
Helikopter terdengar menderu ketika melakukan pendaratan di buritan kapal yang disinyalir membawa dua anak kembar itu ke perairan.
Jingmi, Chen dan Lukas turun dengan menyandang senjata laras panjang di bahunya dan bergegas mencari keberadaan dua anak itu.
Seorang awak kapal menghampiri mereka bertiga dan menanyakan apa yang membuat mereka mendaratkan helikopter tanpa persetujuan dan konfirmasi terlebih dahulu.
"Katakan dimana kalian menyekap anak itu!" ujar Jingmi mencengkeram krah baju yang digunakan pria itu dengan mata mendelik, menatap tajam lawan bicaranya.
"Siapa yang anda maksud, menyekap siapa. Siapa yang anda bicarakan! Kami tidak menyekap siapa pun!" tegas pria itu mengurai cengkraman itu dengan sekali hentakan.
Jingmi melotot tak percaya.
Lukas maju dan memberikan gestur dengan telapak tangannya untuk bersikap tenang.
"Jika memang tidak menyekap siapapun, izinkan kami bertiga memeriksa kapal ini." ucap Lukas yang masih bersabar.
"Apa hak kalian menggeledah kapal ini. Saya bisa menuntut kalian!"
Lukas berdecak. Pria itu melirik Chen yang memasang wajah datar dan sedikit menganggukkan kepalanya, lalu dengan gerakan cepat, Lukas langsung menghantam dan mengunci tubuh pria itu lalu memasang borgol di kedua tangannya.
"Lepaskan! apa yang kalian lakukan hah! Bang sat!" umpat pria itu.
"Harusnya kamu bersikap kooperatif jika tidak ingin berakhir sia sia. Memangnya kamu tidak tau siapa kami hah! Tidak pernah dengar nama Golden Leon." Lukas semakin menekan kuncian di tubuh pria itu.
Pria itu menelan salivanya susah payah ketika mendengar nama Golden Leon disebut, ia sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat helikopter hitam yang ditumpangi ketiga pria itu.
Seketika matanya terbelalak kaget ketika menyadari jika benda terbang itu terdapat simbol dan logo dari kelompok berbahaya yang menguasai wilayah ini.
"Maaf bos. Saya tidak tahu. Kami juga tidak menyekap siapapun disini." ringis pria itu.
"Jangan berbohong padaku." Desis Lukas dan langsung menarik pria itu berdiri.
"Ampun bos. Saya tidak berani." ujar pria itu penuh sesal. Bagaimana bisa pelayarannya kali ini berurusan dengan orang orang berbahaya. Ia hanya bisa mengumpati kesialannya sendiri.
"Jangan ada yang berani melawan. Diam atau aku tenggelamkan kapal ini. Berani bertindak membahayakan, aku tak segan segan menembak kalian di tempat." ujar Chen dengan wajah garangnya seraya menunjuk dengan senapan otomatisnya.
Yang mendengarnya hanya bisa saling memandang, apalagi kawannya yang sedang ditawan memberi kode untuk tetap tenang dan tidak bertindak apapun.
Jingmi segera mengambil alih keadaan. Pria itu bersama asistennya langsung menggeledah seluruh ruang dalam kapal itu. Mereka berdua mencari keberadaan Al dan El tapi tak menemukan adanya tanda tanda keberadaan mereka.
Jingmi menghela nafasnya. Sebenarnya kemana Al dan El dibawa, padahal sinyal terakhir terdapat di sekitar perairan ini dan hanya kapal ini yang sedang melintas.
Chen menggeleng. Menatap Jingmi dengan wajah seriusnya.
"Sepertinya mereka sudah dipindahkan. Kita terlambat."
__ADS_1
Jingmi mengangguk membenarkan. Keduanya kembali menemui Lukas dan mengatakan apa yang terjadi.
Lukas langsung menghantam kepala pria yang menjadi sanderanya dengan gagang senapan begitu mendengar Al dan El tidak ada di dalam kapal. Ia merasa geram sekali. Sudah jauh, capek capek tapi tidak mendapatkan hasil apapun.
"Dimana anak itu!" seru Lukas.
"Saya tidak tau. Bukankah sedari awal saya mengatakan kami tidak menyekap mereka." ujar pria itu.
Jingmi menyeringai. Ia langsung memberikan bogem mentah di pipi pria itu hingga darah keluar dari mulut pria itu.
BUGH
"Jangan pernah mengelabuhi kami. Mereka membawa pergi kemana anak itu." Desis Jingmi dengan mata menatap tajam. Sedari tadi diantara mereka tidak menyebutkan kata mereka, tapi baru saja pria itu tidak sengaja menyebut kata mereka. Bukankah itu artinya dia mengetahui sesuatu?
"Katakan, kamu lebih menyukai nyawamu sendiri atau mengatakan yang sebenarnya. Ingat!Jangan pernah bersekongkol dengan musuh GL jika nyawamu masih ingin tetap di badan. Kamu tau keganasan GL dalam melumpuhkan musuhnya bukan?"
Jingmi berkata dengan nada mengintimidasi. Tatapan matanya yang tajam serasa menguliti dan sialnya yang diinterogasi lidahnya mendadak kelu karena saking takutnya dengan aura yang dipancarkan oleh Jingmi.
"Jawab atau aku tak segan segan menembak kepalamu. Tiga hitungan mundur!"
Three..
Two..
O...
.
.
Kejadian sebelum helikopter GL mendarat.
Lauren mengetuk pintu kaca untuk mengalihkan atensi madam Yora dan Hugo yang saat itu sedang bercumbu. Wanita itu membelakangi dua manusia yang mungkin sedang menatapnya horor.
Hugo langsung melepas pagutannya dan berdiri tegak. Ia menatap madam Yora yang tiba-tiba berwajah garang.
"Ada apa. Kenapa mengganggu kesenanganku!" kesal madam Yora.
Lauren membalikkan badan menatap pupil mata berwarna biru milik madam Yora. Ia tahu jika sorot mata itu sedang kesal padanya, buru buru Lauren menundukkan pandangannya.
"Madam, ada helikopter yang mendekat kearah kapal ini." ujar Lauren cepat.
"Hem. Segera siapkan semuanya. Kita pindah akomodasi. Aktifkan pengacak sinyal untuk mengelabuhi musuh kita. Beri tahu yang lain." ujar madam Yora.
Lauren berkerut kening mendengarnya. Jadi helikopter itu milik sekutunya? Bagaimana bisa. Bukankah Darion tidak memiliki helikopter, tidak mungkin jika pria itu meminjam bukan?
__ADS_1
"Apa kita akan membawa seluruh anggota kita madam?" tanya Lauren hati hati.
"Tidak semuanya. Biarkan sebagian disini untuk memantau apa yang terjadi."
Lauren mengangguk.
Hugo langsung diperintahkan untuk mengamankan Al dan El begitu mendengar suara deru helikopter yang sudah mendarat di helipad. Pria itu hanya bisa mengangguk tanpa berniat bertanya apapun.
Al dan El saling berpandangan ketika Hugo kembali ke kamar tempat menyekapnya. Mau apa lagi pikir dua anak itu.
Hugo sejenak melirik nampan kosong yang isinya sudah habis dimakan dua anak itu.
"Apa mom and Dad sudah menjemput kami paman?" tanya Al.
Hugo menggeleng. Tanpa berkata apapun, Hugo langsung menarik tangan Al dan membawanya keluar diikuti El yang ikut tertarik karena tangan mereka terborgol bersama.
"Paman kita akan kemana!" seru El yang menghentikan sejenak langkahnya.
Hugo berhenti sejenak.
"Jangan berisik dan jangan bertanya apapun. Kalian tidak tau seberapa bahaya wanita yang menyekapmu. Diam dan tundukkan pandangan kalian. Aku tidak bisa melindungimu jika dia memberiku perintah untuk memukulmu. Jangan bertindak macam macam sampai orang tua mu menyerahkan Kenta. Atau kalian tau dimana Kenta berada? itu akan lebih mudah dan cepat membebaskan kalian." desis Hugo dengan suara tertahan.
Al dan El kompak menggeleng walau mereka sebenarnya tau keberadaan adik angkatnya. Mereka tidak ingin membuat masalah baru yang mungkin akan semakin rumit untuk mom and dad nya.
Setelah mengatakan itu, Hugo menarik tangan Al agar kembali berjalan.
"Paman, apa paman orang baik?" tanya El lagi.
Hugo diam saja.
"Setidaknya katakan kita mau dibawa kemana paman!" tanya El lagi.
Hugo menghela nafasnya, kenapa bocah satu itu cerewet sekali dan tidak seperti kembarannya yang hanya diam dan menurut. Apa anak itu belum bisa memahami kalimatnya, batinnya kesal.
"Jangan bertanya apapun jika tidak ingin dipukul. Aku sudah mengingatkanmu!" ancam Hugo.
Al menghela nafasnya. Anak itu melirik adiknya yang terlihat kurang bisa memahami kalimat pria besar yang menyekapnya.
"Aku tau. Aku hanya penasaran saja. Baiklah aku akan diam." ujar El seakan tau lirikan maut saudara kembarnya.
.
.
.
__ADS_1
#####
Lagi trouble guys, jadi entah kapan part ini akan muncul ke permukaan.