Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Set kemenangan buat Retno


__ADS_3

Jam setengah empat sore Dr Prabu bersiap dengan kostum olahraga kesukaannya, raket terbaiknya dan memilih sepatu yang paling nyaman di kakinya.


Karena sudah babak semifinal dan pemain semakin mengerucut


pertandingan di mulai habis ashar tepatnya jam 16:00 tak seperti awal-awal di mulai jam 14:00.


Dr Prabu sampai rumahsakit dan langsung menuju GOR dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Berharap dalam pandangannya menemukan seseorang yang seharusnya sudah ada di sini. Ya, Retno kenapa belum kelihatan? apa belum datang? kena macet atau kenapa?


"Kenapa lawan mu mesti aku boss?"


"Iya, ya?" dr Prabu melihat ke atas mendengar suara yang sangat di kenalnya.


"Maunya lawan yang berbeda, yang belum terukur mampuannya haaaa..."


Dr Imam yang sama sudah siap dengan setelan olahraganya mengagetkan dr Prabu yang sedang duduk dan membetulkan tali sepatunya.


"Dikira belum datang, kalau belum datang aku dapat lawan WO, santai deh aku nggak main, giliran aku yang pacaran sama Retno."


"Setiap hari ketemu juga, masih aja kangennya super tinggi."


"Ceritanya datang jam berapa?"


"Jam tiga."


"Intan di antar sampai rumah? aku takut kamu turunin di tengah jalan."


"Ya elah boss, masa aku setega itu sama orang yang aku cintai."


"Terus, ketemu sama orangtuaku?"


"Ibumu saja, Bapakmu masih di pasar katanya."


"Oh, ya sudah."


"Sebenarnya kalau nganterin Intan cuman sebentar tapi aku pengen tahu kost-kostan nya dulu jadi tadi aku sama Intan ke Bandung dulu lalu ke rumahmu. Lalu aku balik lagi ke Bandung nyamper Retno biar bisa bareng ke sininya."


"Oh ya? rupanya kamu pengertian banget, mana sekarang Retno nya?"


"Ya iya lah boss, sudah aku katakan kalau aku sama Retno bersahabat dari awal juga, aku nggak tahu paling masih di kamarnya."


"Sangat pengertian." Dr Prabu setengah bergumam.


"Tadinya aku mau pulang asal sampai pas jam praktek, tapi ingat jadwal main hari ini."

__ADS_1


"Intan nggak mau ikut lagi?"


"Tadi juga cemberut saja, saat aku buru-buru pulang katanya masih kangen heee..."


Dr Prabu memancungkan bibirnya sambil mendengus.


"Maaf ya, kalau aku main serius kali ini. Soalnya gengsi kemenangan tidak kenal teman saudara keluarga bahkan adik ipar sekalipun."


"Haaa... silahkan boss, Aku memang menyukai keseriusan dalam hal apapun jangan lihat aku di hadapanmu sebagai pengantar Intan, perlihatkan permainanmu bagus mu di hadapan seseorang yang sudah duduk manis tuh di atas!" dr Imam menunjuk ke arah kursi penonton dengan mukanya yang diarahkan ke arah dimana Retno dan dua sahabatnya Ella dan Ismi telah hadir di kursi penonton.


Dr Prabu begitu sumringah melihat penyemangat hidupnya telah ada di tengah-tengah keramaian suasana GOR saat ini.


Retno tersenyum saat dr Prabu memandangnya dan melempar senyum pula sambil mengangguk dan mengacungkan raket.


Seketika semangat dr Prabu bangkit. Ini adalah permainan yang sebenarnya dan aku harus menang, aku ingin memperlihatkan kebahagiaan kepada Retno agar ia bisa melihat aku seperti 5 tahun yang lalu yang selalu merayakan kemenangan bersama selalu mendapat ucapan yang tak bisa dilupakan.


Pandangan kekaguman seseorang yang kita cintai, pandangan bangga seorang kekasih saat kita mencapai puncak juara. Ah... Retno betapa perjalanan cinta kita hidup penuh dengan kenangan manis dan itu semoga menjadi bingkai yang menyatu dengan masa depannya yang kita harapkan bisa lebih indah lagi.


Dr Imam bermain seperti biasanya tanpa beban walaupun tidak dipungkiri sama, semua pemain ingin menang tetapi kelihatan sahabat di seberang net lagi semangat tinggi-tinggi nya.


Semua telah bersiap di posisi masing-masing, senyuman dr Prabu terasa dingin di rasakan dr Imam teriakan suporter entah dari pihak mana tidak begitu jelas membuyarkan sedikit konsentrasi keduanya. Yang pasti permainan antara dr Prabu dan dr Imam SpOG yang paling ditunggu layaknya di partai final.


Padahal jelas antara dr Imam dan dr Prabu tidak akan bertemu di partai final karena mereka hanya bertemu di partai semifinal ini. Ternyata ada satu orang berbakat yang mencuri posisi dr Imam dam dr Prabu sehingga hanya salah satu yang keluar sebagai pemenang dari permainan saat ini yang akan maju ke babak final turnamen TMC hari jadi ke sekian.


Retno mengajak Ella dan ismi untuk turun lebih dekat lagi ke bawah, terasa greget rasanya Retno kalau tidak meneriakan masukan dan keinginan hatinya kepada orang terdekatnya saat berada di lapangan.


"Ayo Ella, Ismi kita agak ke bawahan biar lebih dekat lagi, aku sebel banget lihat Mas Prabu mainnya seperti melehoy begitu."


"Mbak Retno saja sana, yang punya kepentingan aku sama Ismi orang KKN nggak boleh ngeblok ke mana mana."


"Alah, alah apa kata kalian? semua bebas nggak mesti di atur, mau suka sama siapa dan mendukung siapa juga nggak ada yang ngelarang. Lagian ini lawannya satu rumah sakit orangnya itu itu juga."


"Tapi Mbak Retno mau menang salah satunya kan?"


Ya jelas, mana ada permainan yang menang dua-duanya? aneh dan nggak jelas."


"Bukan itu maksudku, yang pasti walau orang yang main dari rumah sakit ini dua duanya tapi yang di dukung Mbak Retno pasti salah satunya kan?"


"Alah, ribet amat dan susah di mengerti penjabaran kamu itu Ella, pokoknya sekarang kalian dukung aku titik, ayo turun!"


Set pertama imbang 18-18. Masih saja keduanya saling tekan dan mencari peluang dari kelengahan dan kelelahan lawan.


Saat dr Prabu mengelap keringat Retno berteriak mungkin saking gemasnya.

__ADS_1


"Mas Prabu, yang semangat!"


Kontan dr Prabu melirik ke arah Retno yang berdiri di kursi penonton sambil tersenyum.


Ella juga Ismi tak mau kalah meneriaki semangat pada dr Imam, mungkin dengan tujuan menggoda sahabatnya Retno. Ella sama Ismi memang mereka telah kenal baik dan dekat dengan dr Imam, dr Imam kasihan tidak ada yang meneriaki, seperti Retno meneriaki dr Prabu.


"Ayo dr Imam! ayo dr Imam!"


Dr Prabu tersenyum dan melihat tingkah temannya Retno seakan tak rela kalau kemenangan di raihnya, berarti mereka lebih nge-fans sama dr Imam. Baiklah, dr Prabu melihat Retno saja seorang yang dengan dukungannya seperti lima tahun yang lalu saat duduk di kursi penonton di gedung olahraga kampus mereka.


Angin berhembus lagi ke arah dr Prabu dan keberuntungan berpihak padanya. Akhirnya set pertama di menangkannya dan pertama yang di lihatnya ekspresi senyum Retno yang begitu mengembang ditujukan kepada dirinya.


Kebahagiaan dr Prabu tak terkira. Mungkin Retno seperti kemenangan dirinya saja yang merasa menang dan telah menyelesaikan set. Yang di rasakannya hanya atmosfir saat di tengah lapangan, sorak sorai penonton adalah motivasi terbesarnya, dan siapa yang bisa menjaga kestabilan emosi,pikiran yang fokus maka dia yang akan memenangkan permainan.


Dukungan orang terdekat tak bisa di abaikan, dan itu jelas-jelas mempengaruhi mood saat bermain.


Babak ke dua terlewati dan babak ketiga adalah titik ******* apa selesai, atau ada perlawanan dan perubahan strategi lawan? maka keluarkan segala taktik teknik tipu daya, kecoh, pukul mundur lawan juga smash yang tak bisa terprediksi.


Dr Prabu memang jagonya adu main di tingkat tempo cepat ataupun lambat apalagi senyum Retno seperti segelas juice stroberi ranum yang menyegarkan.


Saat sport jantung mereka terpacu oleh rasa, Retno tak bisa duduk hanya berdiri dan sesekali meneriakan semangat untuk dr Prabu.


Retno turun saat permainan usai.


Dan yang pertama di ajak bersalaman dan di kasih semangat adalah dr Imam. dr Prabu hanya tersenyum saja, itulah solidaritas sahabat.


"Permainan yang sangat bagus dr Imam."


"Terima kasih Retno, walau bagus tapi aku kalah telak heee..."


"Maaf pilihan dilema bagiku antara sahabat dan seseorang."


Retno tersenyum penuh pengertian pada dr Imam.


"Oke,manusiawi Retno, seharusnya itu." Retno mengangguk sambil tersenyum.


Dr Prabu menghampiri Retno sama dr Imam sambil mengelap keringat di seluruh tubuhnya, dan Retno menyodorkan botol air mineral ke hadapan dr Prabu dan di sambut dr Prabu dengan senyuman.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya bertitel "SOLD" Author R Angela sahabat terbaikku yang paling hebat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!


__ADS_1


__ADS_2