei, aku juga serius. Apa kamu pikir aku sedang becanda. Oh aku tak mengerti jalan pikiranmu."
"Baiklah, baiklah, terserah saja. Tapi aku tetap akan mengajak Brian dan Max. Setuju atau tidak, itu bukan urusanku. Oke aku harus kembali."
"Hei, itu pemaksaan." ujar Edward menahan pergelangan tangan Aurora.
"Bukankah kakak suka dipaksa?"
Edward tersenyum menyeringai, "Apa yang kau pikirkan baby girl."
"Tidak ada." jawab Aurora ketus.
Edward mendudukkan Aurora kembali, "Sebenarnya aku hanya menghawatirkan keadaanmu, aku kesal karena kamu tidak mau menurut padaku. Kamu tidak tahu betapa aku sangat menyayangimu, aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk lagi. Aku minta maaf jika membuatmu tidak nyaman dengan pengaturanku. Tapi sungguh, aku lakukan itu karena aku takut kehilanganmu."
Aurora menggigit bibir dalamnya, ia jadi merasa bersalah.
"Aku tau kekhawatiranmu, tapi bisakah jangan terlalu posesif padaku. Aku baik-baik saja selama ada kamu bukan."
Edward hanya mengukir senyum tipis tanpa menjawab permintaan Aurora, bagaimana bisa ia tidak posesif pada wanita itu, Aurora dimatanya bagaikan magnet yang mampu menarik benda benda di sekitarnya. Ia sedang tidak ingin berebut dengan siapapun saat ini. Ia hanya ingin melalui hari bahagianya dengan tenang tanpa di ganggu siapa pun.
.
.
.
######
__ADS_1