
Dr Prabu memandang Retno dengan tersenyum lebar melihat kostum Retno pakaian lengkap olahraga dari atas sampai bawah. Fikirannya melayang ke masa-masa saat kuliahnya dulu, membuat dokter Prabu mengenang kembali masa lalu yang masih begitu segar diingatan nya.
"Kamu cantik banget Retno."
"Nggak punya receh buat sawer nya." Retno menjawab kalem.
"Kamu nggak memujiku kenapa? Komentar dong, sedikit saja tentang penampilanku."
"Komentar apa? semua aku sudah tahu."
"Wah, tahu apanya luar dalamnya?" dr Prabu tersenyum sambil mendekat duduk di samping Retno.
"Tahu semuanya, Mas Prabu paling ganteng dari dulu sampai sekarang."
"Haaa... nih aku kasih sama dompetnya." dr Prabu pura-pura mau mengambil dompet dari saku celana belakangnya.
"Kan tadi Mas Prabu sudah memuji aku, tapi aku nggak bawa dompet, jadi impas."
"Nggak usah pake dompet, aku ikhlas kok memuji kamu memang cantik asal kamu memberi satu aja buat aku."
"Ma-maksudnya apa?"
"Retno, jujur aku belum puas jalan-jalan seharian sama kamu. Memandang kamu. Ngobrol tentang segala hal tentang kita, tapi tak sedikitpun kamu memberi kesempatan padaku sekedar memeluk kamu dan ciuman sayang."
"Hemght...ceritanya nagih? lagian siapa yang ngutang?"
"Bukan masalah utang, tapi aku belum puas bersama-sama kamu."
"Sekarang kan kita masih sama-sama, terus kalau puasnya seperti apa?"
"Mungkin lebih tepatnya bukan kata puas. Kalau kata puas mungkin aku tidak akan pernah ada kata puas mencintaimu, tapi lebih ke aku masih kangen Retno."
"Kan nanti aku mau turun main di partai final. Akan ada dua kepuasan seandainya aku memenangkan set demi set nya."
"Dua kepuasan. Maksudnya apa?"
"Pertama, Mas Prabu bisa melihat aku dengan leluasa di tengah lapangan melihat permainanku melihat seluruh kemampuanku. Semoga permainan yang aku suguhkan bisa memberi kepuasan kepada Mas Prabu mengobati kangen dari masa lalu sampai sekarang."
__ADS_1
"Lalu, kepuasan kedua?"
"Mas, aku main dengan lawan seorang senior juara bertahan suster kepala Miranti, aku akan main all out dengan segala dayaku dan aku ingin memenangkan permainan ini. Aku mau melepaskan segala beban rasa dari awal aku KKN di sini, menguras kejengkelan dari dalam hati atas sikap suster kepala Miranti padaku."
"Sayang! Retno. Tolong jangan begitu dong, kan kamu sudah memaafkannya dan suster kepala Meranti sudah membuka semuanya dan jujur kalau itu settingan aku yang menyuruhnya. Nggak baik kamu punya hati seperti itu nanti akan menjadi rekan kerja kamu di sini."
"Semua orang tahu Mas kalau aku sudah memaafkan suster kepala Miranti. Dan aku juga telah memaafkan Mas Prabu sendiri yang menjadi otak dari semua itu tapi aku belum puas kalau aku belum bisa memperlihatkan kemampuan ku."
"Kedengarannya sangat termotivasi, aku senang melihat kamu punya semangat seperti itu. Tapi tolong jangan bermain dengan emosi karena emosi hanya akan melemahkan kita karena emosi hanya akan menjadi kekuatan lawan kita, juga jangan bermain karena dendam siapa lawan kita."
"Sah-sah saja Mas, namanya juga permainan yang punya rasa di hati kita yang merasakan."
"Oke, aku ikuti semangat kamu dan aku akan menonton kamu, memandangi kamu sepuasnya."
"Aku juga sama, akan menonton permainan sombong mu Mas Prabu, masihkah gaya Flamboyan mu melumpuhkan, membius hati dan perasaanku?"
"Haaaaa... memang aku sombong? kata siapa? pastikan itu hoax."
Dr Prabu merangkul Retno menariknya dan mengikis jarak antara mereka merasakan detak jantung yang sama-sama berdetak tak beraturan. Menghilangkan segala gundah dalam jiwanya yang selama ini menjadi beban yang bergelayut di tiap langkah-langkahnya.
"Aku belum pernah mendengar pengakuan jujur dari seseorang kalau aku seorang sombong Retno. Tetapi aku tidak marah aku memang sombong karena bisa di cintai dan mencintaimu Retno."
"Aku layak sombong Retno, telah menaklukan hati kamu lagi yang sekian lama tenggelam. Kini kamu hadir di hadapanku masih dengan perasaan yang sama dan cintaku yang semakin dalam. Kamu tetap bersinar di hidupku."
"Apa Mas tahu, siapa yang akan menjadi lawan Mas di lapangan nanti?"
"Nggak, dan aku nggak perduli siapa lawan ku nanti."
"Bagus itu, biar kita tetap optimis."
"Tapi saat aku tahu lawan ku nanti, aku semakin semangat."
"Sudah-sudah jangan bahas itu lagi suster kepala Miranti itu orang baik. Terlalu baik karena mau berbuat seperti itu sama kamu karena dia terlalu taat perintahku."
Retno hanya diam dan itu semua benar, kalau suster Miranti bukan orang yang seperti karakter yang di perlihatkan pada Retno waktu itu.
"Retno, sebelum kita main sama-sama di partai final aku ingin kita saling menguatkan. Aku meminta izin boleh sekarang aku memelukmu? nanti juga kamu boleh peluk aku saat aku sama kamu menang dan kita sama sama jadi juara."
__ADS_1
"Coba ulang sekali lagi permintaanya?" Retno mengerutkan dahinya dan berusaha mencerna arti ucapan Mas Prabu.
"Nggak usah di ulang kelamaan. Sebentar lagi kita ke GOR. dr Prabu menarik tangan Retno ke belakang pintu dan mengecup keningnya, terimakasih sayang untuk hari ini yang begitu bahagia."
Retno tersenyum sambil mengangguk. Tangannya sebelah melingkar di pinggang dr Prabu dan sebelah lagi di bahu dr Prabu,
Perlahan tangan kekar itu mulai menarik tengkuk Retno mendekatkan ke wajahnya, Retno memejamkan matanya siap merasakan kembali satu sentuhan bumbu ke kebersamaannya.
Tok...tok... tok... Pintu yang tak begitu tertutup rapat diketuk seseorang dari luar suster kepala Miranti melongokan kepalanya ke dalam. Dan betapa terkejutnya saat melihat Retno sama dr Prabu membubarkan diri dari belakang pintu Retno tersenyum sambil duduk di sofa. Mempersilahkan suster kepala Miranti masuk.
Buyar semua dan dr Prabu kelihatan salah tingkah juga Retno kelihatan grogi, suster kepala Miranti merasa bersalah dan meminta maaf.
Permintaan maaf saja tak cukup membuat Retno dan dr Prabu kembali merasa biasa-biasa saja. Justru mereka berdua yang merasa bersalah dan malu dibuatnya.
"Pak Prabu, ayo sekalian kita berangkat ke GOR nya."
"Oh, i-iya suster duluan saja maaf."
"Oh ya sudah, saya duluan ya Pak Prabu mari suster Retno."
"Iya Bu Miranti kita nyusul sebentar lagi."
Dalam hati Retno bena-benar malu. kepergok lagi berdua-duaan di dalam ruangan mereka tidak sempat melepaskan pelukan mereka. Walau mereka tidak lagi ngapa-ngapain karena dr Prabu baru akan memulai sentuhannya keburu kaget mendengar ketukan pintu dan kepala yang nongol di balik pintu.
"Aku jadi malu Mas!"
"Nggak apa-apa, suster Miranti mengerti kita sudah pada dewasa."
"Dewasa iya, tapi kelakuanmu itu Mas bukan untuk di teladani pakai saling menguatkan segala dengan pelukan." Retno cemberut.
"Nggak usah marah, juga malu nanti malam aku janji kita lanjutkan, jangan di sini kamu mau kemana?"
"Ah, Mas!" Retno melempar bantal ke hadapan dr Prabu dan dr Prabu tertawa sambil menangkap bantal, lalu menangkap Retno. kembali mencium tangannya dan tak di lepaskan nya lagi bergandengan mereka keluar dari ruangan itu.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah j.uga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta habis baca
__ADS_1
"Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "MATI RASA" author nazwa talita sahabat terbaikku sangat berbakat, kunjungi, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!