
"Sudah bulat seperti itu? bukan apa-apa masalahnya tidak akan berhenti di situ kalau orangtuamu menerima nantinya mungkin selesai tapi kalau merasa tak menerima Intan akan seperti apa? jelas semua perlu pemikiran panjang baik buruk untuk ke depannya." Dr Prabu sekali lagi mengingatkan dr Imam jangan sampai Adiknya Intan merasa tersakiti nantinya tapi kalau semua diketahui sejak awal mungkin suatu saat penerimaan keluarga dr Imam atau orang tuanya belum seperti yang diharapkan semua tidak akan merasa kaget lagi terutama Intan dan pasti akan lebih bisa dewasa menyikapinya.
"Sudah bulat Bos, sudah melalui pemikiran panjang Kami siap dengan segala resiko yang akan datang yang membuatku tenang adalah kesiapan Intan untuk memulai hidup bersamaku seandainya kemungkinan terburuk orang tuaku tidak berpihak kepadaku, cukup Intan yang membuat bahagia hatiku."
"Baiklah pulanglah dulu nanti bicara baik-baik pada orangtuamu sampaikan alasan yang masuk akal bagi mereka sehingga semua alasanmu menjadi bahan pertimbangan dan jadi pemikiran mereka."
"Boleh panggilkan dulu Intan biar Bos sebagai Kakaknya mendengar sendiri apa pendapatnya," sahut dr Imam ingin secara langsung kesiapan Intan di dengar Kakaknya dulu.
Dr Prabu masuk memanggil Intan dan sekalian Retno menjadikan rapat kecil di rumahnya.
Intan duduk di samping dr Imam dan Retno di samping dr Prabu.
"Intan Aku sudah mendengar semuanya dari dr Imam, sebelum Aku datang pada orang tua Kita alangkah baiknya Aku bertanya dulu kepadamu tentang permasalahan yang ada juga keinginan dr Imam yang ingin segera melamar dan menikahi Kamu tetapi Kita tidak lantas menghadap orang tua begitu saja Aku sebagai Kakakmu yang bertanggung jawab karena keberadaan mu ada di sini ingin tahu dulu bagaimana jawaban Kamu dan sikapmu mengenai keinginan dr Imam itu?" ujar dr Prabu menatap Intan dengan perlahan.
"Aku secara pribadi siap saja Kak, tapi masalahnya memang tidak sesederhana itu juga semua tidak akan terlaksana tanpa izin Bapak sama Ibu juga Kak Prabu sendiri," ujar Intan merasa yakin kalau dr Imam sanggup menjadi kepala keluarga dan pemimpin bagi dirinya.
"Intan, memasuki gerbang rumah tangga itu tidak segampang dan tidak semanis yang Kita bayangkan harus siap mental lahir batin menjadi seorang istri itu akan seperti apa. Jangan hanya berpikiran manis saja hidup sama orang yang kita cintai, bisa bebas melakukan apapun karena sudah halal tapi ada poin yang harus benar-benar di cermati seseorang yang belum dewasa dipaksa harus dewasa kalau sudah memasuki pintu keluarga harus siap meninggalkan masa muda, masa ceria, kebersamaan bersama teman-temanmu dan semua itu akan dijalani bersama suamimu nanti belum lagi mengatur rumah tangga itu tidak segampang yang kita pikirkan tetapi juga tidak sesulit yang kita keluhkan semua pasti ada solusinya kalau memang Kamu sudah siap dan ini yang terbaik bagi kalian berdua dengan permasalahan yang ada Kakak siap menyampaikan kepada orang tua Kita."
Intan diam mengerti apa yang di ucapkan Kakaknya semua demi kebaikannya.
__ADS_1
"Iya Kak, Insyaallah Intan siap semoga itu jadi solusi permasalahan Mas Imam, bukan berarti Aku mendukung Mas Imam untuk tidak menurut kehendak orang tuanya tapi mungkin sebagi orang dekat seharusnya bersama menemani Mas Imam memperlihatkan kalau dirinya punya pilihan dan itu yang terbaik bagi masa depannya," jawab Intan dengan serius.
"Betul Intan, tak ada sedikitpun Aku niat hatiku untuk melawan orang tuaku sendiri sebagai bukti tidak taat dan tidak hormat pada mereka bukan itu, Aku berhubungan dengan Intan jauh sebelum orang tuaku mengenalkan kepada Vionna tetapi entah kenapa orang tuaku merasa tidak percaya lagi kepadaku walaupun berulang kali Aku bicara sama kedua orang tuaku kalau Aku sudah punya hubungan serius, tetapi malah minggu depan mereka dengan mengajakku akan berkunjung ke tempat tinggal Vionna. Aku menjadi serba salah seperti kambing dan yang di cocok hidungnya sebagai Anak menjadi simalakama mengikuti bertentangan dengan hati nuraniku tetapi tidak mengikuti adalah satu ketidaktaatan, tetapi kalau berhubungan dengan masa depanku mungkin Aku akan mempertahankan prinsipku sendiri."
"Itu pilihan kalian, hanya pesanku bicaralah dulu baik-baik bersama Intan pada orangtuamu baik buruknya itu adalah orangtuamu juga, tapi seandainya mereka tidak ada niat baik mendukung pada niat kalian langkah selanjutnya kalian yang tentukan baru kita bicara ke orangtuaku di Majalaya."
"Baiklah besok pulang kerja Aku akan mengajak Intan ke rumah dan setelah itu langsung ke Bandung."
Dr Imam merasa tenang mungkin dengan jalan seperti ini ke-dua orangtuanya akan mengerti kalau dirinya sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri juga bisa menentukan masa depan yang lebih baik bersama orang yang dicintainya.
Intan mengantar dr Imam sampai ke teras depan rumah, hatinya merasa lapang. Dr Prabu mengikutinya tapi kelihatan Intan dan dr Imam lagi berpelukan akhirnya mundur kembali.
"Mas, apa sudah jelas kalau orangtua Mas Imam tidak merestui hubungannya dengan Intan?" ucap Retno sambil membersihkan mukanya di depan cermin.
"Yang Aku tangkap bukan tidak merestui Sayang, tapi mereka seperti tidak mempercayai lagi karena belajar dari pengalaman mungkin dr Imam setiap membawa cewek ke rumahnya itu tidak berakhir dengan serius selalu putus dan putus itu berawal kekecewaan orangtuanya. Lalu orang tuanya berinisiatif memberikan jalan dengan cara menjodohkan dengan orang yang dianggapnya cocok. Giliran dr Imam merasa serius dengan Intan orang tuanya kepalang tidak percaya lagi itu masalahnya sangat sederhana memang, dr Imam bersikeras ingin memperlihatkan sikapnya dan orang tuanya juga bersikukuh pada pendirian mereka kalau Anaknya tidak akan serius kalau memang tidak dijodohkan."
"Kira-kira orangtuanya Mas mengizinkan nggak pernikahan Intan seandainya tak di restui orangtuanya dr Imam?"
"Aku nggak tahu Sayang, tapi akan Aku coba memberi pengertian daripada mereka pacaran terus lebih baik sah saja dulu, semoga saja seiring berjalan waktu semua akan mengerti dan kalau melihat dr Imam serius bersama Intan mungkin orang tuanya juga akan mengalah kemungkinan akan seperti itu," jawab dr Prabu begitu dewasa dan bijaksana.
__ADS_1
"Dr Imam memang sudah dewasa semoga bisa membimbing Intan dengan baik," ucap Retno sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Yang pasti dr Imam sudah kebelet nikah malah kalau di tunda-tunda takutnya lebih bahaya bagi Intan apalagi sekarang Intan ada di dekatnya terus walau dekatnya karena pekerjaan tapi tiap hari tiap malam ketemu akan kuat? Aku merasakan itu dulu." dr Prabu mengusap kepala Retno.
"Bukan masalah kuat apa nggak nya tapi semua balik lagi pada diri masing masing tapi cobaan sebelum menikah itu berat banget terutama saat dekat, dikit-dikit kangen semua tempat jadi momen indah belakang pintu jadi tempat paforit Mas juga kan?" ucap Retno menyindir suaminya sambil tersenyum.
"Hahaha... Kamu ingat aja Sayang, yang pasti kalau sudah Aku tarik ke belakang pintu kamu senang banget kan?"
"Yee... Mas ngarang aja!"
"Sekarang mau nggak di belakang pintu?"
"Ngapain di belakang pintu di sini saja, siapa yang mau melarang kita? ini bukti kenakalan Mas kan?" Retno menunjuk perutnya yang buncit sambil tersenyum.
"Buka dong katanya mau di usap-usap," jawab dr Prabu sambil membuka melempar kaosnya sendiri.
Kebanggan seorang suami saat membelai istrinya yang sedang hamil, tak bosan menciuminya dan tetap memberikan kenyamanan juga semangat menjalani tahap demi tahap meniti masa depan dan menjemput kebahagiaan.
*******
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️