Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kedatangan Intan


__ADS_3

Pagi itu Retno sedang malas-malasan di kamarnya kelihatan dari roman mukanya sudah mulai sedikit ada perubahan, aktivitasnya mulai sedikit terbiasa kembali.


Sampai siang hanya berkutat dengan laptop, buku dan ponselnya, entah kenapa begitu ingin setiap hari membuka e-mail walau hatinya begitu enggan untuk membalasnya.


Retno ketiduran di depan laptop saat Intan datang berkunjung ke tempatnya dengan sengaja. Intan tak berani membangunkan Kakak iparnya karena kelihatan begitu nikmat dan pulas tidurnya.


Intan menatap Kakak iparnya yang pulas tidur dengan bertumpu pada kedua tangannya yang di tumpuk. Buku yang berantakan dan laptop yang masih hidup di dekatnya.


Intan berdiri di pintu kamar yang terbuka sambil melirik jam di pergelangan tangannya kenapa Kak Retno pulas tidur padahal ini masih di bawah jam 12 siang yang seharusnya rasa ngantuk itu datang setelah jam 12 siang sampai menjelang waktu ashar.


Gerak gerik Intan tak urung membuat Retno terbangun, dengan mata merah masih sedikit mengantuk langsung menyapa Intan dengan antusias.


"Astagfirullah...Intan? sudah lama di sini? ayo masuk! ya ampuuuuun...kok aku sampai ketiduran begini."


"Nggak apa-apa Mbak, santai saja aku bukan orang penting aku hanya main ke sini kebetulan di kampusku lagi longgar."


"Maaf Intan aku dari pagi belum mandi malas banget rasanya, soalnya nggak ada rencana mau keluar rumah jadi santai aja, aku lagi mulai membuka-buka merancang skripsi ku, dan mulai ngetik."


"Nggak apa Mbak aku juga kalau di kost lagi nggak ada cara atau lagi di rumah malas-malasan mandi semaunya aja, Mbak Retno sehat?"


"Sehati Intan, Alhamdulillah. Cuman kalau bangun tidur kepala rasanya berat banget, entah karena kurang tidur entah kenapa, tapi setelah dibawa aktivitas kembali biasa saja cuman mungkin akhir-akhir ini aku kurang selera makan jadi bawaannya lemes melulu."


"Di bawa santai saja Mbak, sekarang sudah makan belum? biar sekalian aku beliin."


"Waduh, bukannya pribumi yang suguhi dan tawarin tamunya, ini malah tamu yang tawarin."


"Kebetulan aku juga belum makan jadi sekalian aja aku cari, Mbak Retno mau makan apa?"


"Apa ya enaknya? sepertinya yang pedas, asem, manis."


"Itu rujak! kan kita cari makan, Aku mau soto yang panas pedas, Mbak mau nggak?"


"Boleh, tapi rujak juga beli ya?"


"Iya, takutnya Mbak ngidam lagi heeee...aku cari sampai ke kampus kalau nggak ada di daerah sini."


Deg! Ngidam? satu kata yang tak pernah terpikirkan oleh Retno sedikitpun tak terbersit dalam hatinya untuk saat ini, tetapi dipikir-pikir antara dirinya dengan suaminya setelah melakukan hubungan suami istri hampir sebulan lamanya walau kurang beberapa hari, dari mulai awal malam pertama mereka dan malam ketiga.

__ADS_1


"Ya sudah, Mbak mandi dulu nanti aku datang kita makan." suara Intan pamit ke depan tak di gubrisnya juga tak di jawabnya.


Retno sibuk menghitung hari terakhir dia mendapatkan tamu bulanan sebelum menikah, beberapa hari dia menstruasi, ingat tanggal dan hari pernikahannya adalah dua hari ke tepat maju ke depan, seharusnya dirinya sudah mendapatkan haid saat ini. Astaghfirullahaladzim... Ya Allah jangan jangan aku beneran hamil?


Perubahan memang banyak di rasakan Retno akhir-akhir ini, lelah, letih, lesu, dan banyak pusing di kepalanya apalagi habis bangun tidur.


Sepanjang mandi Retno terus saja berpikir, mungkinkah dirinya hamil? kenapa enggak? yang namanya berhubungan pasti hamil akibatnya. Haruskah aku bahagia atau bersedih menerima kehamilan dalam situasi masalah rumah tangganya yang lagi rumit begini? bukan perkara mudah perasaannya siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Baiklah! Aku positif saja dalam berpikir. Hamil ya Alhamdulilah anugrah yang tak terkira, walau di tengah suasana guncangan rumahtangga yang belum tentu seperti apa arah ke depannya.


Keluar kamar mandi Retno melihat kalender, mencocokkan dan meyakinkan tanggal pernikahannya dan tanggal hari menstruasi terakhirnya. Seharusnya hari ini adalah dirinya sudah selesai menstruasi, tapi ini mungkin juga bukan kehamilan hanya bergeser tanggal juga masih mungkin ini bukan kehamilan.


Retno mengusap perut ratanya, ada senyum di bibirnya, seandainya, ada suaminya dan dia tahu keadaannya sekarang tak terkira mungkin antusias dan reaksinya akan seperti apa?


Cepat-cepat Retno mengalihkan pikirannya, dan berganti pakaian keburu Intan pulang lagi, dirinya belum berpakaian.


Tak urung semua pembicaraan Intan walaupun hanya celetukan walaupun hanya bercanda membuat pikirannya Retno terbagi dan bicara seandainya dan seandainaya.


Tetapi bagi Retno apapun yang terjadi tidak akan mengubah segalanya secara otomatis dirinya tetap akan fokus kepada tugas akhirnya selesai, dan dinyatakan lulus wisuda. Baru akan berpikir lagi nantinya apa sebaiknya yang akan dilakukan mencari kerja lagi atau pulang ke Pekalongan, seperti yang diucapkan suster kepala Harni jangan dulu banyak rencana jalani aja satu-satu sampai tuntas baru nanti kita melangkah lagi, karena kalau terlalu banyak rencana akan menyita pikiran dan perhatian kita memang benar adanya.


Adapun nanti seandainya benar aku hamil, entah apa


dan akan seperti apa aku menjalaninya yang pasti akan tetap dijalani ada ataupun tak ada Mas Prabu sebagai suamiku.


Intan datang memarkir motornya di halaman, masuk dengan tentengan makanan.


Mereka mulai membuka makanan satu persatu, tapi Retno lebih tertarik pada wadah segi empat tembus pandang berisi buah buahan yang di potong potong dan ada sambelna yaitu rujak, sepertinya itu begitu menariknya.


"Intan, aku tadi sarapan banyak jadi sekarang sepertinya belum lapar banget kalau harus makan, aku makan rujak aja ya kamu makan aku temenin sambil makan rujak ya?" Retno berbohong sedikit hanya untuk jangan sampai Intan memandangnya dengan heran.


"Ya sudah." Intan menjawab enteng.


Intan tahu betul permasalahan yang sedang dihadapi Kakak dan kakak iparnya, sedari awal juga Intan sudah berpikir akan seperti ini seandainya Mbak Retno tahu.


Walau ingin rasa hati mendamaikan keduanya dan menjadi jembatan mereka untuk bersama lagi, tapi Intan tahu dan sadar diri kalau dirinya hanya sebagai adik yang seandainya memulai pembicaraan takut ditunjuk habis sama Mbak Retno karena dirinya dianggap sekongkol menyimpan rahasia sebelum pernikahan mereka.


Dan Intan memilih jalan tidak bersikap biasa saja, berusaha netral tidak membela Kakaknya atau membela Mbak Retno sebagai kaum perempuan, Intan menjalankan apa yang di arahkan kekasihnya dr Prabu menganggap Retno sebagai sahabatnya dan tetap sebagai Kakak iparnya.

__ADS_1


Jika Retno memulai bicara soal Kakaknya jadilah pendengar yang baik, jika tidak, biasa saja seolah tahu, tapi tidak tahu. Ikuti saja alurnya, baiknya seperti itu.


"Mbak, katanya beberapa hari yang lalu ke rumah Ibu kata Rahma."


"Iya, kangen keluargamu." Retno kelihatan begitu nikmat menikmati rujak yang lumayan pedas dan asem manis.


"Mbak jadi berhenti kerja?"


"Iya, soalnya kalau masih tetap kerja nggak bisa fokus tugas akhirnya, nggak apa suatu saat bisa kerja lagi, juga kan sudah ada yang tanggungjawab sekarang seorang suami."


Retno bicara seakan tanpa beban, Intan tahu ucapan itu tidak tulus tapi itulah pilihan.


"Kamu gimana lancar semuanya?"


"Lancar Mbak"


"Dr Imam suka apel?"


"Kadang, tapi aku nggak menuntut itu, aku sadar diri dia punya profesi dan di butuhkan orang."


"Aku juga sadar diri Intan, bahkan dalam segala hal. Aku bukan orang yang sempurna Intan, tapi aku berusaha saling menyempurnakan diri kami masing-masing."


Intan menyudahi makannya dan minum, sambil tak bicara apapun, hanya mendengarkan Retno yang mulai membuka hati akan masalahnya.


*****


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Meniti Pelangi


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


__ADS_1


__ADS_2