
Seperti marathon dr Prabu dan Ella mencari Retno dan hampir ke semua sudut rumah sakit tapi tak ada, terbersit fikiran jelek dr Prabu Retno pergi ke jalan raya, atau ke rel kereta api atau ke kali Cimulu atau juga ke Mall Asia Plaza lantai atas, atau ke mana lah yang pantas di datangi orang yang marah, emosi, ter khianati, sakit hati dan terpuruk.
Dalam lelahnya dr Prabu bersandar di dinding GOR yang biasa di pakainya saat bertanding dan latihan. Terdengar pekikan orang sedang berolahraga atau lagi latihan, dengan suara kerasnya melepaskan beban dan mengurangi beban saat bertanding.
''Huph...hah...Huph...hah..."
Dr Prabu bangkit dan berjalan gontai ke pintu GOR dan dari kejauhan kelihatan Retno sedang bermain di lapangan dengan seseorang entah siapa, mungkin pengunjung yang ingin latihan dengan di saksikan lumayan ada beberapa penonton, yang pada duduk di tribun lapangan dengan santainya.
Keringat bercucuran kerudung dan bajunya basah dan yang menjadi lawannya juga sama sudah basah kuyup, dr Prabu duduk di sudut belakang Retno bermain, permainan emosional tingkat tinggi menghasilkan skor tiga set telak Retno memenangkan pertandingan dan lawan Retno bermain menghampiri Retno dan menyalaminya dengan tertawa mengagumi permainan Retno, dengan mengacungkan jempolnya seorang laki laki mungkin pekerja atau mahasiswa yang belum mahir memegang raket, lalu minta photo bareng sama Retno dan Retno mengangguk dan berpose layaknya selebritis atlit yang baru memenangkan event olympiade, dr Prabu menyatukan gigi atas sama bawah dan merasa cemburu dengan perlakuan laki-laki itu pada Retno yang minta beberapa pose untuk berphoto bersama.
Dengan tak sabar dan emosi karena cemburu juga dr Prabu menghampiri mereka dan Retno terkejut.
"Hai hai hai...apa-apaan main pegang dan mesra banget kamu?!" dr Prabu menarik tangan pria itu kasar dan pria itu melongo tak mengerti.
"Sorry, kami hanya latihan bareng"
"Latihan-latihan saja jangan main pegang dan photo-photo segala siapa lo?" sungut dr Prabu.
"Lha lo juga siapa? datang marah-marah kayak habis kena setrum, apa kena petir heh?"
"Gue calon suaminya!" dr Prabu menunjuk dadanya.
"Baru aja calon sudah bangga, kalau sudah jadi suami baru bangga."
"Lo ngomong apa?"
"Ngomong fakta lah, kan nyatanya begitu?"
Dr Prabu nggak sadar kalau Retno sudah berlalu dan berjalan ke pinggir lapangan sambil mengambil tasnya.
"Sekali lagi awas lo ya!"
"Haaaaaaaa... ngancam, apa nantangin?"
"Elo maunya apa?"
__ADS_1
Dr Prabu menunjuk laki laki itu dengan emosi dan berlari menyusul Retno dan menghalangi langkahnya, mencoba mengambil dan meraih tangannya tapi Retno menghindar, dan dari kejauhan terdengar laki laki lawan latihan Retno tadi tertawa.
"Woi...lagi perang dingin ya?"
Dr Prabu tak menghiraukan omongan pria tadi, dalam hatinya kalau dekat sudah pasti bogem mentahnya bikin sobek mulut tuh orang.
"Retno tunggu! aku mau bicara, semua tak seperti yang kamu kira, aku tidak seperti itu, ayo kita bicara di ruangan ku kalau nggak di taman belakang."
Retno tak melihat dr Prabu yang terus memepetnya, di halangi dari kiri belok ke kanan dan di halangi dari kanan belok ke kiri, tak bicara sepatah katapun dan apalagi melihatnya sampai di depan kamar mess nya Retno masuk dan dr Prabu juga sama masuk dan baru Retno menatapnya sangat dingin, Ella yang lagi tiduran langsung duduk dan Ismi yang ada di kamar mandi melongokan kepalanya keluar.
"Mau ngapain Mas masuk ke sini?"
"Aku mau bicara."
"Aku nggak mau."
"Mau tak mau kamu harus mendengar penjelasanku"
"Penjelasan apalagi?"
"Pak Prabu, Mbak Retno kalau mau bicara di sini, ayo bicara baik-baik biar saya sama Ismi keluar dulu, saya sama Ismi nggak enak nguping pembicaraan kalian dan kalian juga nggak akan bebas bicara, ayo Ismi kita ke keluar!" Ella memberi kesempatan pada dr Prabu dan Retno menyelesaikan masalah mereka.
"Ayo, mau bicara di sini apa di ruangan ku?"
"Sudah aku bilang aku nggak mau bicara!"
"Retno sabar dan dengar pejelasan ku."
"Aku tak mau dengar penjelasan apapun jadi keluar sekarang, aku mau mandi!"
Dr Prabu menghalangi pintu kamar mandi dan berdiri di situ, semua pada diam dengan emosi yang masih membara di hati masing-masing, setelah beberapa saat dr Prabu menghampiri Retno yang masih berdiri di sisi tembok.
"Retno aku tak menginginkan suasana nggak enak begini, dan aku tidak tahu harus dari mana aku bicara, semua di luar dugaan kendaliku dan semua secara tiba tiba, kamu datang pada saat yang tepat menghentikan semua itu aku merasa beruntung karena semua kejadian di depan kamu. Bukan aku yang mendekati Alya tapi Alya yang memanfaatkan sekecil apapun kesempatan."
"Sudah bicaranya?"
__ADS_1
"Aku tak keberatan dengan alasan mu dr Prabu, tapi komitmen diantara kita batal!"
"Nggak Retno, aku tahu bukan itu yang hatimu inginkan tapi menurutku kamu butuh waktu menenangkan diri dulu."
"Sudah aku mau mandi, awas minggir!"
"Retno kamu itu emosi."
"Iya aku emosi, lalu kenapa nggak boleh?"
"Boleh, tapi emosinya kendalikan sedikit jangan membabi buta begini, main photo sama orang baru, pegang-pegangan sama laki-laki lain di lapangan seperti selebritis saja, apa pantas kamu seperti itu?"
"Oh rupanya dr Prabu ini nggak suka aku di pegang sama orang lain? photo-photo sama laki-laki lain? lantas kenapa nggak tanya pada seorang Retno apa seorang Retno suka melihat dr Prabu dempetan, di elus-elus juga mungkin di peluk sama wanita gatal itu? mari kita pamerkan ketidak sukaan kita, kita impas hitung-hitung kita introspeksi diri kita masing-masing, kalau bisa aku tantang tuh cewek gatal itu di lapangan jangan hanya bisa pura-pura sakit dan merayu laki-laki yang tak punya pendirian dan penolakan, laki-laki labil dan gamang."
"Retno, Retno..." dr Prabu berusaha lunak menenangkan Retno yang ngomong tak terkontrol seperti orang kesurupan, walau hatinya sangat marah dan emosi juga di kata katain laki-laki yang tak punya pendirian dan penolakan, laki-laki labil dan gamang.
"Aku lelah aku capek mendapati kenyataan yang jauh dari angan angan ku, aku ingin pergi jauh dari kenyataan ini, mungkin aku akan gila lama lama di sini, satu yang aku tak habis fikir kenapa nggak Mas Prabu katakan kalau ada aku di hatimu, sebegitu susahnya? biar si ulat bulu itu tahu! semua orang di rumah sakit ini telah berubah menjadi monster yang begitu mengerikan buatku, dan setiap saat siap menjerumuskan aku, kamu dr Prabu sangat tak berperasaan, suster kepala Miranti sama saja menyebalkan dan temanmu dr Imam sama menikam aku dengan pura-pura baiknya juga cewek gatal itu bagai ulat bulu yang menjijikan di mataku!"
"Retno!"
"Apa?"
"Aku menangkap seakan bukan kamu, yang bicara begitu kasar, bukan Retno yang dulu yang begitu lembut."
"Apa Mas tahu? aku Retno bisa kasar seperti orang lain dan bisa lebih lembut melebihi orang lain, tapi jadi orang lemah tak membuat aku berhasil jadi orang yang di hargai dan di pandang benar, aku bisa brutal sama seperti wanita jalanan karena Mas yang memulai semua ini, jadi apalagi yang akan Mas Prabu pertontonkan di mataku?"
"Retno katakan apapun tentang aku, tapi kamu harus tahu posisi aku, aku itu siapa sekarang? sebagai apapun tetap kita harus menghargai orang lain, sepertiku pimpinan di sini katakanlah aku direktur di sini, otomatis aku berhubungan dengan semua pejabat daerah swasta dan pemerintahan tak begitu mudah menghadapai hal semacam tadi itu, Alya memang menyukaiku tapi aku tidak, aku katakan sekali lagi aku tidak menyukainya, aku akui Alya anak seorang walikota teman aku di pemerintahan, tidak bisa aku sekonyong-konyong menolak dengan gamblang, saya fikir nanti akan ada saatnya ayo kita pergi ke cafenya, dan saya perkenalkan kamu mungkin dengan cara itu lebih bijaksana dan Alya juga pasti mengerti, semua tidak harus dengan emosi berlebihan."
Retno diam memang diakui dirinya terlalu emosi dan juga kasar, kata-kata Mas Prabu sangat di mengerti dan bijak, tapi apapun itu adalah imbas kekesalan dirinya yang begitu beruntun menerima perlakuan nggak enak dari dr Prabu dan orang orangnya di rumah sakit ini.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih.