Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Obrolan tiga pria


__ADS_3

Usai melakukan terapi, kini Edward duduk bersandar di headboard. Ia menatap tiga orang temannya itu. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Apalagi mengenai kehidupan dirinya sebelumnya. Ia juga begitu penasaran dengan sosok Aurora yang membuat hatinya berdesir tat kala menatap senyum manisnya walau hanya dalam wujud foto. Ia jadi bertanya tanya seperti apakah hubungan cintanya dimasa lalu. Dan ia ingin mendengar cerita itu dari ketiga pria yang sedang duduk disofa berhadapan dengannya.


"Jadi siapa diantara kalian yang paling dekat denganku!" tanya Edward memandang bergantian ketiga pria itu.


"Saya Tuan." Lukas mengambil suara.


Edward mengangguk. "Lalu kalian!" Tunjuk Edward pada Alex dan Kwan dengan tatapan matanya.


Kwan hanya menggeleng pelan. Ia meringis ketika Edward memandanginya dalam dalam seolah menyelami pikirannya. "Ayolah bray, kau melupakan pria tampan ini? Aku memang tak sedekat itu denganmu, tapi kita berteman baik. Kau pasti sudah melupakan jasaku yang membuat tubuhmu mulus seperti sekarang ha. Mungkin saja istri kesayanganmu itu menggilai tubuh kotak kotakmu waktu itu, hah sudahlah kau pasti tidak mengingatnya." Kwan pura pura kesal dan memalingkan wajahnya.


"Aku lupa." Jawab Edward datar.


"Haish, sebenarnya sampai dimana ingatanmu itu menghilang!" Keluh kwan.


"Aku tidak tau." Jawab Edward.


"Ha? bagaimana bisa kau mengingat istrimu sedangkan pada kami tidak! Apa karena kami para pria?" Kwan


"Aku juga tidak mengingatnya Kwan. Aku tau dari Fe. Dia yang bilang jika aku memiliki istri dan tiga orang anak. Aku mempercayainya karena setiap kali aku melihatnya, hatiku berdesir. Ini pasti rasa cintaku padanya yang begitu besar." Edward tersenyum bangga.


Alex dan Lukas menatap jengah. "Jadi apa kamu akan ikut kita pulang?" tanya Alex serius.


"Tidak. Fe menyuruhku untuk tetap tinggal sampai kondisiku membaik. Ia khawatir banyak musuh yang akan beralih strategi jika aku menampakkan diri, apalagi kondisiku yang seperti ini sangat tidak menguntungkan bagiku. Aku menghawatirkan diriku sendiri, aku takut menyusahkan orang lain." keluhnya sambil memijit kakinya yang sama sekali tak bisa ia gerakan.


"Tidak ingin bertemu dengan istri cantikmu yang slalu kau banggakan itu?" Kwan menimpali.

__ADS_1


"Hah," Edward menghela nafasnya. "Sejujurnya aku malu bertemu dengannya, aku tidak ingin dikasihi karena keadaanku yang seperti ini."


"Ck. Nona Aurora tidak seperti yang kamu pikirkan. Setidaknya pikirkan dua si kembar Al dan El, mereka membutuhkan sosok seorang ayah. Kau beruntung Edward, istrimu menutup rapat rapat hatinya pada pria lain. Bagaimana jika wanita itu menikah lagi. Kau akan sulit mendapatkannya lagi. Dan kau akan menjadi pria yang paling menyedihkan di dunia ini dude." celetuk Alex.


"Itu tugas kalian, jaga istriku agar tak menikah lagi bahkan dekat dengan pria mana pun sampai aku pulih dan kembali ke sisinya."


"Itu tidak mungkin Tuan, Anda tau sendiri jika pesona istri anda tidak dapat ditolak begitu saja. Apalagi statusnya sekarang seorang janda membuat para lelaki diluar sana berlomba lomba ingin menjadikannya seorang isteri. Bagaimana saya bisa menghentikan mereka. " ucap Lukas.


"Kau menyumpahi ku mati!" Edward menatap tak suka.


"Bukan seperti itu. Hanya saja semua orang saat ini menganggap anda sudah tiada. Dan itu juga karena ulah mereka." Lukas melirik Alex.


Alex dengan santainya menaikkan bahunya. Tidak terlalu peduli dengan sindiran Lukas padanya. Toh itu juga bukan salahnya. Salahkan Edward sendiri yang memintanya bermain peran.


"Hah. Lukas aku tidak mau tau. Kamu kan selalu dekat dengannya. Kamu pasti bisa menyingkirkan pria pria itu. Lalu siapa pria yang sedang dekat dengannya saat ini."


Edward mencoba mengingat siapa pria yang disebutkan Lukas, ia mengernyit lalu menatap Lukas dengan penuh selidik. "Apa pria itu rekan bisnis istriku dari Singapura?" tanyanya cepat.


Lukas mengedipkan matanya tak percaya. "Bagaimana anda bisa tau!"


"Tentu saja, aku pernah menghajarnya karena pria itu pernah mencoba mencium wanitaku. Emm.. entah itu benar atau tidak, hanya samar samar. Tapi jika itu benar, kau harus melindungi istriku Lukas. Kau paham!"


"Oke. oke. Ini sebenarnya agak sulit bagiku untuk mengatakan kau benar hilang ingatan atau tidak, tapi aku sarankan agar kau ikut pulang saja ke negaramu. Kau bisa melihat istri dan anak anakmu. Kau bahkan tak akan menanggung rindu ingin menyentuhnya. Oh aku tak bisa membayangkan kau akan berpuasa entah sampai kapan. Aku harap mesin produksimu masih bisa bertahan. Dan kau harus tau satu hal Edward, kau pikirkan perasaan Aurora. Takutnya ia malah akan mengamuk ketika melihatmu masih hidup dan kau tak mau menemuinya. Setidaknya kau memberi tahunya jika kau masih hidup. Kasihan istrimu. Mungkin saja sampai saat ini dia masih menangis jika teringat kenangan kalian berdua. Kau tau, tanggung jawabnya saat ini begitu besar. Ia harus mengembangkan perusahaanmu yang begitu besar itu yang seharusnya kamu yang memegang kendali, belum lagi mengurus putramu. Untung saja adikmu Amelia mau membantu Aurora di perusahaan. Bagaimana jika tidak. Kau tau, Ayahmu bahkan kondisinya semakin menurun semenjak kematian palsumu. Pikirkan baik baik saranku. Aku hanya tidak ingin kau menyesali. Ini belum terlambat bray." ucap Kwan panjang lebar.


"Aku akan pulang setelah kondisiku membaik. Aku akan berusaha keras agar aku bisa berjalan kembali. Aku juga harus mengembalikan kemampuanku. Aku tak ingin membebani istriku dengan keadaanku. Setidaknya aku tak membuatnya memikirkan keadaanku saat ini. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya. Dan untuk itu, aku minta pada kalian untuk tetap merahasiakan keberadaanku, dan kalian tak perlu mengunjungiku lagi."

__ADS_1


"Lukas, kau harus mengirimkan laporan perusahaan setiap seminggu sekali. Semoga saja kecerdasanku juga tak menghilang dari otakku. Aku tak tau harus bagaimana jika itu terjadi padaku. Lalu apa aku punya perusahaan lain selain yang dipegang istriku?"


"Ada, tapi belum selesai dibangun. Apa anda mengingat sesuatu?" tanya lukas heran.


Edward tersenyum misteri, dalam otaknya ada rencana yang akan ia lakukan. Ia hanya akan menunggu hari itu. Hari dimana ia bisa bertemu dengan Aurora tanpa harus tau jika dirinya masih hidup.


"Kapan akan selesai dibangun?"


"Menurut kontrak kerja, akan selesai 6 bulan yang akan datang Tuan. Apa anda akan kembali saat itu Tuan?" tanya Lukas.


Edward menggeleng lemah. Ia tak yakin jika ia bisa pulih hanya dalam waktu 6 bulan. Itu terlalu mustahil baginya. "Biarkan istriku yang mengurus."


"What! Kau pria terkejam Edward! Kau tak kasian dengannya!" geram Kwan melotot.


"Istriku pasti wanita kuat. Dia punya banyak orang kepercayaan. Aku rasa David atau Lukas bisa diandalkan. Benar begitu Lukas?" Edward tersenyum saat mendapatkan gambaran tentang istrinya.


"Wow, daebak ." Kwan bertepuk tangan riang. "Bagaimana kau tau David sedangkan pada kami tidak. Ck..ck.." sindir Kwan.


"Diamlah, aku juga tidak tau.!"


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2