
Dr Imam pulang dalam keadaan lusuh malam itu, Ibunya menyambutnya depan pintu dengan tatapan penuh selidik, balum terlalu malam tapi cukup malam di pandangan Ibunya.
Ibunya jelas merasa khawatir, putra kesayangan satu satunya sudah malam masih belum pulang, kini pulang dalam keadaan capek tak berniat banyak ngomong hanya seperlunya saja.
"Bukannya istirahat malah keluyuran Nak, besok mau ada tamu pagi-pagi datangnya Kamu masih belum bangun kalau jam segini baru datang, sudah sana Istirahat," ujar Ibunya dr Imam sambil mengamati dari atas sampai ujung kaki anak bujangnya.
Dr Imam tak menyahut langsung masuk ruang tengah dan jalan ke tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Di dapur ART di rumahnya yang ada dua orang masih saja sibuk memasak di temani Ibunya. Mereka kelihatan sibuk banget.
Dr Imam langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dengan kaki yang masih bersepatu dan pakaian kerja yang dikenakannya tadi.
Pikirannya kacau tak bisa lagi berpikir dengan jernih semuanya serba salah dan setiap hatinya memilih selalu ada yang di sayangkan.
Rasa cinta dan sayangnya pada Intan dengan jalinan cinta mereka yang sudah cukup lama membuat dr Imam tak bisa pindah ke lain hati, tetapi yang belum pasti seseorang saudara jauhnya yang akan dikenalkan pada dirinya besok semua penuh ketidakpastian tetapi sepintas tadi dr Imam mencoba menelepon Vionna dr Imam menangkap kalau Vionna sudah tahu permasalahan yang sebenarnya akan dijodohkan kelihatan begitu menyambut baik.
Ibunya menguntitnya di belakang sesaat setelah dr Imam masuk kamarnya, dengan niat kalau mau menawarkan makan kalau mau akan di siapkan, tapi mengetuk pintu yak ada jawaban lalu Ibunya masuk dengan perlahan.
__ADS_1
Tertegun melihat putranya langsung tidur tanpa membuka sepatu apa lagi berganti pakaian.
Ibunya langsung membuka sepatu dr Imam dan kaos kakinya sambil mengomel bicara samar terdengar dr Imam.
"Ya ampun, kelakuanmu Nak kok nasih saja begini, makanya cepat ada seorang pendamping agar hidupmu teratur, Ibu ingin kamu segera ada yang memperhatikan dan menunggu kamu pulang kerja dan melewatkan malam dengan tentram, makanya Ibu berharap besok adalah awal di mana kamu menjadi dewasa yang sebenarnya Nak."
Dr Imam mendengar, tapi tak sedikitpun mengomentari apanya apa yang ibunya ucapkan barusan.
Hati dr Imam sibuk dengan pikirannya sendiri yang tertuju pada intan, kemuraman Intan adalah kegelisahannya.
"Aku mau tidur Bu tadi sudah makan," sahut dr Imam dengan malas.
"Makanlah dulu, di luar makan apa? harusnya jaga kesehatanmu, ganti pakaianmu Nak biar tidurnya nyaman," ucap Ibunya lagi masih tetap duduk di pinggir tempat tidurnya setelah membukakan sepatu dr Imam.
"Bu, Ibu sama Bapak sudah ngomong apa sama keluarga Vionna? kenapa sih harus mengundang mereka ke sini?" ujar dr Imam sambil memandang Ibunya.
"Ibu ingin segera punya menantu, Kamu sendiri punya pendamping yang melayani kamu, dan hadirnya cucu sebelum kami tak kuat lagi memperhatikan dan melihat cucu kami, Ibu jujur menawarkan pertalian dengan keluarga Nak Vionna, mereka keluarga terhormat, masih keluarga jauh kita, Vionna punya karir bagus, kalian sudah sama-sama dewasa jadi apalagi?" ucap Ibunya dr Imam dengan tanpa bersalahnya.
__ADS_1
"Ibu? sekali lagi Aku bertanya, kenapa semua tanpa persetujuanku dulu? Aku sudah punya janji sama Intan kenapa Ibu sma Bapak menjebak Aku?" jawan dr Imam dengan mimik serius.
"Sudahlah jangan di bahas lagi, tidurlah, semua sudah Ibu atur, besok jangan lupa besok akan ada tamu," jawab Ibunya sambil mengusap lengan dr Imam dan membawa sepatunya keluar kamar
.
.
.
.
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1