
Retno, aku telah berada di tengah tengah masyarakat pengungsian yang kondisinya sangat memprihatinkan, kita memang perlu sekali kali menengok dan berada di tengah tengah mereka agar kita bisa sadar dan merasakan satu rasa mereka.
Aku berada di satu desa yang sebenarnya sangat indah sebelum terkena debu dan awan panas, aku berkeliling dengan rombongan dari barak ke barak dari pengungsian ke pengungsian memberikan layanan kesehatan.
Kalau malam tiba betapa ingin aku bagi kenikmatan secangkir coklat hangat denganmu di tengah masyarakat yang sama kedinginan, semua seperti aku menunggu kepastian.
Kalau mereka menunggu kepastian kapan bencana ini berakhir dan aman untuk kembali ke rumah dengan nyaman dan bisa menata hidup mereka kembali.
Tapi kalau aku, menanti kepastian kapan aku mendapatkan kata 'maaf' darimu, aku nggak akan pernah lelah memohon padamu.
Kapan kita bersama lagi, bersama lagi di rumah impian kita menata kembali kehidupan kita, betapa ingin aku perlihatkan kalau aku begitu mencintaimu sayang.
Secangkir coklat panas menemaniku, mengingatkan akan dirimu, dan ingatanku akan selalu menemaniku.
-Bersibah simpuh, aku merindukanmu.
Ingin rasanya Retno membalas semua kerinduan demi kerinduan dan mengatakan betapa dirinya juga merindu, tapi hanya airmata yang selalu mendahuluinya.
Setiap pagi Bu Harni selalu melihat pemandangan tak aneh lagi, mata Retno yang bengkak sehabis nangis mungkin semalaman apa bisa tidur atau nggak tidur sama sekali, atau yang pasti habis nangis sampai ketiduran jadi mukanya kelihatan pucat, semuanya semakin mengkhawatirkan Bu Harni.
Bagaimana mencari cara semua bisa kembali seperti semula, betapa rumit permasalahan mereka, tapi serumit apapun pasti ada jalan keluarnya walau harus menyakitkan atau tersakiti, seseorang diantaranya.
Suster kepala Harni masuk dan duduk langsung di ujung tempat tidur Retno, menatap Retno yang lagi membereskan buku-buku dan semua di meja belajarnya.
Retno tahu Bu Harni masuk kamarnya, tak bisa Retno menyembunyikan mata yang bengkak dan mukanya yang begitu kusut.
"Retno, sini duduk dulu Ibu mau bicara."
Retno duduk dan menghentikan aktivitasnya.
"Apa kamu tidak tertarik kerja lagi untuk menghilangkan kejenuhan, biar nggak terlalu tenggelam dalam masalahmu?"
Retno menggeleng, menyatakan tidak! dalam pikirannya begitu kacau, tidak di bebani dengan tanggungjawab juga hari-harinya begitu belum bisa fokus pada satu apapun, apalagi di bebankan pekerjaan semua akan terbengkalai.
__ADS_1
"Aku sudah memutuskan nggak kerja dulu Bu, mau fokus ke skripsi satu dua bulan ini."
"Iya, Ibu hanya menawarkan saja takutnya kamu ingin kesibukan dulu."
"Aku tak ingin apapun saat ini Bu, aku hanya ingin selesai satu satu beban ku, paling utama skripsi sudah itu mau pulang menenangkan diri ke kampung ku."
"Retno, apa kamu mau bawa persoalan rumahtangga mu pada kedua orang tuamu apa itu sudah kamu pikirkan matang matang baik buruknya? menurut pendapat Ibu itu salah Retno,
orang tua sebaiknya jangan dibebani dengan permasalahan kita, selesaikan dulu permasalahan dengan suamimu jangan dulu berpikir jauh."
"Aku salah berpikiran begitu?"
"Kasihan orangtuamu, seharusnya kebahagiaan yang mereka terima dan dengar khabar baik anak-anaknya. Semua orang tua tidak ingin melihat anaknya dalam masalah, seandainya bisa, inginnya mereka menyelesaikan semua permasalahan dirinya dan juga permasalahan anaknya."
"Jadi, aku harus bagaimana Bu?"
"Sekarang fokus saja dulu pada skripsi mu, nanti kita pikirkan lagi solusi rumah tanggamu sambil berjalan, Ibu janji akan membantu sebisanya dan seandainya kamu ingin berbagi ingin sekedar bercerita atau menyampaikan pandangan sebaiknya apa, Ibu siap dengan tangan terbuka, siap walau hanya dengan pendapat dan saran yang bisa kamu pertimbangkan."
"Iya Bu terimakasih."
"Iya Bu, mulai sekarang aku akan fokus dulu menyelesaikan kuliah akhir ku yaitu tinggal skripsi, semoga bisa selesai dan tamat pada waktunya."
"Ya sudah, Ibu berangkat kerja dulu, jangan terlalu banyak melamun sibukkan diri dengan kegiatan yang positif sehingga ada manfaatnya dari hari ke hari. Jangan membuang-buang waktu hanya dengan melamun dan menyesali diri dan menyalahkan siapapun berlebihan, ingat itu!"
"Iya Bu, makasih banyak, apa nanti boleh aku jemput pulangnya?"
"Emght... boleh deh, sekalian Ibu mau belanja dulu." Ibu Harni mengiyakan setelah berpikir sesaat.
Retno tersenyum senang, Ibu Harni juga sama tersenyum begitu senang melihat sumbing bibir Retno yang akhir-akhir ini menghilang entah kemana.
Biasanya Bu Harni nggak
pernah mau merepotkan siapa pun berangkat kerja bareng sama suaminya dan pulangnya dia naik angkot. Jarang banget dia minta dijemput atau diantar Retno walaupun satu jalur waktu Retno masih kerja di rumah sakit itu, tapi kali ini hanya untuk mengalihkan perhatian, untuk mengajak Retno bisa keluar dari masalahnya, untuk membikin Retno tersenyum Ibu Harni mau menerima penawaran Retno untuk dijemput saat pulang kerja nanti.
__ADS_1
"Kamu makan, semua sudah sedia di meja makan jangan bikin mubazir."
"Iya Bu, nanti aku makan." Retno menjawab tanpa ekspresi.
Bu Harni berangkat kerja, rumah jadi sepi tinggal Retno sendiri tinggal di dalam kamarnya mulai membuka buku referensi dan menghidupkan laptopnya.
Akhir akhir ini Retno begitu hilang selera makannya tak ada satupun makanan yang menarik hatinya. Entah kenapa selera nya begitu menurun walaupun sebelumnya dirinya ada dalam masalah kalau untuk urusan makan dia tetap bisa memaksakan diri, tapi kali ini entah kenapa selalu mual setelah bangun tidur mungkin karena tidurnya kurang, banyak melamun dan susah tidur malam atau terlalu banyak pikiran itu diakuinya.
Memulai kegiatannya dengan sesekali melihat e-mail terasa aneh buat Retno, merasa benci sampai tak ingin memaafkan, tapi kenyataannya dirinya begitu menginginkan walaupun sekedar e-mail yang datang mengabarinya.
Tak bisa pungkiri rasa benci segala yang telah suaminya lakukan terlepas salah ataupun tidak, tetapi kerinduan pada sosok seorang dr Prabu suaminya tak mudah dihapuskan begitu saja, hati kecilnya merasa begitu kehilangan dari hari-hari yang di laluinya, dan perasaan itu terasa lebih menyakitkan saat malam datang.
Segala kenangan manis malam pertamanya bagai bingkai berisi lukisan sketsa yang menari-nari di atas kepalanya memenuhi segala ruang dimensi memorinya, Sungguh Retno tak bisa menghilangkan semua itu.
Saat-saat mereka menjalani prosesi adat dengan tidak sabarnya mereka menanti malam yang sangat di nantikan bertahun tahun perjalanan cinta mereka.
Kesabaran memang membuahkan hasil yang begitu manis, bagi mereka dan menjadikan malam itu malam yang sangat di nanti sebagai catatan sejarah dalam hidup masing-masing.
Retno membaca kembali kata-kata e-mail suaminya, merasa semuanya mengingatkan betapa jauhnya kini Retno dengan suaminya berada.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
__ADS_1
vote dan beri hadiah ya!