Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
POOR


__ADS_3

Zen berlari tergesa menyusuri lorong panjang yang menghubungkan sebuah ruang gudang senjata. Ia ingat betul jika masih memiliki stok senjata mematikan yang tak kalah dengan musuhnya.


Ia pikir, harus berterima kasih pada GL karena sudah memberi senjata itu pada mereka. Ya walaupun adanya senjata itu karena kesepakatan yang tidak menguntungkan saat itu, tapi jika tidak ada senjata itu, ia tidak tau bagaimana menghalau serangan musuh saat ini.


Zen segera memerintahkan anggotanya untuk mengangkut senjata buatan GL ke bunker agar tak ikut meledak jika ruang senjata itu tiba-tiba diledakkan musuh.


Mereka semua bergegas, karena musuh mulai masuk ke dalam.


Gelap. Malam yang gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu yang menyala saat ini. Listrik sudah terlanjur padam akibat pengeboman gedung sebelah kiri. Ini sebenarnya sungguh membingungkan, mereka tidak mampu melihat musuh dengan benar, walaupun mereka sudah memakai kacamata khusus.


Zen memanggul RPG di pundaknya, pria itu tengah bersiap menembak helikopter yang sedari tadi meluncurkan misil ke pondok mereka. Ia sudah geram sekali. Kini saatnya ia memberi serangan balik untuk mereka.


Seketika,


SWUSH


DHOM


Zen tersenyum menyeringai dari tempat sembunyinya. Tembakannya sesuai sasaran, helikopter itu terkena luncuran misil pada bagian ekornya dan mulai terbang tak terkendali.


Dan benar saja, seketika benda terbang itu meledak di udara sesaat kemudian.


Ditempat Tuan Yashimoto sekarang berada, pria itu sedang bersama Daichi menyiapkan diri untuk mengalahkan musuhnya.


Daichi tampak sedikit mencemaskan keadaan Yashimoto walaupun pria tua itu terlihat siap berperang dan terlihat tidak takut mati.


"Sudah saatnya. Ayo kita akhiri semua ini. Wanita itu sudah saatnya mengakhiri kejahatannya." kata Tuan Yashimoto sembari mengalungkan senapan otomatis nya.


"Bos."


Daichi seakan tidak rela jika Yashimoto ikut maju melawan mereka.


"Jangan khawatir, semua pasti mati. Aku pun juga begitu. Sudah cukup kamu melindungiku selama ini, kamu harus pensiun jika kita memenangkan misi ini."


Daichi berdecak tidak suka, ia sudah berjanji mengabdikan diri pada Yakusa, bagaimana bisa ia diminta pensiun. Memangnya mau apa dia kalau sudah pensiun.


Sementara itu, perkelahian masih berlangsung sengit. Desingan peluru juga masih terus terdengar, begitu pula teriakan kematian yang entah berasal dari kubu mana.


Kimura dengan gagahnya menyeret katana. Disampingnya ada Zen yang selalu siaga melindungi pria itu dari segala macam ancaman.


"Let's play together." ajak Kimura dengan senyum liciknya. Zen hanya mengangguk dan tersenyum iblis.


TRANG..TRANG.. SRET


TRANG.. TRANG


Katana terus diayunkan Kimura dan Zen dengan gerakan indahnya. Sudah begitu khatam mereka memainkan senjata itu, gerakannya bahkan terlihat gesit dalam melakukan serangan ataupun menahan serangan.


Kimura dan Zen berdiri saling membelakangi. Mereka kini dikepung. Lawannya sekarang seorang yang memakai pakaian ninja yang menutup semua tubuhnya dengan kain hitam dan hanya menyisakan bagian mata saja.


HIYAAT

__ADS_1


Zen sesaat tersenyum kecil ketika mendapati suara seorang perempuan yang menjadi lawannya kali ini.


Apa wanita itu bodoh, apa dia pikir tenaganya akan mampu mengalahkan tenaga laki-laki.


TRANG ..TRANG..TRANG


DUAK


Berbagai jenis pukulan, tendangan, bantingan, sabetan bahkan gerakan kombinasi ketangkasan lainnya terus dilakukan untuk saling menjatuhkan. Tidak ada yang ingin mengalah saat ini.


Kimura masih lincah dengan pertarungannya. Semakin lama semakin banyak orang yang menyerangnya. Ini sedikit membuatnya kewalahan.


Madam Yora yang semula berada ditempat persembunyiannya, mulai gusar. Wanita itu kesal, karena anak buahnya begitu lama menghabisi musuhnya.


Padahal jika di pikir, wajar saja hal itu terjadi. Yang mereka serang adalah sebuah markas besarnya, dan di dalamnya pasti banyak Yakusa. Sedikit sulit mengalahkan sudah pasti.


"Hugo, lindungi aku. Kita masuk sekarang!"


Hugo langsung menyandang senapan otomatisnya dan berjalan dibelakang madam Yora.


Madam Yora meraih jarum beracunnya dan langsung ia lempar ke arah para Yakusa itu.


SRET


CLEB..CLEB..CLEB


Aghhh


Teriakan demi teriakan terus ia dengar dan ia juga tidak peduli. Wanita itu terus melakukan hal yang sama untuk melumpuhkan musuhnya.


Madam Yora tersenyum miring, melihat Tuan Yashimoto yang mulai kewalahan menghadapi anak buahnya. Ia akan memanfaatkan hal ini.


Dengan gerakan cepat, Madam Yora langsung mengeluarkan jarum beracunnya lagi dan mencoba melempar kearah Tuan Yashimoto.


SRET


"Bos!" seru Daichi. Perasaannya tak enak ketika mendapati Madam Yora berdiri tak jauh dari mereka , apalagi keadaan gelap seperti ini, pasti wanita itu mencoba menggunakan trik licik.


Meleset, jarum itu memang mengenai tubuh Tuan Yashimoto, tapi karena baju yang dipakainya setelan khusus, jadi jarum itu tak mampu menembus kulitnya.


"Wanita licik!" umpat Tuan Yashimoto marah.


"Apa alasanmu menyerang markasku!" lanjut Tuan Yashimoto.


Madam Yora tersenyum iblis. "Harusnya aku yang bertanya padamu pak tua, apa alasanmu menghancurkan markasku Hah! Bang sat! aku tak punya urusan denganmu! kenapa kau mengusik wilayahku! Mau jadi pahlawan kesiangan hah!"


"Cih! Dasar wanita keji! Sudah salah, mau melemparkan kesalahan! Akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri Yora!!" teriak Tuan Yashimoto.


"Silahkan jika kau bisa membunuhku. Aku tak selemah itu bisa mati ditanganmu. Kau bukan tandinganku pak tua." ejek Madam Yora.


"Sombong! ingat jika kau tak mati ditanganku! Kau akan dibunuh orang lain yang jauh lebih keji dariku. Kau akan merasakan bagaimana tersiksanya dalam kematian! Aku mengutukmu Yora!!" teriak Tuan Yashimoto.

__ADS_1


"Jangan banyak omong! Bersiaplah untuk mati di tanganku pak tua! Kalian harus membayar apa yang sudah kalian lakukan! Pergilah ke neraka pak tua!!"


Madam Yora langsung berlari maju dengan menyeret pedang ditangannya. Ia sudah tidak bisa basa basi lagi, ia ingin segera menghabisi ketua klan Yakusa itu.


Daichi yang melihat itu langsung membantu bosnya, tapi Hugo tak membiarkan hal itu. Pria besar itu langsung menembak kaki Daichi tanpa sepengetahuannya.


DOR.


"Brengsek!" umpat Daichi.


Pria itu menatap tajam Hugo.


"Jangan menghalangi dan ikut campur jika ingin segera menyelesaikan pertarungan ini." ujar Hugo menatap tak kalah tajam dari Daichi.


Daichi tidak terima, dengan sekuat tenaga ia berdiri dan ikut membantu Yashimoto mengalahkan madam Yora, tapi lagi lagi Hugo maju dan menghajar Daichi.


"Bodoh!" umpat Hugo.


Pria itu berusaha melumpuhkan Daichi agar tak ikut campur urusan bosnya.


Perkelahian terbilang sengit. Yang tak disangka Tuan Yashimoto, madam Yora ternyata ahli dalam bela diri dan menggunakan pedang. Tenaganya yang sudah tua membuatnya terengah engah melawan wanita itu. Hingga,


TRANG..TRANG...DUAK


SRET


"Oh!" satu sayatan mengenai tangan Yashimoto, pria itu meringis melihat darah mengucur dari sana.


Madam Yora terus merangsek maju menyerang, wanita itu mengincar tangan satunya lagi yang masih bisa bermain pedang walau hanya dengan satu tangannya.


DUAK


DUAK


BUG


Katana yang dipegang Yashimoto langsung terlempar begitu saja dan,


DOR DOR


Madam Yora langsung menembak dua paha pria tua itu sekaligus.


"Oh,sial!" ringis Tuan Yashimoto.


Belum sempat hilang keterkejutannya, Madam Yora tampak tersenyum jahat. "Terimalah kematianmu pak tua!!!" teriak madam Yora dan,


DOR.


.


.

__ADS_1


.


#####


__ADS_2