Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Jangan menangis Kak!


__ADS_3

Dr Prabu benar benar terluka hati dan perasaannya tak terima dengan perlakuan curang Alya yang menjebaknya, tapi dirinya sudah membalasnya dengan lebih terluka lagi, seperti terlukanya hatinya sendiri tapi perasaan bersalah mulai dr Prabu rasakan satu yang sangat di pinta dalam kesadarannya semoga Alya tidak hamil karena akan menambah rumit dan berbelit urusan ke depannya.


Sesuatu yang dilakukan dengan emosi tanpa kesadaran karena mengikuti hawa nafsu dan juga dendam terhadap perlakuan Alya terhadap dirinya yang begitu melecehkannya, tapi dr Prabu menyadari dirinya telah melakukan kesalahan besar.


Mestinya ada sedikit maaf dan toleransi dari dirinya tetapi rasa belas kasih hilang semua di ganti dengan kesalahan Alya yang telah menelanjangi jiwa raganya sebagai laki-laki.


Jangankan untuk berpikir bijaksana atau kata maaf mendapatkan dirinya dalam keadaan seperti itu sungguh menjijikan, hanya satu di otak dr Prabu membalas lebih menyakitkan lagi.


Mau marah pada siapa memberontak pada siapa, ingin rasanya dr Prabu mengeluarkan segala beban dan unek-uneknya yang ada di dalam dadanya ingin naik ke atas gunung yang sangat tinggi dan meneriakkan kata-kata kekesalannya, amarah, emosinya dan juga sesalnya hingga seisi dunia mendengar gema teriakannya.


Merasa di injak kepala oleh seorang perempuan bernama Alya, tanpa curiga tanpa punya pikiran jelek dalam sangkaannya juga jelas tak mengira seorang Alya yang sopan, terpelajar, anak seorang pejabat, pengusaha muda yang berpotensi, bahkan anak manja dan di manja karena satu satunya kebanggaan keluarga itu, tapi segelas kopi espresso twister telah merubah segalanya menjadi licik dan curang, dr Prabu merasa terhina dan sangat rendah di perlakukan oleh seorang Alya, begitu mudah dirinya di jebak benar-benar di depan mata melotot, se-naif itu kah dirinya di depan Alya?!


Kebaikannya benar-benar disalahgunakan rasa simpatik telah berubah menjadi kebencian terhadap Alya, dan merembet terhadap keluarga Sopyan Wijaya hanya ada dendam di sorot mata dr Prabu dan harga dirinya yang robek terkoyak.


Di saat dr Prabu lagi memperjuangkan kepercayaan dirinya meyakinkan hati dan perasaannya, juga meyakinkan hati dan perasaan Retno juga sesuatu yang tidak terduga menimpa kehidupannya hancur semua luluh lantak segalanya masa depan yang sudah di rancang nya hancur sudah hanya pasrah dengan keadaan.


Haruskah dirinya berterus terang dengan Retno? haruskah menyakitinya untuk kesekian kalinya? atau menutupinya entah sampai kapan. Dan semua itu akan menjadi beban sepanjang hidupnya.


Sesampainya di rumah dr Prabu membuka semua pakaiannya membuangnya ke tempat sampah dengan terlebih dulu membungkusnya rapat di dalam kantong plastik, lalu mandi sepertinya ingin membuang semua sial semua kesalahan yang telah dilakukannya seperti ingin membuang semua aib dan noda yang menempel di dalam tubuh dan hatinya, membiarkan air shower mengguyur seluruh tubuhnya sampai pada akhirnya titik terendah dalam hidupnya datang menghampirinya dr Prabu menangisi dirinya menyesali dirinya dalam isak yang menyayat hati.


Dr Prabu bersujud di lantai kamar mandi dengan shower yang masih mengguyur menghanyutkan air mata menghanyutkan penyesalan yang entah seperti apa penyelesaiannya nanti, wajah Retno yang di puja dan di cintanya membayang di pelupuk matanya tiada yang bisa diucapkan begitu kelu lidah dan bibirnya, sesal kini tiada artinya meronta hati dan jiwanya berontak.


"Retno maafkan aku, aku tak mendengar apa yang kamu katakan padaku."


Harga dirinya tidak terima sungguh tidak terima, sisi buruk seorang manusia timbul dalam jiwa dr Prabu ingin rasanya dr Prabu melenyapkan seseorang yang namanya Alya, dan membinasakan rata dengan tanah tetapi kesadaran lain memupuk kesabaran dalam dirinya kehidupan harus berjalan kembali normal.

__ADS_1


"Kak...Kak Prabu?"


Suara Intan menyadarkan dr Prabu saat di kamar mandi, begitu lama dia terpekur di kamar mandi sampai tubuhnya merasa kaku dan bibirnya bergetar kehitaman sambil menggigil dr Prabu meraih handuk nya dan melihat kukunya juga kehitaman.


"Tok ... tok ... Kak ada dr Imam." intan masuk kamar Kakaknya dan menggedor kamar mandi.


"Iya!"


"Temani dulu ya, aku nggak mandi mau cuci muka doang."


Dr Prabu tak menjawab lagi menyelipkan ujung handuk pada lilitan nya dan keluar kamar mandi dengan perasaan capek luar biasa, bukan segar yang dirasakannya. Penat hati dan pikirannya beban terasa berkarung karung di pundaknya.


Suara Intan hilang kembali mungkin dia turun lagi dr Prabu lupa apa yang diucapkan dan dipesankan Intan kepada dirinya pikirannya kosong tak memikirkan apa-apa, mungkin dirinya perlu merefresh otaknya dulu bahkan untuk bertemu dengan seseorang ada rasa malu seperti aib yang bergelayut di dalam tubuhnya tidak bisa dihilangkan hanya dengan guyuran air dari shower saat mandi.


Dr Prabu merasa limbung mungkin karena terlalu lama di kamar mandi dan tubuhnya terkena air terus terusan kepalanya masih terasa pusing dan badannya seperti tidak bertenaga, dr Prabu hanya bisa duduk di tepi tempat tidur dengan handuk yang masih melapisi tubuh bagian tengahnya.


"Tok tok tok...Kak lama amat sih ngapain?"


Intan masuk dan melongokan kepalanya ke dalam, terlihat Kakaknya malah tidur sambil meringkuk dengan hanya memakai handuk sehabis mandi Intan merasa kaget takut Kakaknya lagi sakit.


"Astagfirullah Kak Prabu kenapa? Kakak sakit? kenapa nggak kasih tahu Intan kalau Kakak sakit, kita semua mencari-cari Kakak dari sore kemana mana tahunya di rumah, Kakak tahu Bu Miranti menang, Mbak Retno juga menang tapi Mbak Retno kecelakaan."


Intan meraba pangkal lengan Kakaknya dan membalikkan tubuhnya dengan mendorongnya perlahan hingga dr Prabu terlentang, ada air mata di sudut mata dr Prabu mengembang sebagian menetes membasahi ujung bola matanya dengan mata merah dr Prabu mengusap mukanya dan menatap Intan.


"Kak!? ada apa?" Intan menjadi lemas dan dr Prabu berusaha bangun dan duduk dalam posisi duduk bersisian dengan Intan.

__ADS_1


"Intan kamu adalah adikku yang telah dewasa, kamu akan mendengar pengakuan dari kakakmu sendiri dan bukan contoh yang baik untuk kamu."


"Kak Prabu, tolong ada apa?"


"Kecelakaan apa Retno?"


"Itu tidak penting dan tidak serius tapi ada apa dengan Kak Prabu sendiri?" dr Prabu menghela nafas dalam-dalam seperti ingin menguatkan hati dan perasaannya memang perlu kekuatan untuk menceritakan kembali kejadian kelam yang telah dilaluinya.


"Aku telah salah langkah Intan, Alya telah menjebak ku dengan berpura-pura minta tolong mengambil kamera ke cafenya, Aku bukan orang yang fokus aku orang yang banyak kesibukan tidak bisa melihat gelagat orang yang yang punya niat jahat dan baik terhadap aku, aku masuk dalam perangkapnya aku minum kopi espresso yang telah ditaburi obat tidur dan Alya memanfaatkannya dengan mengambil momen-momen kami saat aku tidak sadar di kamarnya mungkin dengan tujuan untuk meneror dan menyerang harga diriku tak lain sebagai jalan pintas tujuannya."


"Kak!"


"Sampai pada kesadaran ku pulih aku menjadi gelap mata dan kalap karena emosi dan aku telah memperkosanya dalam keadaan sadar, tanpa ampun hanya untuk membalas sakit hati dengan memberikan apa yang dia inginkan dariku kamu orang pertama yang aku beritahu apapun penilaian mu itu hak sepenuhnya kamu Intan."


Hening...


"Hilang semua masa depanku, aku sudah tidak punya harapan apa-apa lagi terhadap Retno, aku telah menjadi seorang penghianat aku telah menyakiti Retno untuk kesekian kalinya. Semuanya kandas semuanya hilang sekejap saja aku hanya berpasrah dengan keadaan apa yang akan menimpaku apa yang akan terjadi dengan diriku aku tidak tahu.


"Astaghfirullahaladzim Kak....!? kenapa Alya sejahat itu? apa salah Kakak?"


"Satu kesalahanku pada Alya Aku tidak pernah mencintainya."


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya ya 🤦😆💝🙏


__ADS_2