
Ibunya dr Imam turun meninggalkan dua kamar yang masih senyap karena penghuninya masih lelap.
"Pak! kita harus siapkan pernikahan mereka pokoknya, sebelum hal lebih memalukan terjadi pada Anak kita dan Nak Vionna terlanjur di ketahui dan tercium orang lain, mereka berdua seakan hilang kendali!" teriak Ibunya dr Imam Imam sesampainya di ruangan bawah dan turun dari tangga atas.
"Ibu ini ada apa? pagi-pagi buta sudah teriak-teriak nggak jelas bangunin yang lain saja, mereka masih pada tidur ada apa?" tanya Bapaknya dr Imam menjawab sekaligus bertanya pada Istrinya yaang turun dari tangga langsung bicara dengan nada emosi.
Bapak dr Imam berhenti membaca koran di ruang keluarga dan melipatnya di simpan atas meja.
"Pak ini sudah nggak benar! kepercayaan kita telah mereka salah gunakan, Nak Imam sama Nak Vionna mereka sudah tidur bareng! tak bisa disangkal lagi Ibu menemukan pakaian dalam perempuan di kamar Anak Kita kalau bukan mereka habis bersama apalagi?" Kemarahan Ibunya dr Imam kelihatan sangat beralasan.
"Ibu melihat mereka satu tempat tidur berdua tidak? hati-hati kalau bicara jangan sampai tuduhan itu menyakiti hati mereka berdua Ibu mungkin salah lihat coba teliti lagi sampai mendapat kepastian yang benar," sahut bapaknya dr Imam bicara dengan perlahan dan sangat hati-hati.
"Pak! Ibu sepertinya tidak salah lihat dan keliru dengan tuduhan dan kecurigaan ini, Ibu tadi hanya mau membangunkan Nak Imam, memang tidak melihat mereka lagi tidur berdua, tapi tempat tidur Nak Imam begitu berantakan dan Ibu menemukan pakaian dalam perempuan berceceran di lantai kamar Nak Imam, apa arti semua itu? sudah pokoknya kita kabarin orangtua Nak Vionna segera kita nikahkan mereka, asal sah saja yang penting kita terbebas dari kesalahan lebih jauh lagi," cecar Ibunya dr Imam merasa semua sudah pasti.
"Ibu! Ibu! masih banyak kemungkinan salah ataupun benar keadaannya, tetapi Kita harus punya bukti dan pengakuan jangan sampai tindakan yang Kita lakukan salah dalam menilai mereka, siapa tahu itu pakaian Vionna terjatuh setelah numpang kamar mandi di kamar Nak Imam, mungkin saja semua terjadi seperti itu. Sudahlah biar nanti Bapak yang tanya pelan-pelan saat mereka sarapan terutama kepada Anak Kita kalau memang mereka sudah melakukan mungkin ada pengakuan dan siap menikah," jawab Bapaknya dr Imam begitu bijaksana dalam bicaranya, lain dengan Ibunya langsung kecurigaan menjadi tuduhan, dan sangkaan menjadi bukti kebenaran.
"Ibu merasa di khianati, merasa di bohongi, dan merasa kecolongan, kepercayaan yang kita berikan selama ini menjadi kebebasan bagi mereka! Ah pokoknya Ibu merasa nggak tenang, Apalagi Nak Vionna masih beberapa hari lagi tinggal di sini, Ibu nggak bisa ngontrol siang dan malam mereka pergi ke mana mereka seperti apa Ibu telah gagal menanamkan disiplin dan etika juga dasar agama pada Anak kita semua kini berantakan!" Ada tangis dan isakan Ibunya dr Imam, membuat Bapaknya sedikit panik menenangkan.
"Sabarlah Bu, jangan emosi dulu semua belum terbukti, Bapak yakin Nak Imam sangat disiplin juga Anak yang taat tetapi kalau memang semua terbukti mungkin terlalu berat godaannya, mungkin itu juga kesalahan Kita mengizinkan Nak Vionna tinggal di sini dan mereka bergaul begitu dekat," ucapan Bapaknya dr Imam membuat Ibunya semakin sedih saja, walau dirinya begitu merindukan seorang menantu tapi bukan dengan cara seperti ini harus dengan cara yang baik-baik dan bergaul baik-baik pula selayaknya pergaulan seseorang yang belum sah menjadi suami istri seperti apa, akan ada saatnya nanti kebebasan itu bisa saling curahkan setelah menikah.
__ADS_1
Obrolan mereka terputus saat tahu Vionna turun tangga sudah bangun masih dengan pakaian tidurnya, Ibunya dr Imam mengusap airmatanya.
"Pagi Bu, Pak, bikin sarapan apa pagi ini biar Aku bantuin," sapa Vionna sambil senyum tanpa dosa di hadapan Ibu Bapaknya dr Imam.
"Ibu kurang enak badan Nak Vionna bikin apa saja boleh, tinggal pilih sesukamu saja," jawab Ibunya dr Imam,
"Oh alah, Ibu sakit apa?" tanya Vionna begitu terkejut dan sedikit tertegun.
"Ibu hanya kecapekan kemarin masak terlalu banyak, seperti mau meriang saja rasanya,"
"Ya sudah, biar Aku yang turun ke dapur, Ibu istirahat saja," sahut Vionna sambil melenggang ke dapur dalam berpandangan Ibunya dr Imam.
"Nggak apa Bu, Aku senang bikin karena kemarin Aku lihat banyak bahan di dapur dan di kulkas," sahut Vionna sambil berjalan ke arah dapur.
Akhirnya Vionna tenggelam di dapur, mau tidak mau Ibunya dr Imam ke dapur juga walau hanya melihat dan mau tahu bikin apa yang di buat Vionna.
Vionna memang benar senang masak bisa meracik sesuatu dengan begitu cerdik dan seperti tanpa dipikirkan sesuatu makanan yang mudah praktis tapi enak.
Tersaji sudah pisang keju yang enak dan menggiurkan, saat Ibunya dr Imam ke dapur sudah setengahnya matang.
__ADS_1
Ibunya dr Imam ingin melihat barangkali ada sesuatu pertanda di muka Vionna seperti yang dirinya temukan di kamar putranya.
Tapi Vionna kelihatan biasa saja tanpa memperlihatkan perubahan kalau dirinya sudah melakukan kesalahan.
Akhirnya makanan tersaji di meja makan, pisang goreng tabur keju dan susu kental manis, nasi goreng dan minuman kesukaan masing masing.
Dr Imam turun dengan pakaian sudah rapi di sambut senyum Vionna yang sudah duduk di meja makan dengan Ibu Bapaknya dr Imam.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1