Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Malam pertama di kamar impian


__ADS_3

Sampai juga akhirnya di rumah megah dengan semua persiapan pesta yang begitu apik dan terencana.


"Rombongan di sambut dengan sukacita keluarga dr Prabu, Ibu Bapaknya juga Intan dr Imam dan kerabat lainnya.


Semua tampak gembira dan bahagia, kecuali Ibunya dr Prabu melihat titik perhatian yang tertuju pada satu jendela wajah menantunya Retno, ada muram entah karena capek atau apa yang pasti ada kekurangan tak seperti biasanya Retno bersikap seperti itu, kurang bicara.


Setelah menempatkan Romo, Ibu dan keluarga yang lainnya juga sudah menyantap suguh yang di sediakan Retno pamitan karena mau istirahat.


Semua memakluminya masih ada rangkaian acara yang belum tuntas di laksanakan besok. Setelah berhari-hari menjalani prosesi di rumahnya sendiri.


Dr Prabu menuntun Retno masuk ke kamar impiannya yang sudah di tata sedemikian rupa, menyambut kedatangan mereka.


Semerbak harum melati membangkitkan nuansa romantis yang biasanya tercipta dalam semerbak lembutnya, menyentuh panca indera menarik hasrat biologis normal manusiawi.


Retno seakan tak perduli dengan semuanya, menyimpan tas di gantungan khusus topi dan jas yang berdiri di pojokan.


Khayalan dr Prabu yang sekian lama ingin membawa sang istri ke kamar ini dalam keadaan sah kini terlaksana sudah, semua di persembahkan dengan sepenuh cinta dan perasaan bahagia. Khusus dr Prabu rancang buat istrinya tercintanya Raden Ajeng Retno Ayuningtyas yang begitu dipujanya.


Semua itu hanya kebahagiaan dr Prabu sendiri, hati Retno mulai rapat mengunci diri dalam gelisah galau sakit dan kecewanya.


Hati Retno remuk, luluh lantak dengan sisa kekuatan yang masih ada mencoba antusias dengan semua yang di sediakan suaminya. Masih ada tenggang rasa dan toleransi akan pengorbanan suaminya dalam menghargai dirinya.


Tapi kenapa suaminya sendiri setega itu! melakukan semuanya merekamnya dan kini menjadi momok dan teror bagi rumahtangganya sendiri.


Retno hanya mematung di ujung tempat tidur dan duduk perlahan dengan menahan perasaannya sendiri. Seperti ada bongkahan batu besar yang menghalangi dadanya begitu sesak nafasnya.


Mas Prabu keluar kamar mandi dan langsung menghampiri Retno yang duduk tanpa reaksi apapun.


"Sayang kok masih di situ? nggak ke kamar mandi dulu sebelum istirahat?"


"Iya, aku seperti pikun dan banyak melamun."


"Haaaa...nggak ada yang pikun, masa cantik begini sudah pikun sayang."


Dr Prabu meraih pinggang istrinya sambil mendaratkan kecupan sayang dan lanjut ciuman yang menjurus ke arah panas. Tangannya membelai kepalanya dengan sayang.


Retno sedikit menghindar dengan alasan mau ke kamar mandi dulu, dan melepas paksa pelukan yang menguncinya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama di kamar mandinya ya."


Retno menjawab dengan senyuman, dan kalau bisa ingin rasanya semalaman juga Retno ada di kamar mandi dan tak melihat wajah tanpa dosa suaminya yang kebenciannya mulai menjalar di dalam perasaan nya.


Retno membuka lemari pakaian dirinya yang dari kemarin-kemarin sudah pindah ke sini semua dari mess nya. Dr Prabu memandanginya sambil tersenyum.


Betapa ingin dirinya melihat istri tercintanya dengan pakaian tidur di kamar ini, dan memulai bulan madu yang sebenarnya tanpa rasa malu sama keluarga dan kerabat.


Bahkan dalam hatinya hanya ingin berduaan saja dengan Retno di rumah ini tanpa ada yang mengganggu, Bi Iyah juga Pak Min, biarlah mereka juga bulan madu di kamarnya.


Menghabiskan masa cutinya dan memulai aktivitas dengan semangat tinggi pergi dan pulang kerja di dampingi istri tercinta mungkin itu hal terindah yang ingin segera terwujud di hidupnya.


Di waktu senggangnya Retno akan masuk ke ruangannya dan mereka bisa memadu kasih dan sekedar bercumbu mesra di sana. Semua terasa indah di angan-angan dr Prabu.


Memiliki Retno adalah impiannya, sekarang semua sudah ada jadi kenyataan, menjadikan semua yang tak mungkin menjadi mungkin mereka telah mengantongi buku nikah resmi suami istri.


Retno keluar kamar mandi dengan gaya anggun dengan pakaian tidur yang menantang dan khasnya wangi parfum kesanyangan nya.


"Sayang..."


"Mas, maafkan aku."


"Aku datang bulan, aku sakit perut, mood ku hilang, badan dan pinggangku sakit dan panas, aku harus istirahat."


Dr Prabu terhenyak, seribu pertanyaan menggantung di bibirnya, kenapa begitu cepat? apa yang akan di lakukannya saat kondisi istrinya begini? memandangi punggungnya? kenapa semua datang nggak begitu tepat waktu dan saat dirinya begitu membutuhkan semuanya? aaaaaah...sial memang sial!


"Nggak apa sayang, kita masih bisa pelukan dan ciuman dan mengisinya dengan hal-hal lain yang menyenangkan."


"Istri sedang begini itu sakit Mas namanya, mempengaruhi pada aktivitas tak akan seperti biasanya.


"Aku tahu, ada perubahan hormon pada wanita yang datang bulan dan mengandung, jangan meminta maaf untuk hal itu, apa yang bisa aku bantu biar aku bisa meringankan keluhan mu itu?"


"Nggak ada, hal seperti ini sudah biasa dialami perempuan."


"Oke nggak apa-apa, tidurlah duluan biar besok bangun segar kembali."


Retno naik ke tempat tidur, dr Prabu menyelimutinya dengan lembut lalu mencium keningnya, menatapnya sesaat lalu mengecup bibir Retno yang sudah memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


Rasanya tak rela bibir dan semua tubuhnya di jamah laki-laki munafik seperti suaminya kini, bibir yang pernah menyentuh orang lain apalagi tanpa ikatan sah, begitu jelas video dan foto itu telah mengubah haluan rasa dalam dadanya, mampu membangkitkan trauma di dalam hatinya, mengendalikan rasa cinta yang sebenarnya, mengubah rasa cinta menjadi jijik dan benci.


Paranoid dari bayangan itu telah memporak-porandakan bangunan rasa sekian tahun yang dijaganya di bangunnya dengan harapan.


Betapa semua yang suaminya lakukan begitu tak berarti kini di hadapannya, semua penuh dengan kepalsuan semua penuh dengan kebohongan menipu dirinya mentah-mentah seakan dirinya tak berdosa tanpa ucapan apapun tanpa pengakuan apapun.


Tapi seandainya suaminya berterus terang pada awalnya mungkin aja kan menjadi pertimbangan bagi dirinya, tak ingin rasanya Retno masuk ke dalam dunia rumah tangga yang sudah ada bibit konflik sejak awalnya seperti sekarang ini, ingin dirinya masuk ke dalam rumah tangga yang bebas tanpa beban apapun.


Selayaknya rumah tangga dibangun dengan dasar saling cinta, keterbukaan, dan terus terang apa adanya. Tetapi rumah tangganya kini telah diawali dengan percikkan yang sangat membakar hati dan perasaannya, ingin segera hari esok berakhir.


Dr Prabu keluar dan menutup pintu dengan perlahan.


Retno termenung dalam diam tak bergerak, merancang apa yang mula-mula akan di katakan dan ditanyakan pada suaminya.


Tak akan terbayangkan emosinya seperti apa, dan semua itu akan Retno tuntaskan sampai mencapai satu titik keputusan yang di pilihnya dengan tekad bulat.


Aku tak mau di khianati, di bohongi dan Mas telah curang pada cintaku, aku bukan orang bodoh, satu kesalahan di hidupku, aku mencintaimu Mas Prabu, tapi kini rasa itu terbang di bawa angin entah kemana menyisakan luka tak berdarah.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


...MENITI PELANGI...


...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...

__ADS_1


...vote dan beri hadiah ya!...



__ADS_2