
"Kamu mengerti apa yang Ibu sampai kan tadi sayang?"
"Iya, Bu."
"Bekerja itu perlu bantuan dan banyak tangan orang lain untuk menunjang kesuksesan kita, jangan mengandalkan tenaga kita saja mustahil dan tidak akan tertangani." Ibu Sofyan Wijaya menelisik raut muka putrinya.
"Sekali lagi, intinya Ibu menekankan pada kamu kurangi tenaga kamu biar bisa istirahat punya waktu untuk diri sendiri untuk kehidupanmu sendiri."
"Iya Bu, Alya tahu itu."
"Jangan dedikasikan hidupmu hanya untuk kerja karena perempuan kalau terlalu mandiri akan menjadikan seseorang itu segan untuk dekat dengan kita. Ibu harap kamu bisa menjalin pertemanan dengan siapa saja jangan hanya kerja! kerja! dan usaha-usaha yang kamu pikirkan saat ini, pikirkan juga masa depan kamu pikirkan juga Bapak sama Ibumu."
Takut terlalu banyak pepatah yang dijejalkan terhadap Putri kesayangannya, Ibu Sofyan Wijaya berhenti memberikan nasehat dan mengakhiri kunjungannya dengan pamitan.
"Ibu pulang dulu, Ibu ingin perubahan di dirimu dan di semua usahamu."
"Iya, Bu Alya akan berusaha merubah semuanya."
"Bagus itu, lebih cepat akan lebih baik."
Alya mengangguk, bangkit mengikuti Ibunya yang keluar dari kafe itu mengantarnya sampai Ibunya masuk ke dalam mobil, dari dalam mobil pun masih saja dengan mengingatkannya.
"Jangan lupa makan siang jangan kelewat waktu, kalau kelewat waktu malah nanti tidak ada selera lagi untuk makan."
Sekali lagi Alya mengangguk sambil tersenyum dan mobil pun berlalu meninggalkan pelataran cafe.
__ADS_1
Alya masuk lagi ke cafenya dan menekuni setiap pengeluaran dan pemasukan, pembelanjaan dan list stok barang pengadaan. Segala macam barang yang di butuhkan dan yang masih tersisa kira-kira untuk semingguan, apa yang masih ada dan yang habis.
Semua pekerjaan itu membuat kepalanya pusing. Badannya terasa capek, lemas dan ingin membaringkan tubuhnya sejenak.
Alya naik ke kamarnya dan duduk di meja riasnya sambil meneliti setiap inci wajahnya, kelihatan muka capek dan lelah dan serasa dirinya lebih kurus dari sebelumnya melihat pantulan bayangan dirinya di depan cermin.
Tangannya membuka laci dan mengambil satu benda dengan kemasan panjang kira-kira sejengkal ibu jari dengan telunjuk. Dengan perasaan was-was menimbang-nimbang dengan pacu jantung lebih cepat dari biasanya, memang terasa perubahan dalam dirinya setelah kejadian di sore hari menjelang malam, malam minggu itu.
Alya menyimpan kembali alat itu dan mengambilnya kembali, kecemasan dan kegugupan menyelimutinya.
Seandainya aku hamil apa yang harus aku lakukan? haruskah aku bahagia untuk bisa menjerat dr Prabu? dan seandainya nya aku tidak hamil haruskah aku bahagia? tapi tak ada peluang dan celah sedikitpun untuk memenangkan seorang dr Prabu.
Dan satu lagi seandainya aku hamil dan dr Prabu tidak bisa bertanggung jawab apa yang akan aku lakukan apa yang akan orang tuaku lakukan? aku akan dinikahkan dengan siapa yang bisa menjadi Bapak dari anak hasil cinta dan kemarahan ini.
Bukankah sejak awal dr Prabu sudah menyatakan kalau semua itu kesalahan yang dilakukan oleh dirinya sendiri bukan atas keinginannya. Itu hanya pelampiasan kemarahannya saja. Haruskah aku meminta pertanggung jawabannya seandainya aku hamil? haruskah orang tuaku dipermalukan dengan jawaban yang sama seperti yang dr Prabu ucapkan sesaat setelah menidurinya.
Alya mengelus perut ratanya, masih terasa kasarnya dr Prabu melakukan kekerasan seksual dan hasrat murkanya saat itu. Alya tak kuasa menghindar untuk yang satu itu karena dirinya juga dalam keadaan setengah telanjang.
Menarik kasar penutup terakhir badannya dan mencengkeramnya tanpa ampun, dalam hitungan menit semua tubuhnya telah terjelajah, terenggut dengan paksa menyisakan rasa perih di tubuh dan perasaannya.
Masih terngiang kata-kata terakhir sebelum dr Prabu keluar membanting pintu.
"Seandainya kamu hamil jangan harap tanggung jawabku, karena itu bukan cintaku tapi itu ambisi mu aku lebih memilih penjara daripada bertanggung jawab dan menikah denganmu camkan itu baik-baik Alya, aku tunggu teror mu mulai hari ini, aku tidak takut dan gentar, Aku yakinkan masa depanku akan aku raih sendiri apapun caranya dan sepahit apapun perjuangannya!"
Mari kita buktikan dr Prabu, siapa yang akan menang setelah kejadian itu kamu yang akan luluh atau aku yang malah terperosok ke dalam jurang kehancuran?
__ADS_1
Alya menyimpan kembali alat testpack itu, untuk hari ini belum ada keberanian dirinya untuk melakukan pengetesan ia masih takut masih ragu cemas bingung dan bimbang melakukannya.
Alya merebahkan tubuhnya di tempat tidur, berpikir keras apa yang harus di lakukannya. Tapi tak ada satupun jalan yang bisa di pilihnya semua tampak temaram dalam kelam, se-kelam pengalaman dan cerita perjalanan hidupnya.
Teringat sahabatnya satu-satunya yang masih tersisa Desty. Ya, Desty selalu punya ide baik dalam setiap masalah, selalu memberikan jalan keluar dari semua problemnya dan selalu menjadi teman curhat yang paling nyaman.
Alya melihat jam dinding di seberang tempat tidurnya jam 11: 15, berarti kalau udah Desty kerja formal sekarang udah masa-masa persiapan mau istirahat jadi Alya berpikir akan menelepon Desty pada jam istirahat siang.
Semenjak kejadian itu saat dirinya curhat tentang kejadian itu, berarti kurang lebih semingguan Desty tidak pernah lagi datang ke cafenya atau sekedar menelpon atau melakukan chat dengan dirinya.
Kemana Desty saat ini ? menghindar dariku, juga malu punya teman aku? atau sibuk kerja atau alasan apa lagi? Alya pikir Desty bukan orang yang seperti itu. Desty orangnya peduli dan Alya kenal Desty bukan hanya sebentar jadi Alya tahu baik buruknya seorang sahabatnya itu.
Nggak mungkin Desti meninggalkan dirinya dalam keadaan terpuruk seperti itu kalau bukanlah kesibukannya yang menjadi alasan.
Alya tertidur dalam kamarnya sendiri, efek tidur terlalu malam setiap malam yang akhir-akhir ini tidak bisa dihindarinya. Tutup cafe sekitar jam 10 dan itu juga masih saja ada pengunjung yang hanya untuk hangout hanya ingin mengobrol mengisi malam di waktu senggangnya bahkan malam minggu sampai pukul dua belasan Alya masih standby di cafe.
Entahlah. Rasa lelah akhir-akhir ini begitu tak di rasanya, tapi kalau sudah dibawa istirahat badannya begitu terasa capek lemah letih dan lesu ditambah kurang tidur seperti limbung perasaan tubuh Alya setiap harinya.
Alya tertidur dengan posisi menyamping dengan badan ditekuk seperti udang. Alya merasa kedinginan di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan di dadanya.
Sukses dalam usaha dan ekonomi yang mapan tak membuat Alya berpuas diri. Menjadi anak yang berkecukupan dalam segala hal dan hanya satu-satunya, juga anak emas seorang pejabat daerah merasa tidak cukup bisa membahagiakan kehidupannya. Serasa dirinya paling terpuruk dalam hal percintaan dan asmara, sampai-sampai dirinya terjerumus ke dalam perbuatan yang dianggap terlarang melanggar etika bahkan menjurus ke arah kriminal.
Sesal menjadi ganjalan setiap langkahnya kini menjadikan masalahnya dilema, untuk meminta pertanggungjawaban belum tentu dirinya hamil, terus mengejar perhatian dr Prabu sudah tak mungkin, hanya satu harapannya kini dirinya hamil walau Alya tak tahu penyelesaian akhirnya.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
__ADS_1
Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya bertitel "CINTA JANGAN DATANG TERLAMBAT Author "Aveiiiii" sahabat terbaikku yang paling hebat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya! di tunggu apresiasinya.🙏