Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kerinduan jadi keputusan


__ADS_3

"Retno, apa kamu sudah dapat khabar dari suamimu? e-mail barangkali?"


"Aku belum buka e-mail Bu, aku sibuk menyelesaikan revisi sudah hampir rampung, ada apa?"


"Astagfirullah Retno! mungkin saat ini suamimu ingin mendengar khabar mu, kenapa tidak memulai membuka komunikasi? apa salahnya kamu memberi nomor ponselmu biar dia merasa tenang atau membuka e-mail dan membalasnya."


"Aku berencana setelah revisi selesai Bu, aku tidak fokus mau selesaikan satu-satu."


"Ada baiknya kamu mengabari suamimu itu, kan tugasmu sudah hampir rampung tinggal revisi sedikit-sedikit juga mungkin akan menjadi ketenangan mu juga, kamu jadi tahu khabar suamimu."


Retno diam.


"Jangan seperti itu Nak, kamu sudah memaafkan, sudah menerima, dan berlapang hati tetapi tidak di nyatakan dalam kenyataan, buat apa semua itu kalau hanya ucapan saja?"


Retno menyadari sepenuhnya ucapan Bu Harni, apa hatinya masih ragu dan gamang dengan keputusannya? apa benar hatinya ikhlas rela untuk berbagi?


"Pikirkanlah baik buruknya semua keputusan itu, apa akan ada manfaat buat diri kita juga orang lain?"


"Iya Bu, boleh kasih saja nomor ponsel saya, biar Mas Prabu nanti bisa menelephon saya."


"Ibu tidak memaksa Retno, hanya menjadi penengah diantara kalian, Ibu ingin penyelesaian yang terbaik yang kalian lakukan. Jangan sampai ada penyesalan karena kalian salah langkah dan salah mengambil keputusan."


"Maafkan aku Bu, aku terlalu mengikuti kata hati dan perasaan egois. Mengikuti rasa marah saja tanpa melihat orang lain lebih menderita."


"Jangan meminta maaf, kamu tidak salah apa-apa kamu hanya korban keadaan, yang seharusnya tak menerima permasalahan ini, tapi semuanya memberimu satu pelajaran yang sangat berharga ujian cinta yang begitu berat dan kamu bisa melaluinya.


"Mungkin berkat Ibu Harni juga aku bisa kuat dan ikhlas menerima semua ini."


"Aku bukan siapa-siapa Retno, aku hanya figur seorang Ibu yang ingin anaknya keluar dari masalah, jadi boleh Ibu kasih nomor kamu sama dr Prabu?"


Retno tersenyum sambil mengangguk, semoga dengan jalan ini semua berjalan dengan baik seperti itu kata hati Retno.


"Baiklah nanti siang Ibu akan telephon suamimu, selanjutnya silahkan bicara hati ke hati bagaimana baiknya."


"Iya Bu."

__ADS_1


"Lihat juga e-mail jangan tenggelam dengan kesibukan, sudah sampai mana tugas akhir mu itu?"


"Masih revisi."


"Ya sudah Ibu berangkat kerja dulu, makan yang banyak, minum susu, vitamin juga minum."


"Iya Bu."


Entah kenapa setiap kata-kata Bu Harni Retno selalu tak bisa menolaknya, apa semua karena benar? sudah seperti kata-kata Ibunya saja dalam hal apapun tak bisa membedakan mungkin yang membedakannya adalah Ibu Harni tak melahirkannya, tapi kasih sayang nya sepertinya Retno merasakan tak berbeda.


Retno membuka laptopnya mencari e-mail yang beberapa hari ini tak di lihatnya karena kesibukan.


Begitu banyak kiriman yang belum di bacanya tak satupun dari orang lain semua dari Mas Prabu.


Retno sayang, mungkin inilah hukuman buatku, saat orang lain yang memberitahu khabar yang membuat aku merasa syok, kaget dan tak percaya karena bahagia. Kamu hamil sayang, walau bukan kamu yang memberitahukan khabar bahagia itu padaku aku bahagia Retno.


Selamat atas kehamilan mu sayang, aku bisa apa sekarang aku begitu jauh, walau hati dan raga ini begitu tersiksa meronta ingin memelukmu, hanya do'a terbaik buatmu dan calon anak kita, jaga kesehatan.


Aku kurang lebih dua mingguan lagi di sini karena melihat kondisi masa pemulihan masyarakat di sini mulai bangkit bisa terbiasa, seperti aku yang merasa terbiasa juga tapi aku merasa enggan pulang, aku harus pulang ke mana?


Tak sanggup rasanya aku pulang ke rumah, semua begitu mengingatkan akan dirimu, mungkin aku pulang ke pekerjaanku saja dan tinggal di kantor.


Retno mengusap air matanya, nanar melihat layar laptop dan mengelus perutnya yang masih rata, ada isak kerinduan memenuhi ruang hatinya.


Mas, aku tidak menghukum mu, aku tak berhak menghukum suamiku. Aku tahu kamu dan isi hatimu juga cintamu dan perasaanmu hanya untukku.


Aku berusaha untuk bisa menerima, memahami, dan memaafkan dengan sepenuh hati, aku telah ikhlas Mas, suatu hari aku akan pulang ke rumah kita dan bisa saling menatap dengan penuh kerinduan.


Aku juga sangat merindukanmu, aku tidak marah lagi, mungkin ini ketentuan yang harus aku terima dan aku jalani.


Retno terisak sendiri, terasa sakit rasa hatinya menanggung perasaan yang sama seperti yang suaminya ungkapkan yaitu kerinduan.


Semakin melupakan dan menyibukkan diri, semakin hampa rasa hatinya, merasa nggak enak segalanya kalau bukan karena ada kehidupan lain di dalam rahimnya terasa malas rasanya Retno untuk makan apapun selain sesuatu yang segar di mulutnya seperti rujak buah.


Retno, kamu ngidam apa sayang? rasanya nyeri dada ini saat aku tak bisa memenuhi keinginanmu.

__ADS_1


Dalam khayalanku aku bisa memenuhi permintaanmu, pulang dengan membawa apa yang kamu minta,


Mungkin itulah kebahagiaan seorang suami saat memenuhi dan melihat istrinya memakan apa yang dia idamkan.


Maafkan aku Retno, maafkan Papamu anakku!


Bathin ku sakit merindukanmu Retno, tapi aku tak berdaya, hanya berharap pada waktu yang mengulirkan masa sampai kamu bisa menerima diriku yang penuh salah ini.


Retno menutup laptopnya, tak kuasa meneruskan membaca e-mail itu, tersungkur di tempat tidur dalam tangis yang menyayat hati.


Hatinya luluh lantak oleh perasaannya sendiri, rasa tak bisa di nyatakan dalam nyata depan mata, menghadirkan perih mendamba dengan penuh harap.


Mas, aku harus bagaimana?


Aku juga tak bisa seperti ini terus.


Retno merintih sendiri, menenggelamkan muka ke bantal dan meremas seprai dengan perasaan hancur.


Dan akhirnya Retno mengusap muka dan airmatanya saat kesadaran menyentuhnya, nggak guna dirinya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan dan mengambil keputusan yang sangat besar yaitu Retno bersiap-siap akan pulang ke rumahnya apapun yang terjadi.


Ya, nanti sore Retno akan pulang, tak ada lagi kemarahan dalam hatinya, tak ada menyalahkan semua yang terjadi dengan suaminya, juga masalah yang menyelimuti rumahtangganya bukan untuk di tinggalkan tapi untuk di hadapi dan di selesaikan gimana baiknya.


Retno memasukkan baju ke dalam tas jinjingnya, juga laptopnya membereskan semua yang berantakan, lalu menyapunya dan membawa bekas makanan ke dapur rumah Bu Harni.


Mencuci semuanya sekalian membereskan dapur Bu Harni yang berantakan sepertinya nggak sempat di bereskan habis bikin sarapan tadi pagi.


Retno melihat dan membuka tutup saji meja makan, perutnya berasa lapar tapi mulutnya enggan makan apapun.


Retno berusaha mengambil ada bihun goreng dan bakwan di seduh sambal kacang kelihatan itu yang menariknya, Retno makan sendiri sambil mengusap perutnya.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️



__ADS_2