
"Kamu tahu Aku seperti itu! kini masih mau pergi denganku?" tanya dr Imam sambil memandang Vionna yang masih saja berdiri.
"Rupanya playboy juga, baiklah Aku ingin tahu seberapa sulit menaklukan hati dan mendapatkan cinta seorang playboy yang pura-pura alim," jawab Vionna sambil duduk di kursi depan dr Imam. Kelihatan muka Vionna kesal mendapatkan dr Imam sedang berduaan jelas bukan lagi ngobrol seperti pada posisinya kini, tapi mereka lagi tanpa jarak sama sekali dan cewek itu duduk dengan nyaman di atas pangkuan dr Imam dengan tangan dikalungkan di leher dr Imam.
Dr Imam berdiri, membuka baju prakteknya lalu meraih tangan Vionna dan menariknya keluar dari ruangannya.
"Tunggu di mobil, Aku pamit dulu sama suster kepala!" ucap dr Imam sambil belok ke arah ruangan suster kepala Miranti dan pamitan, sebenarnya sudah di beritahukan sejak awal kalau dr Imam masuk setengah haru, tapi biar dirinya tidak jalan bareng sama Vionna saja.
Dr Imam berjalan ke parkiran sialnya dr Prabu baru saja keluar bersama Retno dari mobilnya otomatis melihat dirinya mau pergi sama Vionna.
Hari yang begitu sial bagi dr Imam hari ini, semua tak bisa dihindarinya, semua datang dengan tiba-tiba dan orang yang tak ingin tahu malah ada di depannya semua.
"Dok, mau kemana jalan-jalan melulu?" sapa Retno seperti menyindirnya. Dr Prabu hanya nyengir saja sambil melihat Vionna kelihatan lagi cemberut, mungkin ngambek atau hal serupa entah apa.
"Mau ada perlu Bu, permisi dulu ya!" jawab dr Imam sekenanya. sambil membuang muka dari tatapan Retno.
"Wow, rupanya yang lain sudah tidak diperlukan lagi ya?" ucap Retno sambil mengangkat tangannya sambil tetap tersenyum.
Dr Imam tahu, kata yang lainnya seakan kalau di sebutkan Retno adalah kekasihnya Intan, semua serba salah dan semua tak bisa di sembunyikan hanya bisa dijalani saja.
"Kenapa Bu hamil itu bicara begitu?" tanya Vionna setelah mobil memasuki jalan raya.
"Biasa saja, mereka suka bercanda dan menggoda Aku," jawab dr Imam sambil fokus matanya ke depan jalan yang akan di laluinya.
Vionna membuka sabuk pengamannya dan mendekatkan dirinya pada dr Imam yang sedang memegang stir. Tangannya di usapkan ke tangan dr Imam lalu ke paha dan berhenti disitu, semua itu tanpa di duga sedikit pun oleh dr Imam.
Ser... darah terasa naik ke otaknya menjadikan panas dingin sekujur tubuhnya, keringat dingin keluar dari pori-porinya.
"Apa merebut hati dan memenangkan seorang playboy harus dengan cara nakal juga? sepertinya banyak kupu-kupu yang mengelilingi mu dokter! Aku jadi penasaran apa kurangnya Aku dari mereka?" ucap Vionna sambil tangannya tak henti mengusap usap paha dr Imam. Hingga dr Imam tak bisa fokus pada jalan yang akan di laluinya walau kelihatan jalanan siang itu lagi lengang.
__ADS_1
Jedud! mobil di rem sekaligus lalu belok ke pinggir dan berhenti seketika di bawah pohon.
"Vio, ada banyak hal yang harus Aku bicarakan sama Kamu," ujar dr Imam sambil dengan perlahan menyingkirkan tangan Vionna dari pahanya.
"Soal apa? soal Aku, Kamu atau wanita tadi? atau wanita yang mana lagi?" jawab Vionna sambil dengan berani mengalungkan tangannya di leher dr Imam seperti Alya tadi wajah mereka nyaris tak ada jarak lagi.
"Vio, akan banyak hal yang tak Kamu mengerti, soal Aku, juga soal yang baru saja Kamu saksikan tadi," ucap dr Imam memandang Vionna yang begitu glowing dengan bibir mungil merah jambu.
"Aku orang dewasa dalam hal ini, Aku tahu banyak yang suka padamu Mas, termasuk Aku yang penasaran, Aku tidak tahu seperti apa menaklukan hatimu mungkin dengan cara seperti ini? Vionna mencium bibir dr Imam dengan spontan, dan satu tangannya menahan kepalanya di leher dr Imam dan pagutan mereka begitu radikal dan kasar tapi lama lama akhirnya melembut juga, nafas mereka begitu memburu dan hanya ada suara decak bibir mereka dalam dingin AC mobil yang masih hidup.
"Vio, jangan! sudah!"
"Kenapa? bukankah biasa Mas melakukan hal sepertu ini dengan beberapa wanita? Aku akan taklukan hatimu hai playboy!" sahut Vionna sambil menggigit perlahan bibir dr Imam.
Se-alim dan sedingin apapun seorang laki-laki atau perempuan kalau sudah di suguhi hal seperti itu mau tidak mau tak akan menolaknya, begitu juga dr Imam, merasa semuanya sudah tanggung cap playboy sudah Vionna tempelkan sebagai label jelek pada dirinya, dengan perasaan marah dr Imam melayani keinginan Vionna.
"Boleh juga, permainanmu Mas," ucap Vionna sambil memejamkan matanya dan menggelinjang.
Dr Imam terkejut dan menutup kembali pakaian itu, sambil menarik diri dan mendorong Vionna duduk pada posisinya.
"Kenapa berhenti? Aku tahu kita saling mau dan Aku telah membuka diri! jangan jual mahal dan munafik walau Mas harus tahu ini bukan kebiasaanku!" ucap Vionna sambil membiarkan pakaiannya tetap terbuka.
"So-sorry Vio. Aku tak sadar, Oke kita mau jalan ke mana sekarang? tanya dr Imam begitu gelagapan, dirinya terlanjur jauh melayani dan membuka diri bagi Vionna.
"Kenapa meminta maaf? bukankah itu permainan biasa yang Mas lakukan? kenapa denganku meninta maaf?" sahut Vionna mengundang emosi dr Imam
"Sudah Vio! Aku bukan orang seperti yang kamu tuduhkan itu! semua hanya salah paham." jawab dr Imam seperti orang putus asa.
"Yang tadi aku saksikan apa?"
__ADS_1
"Itu Alya Ibu-ibu kesepian yang sulit di mengerti!"
"Oh, jadi dengan Ibu-ibu juga ya? bukan dengan single saja? luar biasa sepertinya Aku penasaran akan hal lain darimu Mas, bisa kita cari hotel sekarang?" ucap Vionna seperti menantang.
"Vio! apa maksudmu?"
"Aku hanya ingi memberi Mas lebih, kenapa nggak mau? jangan merasa sok idealis, masihkah semua itu jadi alasan?"
"Sudah! sudah! pokoknya semua sulit Aku jelaskan!" dr Imam kesal dengan sendirinya.
"Jangan di jelaskan kita coba saja, Aku ingin merasakan keperkasaanmu Mas seperti Ibu-ibu dan yang lainnya!" ucap Vionna dengan sedikit emosi juga.
Percuma dr Imam menerangkan semuanya, Vionna sudah mencap dirinya jelek. Pembelaan macam apapun tak akan merubah pandangan yang sudah di alamatkan pada dirinya karena Vionna melihat Alya sedang di pangkuannya tadi dengan jarak hanya beberapa mili saja.
Mungkin Ini hari paling sial yang dr Imam rasakan, tapi sampai merambah dada Vionna itu adlah hal tak wajar di tengah mumet masalah dalam kepala dr Imam.
Perasaan bersalah membayang di kepala dr Imam, Intan yang mungkin masih sakit harus menerima kecurangannya, semua bisa saja terjadi melebihi batas kesadarannya, tapi dr Imam merasa Vionna seakan dirinya juga bisa membeli hatinya dengan cara liar seperti itu.
Dr Imam melajukan kembali mobilnya yang tadi di parkir sembarang di tempat sepi, bibirnya bungkam seribu bahasa. Sepertinya Vionna marah.
Vionna juga sama diam, mobil melaju tanpa tujuan pasti ke mana saja arah jalan kosong membawanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️