
"Retno, apa yang akan kamu lakukan sekarang? katakan biar Ibu pikirkan baik buruknya"
"Aku bingung Bu."
"Sebaiknya kasih tahu suamimu tentang kehamilan mu di awal-awal biar tidak menjadi fitnah."
"Fitnah? fitnah apa Bu?"
"Retno, kalian saat ini dalam keadaan terpisah, terpisah oleh ruang dan waktu, keberadaan kamu jauh dari suamimu terus seandainya dirimu tiba-tiba suatu saat datang dalam keadaan hamil di hadapan suamimu Ibu takut akan merubah pandangan suamimu, walaupun Ibu rasa itu tidak mungkin tetapi kita harus mengantisipasi semuanya, apa kamu mengerti?"
"Aku tidak tahu Bu, tapi seandainya itu yang terbaik sampaikan kepada Mas Prabu kalau saat ini aku hamil anaknya. Tetapi tidak merubah pendirian ku untuk tetap berada disini sampai selesai tugas akhir ku."
"Retno, semoga dengan kehamilan mu merubah semuanya lebih baik dan menemukan jalan keluar terbaik untuk masalahmu."
"Aku sudah memutuskan Bu."
"Memutuskan apa?"
"Aku merelakan dan mengizinkan Mas Prabu untuk menikah dengan Alya, sampaikan juga itu.
Itu akan menjadi pengorbanan cintaku paling besar untuk Mas Prabu."
"Apa kamu memaafkannya Nak?"
"Sedari awal aku sudah memaafkannya Bu, mencintai seseorang kita harus siap dengan pengorbanan nya, bukankah seperti itu Bu Harni?"
"Retno, hatimu begitu tegar, Ibu juga mungkin tidak bisa sepertimu."
"Ibu, aku berusaha menerima semua ini sebagai bakti ku pada seorang suami, karena aku berharap ada kebaikan dari pengorbananku ini."
"Akan ada hikmah di balik semua ini anakku, akan Ibu sampaikan harapanmu itu."
"Semoga Mas Prabu semakin tahu seperti apa besarnya cintaku padanya."
"Retno, Ibu tahu hatimu sebagai perempuan sama bisa membaca dan merasakan perasaanmu, tapi kita bisa memilih apa yang hati kita inginkan."
"Aku juga bukan orang yang sempurna Bu, tetapi aku ingin bisa mencintai dengan sempurna bagaimanapun keadaan suamiku."
"Betapa beruntungnya seorang dr Prabu bisa memilikimu Retno, Ibu tak bisa bayangkan bagaimana respon suamimu saat mendengar khabar kehamilan mu dan juga kerelaan hatimu untuk di madu."
"Kalau aku tak merasakan, mungkin aku tak akan merelakan, betapapun berat pertentangan dalam hatiku semua kalah oleh satu rasa yaitu ikhlas."
"Ibu sepertinya harus belajar sama kamu Retno."
"Ibu, aku hamil, Anakku ingin punya figur seorang Bapak, dan aku tak ingin membagi konflik rumah tanggaku dengan anakku dari awal masih dalam kandungan, dan aku juga ingin menjalani kehamilan ini dengan kedamaian dan ikhlas."
"Baik Retno, kamu telah menemukan makna ikhlas yang sebenarnya mungkin nanti malam Ibu akan sampaikan kabar ini kepada suamimu."
__ADS_1
"Iya Bu."
"Ada pesan lain yang bisa Ibu sampaikan juga nanti?"
Retno menggeleng, hatinya meronta dengan berbagai rasa yang begitu berat, betapa tidak kehamilan pertama akan di jalani seperti ini, dalam suasana permasalahan rumahtangga yang masih membelitnya, tak ada suami atau orangtua juga mertuanya hanya bisa berbagi dengan Ibu Harni yang notabene bukan siapa-siapa dirinya.
Hatinya begitu merindu, tempat untuk bersandar dan bermanja, tempat mengadu segala risau hatinya, tempat melabuhkan segala gundah dan cintanya yang begitu dalam.
"Jaga kesehatan, pikirkan juga janin bakal calon anakmu, jangan mengikuti keengganan, makan dan istirahat harus cukup."
Bu Harni mengusap punggung Retno lalu beranjak meninggalkan kamar Retno.
Retno hanya diam, berpikir kembali apa keputusannya sudah benar? apa yang di ucapkan sesuai dengan hatinya, biarlah dalam hatinya berperang, melawan ego dan rasa penolakan.
Retno membuka laptop dan mendapati e-mail baru, bergetar hatinya saat mulai menelusuri kata dan kalimat yang Mas Prabu rangkai untuk dirinya.
Bulan merah luruh di atas kepalaku, di langit tak bertepi.
Ku ayun sendiri langkah sepi,
Ku nikmati malam bersama sepi.
Angin yang berhembus ku titipkan rasa untukmu Retno,
Entah kapan ragamu bisa nyata di hadapanku.
Berjuta kerinduan akan pesonamu tak bisa aku berpaling,
Yang ada hanya sakit rasa ini mengingatmu.
Sisi ruang kalbu ku biarkan tak bertuan,
Menanti datang kata maaf sang pujaan
Retno hanya kamu yang bertahta di hatiku.
- Aku begitu meridukanmu.
Retno mengusap airmatanya dan membelai perutnya yang masih rata, adakah rasa dan firasat kalau aku hamil Mas?
Kenapa aku begitu cengeng? apa karena pembawaan seorang Ibu hamil seperti ini?
Seperti apa respon Mas Prabu saat Bu Harni nanti mengabari tentang kehamilannya?
Retno terus berpikir apa keputusannya benar atau salah memberitahukan kehamilan dan mengizinkan Mas Prabu untuk menikahi Alya?
Kalimat rindu terus saja berputar di otak dan kepalanya, betapa itu kata jujur dari hatinya juga.
__ADS_1
Mas, ada buah cinta kita di dalam rahimku, aku akan menjadi seorang Ibu, dan Mas akan menjadi seorang Bapak, satu kehidupan yang merubah status kita, akan memberikan predikat baru buat kita.
Ya! aku telah benar dan mengambil keputusan yang tidak salah, tetapi Retno membayangkan kehidupan yang akan di jalaninya, akan ada seorang wanita lain dalam rumahtangganya sungguh belum terbayangkan, semua masih buram, apa kerelaan hatinya akan sama dengan kenyataan jika suatu hari itu nyata adanya?
Akan sanggup kah dirinya berbagi? sungguh semua itu belum terbayangkan seperti apa jadinya. Dan betapa pilihan yang ada di hadapannya dan akan di hadapinya begitu berat.
Tapi cinta dan perasaan hatinya tak memerlukan alasan untuk tetap pada tujuannya yaitu mencintai, dan hanya hatinya yang bisa menerima betapapun seisi dunia mencelanya.
Retno sadar sendiri betapapun bencinya kita pada seseorang janganlah terlalu benci karena itu akan menjadi bumerang.
Seperti bencinya Retno pada seorang Alya, yang sangat kelihatan menjilat, dan cari muka juga cari alasan dan kesempatan toh pada akhirnya akan menjadi madunya.
Retno tak bisa jauh berpikir saat Alya benar-benar menjadi madunya, Retno hanya pasrah bagaimana air mengalir dan membawanya pada muara kehidupan yang seperti apa nantinya.
Satu yang menjadi kebahagiaannya sekarang dan akan menjadikannya kuat dan tegar yaitu janin yang tumbuh di rahimnya buah cinta dirinya dan Mas Prabu, bukti kalau rasa itu tetap ada sampai hari ini di hatinya.
Kebahagiaan akan aku raih dengan caraku sendiri, Biarkan Aku Memilih jalan yang dianggap orang lain salah, tapi menurutku inilah pilihan hatiku.
Aku ingin segera mendengar dari Bu Harni seperti apa Mas Prabu mendengar khabar kehamilanku dan izin untuk menikahi Alya.
Jauh di sudut hatiku aku merindukanmu Mas, kamu milikku, kamu suamiku baik buruknya tetap seorang suami yang harus aku tutupi semua aibnya.
Retno, tak ada permintaan apapun darimu kini, karena aku sadar diri, kesalahan yang terlalu banyak yang aku buat.
Tapi aku tak akan bosan mengatakan kalau aku sangat merindukanmu, dan tak bisa kalau hidup tanpamu.
Kenang lah sedikit kisah dan perjuangan cinta kita sampai kita di titik ini, walau semua itu tak akan merubah keputusanmu.
Sampai kapanpun aku akan tetap berharap, hanya maaf mu yang aku tunggu.
- Merindukanmu
Aku juga merindukanmu Mas, lirih suara Retno sambil menghapus airmatanya.
.
.
.
Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1