Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Semakin cinta


__ADS_3

Lima bulan berlalu...


"Mas memasuki usia ke tujuh kehamilanku, semakin berat aja rasanya perut dan badan ini." Retno mengusap muka suaminya.


"Iya sayang, nggak apa-apa itu normal kalau nggak ada keluhan apa-apa, kalau semua terasa enak nikmatin aja nggak semua perempuan bisa hamil."


"Aku naik berat badannya nggak kira kira, sebulan lima kilo."


"Nggak apa-apa sayang, asal Mamanya sehat anaknya juga sehat."


Dr Prabu mengusap-usap perut istrinya selalu saja setiap saat berbicara pada bakal calon anak mereka yang ada di dalam perut Retno sambil mencium perut itu dengan perasaan sayang. Selalu begitu ujung-ujungnya mengusap ke arah lain.


"Mas, kok jadi ke situ?"


"Nggak apa sayang, Papa kan selalu kangen.


"Belum juga jadi Papa, udah bilangnya Papa!"


"Sebentar lagi juga jadi Papa, kan ini yang gerak-gerak di dalam hasil kerja keras kita, yang akan merubah duniaku dan statusku menjadi seorang Bapak dan kamu seorang Ibu sayang."


Retno membiarkan suaminya menciumi perut buncitnya sambil sesekali mengusap dan mencium daerah lain atas dan bawah.


"Sayang kalau Dedek nya lahir nanti berapa lama Papa harus puasa nggak merasakan 'ini'?" Dr Prabu mengusap di bawah perut istrinya.


"Empat puluh hari Mas! tergantung bersih enggaknya juga sih, ada yang kurang ada yang lebih."


"Waduh, lama banget, bisa kurang nggak?"


"Itu umumnya Mas, masa melahirkan ada yang merasa trauma lho, nggak kasihan emang sama istri habis lahiran sudah di pinta jatah lagi, istirahat lah dulu nanti juga kalau sudah siap dan sehat Mas bebas berenang lagi!"


"Iya sayang, Mas ngerti tapi selama itu pasti ada keinginan juga dari seorang istri."


"Yang kelihatan lebih butuh biasanya cowok."


"Jangan bilang begitu, cewek juga sama, buktinya kamu nggak di usap, nggak di peluk sebentar juga sudah meronta, itu tandanya minta melulu."


"Minta apa?"


"Minta di sayang!"


"Ya jelas, Mas kan suamiku, ini anak Mas, aku minta di sayang sama Mas wajar kan? kalau minta disayang sama Pak Min baru menyalahi, nanti Bi Iyah marah."


"Haaaaaaaa ..."


"Aku juga mau minta tiap malam, juga hari libur seperti ini boleh kan?"


"Kok minta izinnya baru sekarang? kan semua itu sudah berjalan lama? sejak kandunganku di nyatakan kuat, di siram terus tiap malam nggak pernah absen seingatku."

__ADS_1


"Iya, ya. Aku lupa heee ...."


Mencumbu istri yang sedang hamil adalah kenikmatan tersendiri bagi dr Prabu, apalagi permintaan istrinya untuk memanjangkan brewoknya. Walau di rasa aneh tapi kalau istrinya senang tak apa, malah lebih menggairahkan menenggelamkan wajahnya yang berbulu halus di muka, leher dan dada istrinya, ada fantasi lain.


Retno juga merasakan begitu senang dan begitu gairah saat-saat berdua begini, yang ujung-ujungnya praktek dan menuntaskan pesta kasih sayang suami istri.


"Mas, baru malam tadi sekarang mulai lagi apa nggak kepagian?"


"Aku mau sayang, habis kamu memancingku boleh kan kalau beberapa kali juga?"


"Boleh selama aku nggak ada keluhan, lakukan! sebentar lagi Mas puasa empat puluh hari heee ...."


"Sepertinya aku nggak bakalan kuat, pasti batal deh!"


"Harus kuat!


"Kita lihat saja nanti."


Kehamilan di masa-masa bulan madu menghadirkan kemesraan yang lebih bagi mereka. Menjelajah kenikmatan dalam rumahtangga yang baru di jajaki yang penuh manis madu cinta.


Dulu Retno hanya jadi khayalan dr Prabu saja, kini telah resmi jadi istrinya, bukan dalam khayalannya saja. Setiap saat ada senyum yang menyambutnya, saat dr Prabu pulang kerja, selalu ada pelukan dan ciuman sayang keduanya.


Suara mobil datang selalu jadi kebahagiaan Retno. Selalu keluar dan berdiri di teras menyambut suaminya yang baru datang.


Semua capek, penat dan pusing di kantor hilang sudah saat melihat senyum istrinya merekah menantinya.


Dr Prabu menuntaskan hasrat kesenangannya, sebelumnya mengecup kening Retno dan mencium perutnya yang membuncit lalu berbaring terlentang mengatur nafas di samping Retno.


"Mas, capek? lagi nggak?"


Dr Prabu terkejut saat mendengar penawaran Retno istrinya, balik menatap dan mengusap perutnya.


"Sayang, apa kamu belum puas?"


"Enggak, aku senang aja saat jambang Mas belum di cukur, rasanya enak di dada dan perut bagian bawah ada rasa nyaman yang begitu bergairah."


"Haaaa ... serius sayang? pantesan kamu melarang aku mencukurnya, aku nggak akan mencukurnya sampai kamu bosan dan memintanya."


Retno tersenyum, mengusap muka suaminya dan mendekatkan kembali dadanya di muka itu.


"Sepertinya anak kita cowok sayang, kelihatan kamu doyan banget yang satu itu! juga suka mukaku brewokan begini."


"Selagi kita sehat kita nikmati Mas."


"Iya sayang, sensasi berhubungan suami istri dalam keadaan hamil memang luar biasa nikmatnya, kehangatan yang berbeda, sensasinya juga lain."


"Serius nih mau nambah?" Dr Prabu merasa tertantang.

__ADS_1


Retno tak menjawab hanya membuka kembali selimut yang menutupinya, memasukan tubuh suaminya ke dalam selimut dan menenggelamkan muka suaminya bermain dengan kesenangannya di area dadanya.


"Mas, pelan dong geli banget."


"Aku kan senangnya berlama-lama di sini."


"Tapi aku mau Mas pindah, dan selesaikan. Aku lapar mau bangun."


"Nanti dulu sayang, aku masih senang berlama-lama menikmati perubahan tubuhmu yang begitu mengasyikkan."


"Tapi aku merasa lapar Mas."


"Ya sudah, aku selesaikan ya, kita makan, jalan-jalan dan aku boleh cukuran?"


Retno mengangguk sambil tersenyum. Babak kedua pagi ini di lalui dengan kesenangan mereka bermain di tempat tidur, dr Prabu mengerang ke sekian kalinya dalam kenikmatan, Retno tersenyum puas bisa melayani kegagahan suaminya dengan menikmatinya juga.


Berdua terlentang berpeluh basah, saling mengusap dan berciuman tak bosan-bosannya.


Menormalkan nafas yang begitu memburu tak beraturan.


Bi Iyah bolak-balik saja di bawah tangga, sambil sesekali melihat ke atas. Karena Pak dokter sama Bu dokter belum bangun-bangun walau sudah agak siang, mau masak ayam yang baru di potong Pak Min tapi takut salah Bu dokter mau di masaknya seperti apa?


Jam setengah sebelas siang baru dari lantai atas menandakan ada kehidupan. Dr Prabu turun sambil merengkuh pundak istrinya, memapahnya pelan-pelan dan mengimbangi tiap langkah Retno.


Keduanya kelihatan segar habis mandi, dengan rambut basah Retno membuat minuman susu hamil dan buat suaminya teh tidak terlalu manis.


"Bu, ayamnya sudah di rebus sama bumbu mau di apain masaknya?"


"Aku lapar banget Bi, di goreng aja!"


"Oh, baik Bu, dari tadi juga saya menunggu Bu dokter bangun, biar bisa sarapan."


"Santai saja Bi, kan ini hari libur. Mas Prabu maunya malas-malasan saja."


"Iya, tapi kan Bu dokter harus makan, kasihan yang di dalam perut."


"Betul Bi, nggak tahu heran aja, harusnya aku yang manja tapi ini malah calon bapaknya yang manja."


"Itu biasa Bu, takut tersaingi sama anak, padahal sama ya Bu dua-duanya juga sama kita sayangi heee ...." Dr Prabu nyengir saja mendengar obrolan akrab istrinya sama Bi Iyah.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2