Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Bersitegang


__ADS_3

"Intan, kita makan dulu ya Aku lapar, berapa hari Kamu pulang istirahat di rumah?" suara dr Imam membuka percakapan saat mereka mendekati kota Bandung menuju kost Intan yang tak berapa jauh dari kampusnya.


Sedari naik mobil dari Majalaya mereka lebih banyak diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Intan yang meragu dengan masa depannya dengan dr Imam dan dr Imam dengan keyakinannya kalau mereka mampu melewatinya dan suatu saat kebahagiaan mereka akan diraihnya bersama.


"Intan bicaralah apa saja, jangan seperti ini, suasana seperti ini malah membuat Aku merasa bersalah," ucap dr Imam sambil melirik ke arah Intan di sampingnya.


"Mas, Aku bertanya jujur padamu apa Vionna itu cantik?" dr Imam tertegun kalau di jawab cantik mungkin akan membuat Intan tak enak hati, memuji dan mengatakan seseorang di depan kekasihnya memang sangat sensitif tapi kalau di bilang jelek Vionna memang cantik dan dewasa.


"Cantik itu relatif Intan, tergantung siapa yang menilainya, secantik apapun orang diluar sana Aku masih mengagumi dirimu," sahut dr Imam, ada senyum di bibirnya.


"Aku tidak memerlukan penjabaran tentang hatimu Mas, tetapi Aku hanya bertanya cantik apa tidak?" Intan tak terima dr Imam malah mengalihkan mengagumi dirinya.


"Vionna cantik, dan sangat menarik," jawab dr Imam datar saja.


"Enak tiap hari jalan sama orang cantik, ketemu tiap hari makan bareng apa-apa bersama, semua itu begitu mengganggu pikiranku Mas, apalagi dia begitu suka sama Mas Imam berbagai cara pasti dicari dan dilakukannya mungkin Aku cemburu sebagai orang yang normal dan sebagai kekasih, tetapi hanya ingin memberikan peringatan kepada Mas Imam hati-hati akan hal yang tidak kita perkirakan dan kita duga sekecil apapun perhatian Mas Imam akan diartikan lain bagi orang yang suka," sahut Intan dengan tanpa melirik dr Imam.


Deg! Intan! memang Aku hampir saja terjun bebas kalau saja tak ingat Kamu, semua ucapanmu benar memang pesona Vionna begitu jadi magnet walau Aku tidak suka dengan pribadinya yang sedikit agak mengatur. Tapi Vionna begitu bisa mendekati Aku dengan caranya sendiri.

__ADS_1


"Intan, di hatiku hanya ada Kamu dan cinta kita, semoga seminggu ini Aku bisa melewatinya dan Vionna segera pulang mungkin Aku akan terbebas dan sedikit bisa bernafas lega tidak dibebankan sama orang tuaku untuk mengantarnya ke sana ke sini karena Vionna memang datang ke sini untuk liburan mengambil cuti tahunannya," kilah dr Imam tak ayal hatinya juga sedikit berdebar, ada rasa penyesalan setiap dekat dengan Vionna yang begitu berani merangsek mendekati dan memepetnya. Hingga dr Imam tak berkutik seperti malam itu yang hanya dalam hitungan detik saja semua akan bablas tak terkendali kalau saja kesadaran tak datang menghampirinya.


Dr Imam merasa harus lebih hati-hati seperti yang dipesankan Intan, supaya semua itu begitu beralasan karena dekat dan selalu dekat akan ada timbul godaan, sepertu kucing di suguhkan ikan tak bisa menahan diri untuk segera memakannya, apalagi Vionna jelas menawarkan diri untuk hal itu.


"Jangan sampai di hati ada Aku, tapi yang Mas hadapi wanita itu semua sama saja bohong ucapan tak akan sama dengan faktanya, yang Aku Mau bicara jujur apa adanya sama Dia," ucap Intan dengan ketakutannya.


"Sudah Intan, tapi Vionna tak perduli semua masih bisa berkompetisi katanya, Aku berulangkali katakan kalau Aku punya masa depan bersama orang yang yang Aku cintai tapi Vionna menganggap semua itu belum sesuatu yang bisa menghentikan langkahnya," ucap dr Imam menggambarkan bagaimana sosok Vionna yang begitu gigih memilikinya.


"Wow, menganggap hanya kompetisi? sungguh menarik kalau begitu mari berkompetisi dengan kemampuan masing-masing. Siapa diantara Aku dan dia yang bisa bertahan!"


"Intan jangan begitu, Apa artinya Aku? masa jadi bahan kompetisi?" ucap dr Imam sedikit tidak suka dengan kata kompetisi.


"Intan tenang, jangan emosi semua bukan untuk di lawan dengan emosi, biarlah Aku yang akan selesaikan semua itu, kamu kan lagi fokus di skripsimu gimana banyak waktu terbuang sia-sia," ucap dr Imam menenangkan Intan.


"Tidak Mas, Aku banyak waktu, pokoknya kita ke Tasikmalaya sekarang," pinta Intan seperti ada yang ingin diperlihatkan entah apa yang akan menjadi rencananya.


Intan! nanti malah Aku yang di silahkan, kamu habis sakit orang tuamu telah menitipkan padaku untuk mengantar ke Bandung Aku tadi pamit baik-baik sama orang tuamu Kenapa kamu jadi berubah pikiran seperti itu?"


"Kenapa Mas yang seakan Aku nggak boleh ke Tasikmalaya? itu hak Aku masalah skripsiku semua bisa diatur Aku sudah menyelesaikan semuanya berikut revisinya, tinggal pengajuan saja sudah semuanya!"

__ADS_1


"Jadinya salah! jujur salah tak jujur juga salah!" gumam dr Imam seperti pada dirinya sendiri.


"Memang karena Mas tidak tegas bicara, juga pada orangtua Mas sendiri tak punya pendirian dalam menentukan sikap!"


"Intan stop! jangan membuat Aku emosi saja! baik kalau kamu mau ikut sekarang juga ikut saja jangan malah menilai Aku tak punya pendirian! Aku datang memaksakan diri ke hadapanmu saat ini karena apa? Aku ingin meyakinkan Kamu kalau kita akan baik-baik saja, tolong jangan bicara yang membuat Aku tak enak hati, Aku tak tegas pada orangtuku karna banyak pertimbangan, banyak ketakutan dan lebih ke menghargainya nanti juga akan ada saatnya Aku bicara," timpal dr Imam dengan emosi dan tekanan tinggi.


"Baik Mas, maafkan Aku semua membuat hatiku tak menentu, kita sama-sama lagi emosi semoga emosi kita tak menjerumuskan kita pada penyesalan," sahut Intan


"Maafkan Aku juga, sepertinya Aku butuh istirahat mungkin minum kopi atau sekedar makan, jadi gimana keputusannya ke kost apa ke Tasikmalaya?" tanya dr Imam lagi sambil melirik Intan di sampingnya.


"Ke Tasikmalaya!"


Dr Imam tak menjawab lagi membelokkan mobilnya menuju rute arah Tasikmalaya, sebenarnya ada kebahagiaan di hatinya bisa bersama Intan tapi lebih banyak kecemasannya di samping Intan telah menyalahi mau balik ke kost malah ikut ke Tasikmalaya bersama dirinya, takut seakan dirinya yang mempengaruhinya padahal itu kemauannya.


*******


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2