
"Aaaaah! Ibu sama Bapak memang nggak mengerti!" dr Imam merasa putus asa dengan pembelaan yang tak di terima dan keputusan Ibunya yang tetap pada pendiriannya.
Kesal sendiri karena semua interupsi dan penolakan tak ada artinya, kenapa harus seperti ini? apa yang harus di katakan sebagai satu kejujuran pada Intan terlebih pada keluarganya? sedang keluarga Intan sudah seperti keluarganya sendiri apalagi dengan Kakaknya sahabat dari masa kuliah.
"Lusa di harapkan ada di rumah, temui tamu Ibu sama Bapak. Vionna sama keluarganya akan berkunjung ke sini bersikaplah dewasa hadapi semuanya, jalani dulu semua baru kamu akan menemukan kecocokan itu sendiri," cecar Ibu dr Imam tak goyah dengan kemarahan anaknya.
Terlalu lama menunggu, sepertinya sudah tak bisa sabar lagi, teman seangkatan dr Imam bahkan sudah ada yang punya anak duduk di bangku SMP karena nikah muda dulunya.
"Nak, jangan dulu menolak apa yang Ibu dan bapak tawarkan untuk kebaikanmu, setidaknya belajarlah ikhlas berkenalan lah dulu apa salahnya?" ucap Bapaknya sedikit lunak tapi tetap ada pemaksaan di dalamnya.
Tujuannya menjadi penengah diantara anak dan istrinya, seperti biasa yang banyak aturan adalah istrinya, melihat mendengar dan menyetujui juga meluruskan saat semua diskusi mengarah pada rasa saling emosi bukan solusi. Begitulah Bapaknya selalu bijaksana dalam membahas permasalahan.
"Pak, tolong mengertilah kalau Aku sudah ada janji sama Intan, memang Aku baru bawa Intan ke sini dan di perkenalkan kemarin malam, tapi Aku sudah berhubungan cukup lama Aku sudah hampir setahun kalau dihitung-hitung Aku menemukan banyak kecocokan." Dr Imam seperti bingung harus seperti apalagi menyampaikan kalau dirinya juga bisa mencari pasangan yang ideal.
"Bukan hanya Kamu yang ingin dimengerti Nak, tapi kita juga sebagai orang tua lebih ingin dimengerti. Bapak sama Ibu cukup lama memperhatikan kamu mengerti sikap kamu mengerti keinginan kamu tetapi sampai saat ini tidak menemukan sesuatu yang serius di diri kamu untuk masa depan di bawa kepada orang tua." Dr Imam menghela nafas dalam-dalam, mungkin Intan sudah menangkap sikap penolakan orangtuanya semalam. Malam ini Aku harus bertemu, harus! bagaimanapun harus ada kejujuran sama Intan biar intan mengerti permasalahannya.
__ADS_1
Habis sudah kata dan alasan apapun selalu terjawab di hadapan kedua orang tuanya.
Dr Imam tetap dengan keinginan kalau cintanya harus di perjuangkan.
Memang selama ini juga dokter Imam menyadari dari kemarin-kemarin dan sebelum-sebelumnya dirinya selalu mengecewakan kedua orang tuanya atau mungkin kesalahannya sendiri terlalu cepat memperkenalkan setiap teman dekat ternyata selama ini dirinya selalu menjadi fokus pembicaraan orang tua di belakangnya.
Dokter Imam duduk dengan lesu hatinya otaknya berpikir keras bagaimana seharusnya jalan yang harus nya dirinya pilih putus dengan Intan itu sesuatu yang tidak mungkin jalinan cinta keduanya telah sampai pada. di mana dokter Imam sama Intan telah menyepakati satu janji serius untuk membina rumah tangga setelah Intan lulus kuliah yang hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi.
Mendapatkan kenyataan seperti ini dokter Imam kalau dibilang syok memang sok luar biasa tetapi harus ada jalan walaupun semua ini adalah keinginan kedua orang tuanya tetapi masa iya mengecewakan satu hati demi mengejar satu yang belum pasti
"Makanlah dulu, biar kamu bisa berpikir dengan jernih mencerna apa yang ibu bapak inginkan, karena ibu bapak rasa semua yang disampaikan adalah yang terbaik.
"Memang terbaik untuk iybu juga bapak belum tentu terbaik untuk kamu itu pasti yang ada di otak kamu dan jawaban kehadiran ibu hanya satu kamu itu tidak bisa berkomitmen dengan perempuan memang ada yang seperti itu perlu perantara di antaranya orang tua untuk meluruskan dan memperkenalkan seseorang.
"Ibu sama Bapak jadi sembarangan memilihkan seseorang untuk dikenalkan kepadamu tetapi sudah melalui seleksi bahkan ibu mendengar referensi dari keluarga lainnya mengingat usia kamu sudah sepantasnya ada yang mendampingi."
__ADS_1
itu berawal dari kekhawatiran Ibu dan rasa sayang yang tak terbatas. Jangan berpikir dulu Ibu terlalu ikut mengatur, tapi turut campur untuk masa depanmu dan demi kebaikan sudah seharusnya Ibu lakukan."
"Ibu sama bapak memilihkan Viona untuk dikenalkan pada keluarga kita itu dengan pertimbangan matang."
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1