Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Menuju hari H


__ADS_3

Pagi harinya...


Dua mobil di persiapkan untuk keberangkatan pagi ini, Romo dan Ibunya Retno begitu semangat menyambut pagi ini entah kenapa berbanding 180° dari 5 tahun yang lalu.


Romo begitu ingin segera mendapat kepastian dan persetujuan kedua orang tua dr Prabu calon menantunya. Entah karena alasan banyaknya ketakutan akan pergaulan yang di jalani putrinya selama ini tanpa pengawasannya, atau untuk menebus kesalahan atau juga untuk kebahagiaan putrinya semata, entahlah.


Yang pasti Romo telah berubah memandang putrinya dan dr Prabu, seperti ingin segera dinikahkan saja. Insting orang tua selalu punya rasa dan pandangan khusus terhadap orang-orang yang disayanginya.


Sekian lama menunggu dr Prabu dan Retno sepertinya akan mengakhiri masa-masa lajang mereka, persiapan mental dan segala segi telah mereka persiapkan dengan sempurna, hingga semuanya berjalan sesuai keinginannya.


Dalam memilih pasangan, hal yang paling sulit untuk seorang lelaki dewasa bukanlah menentukan pilihan, tetapi bertahan pada pilihan.


Bagi dr Prabu, luar sana akan ada wanita-wanita cantik, baik, cerdas dan sangat menarik. Tapi belum tentu yang paling cantik, paling baik, atau paling menarik yang bisa menjadi teman hidup.


Karena lelaki dewasa paham bahwa satu-satunya wanita yang bisa jadi teman hidup adalah dia yang mampu menghadirkan kenyamanan. Nyaman disaat sulit, nyaman disaat mudah, nyaman ketika dekat, nyaman ketika jauh, nyaman saat berselisih pendapat dan nyaman juga saat membangun pendapat.


Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang selalu bahagia dan dipenuhi canda tawa. Bagaimanapun, keluarga yang dewasa akan perlu belajar dari rasa sedih dan kecewa.


Maka ketika dua hati memutuskan untuk bersama, jangan pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti, berjanjilah untuk tetap menjaga komitmen dan bertahan, meski salah satunya mungkin akan merasa tersakiti.


"Ayo Mas, itu Romo sudah siap kita berangkat sekarang, malu yang muda malah di tungguin orangtua." Retno sedikit ngomel.


"Orangtua nggak banyak fikiran Retno, jadi cepet dandannya. Kamu sih nggak dandanin aku jadi belakangan selesainya."


"Makanya tidur jangan malam-malam, istirahat yang benar biar nggak kesiangan seperti ini." Retno masih dengan pepatahnya di depan pintu kamar dr Prabu.


"Heeee...aku cuma mengkhayal tiap malam, makanya kesiangan. Mengkhayalkan kamu Retno."


"Iiiiiiiiiih... dasar nggak sopan amat, pasti khayalnya yang bukan-bukan."


Dr Prabu keluar sambil melihat sekeliling ruangan yang telah sepi.


"Eeeeh...Mas itu tasnya ketinggalan."


Dr Prabu menarik Retno ke belakang pintu lalu memeluknya dengan tiba-tiba dan tanpa kata apapun.


"Aku ingin memeluk dan mencium kamu setelah resmi jadi tunangan ku semalam Retno. Aku tunggu dari pagi kamu masuk ke kamarku nggak muncul-muncul."


"Mas, apa-apaan sih udah telat nih suka sembarangan saja ada Dimas nanti nyusul kita tuh."


"Biarin saja, Dimas sudah dewasa juga pasti mengerti."


Retno tak bisa menolaknya, rengkuhan kuat tubuh kekar dr Prabu begitu hangat mengungkungnya, hembusan nafas menyapu wajah Retno yang sedikit ketakutan.


Setengah memaksa akhirnya ciuman bibir pun mendarat di bibir Retno yang sudah rapi berdandan.


Tak ada kata-kata, Retno memejamkan matanya mencoba merasakan getaran yang mengaliri urat nadinya. Merasakan Retno yang pasrah dengan sentuhannya dr Prabu semakin menikmatinya.


Apalagi saat tangan Retno mulai melingkar di pinggangnya, semakin pagutan itu tak lepas, bergantian saling menggigit gigit kecil dan ******* dengan penuh perasaan gairah.


"Mbak Diajeng! selesai dandannya? itu Romo sudah nggak sabar."

__ADS_1


"Oh, eh Iya Dimas sudah selesai, sekarang juga kita keluar nih."


Dimas tak kedengaran lagi suaranya, mungkin sudah duduk di mobil kembali.


"Apa aku bilang Mas!"


"Ssssst... ayo kita berangkat."


Dr Prabu melongokan kepalanya ke mobil Romo nya Retno, dan melihat kapasitas mobilnya.


Memang isinya hanya Romo Pakde nya, Budenya, Ibu Raden Tri Hapsari dan sopirnya Dimas. Hanya keluarga inti saja yang ikut.


"Barangkali ada yang mau di mobilku, Pakde juga Bude?"


"Biarin, di sini aja Nak Prabu sudah kepalang duduk, biar Romo ada yang nemenin ngobrol."


"Oh, begitu ya. Mari kita berangkat sekarang."


Retno yang duduk di samping dr Prabu masih saja cemberut karena kesal dengan kelakuan pasangannya, suka sembrono kalau melakukan apa-apa itu dan tanpa perhitungan.


Mobil mulai jalan dengan kecepatan sedang membelah jalan rute Pekalongan - Bandung.


Dr Prabu melirik Retno di sampingnya sambil senyum.


"Cemberut aja, apa mau nambah sarapannya?"


"Sarapan apa? pemaksaan seperti itu."


"Haaa... itu sarapan pertama kamu jadi tunangan aku Retno, dan nanti sarapannya lain lagi setelah kamu resmi jadi istriku."


"Tapi enak kan?"


"Tau akh..."


"Udah jangan cemberut lagi, nanti istirahat di rest area aku tambahin."


"Udah ah Mas, bahas itu mulu. Mending kita bahas gimana baiknya pernikahan kita nanti.


kita punya tiga tempat domisili dan tempat tinggal orang tua kita seperti apa acara pernikahan itu sebaiknya?"


"Iya ya, rumahku di Tasikmalaya serta teman kerjaku, orangtuaku di Bandung, kamu sehari-hari selama ini dan kerja di Bandung terus orangtuamu di Pekalongan."


"Apa tidak lebih baik dengar dulu pendapat orang tua kita nanti? baru setelah bertanya kepada kita, kita ajukan pendapat kita mungkin di situ semua bisa mendapat jawaban yang bijaksana."


"Boleh pendapat bagus itu sayang."


"Kalau menurutku Mas, kedua orangtuaku pasti ingin akad sama resepsi di Pekalongan sepertinya itu mutlak, itu baru perkiraan dan gambaran aku lho...nggak apa-apa kita ikuti, tapi resepsi lagi di Tasikmalaya nanti mungkin aku ingin mengundang teman-teman kerjaku karena kalau ke Tasikmalaya mungkin terjangkau tak terlalu kejauhan jarak Bandung-Tasikmalaya masih memungkinkan."


"Gitu ya."


"Iya paling solusinya seperti itu, terus mau seperti apa resepsi kita dimana lagi? sepertinya aku belum menemukan yang pas yang ada di pikiranku dan mungkin yang terbaik seperti itu Mas. Mas setuju nggak seperti itu?"

__ADS_1


"Aku sih setuju aja, tapi kenapa harus ada dua kali resepsi? jadi kapan kita berduaan nya sayang?"


"Berarti dari tadi berkhayal yang lain-lain aja ya Mas ini?"


Retno mencubit pinggang dr Prabu sampai mengaduh pura-pura melenguh kesakitan.


"Aku serius Mas."


"Iya, aku juga serius banget."


"Tapi jangan malah pikirannya kemana-mana."


"Enggak, pikiranku cuma sama kamu saja heee..."


Retno makin cemberut saja tapi hatinya merasa tersanjung dengan kejujuran laki-laki yang sangat di cintainya itu.


"Oke, aku serius sekarang, jadi begitu ya pemikiran kamu dan memang itu yang terbaik menurutku juga, akad sama resepsi di rumah orangtuamu di Pekalongan dan resepsi kedua di Tasikmalaya aku setuju banget."


"Iya kalau begitu kita satu pemikiran."


"Terus, resepsi di Tasikmalaya mau di mana di gedung apa di rumah kita?"


"Di mana ya? sebenarnya di rumah juga nggak apa-apa, halaman rumahnya cukup luas"


"Aku setuju di rumah aja Retno, dengan berbagai alasan apapun kita bisa langsung mengisi kamar utama kita nanti."


"Tuh kan, lagi-lagi ke arah situ."


"Haaaaaaaa... maafkan aku Retno, aku kebelet, tak sabar saat itu datang."


"Sudah akh, biar otak Mas nggak piknik kemana-mana kita bahas yang lain aja."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


...Biarkan Aku Memilih Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Meniti Pelangi"...


...By Enis Sudrajat baca, like,...


...vote dan beri hadiah...

__ADS_1


...juga ya!...



__ADS_2