Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tahan sebentar lagi!


__ADS_3

Pagi ini sepasang suami istri itu melakukan hal-hal istimewa yang baru, setelah pulang dari masjid Al segera menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Masak apa sayang?" tanya Al saat memasuki dapur, ia memilih duduk di depan meja dapur dengan menyandarkan dagunya pada kedua tangannya.


"Mas Al mau makan apa hari ini?" Ajeng malah balik bertanya, ia sadar jika ternyata selama ini ia terlalu cuek dengan segala sesuatu tentang pria yang sekarang menjadi suaminya itu.


"Bagaimana jika masak sayur bayam di campur jagung dengan sedikit daun katuk dan sambal bawang, lauknya tempe menjes."


(Tempe menjes atau biasa di sebut tempe gembus adalah salah satu makanan tradisional yang merupakan hasil fermentasi ampas tahu oleh kapang tempe Rhizopus spp)


"Mas ...., itu makanan kesuakan ku!" keluh Ajeng, ia menghentikan aktifitasnya dan menatap suaminya itu, tangannya masih membawa centong sayur.


Al meraih pipi Ajeng, mengusapnya dengan lembut. senyumnya selalu berhasil membuat hati Ajeng meleleh di buatnya.


"Sayang ....., apapun yang kamu suka, menjadi kesukaanku juga!"


"Hemmm ...., hemmmm!"


Sebuah deheman berhasil membuat Ajeng dan Al menoleh ke sumber suara.


"Dika! Bagaimana bisa masuk?" tanya Al kesal, ia mengalihkan tangannya dari pipi Ajeng, berbalik menatap adiknya itu dengan tajam.


"Emang dasar ya pengantin baru, pagi-pagi sudah bikin itu saja .....!" Dika ikut duduk di samping abangnya. Sedangkan Ajeng cepat-cepat berbalik dan melanjutkan pekerjaannya.


"Bagaimana bisa masuk?" tanya Al lagi.


"Pintunya aja di buka lebar!" jawab Dika. ia memilih mengambil timun yang ada di meja dan memakannya.


"Bang Al nggak kerja?"


"Kenapa?"


"Ya kalau kerja, Ajeng biar aku yang jagain!"


Cletuk


Sebuah pukulan mendarat di kepala Dika. "Jangan harap ya!"

__ADS_1


"Eh sebentar ....., tunggu-tunggu ....!" Dika turun dari tempat duduknya dan mendekati Ajeng yang sedang memasak.


"Apaan sih Dik?" keluh Ajeng saat Dika menarik tubuh Ajeng hingga menghadap padanya.


"Dik jangan macam-macam ya ....!" Al juga ikut memperingatkan adiknya itu.


"Kenapa aku ngrasa ada yang beda ya?" Dika tampak memperhatikan penampilan Ajeng.


"Mata kamu kali yang belum bener-bener melek ....!" ucap Ajeng. "Sudahlah ...., aku mau masak jangan ganggu aku!"


"Kamu kok cantikan sih jeng!" ucap Dika tiba-tiba.


"Makasih ....., tapi aku memang sudah cantik sejak dulu ....!"


"Sejak kapan kamu pakek baju kayak gini!" Dika mencincing dress Ajeng, membuat Al segera memukul tangan Dika untuk segera melepaskan diri dari dress Ajeng.


"Jangan pegang-pegang ya ...., kau ini lama-lama nglunjak!"


"Astaga bang ....., jangan gitu amet kali bang!"


Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka di ruang keluarga, sedangkan Ajeng melanjutkan aktifitasnya di dapur.


Walaupun dengan segala keluhnya Al mengijinkan adiknya untuk ikut sarapan.


"Awas saja kalau kau besok numpang sarapan lagi di sini, aku tinju beneran!"


"Pelit amet sih bang ....!"


"Biarin aja, ini rumah rumah aku, sarapan sarapan aku, istri juga istri aku!"


"Dasar posesif, Ajeng itu sahabat aku sebelum jadi istri Abang!"


Setelah perdebatannya di pagi hari itu, Al mengusir adiknya untuk segera pergi dari rumahnya. Ia hari ini hanya ingin menghabiskan waktunya dengan istrinya saja.


"Jahat banget sih mas, Dika itu sahabat aku!" keluh Ajeng saat motor Dika sudah keluar dari halaman rumahnya.


"Aku mau menghabiskan waktuku sama kau saja!" Al menggandeng Ajeng masuk kembali ke dalam rumah, ia memilih untuk menghabiskan waktunya satu hari ini bersama istrinya, hanya bersama istrinya.

__ADS_1


Mereka pun duduk di depan tv, menyalakan tv, walaupun mungkin hanya sebagai pajangan dan tak berniat untuk menontonnya.


Al mendekatkan wajahnya ke wajah Ajeng, membuat Ajeng reflek memundurkan tubuhnya.


"Mas Al .....!"


"Kenapa?"


Al meraih pipi Ajeng, pipi itu selalu berhasil membuat Al tak mampu menghindar, dengan lembut ia mengelus pipi Ajeng.


"Boleh aku mencium mu?" tanya Al. Ajeng hanya mengangguk membuat Al dengan yakin mendekat ke arah arah Ajeng, Ajeng memejamkan matanya, tangannya menggenggam erat ujung kaos Al.


Cup


Al mengecup kening Ajeng, melihat Ajeng tidak melakukan penolakan, Al melanjutkan kegiatannya, ia menyusuri pipi dan hidung Ajeng, kemudian ia berhenti pada bibir ranum itu, memperhatikannya, mengusapnya dengan ujung jarinya.


Detak jantungnya berdetak lebih cepat, dada Ajeng sudah naik turun karena terlalu tegang, untuk pertama kalinya Meraka akan berciuman dengan intens seperti ini, membuat jantung berpacu lebih cepat.


Perlahan Al mendekatkan kembali bibirnya ke bibir Ajeng, dengan lembut bibir itu menempel di bibir Ajeng, Ajeng bisa merasakan hangatnya bibir tebal itu, perlahan bibir itu mulai mengulum bibirnya, sedikit gigitan membuat Ajeng membuka mulutnya.


Al segera mengabsen isi mulut Ajeng dengan lidahnya, memainkannya di sana. Tangan Al juga tidak mau kalah, ia meremas benda kenyal milik Ajeng, Ajeng mengejangkan tubuhnya, nafasnya mulai tak beraturan.


Ingin rasanya menolak tapi tubuhnya tak mampu menolak, melihat Ajeng tidak melakukan penolakan, ia mulai menyusupkan tangannya di balik dress Ajeng, menyingkapnya sedikit.


Tapi dengan cepat Ajeng mendorong tubuh Al, hingga tubuh Al terpental ke belakang, Ajeng merapikan kembali dress-nya.


"Maafkan aku mas!" ucap Ajeng menyesal.


"Seharusnya aku yang minta maaf, sayang! Aku yang tidak sabar menunggu!" ucap Al sambil menarik tubuh Ajeng ke dalam pelukannya.


"Aku akan bersabar sampai tamu mu pergi!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2