Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Jangan menangis Kak 2


__ADS_3

Berdua di dalam kamar Intan menangis sesenggukan seperti merasa sakit hati yang begitu dalam, dan dr Prabu juga sama menangis, Intan meluk sebelah bahu Kakaknya mengusap punggung dan tangannya ingin memberi kekuatan dan pengharapan yang ada di depan Kakaknya saat ini hancur berantakan tak tersisa lagi.


Dr Imam SpOG yang mendengar semuanya di balik pintu merasa terpukul juga dan menyayangkan semua kejadian tak terduga itu. Dirinya tak sengaja mendengar semua percakapan antara dr Prabu dan Intan karena dirinya lama menunggu keduanya.


Akhirnya dr Imam masuk juga mendapatkan dr Prabu dan Intan sedang menangis berdua sambil berpelukan, dirinya ikut merasakan perasaan mereka, penyesalan dr Prabu dan juga harapannya yang hilang tak bersisa, galaunya masa depan dan hati dr Prabu sekarang sudah dapat di rabanya."


"Sorry bro, aku mendengar semua percakapan kalian, aku masih tetap jadi orang yang kamu percaya, dan percayalah semoga hanya kita bertiga yang tahu semuanya dan kita cari solusinya.


Dr Imam ikut memeluk intan dan dr Prabu yang sudah seperti saudaranya, memberi kekuatan dan menanamkan kembali kepercayaan dirinya dr Prabu itulah harapannya.


"Aku bukan orang terbaik lagi, dan aku adalah orang yang telah mencoreng aib di nama besar ku sendiri."


"Semua orang punya masalah bro, berpikirlah dengan jernih dan jangan mengikuti emosi sesaat untuk penyelesaian setiap masalah."


"Terimakasih atas support nya teman."


"Kita berhak bahagia dan meraihnya, masa depan tergantung kita meyakininya jangan pesimis hanya karena kesalahan, karena kesalahan yang terjadi padamu bukan mutlak kesalahanmu sendiri, ada timbal balik dari perbuatan seseorang terhadapmu."


"Aku menjadi seperti orang yang nggak punya harapan, tapi kalau ada kalian di dekatku aku menjadi seorang yang punya kekuatan." Intan dan dr Imam mengangguk sambil menepuk-nepuk pangkal lengan dr Prabu yang masih telanjang dada.


"Terluka kenapa Retno?" Terlintas di depan mata dr Prabu sosok Retno tergambar saat di tengah lapangan mungkin selalu melirik ke pinggir lapangan mencari sosok dirinya yang tidak ditemuinya.


Betapa sosok Retno sampai saat ini belum tergantikan di hatinya senyumnya, manjanya, marahnya semua yang diingat dr Prabu semakin sakit dan mengiris hatinya.


"Hanya luka kecil tertimpa pecahan kaca yang mental kena kakinya, sudah di obati sama Bu Miranti." Intan meyakinkan Kakaknya kalau Retno baik-baik saja.


"Aku ingin bertemu Retno dan meminta maaf bahkan bersujud di kakinya tapi aku belum punya keberanian." dr Prabu seperti sebuah keputusasaan yang baru di sadari nya.


"Sebaiknya jangan dulu saat ini emosi masih labil, Aku khawatir jangan sampai niat baik menjadi masalah yang sangat besar biarkan sajalah hanya kita yang tahu masalah ini dan untuk memberitahu Retno perlu kesiapan mental dan konsekuensi yang harus diterima, Menurutku yang terbaik saat ini Retno tidak tahu dulu atau tidak tahu sama sekali sampai kapanpun."


"Mas apa itu yang terbaik? aku takut suatu saat Mbak Retno tahu yang sumbernya bukan dari kita bertiga, akan menjadi syok yang luar biasa apalagi aku sangat takut kalau Alya datang dengan hasil perbuatan terlarang Kakakku dan meminta pertanggungjawaban."


"Jangan terlalu jauh dulu berpikir yang di luar ekspektasi kita, sambil berjalan selalu ada celah sebagai solusi." Dr Imam bicara bijak.

__ADS_1


Dr Prabu hanya menyimak saja pembicaraan Intan dan dr Imam dirinya terasa buntu tak bisa berbuat apapun. Satu yang di inginkan nya malam ini bertemu Retno melihat wajah teduh itu menenggelamkannya ke dalam pelukannya mengobati semua rasa sakit dalam dadanya, dan menenangkannya saat galau hati dan perasaannya.


"Kak makan dulu yu, aku yakin Kakak belum makan. Tadinya aku sama Mas Imam mau jalan keluar tapi nggak apa nggak jadi aku jadi nggak enak hati begini."


"Aku nggak mau makan kalian makan saja."


"Iiiiiiiiiih...Kak jangan begitu, ayolah makan walau hanya sedikit nggak baik menahan lapar hanya karena nggak ada nafsu makan."


"Aku hanya ingin sendiri Intan turunlah kalian, aku akan baik-baik saja di sini aku mohon kalian mengerti."


Intan menatap Kakaknya dengan cemas.


"Tan coba telephon Retno pastikan dia baik-baik saja. Aku menjadi orang yang paling bersalah dalam segala hal yang menimpa Retno."


"Iya Kak, ayo Mas."


Intan dan dr Imam turun berjalan bergandengan dan bersisian sibuk dengan pikirannya masing-masing, semua serba tak terduga atas kejadian yang membuat Intan dan dr Imam merasa tersentak dan dr Imam memaklumi emosi yang dirasakan dr Prabu saat itu dan dirinya tidak berani bertanya apapun selain memberikan kekuatan, itu hanyalah kesalahan dan itu dilakukan hanya karena emosi saat terpojok dan memperlihatkan kemampuan untuk membalas.


"Mas Imam maafkan Intan ya, Intan ingkar janji kita nggak jadi untuk jalan kencan pertama kali keluar, Mas Imam nggak marah kan sama Intan?"


"Mas Imam kok baik banget, juga pengertian banget."


"Yah Intan, kalau hubungan tidak didasari dengan pengertian mungkin semua tidak akan lama."


"Tapi buktinya kalau Kak Prabu sama Mbak Retno, mereka saling pengertian tetapi mereka seperti itu hubungannya?"


"Itu hanya faktor keadaan Intan yang mengharuskan mereka seperti itu."


"Aku mengerti hati keduanya mereka sangat saling mencintai, yang aku sayang kan saat mereka merintis untuk kearah yang lebih serius ada kejadian seperti ini."


"Iya Mas gimana lagi, Aku menyayangi Kakak aku seperti yang selalu diamanatkan kedua orang tuaku kalau kami harus saling menyayangi satu sama lain."


"Mas."

__ADS_1


"Hemght..."


"Kok semua jadi begini?"


"Sudahlah Intan biar waktu yang menyelesaikan semuanya walaupun dirasa begitu berat, perjuangan Kakakmu untuk meyakinkan semuanya kepada Retno. Seandainya pilihan Kakakmu jujur dan berterus terang kepada Retno."


"Aku juga mungkin merasa berat untuk memaafkan, seandainya menerima keterusterangan seperti itu."


"Iya cewek mana yang mau terima dengan alasan apapun kalau cowoknya pernah tidur sama wanita lain." dr Imam mencoba memandang dari sudut pendapat yang mewakili semua.


"Aku jadi nggak lapar Mas."


"Sama aku juga, tapi ada yang membuat aku merasa kenyang."


"Maksud Mas?"


"Memandang kamu!"


"Yeeee...emang aku ini makanan apa?"


"Makanan kebutuhan bathin ku heee..."


"Iiiiiiiiiih...dasar!"


"Ingat pesan Kakakmu tadi, katanya mau telephon Retno?"


"Oh iya ya Mas, ngomong apa ya?"


"Bilang kalau Kakakmu sudah ada di rumah dan sakit, tapi sudah baikan sudah gitu aja siapa tahu dia juga lagi nunggu khabar dan cemas."


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏


__ADS_2