Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Persiapan lamaran 2


__ADS_3

"Mas Prabu, apa-apaan sih kok berhenti di sini? kan Plaza Pekalongan masih jauh?"


"Siapa yang mau ke Plaza Pekalongan? aku cuma mau bersama kamu merayakan kemenangan kita."


"Kemenangan apa? jangan ngaco deh ah."


"Di rumahmu kita selalu bersama-sama, tapi aku tak sedikitpun bisa memeluk kamu atau mencium kamu."


"Aneh-aneh deh Mas ini, kita kan lagi proses apa salahnya kita bersabar?"


Dr Prabu menamprak sebelah tangan kirinya kesamping Retno yang duduk di sebelahnya, tanpa mengerti Retno menyambutnya, tapi dr Prabu langsung menariknya hingga mereka saling berdekatan dan hampir beradu muka.


Suasana pun menjadi hening...


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu Retno, kalau kamu malam ini akan ada yang melamar."


"Terimakasih Mas, telah menjadi seseorang yang spesial di hidupku."


Dr Prabu membuka sabuk pengaman atau seat belt di kursi kemudinya dan juga membuka sabuk pengaman di kursi tempat Retno duduk di sebelahnya.


"Retno aku sayang kamu, sebentar lagi kita akan resmi bertunangan, dan orangtua kita akan menentukan hari pernikahan kita nanti."


"Iya, Mas."


"Apa kamu siap jadi istriku?"


Retno tersenyum dan mengangguk, kecupan lembut di bibir Retno yang merekah dengan senyuman menjadi pagutan yang sulit lepas dan berhenti.


Bibir keduanya menjadi liar tak terarah dan semakin dalam menikmati hangatnya gigitan-gigitan kecil dan perlahan, seirama dengan degup jantung tak beraturan mereka.


Tubuh mereka terhalang rem tangan yang terangkat, tapi tak menghalangi keduanya saling menikmati getaran hati mereka, dan ungkapan perasaan lewat sentuhan nyata.


"Aku, sudah nggak sabar."


"Ssssst...udah Mas, ayo jalan lagi malu takut di lihat orang."


"Nggak, sebentar lagi."


Retno hanya pasrah saat bibirnya jadi pusat penjelajahan, dan menikmati kehangatan sentuhan sensitif itu, sampai Retno kehabisan nafas dan mendorong tubuh dr Prabu.


"Ah, Mas udah dong..."


"Lima menit lagi."


"Nggak ah."


"Kali-kali ikhlas dong, jangan merasa terpaksa."


"Aku takut."


"Takut? takut apa?"


"Takut aja."


"Ya sudah, tapi bersambung ya?"

__ADS_1


"Huh!"


Dr Prabu mengusap bibir Retno dengan jarinya lembut, lalu mengusap pipinya, membetulkan duduknya kembali dan memasang sabuk pengaman.


Mobil melaju kembali ke pusat perbelanjaan terbesar di Pekalongan. Mall ini didirikan pada tahun 1994. Mall ini berada di Jalan Nusantara Pekalongan - Jawa Tengah yaitu berada di sisi timur Alun-Alun Kota Pekalongan.


Dr Prabu diajak ke pusat belanja pernak-pernik khas pakaian adat Jawa kelas Mall yang di dominasi dengan batik-batik dan aksesorisnya, Retno bergelayut manja di sebelah tangan dr Prabu.


Pakaian adat Jawa identik dengan kain batik, kebaya, kain jarik, baju lurik, beskap, kemben untuk wanita, serta jubah hitam berbahan dasar beludru, untuk acara resmi semacam pertunangan dan pernikahan juga acara keluarga dan adat budaya lainnya.


"Mas, aku mau kenang-kenangan pertunangan kita, aku mau nambah koleksi pakaian adat ku ya sekalian sama Mas Prabu juga."


"Boleh banget tinggal pilih saja, apa tidak keu galery keluargamu saja?"


"Kalau pakaian adat nggak ada di sana Mas, itu khusus pernak-pernik batik dan kain batik belum jadi."


"Oh."


"Mas, batik diakui sebagai salah satu identitas penting budaya Indonesia lho."


"Aku tahu."


"Malah UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity entah pada tahun berapa di resmikan nya aku lupa lagi heee..."


"Sebagai orang Indonesia kita harus bangga dan sudah satu keharusan melestarikan warisannya." dr Prabu ikut juga memilih sesuai seleranya.


"Nah, selain batik ada pakaian adat Jawa Tengah lainnya yang perlu dan keunikannya tak kalah nge-trend Mas."


"Seperti apa tuh?"


"Ya, ya ya..."


"Namun saat ini, pakaian adat Jawa Tengah telah dipakai dalam kegiatan sehari-hari seperti baju lurik ini, aku suka melihat orang mengenakan baju begini dan Romo ku begitu bangga memakainya."


"Aku juga senang Retno, seperti punya kharisma tersendiri, pilihkan buat aku model yang baku dan sudah modern, aku juga akan bangga memakainya."


"Nih Mas, lihat beberapa jenis pakaian tradisional Jawa Tengah dengan segala keanggunannya.


Tadinya, pakaian tradisional ini hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan keluarga penting atau acara-acara khusus yang mewah dan berkelas. Dengan perubahan zaman, kini banyak orang mengenakan kebaya dan baju lurik ini dalam kegiatan sehari-hari."


"Kamu memang pantas menjadi marketing di perusahaan keluargamu, pengetahuan akan pernak-pernik adat budaya begitu komplit Retno, harusnya jangan keluar dari ekonomi dulu."


"Yeeee...jadi nggak ketemu Mas Prabu dong?"


"Mungkin kita akan di pertemukan dengan cara dan jalan lain Retno."


"Aku nggak mau membahas soal itu lagi. Kita sudah ditakdirkan bertemu, dan bersatu walaupun dengan berbagai cobaan, rintangan yang telah kita lewati atau pun belum kita lewati."


"Iya sayang, terkadang aku lupa, yang ada sekarang hanya kebahagiaan kita." Retno mengangguk.


"Retno kan ini kebaya modern, pilih ini dong kamu pasti anggun dengan kebaya seperti ini, mana setelan buat cowoknya?"


"Mas, pakaian adat ini awalnya milik budaya di Jawa dan Bali, tetapi dengan keunggulan beragam budaya dan daerah, kebaya mulai tersebar banyak di penjuru daerah. Setiap tempat memiliki pandangan yang berbeda tentang kebaya, tetapi umumnya dibuat dari kain tipis, seperti sutra, katun tipis, atau nilon tembus pandang yang dihiasi dengan brokat dan sulaman."


"Iya, pokoknya aku suka yang seperti ini."

__ADS_1


Retno memilih beberapa stelan kebaya modern yang unik menurut seleranya berikut pasangannya buat dr Prabu model beskap bermotif dan polos biar kain jarik nya di rumah banyak banget koleksi Romo sama Ibunya.


Setelah di rasa selesai mereka pulang tanpa kemana-mana lagi. Karena sudah di pesan Ibunya Retno, calon pasangan tunangan jangan keluyuran dulu.


Di tengah jalan pulang mobil berhenti lagi, Retno menatap dr Prabu dengan curiga dan cemberut.


"Jangan macam-macam deh Mas ah."


"Aku masih kangen Retno."


"Kita kan ketemu tiap hari juga."


"Tapi, aku nggak sebahagia hari ini."


"Sama aku juga bahagia Mas, tapi kita jangan umbar kebahagiaan di jalanan begini."


"Aku hanya ingin menatap wajahmu saja. Di rumahmu aku nggak bisa apa-apa."


"Jangan bohong, aku tahu matamu begitu nakal memandang aku setiap saat."


"Haaa...tega kamu menilai aku nakal."


Tangan dr Prabu menarik kembali tubuh Retno agar mendekat.


"Kamu hampir menjadi milikku kini Retno, aku nggak sabar ingin melihat kamu mengenakan pakaian ini."


"Sabar Mas."


"Aku tak bisa sabar, untuk yang satu ini." dr Prabu menunjuk bibir Retno.


Kembali mereka berpagutan begitu lama, dan berhenti bukan karena merasa puas, tapi karena Retno merasa sudah cukup, dan waktu beranjak siang.


Wajah Retno bersemu rona merah, entah karena malu atau karena merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Mobil kembali melaju mereka diam dalam hening tanpa suara, hanya deru mobil membawa keduanya dalam angan-angan dan khayalannya masing-masing.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


...Biarkan Aku Memilih Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Berbagi Cinta :...


..."Satu Atap Tiga Hati"...


...By R. Angela baca, like, comment...


...vote dan beri hadiah...


...juga ya! 🙏...

__ADS_1



__ADS_2