
"Mas, yang ini gimana pakainya?" dr Prabu bertanya pada Dimas cara memakai pakaian yang akan di kenakan nya pada acara malam ini.
"Biar nanti aja ada yang dandanin Mas Prabu ke sini."
Mereka berdandan di kamar tamu yang diisi dr Prabu karena dr Prabu memanggil Dimas. Jadi mereka berdandan bareng.
Retno juga sedang di rias sama seorang penata rias wajah dan busana khas Jawa yang di panggil Ibunya.
Dr Prabu setuju memakai pakaian adat Jawi Jangkep. Karena pakaian nasional sehari-hari biasa memakainya seperti tuxedo lengkap, jadi hari ini ingin tampil beda.
Jawi Jangkep merupakan
pakaian yang dipakai oleh pria dalam upacara resmi adat Jawa Tengah. Terdiri dari baju beskap bermotif bunga atau polos di bagian tengahnya. Seiring dengan berkembangnya zaman pakaian Jawi Jangkep bisa digunakan dalam acara-acara tertentu untuk menunjukkan identitas diri dan Jawa Tengah itu sendiri.
Dalam acara perkawinan adat Jawa, baju Jawi Jangkep digunakan oleh kaum pria. pasangan perempuannya dengan kebaya. Pada zaman dahulu Jawi Jangkep sering digunakan oleh abdi dalem maupun dalam pernikahan adat Jawa Tengah.
Seiring dengan berkembangnya zaman, pakaian jawi Jangkep bisa digunakan dalam acara-acara untuk menunjukkan identitas diri di acara sakral dan dalam acara adat budaya, khas daerah menunjukkan asal asli Jawa Tengah. Juga kebanggaan tersendiri saat mengenakannya.
Jawi Jangkep terdiri dari atasan dengan motif bunga di bagian tengah dan beskap di bagian dalam. Sekarang beskap bisa digunakan terpisah.
Beskap terbuat dari bahan tebal dengan warna polos. DI bagian leher beskap diberi kerah namun tidak berlipat.
Warna beskap umumnya gelap, seperti hitam, hijau tua, biru tua, merah bata, dan lainnya. Tetapi kini menyesuaikan acara saat menggunakan beskap.
Dr Prabu nggak sabar ingin segera melihat Retno memakai pakaian pilihannya tadi, pasti seperti putri-putri zaman dahulu yang cantik nan anggun dengan balutan pakaian adat kebesarannya.
Dan Akhirnya seorang Ibu-ibu paruh baya berkacamata dan masih kelihatan cantik, datang ke kamar Raden Dimas Sastro Atmojo mau mendandani mereka beserta laki-laki mungkin asistennya.
Dimas mengangguk hormat pada Ibu tadi yang berprofesi sebagai penata rias, dan busana langganan keluarganya.
"Mana calon tunangannya Diajeng Retno?"
"Ini Bu." Dimas menunjuk dengan jari jempolnya ke arah dr Prabu. Dr Prabu mengangguk juga sambil tersenyum.
"Oh, alah ini Pak Dokter itu rupanya? gagah juga tampannya."
Dr Prabu merasa malu mendapat sanjungan, apalagi di depan calon adik iparnya Dimas yang sejak tadi senyum-senyum. Juga merasa bangga karena bisa dapat putri cantik yang sebentar lagi akan bertemu, dan sudah selesai di dandani.
"Mana pakaiannya apa sudah lengkap?" Perias tadi meneliti semua kelengkapan pakaian dan aksesoris yang akan di kenakan dr Prabu dan Dimas.
"Beskap, kain jarik, blangkon, selop, keris. Ya, sudah lengkap tinggal pakai, mari silahkan dokter duluan maju ke sini biar Ibu pasangkan dulu kain jarik nya." dr Prabu maju beberapa langkah membuka t-shirt yang di pakainya, meninggalkan kaos dalam saja yang melekat di tubuhnya dan bawahan celana kain tujuh per delapan, seperti celana sontog buat silat.
__ADS_1
"Jangan lama-lama habis tunangannya ya, biar nggak gantung, baiknya sebulan dua bulan saja cukup buat persiapan hari bersejarah seumur hidup sekali."
"Iya Bu, kalau bisa saya maunya sekarang saja langsung akad."
"Ish...heee, tunangan saja belum mau langsung aja."
"Iya lah Bu, pokoknya saya nggak mau lama-lama, apalagi dua bulan saya akan protes, persiapan pernikahan cukup dua minggu."
"Ibu do'akan, semoga lancar semuanya."
"Pasti Bu, kan ada Dimas yang siap jadi team sukses pernikahan kami heee..." dr Prabu melirik calon adik ipar nya sambil tersenyum.
"Coba melangkah, segini cukup nyaman nggak?"
Dr Prabu mencoba melangkah, sambil di rasa-rasa.
"Cukup Bu, udah enak."
"Yang enak bukan saat di pasang dokter, tapi saat membukanya heee...maksud Ibu kain jarik ya."
"Ah, Si Ibu bisa aja, sudah biasa ya Ibu menggoda calon pasangan tunangan, atau pasangan pengantin?"
"Ibu senang saja rasanya, saat menggoda calon-calon yang mau tunangan atau menikah."
"Eh, Bu kalau nanti aku menikah sama Retno InsyaAllah suatu saat, apa Ibu lagi perias dan penata busana kami?"
"Kalau sama Ibu kan sudah kenalan sekarang, jadi nggak canggung lagi heee...lagian siapa tahu aku di kasih resep yang sangat spesial gitu."
"Ah, dasar anak muda mau resep apa maksudnya? ya siapa lagi kalau bukan Ibu, Ibu itu sudah turun-temurun mengikuti mendandani keluarga Raden Haryo Atmojo ini dari sebelum Mas Dimas dan Diajeng Retno ada, Ibu sudah ada di keluarga ini."
"Heeee...Bu, Retno sudah beres dandannya cantik nggak Bu?"
"Jangan di tanya kalau soal cantik dan nggak nya, lihat saja nanti. Ayo sabuknya pakai, tinggal kerisnya selipkan di belakang kalau mau duduk ingat di raba dulu pastikan posisinya benar dan pada tempatnya."
"Iya Bu."
"Selopnya juga, jalan hati-hati kalau dandanan begini, ayo belajar duduk dan jalan mondar mandir dulu, nanti keluar di dampingi Dimas ya."
Dimas hanya nyengir saja mendengar pepatah Ibu perias yang masih kerabat dari Ibunya. Memberi pepatah yang sangat detil terhadap dr Prabu.
"Sudah selesai, tunggu di panggil atau di jemput nanti, siapkan semuanya seserahan dan satu lagi cincin pertunangannya jangan sampai lupa."
"Baik Bu."
__ADS_1
Ibu perias keluar tinggal dr Prabu sama Dimas di dalam kamar. Terdengar deru beberapa mobil yang berhenti di halaman yang begitu luas dan bisa menampung 5 sampai 10 mobil.
Persiapan sudah terasa sejak tadi siang dan sekarang tinggal menunggu saatnya saja, ruangan keluarga di sulap menjadi aula resmi dengan kursi-kursi berjejer di bungkus cover chair warna putih dan ruang makan menjadi tempat prasmanan semua keluarga nanti yang pasti dengan hidangan istimewa yang khas.
Dimas keluar, tak lama masuk lagi menjemput dr Prabu karena sudah boleh memasuki ruangan utama, acara akan segera di mulai dan di laksanakan.
Dr Prabu di gandeng Dimas dan seorang kerabatnya keluar kamar dan menjadi pusat perhatian semua tamu dan kerabat yang hadir di situ. Lalu duduk di tempat yang telah di sediakan.
Tak lama Acara pun di mulai, satu pembawa acara memberi arahan susunan mata acara, membuat dr Prabu merasa tenang karena tak terlalu banyak acara cukup singkat tertuju pada inti tujuan acara ini.
Garis besar tata cara tunangan secara umum dan adat sama saja, intinya mengikat calon istri dan berunding tanggal pernikahan.
Pertama salam dan sambutan kepada pihak keluarga pria dalam hal ini hanya ada dr Prabu sendiri. Yang di sampaikan salah satu kerabat Retno.
Pihak keluarga pria menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya menyampaikan kesediaan dan ketetapan hati kedua pihak yang akan bertunangan.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan rasa cinta saya terhadap Adinda Raden Ajeng Retno Ayuningtyas Haryo Atmojo. Saya datang sendiri dan saya sampaikan sendiri maksud dan tujuan saya, yaitu meminang Putri Bapak Raden Haryo Atmojo beserta ibu untuk menjadi istri saya."
Retno yang duduk sebrang dr Prabu di pihak keluarganya, di tanya oleh pembawa acara tentang jawaban kesiapan dan ketetapan hati pada dirinya.
"Apakah adinda Raden Ajeng Retno Ayuningtyas Haryo Atmojo Anda menerimanya? pinangan seorang dr Prabu Seto Wardhana untuk menjadikan adinda seorang istri?"
"Saya Menerima dan bersedia menjadi istrinya." Hadirin semua tersenyum, dan kedua pasangan itu langsung di bimbing untuk berdiri.
Serah terima simbol pengikat pertunangan pun di laksanakan, saling memasangkan cincin dan berfoto dengan senyuman bahagia mereka.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
...Biarkan Aku Memilih Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Berbagi Cinta :...
..."Meminang Tanpa Cinta"...
...By Kirana Pramudya baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
__ADS_1
...juga ya! 🙏...