
"Ayah." Sapa Kimura begitu ia memasuki sebuah ruangan, dimana dari ruangan itu bisa dilihat betapa hijau dan sejuknya pagi itu.
Kimura membungkukkan tubuhnya hingga sang ayah berbalik dan tersenyum mengusap kepala anaknya.
"Semoga selalu bahagia dan keselamatan selalu menyertaimu."
Kimura menegakkan tubuhnya dan menatap wajah ayahnya yang terlihat segar walau sudah tidak diusia muda.
"Duduklah, ada yang ingin ayah sampaikan padamu." ujar Tuan Yashimoto dengan begitu tenang.
Pria tua itu kemudian duduk dan menikmati teh diatas Chabudai sambil menatap hamparan rumput hijau dari balik jendela kaca yang begitu besar.
"Sudah lama kita tidak melakukan hal seperti ini bukan?" Pria tua itu melirik anaknya yang mengikuti apa yang sedang dikerjakan olehnya.
Kimura hanya mengangguk, rasanya begitu aneh melihat kelakuan ayahnya. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan pria tua itu hingga ayahnya harus berbasa basi padanya.
"Bagaimana dengan Yudha." tanya Tuan Yashimoto membuka obrolan.
Kimura meletakkan cangkirnya. Dia jadi bertanya tanya kenapa ayahnya tiba-tiba menanyakan asisten lamanya.
"Kenapa tidak membawanya pulang bersama?" lanjut Tuan Yashimoto.
Kimura menaikkan dua alisnya menatap rumit ayahnya.
"Untuk apa menanyakan dia, bukankah ayah yang membiarkan dia berhianat pada kelompok kita. Aku rasa aku juga tidak memiliki alasan untuk membawanya pulang. Dia juga bukan bagian dari kelompok kita. Dia sekarang milik Aurora dan dijadikan anjing yang patuh pada tuannya. Menjijikkan!"
Tuan Yashimoto hanya tersenyum mendengarnya. Posisi Yudha bisa dikatakan lebih aman dibandingkan keadaan Kimura saat ini, tapi pria itu memilih diam tak memberi tahu.
"Bagaimana dengan putramu, ayah dengar kamu sudah bertemu dengannya. Apa setampan dirimu?"
Kimura menghela nafasnya, seolah ada rasa sesak dihatinya kala melihat kepedihan yang dialami anak itu. Ia sungguh tak tega melihat tubuh kecil dan lemah itu terpasang banyak alat medis. Ia pikir kenapa Tuhan menyiksa makhluk tidak berdosa seperti Kenta, padahal yang berdosa disini adalah ia dan Vivian.
"Dia sakit ayah."
__ADS_1
Tuan Yashimoto hanya bisa menepuk bahu putranya. Senyum teduh dan rasa empati sungguh Kimura rasakan dari pria tua itu. Ia pikir ayahnya akan menyuruh membunuh anak yang tidak berguna itu. Ia tahu benar seperti apa syarat menjadi penerus itu.
"Ayah sudah tau. Berikan dia pengobatan terbaik dan biarkan dia bersama Aurora saat ini. Dia akan aman jika bersama mereka Kimura-san. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah menyembunyikan putri kecilmu ke tempat yang aman."
Kimura membesarkan matanya, sebenarnya apa yang membuat ayahnya berkata seperti itu. Hal apa yang sedang terjadi dan yang tidak diketahui olehnya.
"Kenapa. Apa yang terjadi!"
"Kimura-san, kamu sudah salah bermain peran." Tuan Yashimoto diam sejenak. Menarik dalam dalam oksigen masuk ke dalam paru parunya.
"Harusnya dulu kamu tidak menuruti egomu dengan melebarkan kekuasaan di negara itu anakku, kamu dulu juga tak mengindahkan peringatanku padamu. Sekarang kamu harus merasakan akibat dari rasa iri, dengki, serakah dan ketamakanmu. Kamu sudah salah dalam memilih lawan nak."
Kimura sama sekali tidak paham dengan maksud tersembunyi dari ucapan ayahnya. Pria itu hanya diam, masih mencerna kemana arah pembicaraan orang tua itu.
"Maafkan ayah. Ini semua terjadi juga karenaku. Jika saja aku langsung memberikan semua kekuasaan padamu waktu itu, kamu juga tidak akan terlibat dengan hal ini. Kamu pasti akan duduk dengan tenang disinggah sanamu saat ini." sesal Tuan Yashimoto.
"Apa maksud ayah! Apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa bicara ayah seolah olah akan ada badai besar yang akan menghantam kita!" ujar Kimura dengan sedikit menaikkan intonasinya.
Suara pintu bergeser menghentikan pembicaraan mereka berdua saat ini. Daichi dan Zen masuk bersama dan langsung membungkuk hormat memberikan penghormatan kepada dua orang itu.
Kimura semakin tidak mengerti. Pria itu menatap tajam Zen yang hanya memberikan gelengan kepala, entah apa maksud pria itu.
Mereka berempat akhirnya duduk bersama. Daichi kemudian memberikan berkas kuasa pada Tuan Yashimoto dan langsung dibaca dengan serius oleh pria tua itu.
Kimura hanya bisa melihat dan masih mengunci mulutnya, menunggu sang ayah memberikan penjelasan. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, tidak tahu firasat apa yang sedang ia rasakan.
Tuan Yashimoto langsung menandatangani dan memberikan stempel darah dengan ibu jari kiri yang telah ia gores dengan belati kecil di tangan kanannya.
Semua menatap pria tua itu dalam diam dengan berbagai macam pikiran. Terlebih Kimura yang belum tahu apa pun.
"Kimura-san, sekarang giliranmu! Tanda tangan dan berikan stempel darahmu. Berkas ini harus segera diamankan dan disahkan menurut negara!" ujar Tuan Yashimoto begitu dingin. Aura mencekam tiba-tiba sangat begitu terasa di ruangan itu.
Kimura menerima berkas itu dengan ragu. Ia melirik Zen yang hanya menganggukkan kepala padanya, seolah memberi pertanda jika semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Surat Kuasa." gumam Kimura dan langsung menatap ayahnya, apa maksudnya semua ini.
Kimura segera menundukkan kepalanya membaca berkas itu dengan begitu teliti. Matanya membulat penuh dengan semua tulisan didalamnya. Kepalanya menggeleng pelan, seperti menyangkal dan tidak setuju dengan isi dalam berkas itu. Bagaimana bisa ayahnya begitu kejam kepadanya.
"Apa apaan ini! Apa maksudnya ini ayah!" Kimura melempar berkas itu diatas meja. Pria itu menatap tajam ayahnya.
"Segera tandatangani agar bisa segera diurus Kimura-san!" ujar Tuan Yashimoto tidak mau dibantah.
"Jelaskan dulu apa maksudnya! Kenapa kau begitu jahat kepadaku hah! Tidak! aku tidak setuju!" seru Kimura, nafasnya bahkan naik turun saking emosinya.
Tuan Yashimoto langsung melirik Daichi. Asisten pria tua itu langsung mencekal tangan Kimura dengan Zen yang langsung menggores ibu jari Kimura dengan belati dan langsung menyetempel berkas itu dengan darah Kimura.
"Brengsek! apa yang kalian lakukan padaku! Sialan! Lepaskan aku!" umpat Kimura yang tak bisa berkutik.
Daichi dan Zen langsung undur diri setelah mendapatkan cap darah dua orang itu. Mereka berdua memberi hormat dan menghiraukan semua umpatan Kimura, mereka harus bergegas saat ini.
"Ayah! Apa maksudnya ini! Kau memindahkan kekuasaan pada Asisten tengik itu! Apa aku sudah tak berharga di matamu ayah! Kau bahkan baru memberikannya padaku!" pekik Kimura kesal setengah mati.
Tuan Yashimoto hanya bisa mengelus dadanya. Ini yang tidak ia sukai dari putranya. Dia terlalu gegabah dan tidak memikirkan sebab akibat, terlalu ceroboh dan sifat tamak yang begitu sulit dihilangkan dari hatinya.
"Harusnya kamu membaca dengan benar berkas itu. Apa aku melimpahkan kekuasaan penuh pada Yudha? Tidak bukan?"
"Itu sama saja! Bagaimana jika dia membunuhku! Dia yang akan menjadi wali sementara semua hartaku!" seru Kimura tak terima.
"Harusnya kamu tau, kenapa aku begitu lama menurunkan tampuk kekuasaan padamu Kimura-san. Sifat ini yang tidak aku suka darimu. Kamu tamak dan serakah dengan kekuasaan. Sekarang terimalah akibatnya."
Kimura merasa tersudut dengan ucapan ayahnya. Ia tidak bisa mengelak dengan tuduhan itu, karena memang seperti itulah dirinya.
.
.
.
__ADS_1
######